
Si Caplang Pengintai Tanpa Bayangan
ipikahmad|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 1.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Kejahatan punya bisikan, dan Khaizanu punya telinga untuk menghentikannya." Khaizanu bukanlah pria biasa. Di balik setelan jas custom-made yang membalut tubuh atletisnya dan kekayaan yang tak berseri, pria tertutup ini menyimpan sebuah rahasia besar. Kecelakaan tragis di masa lalu tidak hanya meninggalkan bekas luka, tapi juga sebuah "kutukan" yang berubah menjadi anugerah luar biasa: telinga caplang yang mampu menangkap frekuensi suara dari jarak berkilo-kilo meter. Bagi dunia, dia adalah miliarder tampan yang dingin dan sulit digapai. Namun, saat malam tiba dan kota mulai membisikkan kengerian, Khaizanu berubah menjadi Sang Pengintai. Ia bisa mendengar detak jantung perempuan yang ketakutan di gang gelap, isak tangis korban penyekapan di gedung tua, hingga rencana busuk para penjahat yang merasa aman dalam jarak jauh. Satu per satu perempuan yang berada di ujung maut berhasil ia selamatkan tanpa pernah meninggalkan jejak. Namun, mampukah Khaizanu terus menjaga rahasianya saat seorang jurnalis gigih mulai mencurigai keterkaitannya dengan setiap aksi penyelamatan misterius di kota itu? Dan apa yang terjadi ketika ia mendengar sebuah bisikan yang berkaitan dengan dalang di balik kecelakaan masa lalunya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
GEMA DI TENGAH MALAM
Penthouse di lantai 55 itu hanya diterangi oleh pendar lampu kota Jakarta yang masuk melalui dinding kaca setinggi langit-langit. Di dalam kesunyian yang mencekam, Khaizanu duduk bersandar pada kursi kulit aslinya. Di tangan kanannya sebuah gelas kristal berisi Glenfiddich berusia 30 tahun bergoyang pelan, es batu di dalamnya berdenting halus suara yang bagi telinga orang biasa mungkin hampir tak terdengar. Namun bagi Khaizanu itu terdengar seperti bongkahan raksasa yang menabrak kaca.
Khaizanu adalah definisi sempurna dari keberuntungan yang dibungkus dalam misteri. Di usianya yang baru menginjak 29 tahun, ia memimpin Khaizanu Corp, sebuah imperium properti dan teknologi yang guritanya menjangkau Asia Tenggara. Wajahnya sering menghiasi sampul majalah bisnis, dengan rahang tegas tatapan mata yang dingin sebiru es dan aura yang membuat orang segan untuk mendekat. Namun tak ada satu pun foto yang benar-benar memperlihatkan sisi samping kepalanya secara jelas. Rambutnya yang hitam legam dan tebal selalu ditata sedemikian rupa untuk menyamarkan bentuk telinganya yang sedikit melebar ke luar telinga caplang yang ia benci sejak kecelakaan sepuluh tahun lalu.
Malam itu, jam digital di meja menunjukkan pukul 02:14 dini hari.
Khaizanu meletakkan gelasnya. Ia memejamkan mata. Inilah ritualnya setiap malam saat kota seharusnya tertidur. Ia melepas noise-cancelling headphone khusus yang selalu ia pakai untuk meredam kebisingan dunia. Begitu alat itu lepas, "kutukan" itu datang melanda.
Zuuut!
Dunia di kepalanya mendadak meledak. Suara tidak lagi datang sebagai gelombang yang teratur melainkan sebagai serangan informasi yang membabi buta. Ia mendengar suara mesin lift di lantai dasar gedung ini. Ia mendengar dengkur satpam di pos penjagaan yang berjarak 300 meter. Ia bahkan mendengar kepakan sayap seekor kelelawar yang melintas di balkonnya.
Ia mengatur napas dan memfokuskan pikirannya belajar mengendalikan ini. Seperti memutar tombol radio lama, ia mulai menyaring suara mengabaikan deru kendaraan di jalan tol, mengabaikan suara pendingin ruangan, dan mulai mencari satu frekuensi yang paling ia benci sekaligus ia cari: frekuensi ketakutan.
"Tolong... jangan..."
Sebuah bisikan halus masuk ke gendang telinganya. Suaranya pecah, tersendat oleh isak tangis.
Khaizanu tersentak. Fokusnya menajam. Suara itu bukan berasal dari lingkungannya. Itu berasal dari arah timur, sekitar tiga atau empat kilometer dari sini. Ia bisa merasakan arahnya berkat struktur telinganya yang unik, menangkap pantulan bunyi pada sudut yang tak bisa dijangkau manusia normal.
"Diam kau! Cepat serahkan tasmu kalau tidak mau wajah cantikmu ini hancur!"
Itu suara pria kasar, berat, dan penuh ancaman serta bunyi logam yang bergesekan pisau lipat.
Khaizanu berdiri seketika dan Jas Zegnanya ia tanggalkan, menyisakan kemeja hitam yang pas di tubuh atletisnya. Ia menyambar kunci Lamborghini Revuelto hitamnya yang terparkir di lift khusus mobil. Dalam hitungan detik mesin V12 itu menderu pelan keluar dari gedung seperti bayangan yang menyatu dengan malam.
Di sebuah gang sempit di daerah pemukiman tua yang terhimpit gedung perkantoran, Maya seorang mahasiswi tingkat akhir merasa dunianya akan berakhir. Ia baru saja pulang dari perpustakaan kampus, nekat berjalan kaki sedikit lebih jauh demi menghemat ongkos ojek daring. Itu adalah kesalahan fatal.
Dua orang pria dengan jaket kumal menyudutkannya ke tembok yang lembap salah satunya memegang pisau yang berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.
"Aku tidak punya uang banyak, Bang... tolong," isak Maya. Tangannya gemetar hebat memeluk tas ransel berisi laptop yang menyimpan draf skripsinya. Jika tas ini hilang, masa depannya ikut lenyap.
"Jangan banyak bicara!" Salah satu begal itu menjambak rambut Maya, membuatnya memekik kesakitan.
Tepat saat pria itu mengangkat pisaunya untuk mengancam lebih jauh, sebuah suara raungan mesin yang sangat halus namun bertenaga mendekat. Dari mulut gang, seberkas cahaya lampu LED putih yang sangat terang membutakan mata kedua begal itu.
Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan gang dengan pintunya terbuka ke atas gaya gunting.
Seorang pria keluar mengenakan topeng, namun bayangan dari lampu jalan membuat wajahnya sulit dikenali sepenuhnya. Ia berdiri dengan tenang namun kehadirannya memancarkan dominasi yang luar biasa.
"Lepaskan dia," suara pria itu tenang, berat, dan mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
"Siapa kau? Jangan ikut campur! Pergi sana dengan mobil mewahmu kalau tidak mau kulit mulusmu tergores!" bentak begal yang memegang pisau.
Khaizanu tidak bergerak, ia justru memiringkan kepalanya sedikit. Bagi orang luar itu tampak seperti gerakan meremehkan namun bagi Khaizanu ia sedang memfokuskan pendengarannya untuk mendengar detak jantung kedua pria itu. Satu berdetak sangat cepat karena adrenalin dan pengaruh obat-obatan, yang satu lagi sedikit lebih lambat namun tidak stabil.
"Pisau di tangan kananmu... ada karat di bagian gagangnya," ucap Khaizanu dingin. "Dan temanmu di belakang, dia membawa botol pecah di saku jaket kirinya. Kalian tidak punya peluang."
Kedua begal itu terpaku. Bagaimana pria ini bisa tahu detail sekecil itu di kegelapan malam?
"Sialan! Serang dia!"
Begal pertama menerjang mengayunkan pisaunya secara membabi buta. Di mata orang biasa gerakan itu cepat namun bagi Khaizanu gerakan itu disertai dengan suara. Suara gesekan kain celana begal itu dan suara napasnya yang memburu bahkan suara pijakan kakinya di atas aspal basah memberitahu Khaizanu ke mana arah serangan itu sebelum serangan itu sampai.
Khaizanu menghindar dengan gerakan yang sangat minim namun efektif. Ia menangkap pergelangan tangan si begal menekannya pada titik saraf tertentu yang ia pelajari dari instruktur beladiri terbaik dunia, dan dalam satu sentakan krak pisau itu terjatuh.
Begal kedua mencoba menyerang dari belakang dengan botol pecah. Tanpa menoleh Khaizanu berputar tendangan memutarnya mendarat telak di ulu hati lawan membuat pria itu terkapar sambil memuntahkan isi perutnya.
Hening kembali menyelimuti gang itu. Hanya suara napas Maya yang tersengal-sengal.
Khaizanu mendekati Maya, gadis itu menyusut ke tembok ketakutan melihat kekuatan pria asing ini. Khaizanu berhenti dalam jarak dua meter jarak yang aman agar tidak membuat korban merasa terintimidasi.
Ia merogoh sakunya mengeluarkan selembar sapu tangan sutra berwarna abu-abu dan melemparkannya ke arah Maya. "Bersihkan darah di lenganmu. Itu hanya luka gores kecil."
Maya mengambil sapu tangan itu dengan tangan gemetar. Ia menatap pria di depannya. Dalam cahaya remang-remang, ia melihat wajah yang luar biasa tampa seperti pangeran dari negeri dongeng yang turun ke bumi yang kotor. Namun saat angin malam berhembus menyingkap rambut pria itu, Maya melihat bentuk telinganya yang unik.
"Terima kasih..." bisik Maya lirih.
Khaizanu tidak menjawab, ia mendengar suara sirine polisi dari kejauhan sekitar dua kilometer lagi. Rupanya warga sekitar sudah ada yang melapor.
"Polisi akan sampai dalam tiga menit. Tetaplah di sini," ucap Khaizanu.
Tanpa menunggu balasan, ia berbalik menuju mobilnya. Ia bergerak seperti bayangan cepat, efisien, dan tanpa meninggalkan jejak identitas.
Kembali ke dalam kabin Lamborghini-nya yang kedap suara, Khaizanu menghela napas panjang. Ia segera memakai kembali headphone khusus yang memancarkan frekuensi white noise untuk menetralkan pendengarannya. Kesunyian buatan itu kembali memeluknya memberinya rasa nyaman yang semu.
Di dalam dadanya, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena pertarungan tadi ia sudah terbiasa dengan kekerasan sejak ia melatih tubuhnya untuk menjadi senjata. Jantungnya berdegup karena suara isakan mahasiswi tadi mengingatkannya pada satu suara yang menghantuinya setiap malam selama sepuluh tahun.
“Kak Anu... tolong! Gelap, Kak!”
Itu adalah suara adiknya, sepuluh tahun lalu, dari dasar jurang sebelum mobil mereka meledak. Saat itu, Khaizanu pingsan karena benturan. Ia tidak mendengar suara itu karena ia masih "manusia normal". Ia baru terbangun saat api sudah melahap segalanya dan pendengarannya berubah menjadi tajam secara menyakitkan tepat saat semuanya sudah terlambat.
Khaizanu menatap pantulan dirinya di spion tengah, ia melihat telinga caplangnya. Dulu ingin melakukan operasi plastik untuk membuangnya. Namun sekarang ia menyadari bahwa ini adalah antena yang diberikan Tuhan atau mungkin iblis agar ia tidak pernah lagi gagal mendengar tangisan seseorang yang membutuhkan bantuan.
Ia adalah Khaizanu miliarder di siang hari pengintai tanpa bayangan di malam hari.
Ia menghidupkan mesin mobilnya dan menghilang di tengah belantara beton Jakarta, meninggalkan gang sempit itu sebelum polisi datang. Malam ini satu nyawa terselamatkan, namun di kota dengan jutaan bisikan ini ia tahu bahwa tugasnya baru saja dimulai.
"Besok," bisik Khaizanu pada dirinya sendiri "aku harus mendengar lebih baik lagi."
Dunia mungkin melihatnya sebagai pria kaya yang angkuh dan sempurna. Namun di balik dinding-dinding tinggi rumah mewahnya, Khaizanu adalah tawanan dari suara-suara yang tak bisa didengar orang lain. Ia adalah telinga bagi mereka yang tak bersuara, dan bayangan bagi mereka yang kehilangan cahaya.
Khaizanu melajukan mobilnya membelah kesunyian ibu kota yang kian mendingin. Di bawah pendar lampu jalan yang kekuningan, ia merasa seperti hantu yang melintasi waktu. Pikirannya melayang pada Arini, jurnalis ambisius yang belakangan ini terus mengirimkan pesan permintaan wawancara. Khaizanu tahu gadis itu mulai mencium pola yang tidak wajar dari setiap kejadian di gang-gang gelap kota ini.
Tiba-tiba, meski headphone peredam suaranya aktif, sebuah getaran aneh merayap di saraf pendengarannya. Bukan suara keras, melainkan sebuah frekuensi rendah yang sangat spesifik sebuah detak jantung yang tidak stabil, diikuti oleh suara gesekan kain yang halus di atas permukaan semen yang dingin. Itu adalah suara seseorang yang sedang diseret paksa di sebuah atap gedung, sekitar dua blok dari posisinya sekarang.
Khaizanu segera memutar kemudi dengan tajam, ban mobilnya berdecit di atas aspal basah. Matanya menatap tajam ke arah deretan gedung perkantoran tua di sisi kiri jalan. Di sana, di antara bayang-bayang kegelapan, ia merasakan ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Rasa lelahnya menguap seketika, digantikan oleh adrenalin yang mendesak. Ia tahu istirahat bukanlah pilihan selama bisikan malapetaka itu masih menggema di dalam kepalanya. Malam masih panjang dan sang pengintai tanpa bayangan kembali bersiap untuk beraksi.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








