Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pahlawan Super Gaji UMR

Pahlawan Super Gaji UMR

Ikhwanul Halim | Bersambung
Jumlah kata
65.8K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Pahlawan Super Gaji UMR
Pahlawan Super Gaji UMR

Pahlawan Super Gaji UMR

Ikhwanul Halim| Bersambung
Jumlah Kata
65.8K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
FantasiSci-FiPertualanganPahlawanKekuatan Super
Di dunia di mana pahlawan super merupakan lapangan kerja, Cahyo Aksa yang berusia enam belas tahun mendapatkan pekerjaan impian para remaja di mana pun ketika dia dipekerjakan oleh pahlawan super terkenal Wong Karet sebagai asistennya. Sebagai asisten Wong Karet, Cahyo berharap tidak hanya belajar cara menggunakan kekuatannya, tetapi juga menabung cukup uang untuk membeli mobil pertamanya sebelum dia kuliah. Namun Cahyo mendapatkan lebih dari yang dia harapkan ketika seorang penjahat super dengan hubungan misterius ke masa lalu Wong Karet muncul di kotanya dengan agenda berbahaya. Sekarang Cahyo harus menguasai kekuatannya tepat waktu untuk membantu Wong Karet mengalahkan penjahat super ini sebelum dia berhasil melaksanakan rencana jahatnya. Namun ketika Cahyo mengetahui sisi gelap industri pahlawan super, dia merasa ragu apakah akan terus bekerja untuk Wong Karet atau melawannya demi kebaikan yang lebih besar. Kalau sampai Cahyo membuat pilihan yang salah, itu akan mengubah hidupnya—dan nasib kota kelahirannya—selamanya.
SATU

Kadang-kadang, sambil ngelamun, Cahyo suka mikir: kenapa kekuatan super yang dia punya harus sinar laser yang memancar dari mata kayak Flashlight-nya Jessie J? Kenapa bukan yang keren-keren kayak lari secepat kilat atau terbang?

Hidupnya pasti lebih gampang. Minimal, dia nggak bakal ngebut pakai sepeda sambil eksis panik di hari pertama kerja sebagai asisten pahlawan super terkenal.

Padahal semalam ayahnya udah ngasih wejangan mengutip Bang Rhoma Irama, level bapak-bapak.

“Begadang jangan begadang,” kata ayahnya dari balik pintu kamar. “Besok hari pertama kerja. Bangun pagi-pagi.”

Ibunya ikut nimbrung, “Ibu pasangin alarm, ya?”

Cahyo yang lagi rebahan sambil scroll TikTok cuma mendesah. “Nggak usah, Bu. Aku bisa pasang sendiri, kok.”

Nada suaranya mungkin kedengeran kayak remaja kinyis-kinyis yang baru kehilangan charger hape, tapi dia tetap ngotot.

Umur enam belas, masa masih dipasangin ibu alarm? Harga diri sebagai cowok remaja enam belas tahun mau didiskon berapa?

Dan tentu saja… pagi ini dia sadar eling lan waspodo: kedua orang tuanya benar. Lagi. Seperti biasa. Nyebelin banget.

Sayangnya, sadar eling lan waspodo nggak menolong sama sekali.

Cahyo sekarang sedang mengayuh sepeda secepat mungkin, menembus udara pagi Kota Kawipura sambil berharap gravitasi, gesekan, dan hukum fisika lain mau kompromi sedikit. Napasnya ngos-ngosan, ranselnya mantul-mantul, dan roda sepedanya bergetar kayak lagi protes.

Dia bangun kesiangan.

Harusnya bangun jam tujuh. Yang terjadi? Dia kebangun jam tujuh tiga puluh karena aroma nasi goreng ibunya. Aroma itu enak, tapi juga pengingat bahwa hidupnya sedang terbakar.

“Cahyo!” teriak ibunya dari dapur. “Nggak kerja kamu?”

Cahyo hampir jatuh dari kasur. “Astaga—”

Lima belas menit kemudian adalah komedi pantomin film bisu ala Charlie Chaplin: mandi kilat, hampir salah pakai celana, sarapan cuma beberapa suap nasi goreng dan setengah cangkir kopi yang panasnya seperti kopi panas.

“Pelan-pelan makannya!” kata ibunya.

“Telat, Bu!” balas Cahyo sambil ngunyah kayak hamster dikejar deadline.

“Makanya jangan sok bisa pasang alarm sendiri.”

Cahyo nggak punya waktu untuk membantah sindirin ibunya. Dia nggak punya waktu untuk menyesali roda kehidupan yang sedang berada di bawah dan diam. Gembos.

Sekarang arloji digital di tangannya nunjukin jam 07.50. Dia cuma bisa berharap kakinya berubah jadi kaki robot bertenaga jet.

Dia nggak boleh telat.

Wong Karet memang ramah waktu wawancara, tapi reputasinya jelas: profesional tingkat dewa. Katanya, asisten pertamanya sampai dipecat cuma gara-gara sering telat dan sikapnya kayak roti basi. Udah basi jamuran lagi.

Cahyo jelas ogah jadi roti basi jamuran.

Kota Kawipura masih setengah tidur. Bus kota lewat, orang-orang jalan cepat sambil merapatkan jaket. Cahyo lewat depan kafe kecil yang baru buka. Aroma kopi dan donat hangat langsung menyerang indra penciumannya.

Perutnya nyanyi. Congrock. Keroncong Rock.

“Jangan sekarang,” gumamnya. “Tolonglah, perut dan segala isinya.”

Dia terus mengayuh sepeda membelah kota.

Di depan, ada nenek-nenek nuntun pudel imut putih kecil. Anjing cute itu menggonggong waktu Cahyo lewat.

“Pagi juga,” gerutunya, seolah anjing itu ngerti.

Fokusnya cuma satu: sampai ke lokasi yang disepakati tepat waktu.

Bahkan kalau Jurig Mambang—musuh bebuyutan Wong Karet—muncul sekarang, Cahyo yakin dia bakal bilang, “Bang Mambang, lain kali aja ketemuannya, ya. Aku telat, nih.”

Dia belok di tikungan.

Dan hampir nabrak seseorang.

Cahyo cuma lihat kilatan rambut pirang mahkluk berjenis kelamin perempuan sebelum refleksnya bekerja. Dia banting setang, menghindar sepersekian detik sebelum tabrakan.

Sayangnya, roda depan sepedanya memutuskan untuk bunuh diri.

Ban menghantam pinggir trotoar.

Brak!

Sepedanya nabrak tiang rambu lalu lintas sampai benjol … eh, bengkok.

Cahyo terpental, jatuh ke aspal, dan langsung menyesal. Untung helmnya nyelametin kepala, tapi kacamata lensa minus terbang entah ke mana. Sikunya perih.

“Ahh—”

“Ya ampun!”

Suara cewek nan merdu langsung terdengar.

“Cahyo? Kamu nggak apa-apa?”

Cahyo mendongak.

Dan langsung pengin uninstall dirinya dari dunia ini yang menurut Ahmad Albar dan God Bless panggung sandiwara.

Anggun Calderone berdiri di depannya.

Teman sekelasnya.

Atau lebih tepatnya: teman sekelas yang cukup dekat buat saling sapa, tapi cukup jauh buat bikin Cahyo gugup tiap kali dia senyum semanis gula aren campur kopi arabica.

Anggun punya rambut pirang rapi dan mata biru terang yang bikin Cahyo lupa cara menarik napas. Hari ini dia pakai rok pink dan sweter putih sederhana, tapi tetap kelihatan kayak manusia yang hidupnya selalu estetik.

Mata biru itu menatapnya cemas.

Baru Cahyo sadar kalau dia sedang terkapar. Helm miring 30 derajat, baju kotor, siku lecet, kacamata entah di mana.

Sempurna-nya Andra and The Backbone. Luar biasa-nya JKT48. Kesan pertama yang sangat … Cahyo’s style.

Dia buru-buru duduk. “Ah … oh … uh … nggak apa-apa. Aku aman. Udah biasa. Aku sering jatuh, kok.”

Begitu kalimat itu keluar, Cahyo langsung ingin mengubur dirinya di aspal.

Aku sering jatuh, kok

Kenapa mulutku lancang begini.

Anggun berkedip, lalu terkekeh kecil. Bukan mengejek—lebih kayak, “Astaga, bocah ini lucu banget tanpa usaha. Mestinya ikut kompetisi stand up komedian aja.”

“Cahyo,” kata Anggun lembut, “kamu mau kubantu cari kacamata?”

“Nggak usah!” jawab Cahyo cepat banget. Terus, karena otaknya sedang cuti, dia nambahin, “Aku memang sering kehilangan kacamata juga, kok.”

Hening. Kalau ini anime, ada capung terbang melintas layar.

Cahyo menatap kosong jauh ke cakrawala, otaknya mempertimbangkan untuk secepatnya pindah negara.

Anggun malah tersenyum kecil. “Wah. Pagi yang berat, ya?”

Cahyo menutup mata. “Kamu nggak tahu separah apa.”

Anggun jongkok di sebelahnya. “Tetap aja, deh. Ini salahku. Aku nyebrang mendadak.”

“Nggak, ini salahku. Aku yang ngebut lupa ngerem.”

“Berarti salah kita berdua?”

Cahyo melirik.

Anggun tersenyum.

Aneh, tapi itu cukup bikin rasa malunya turun sedikit. Dikit doang.

Anggun terus nunduk, nyari sesuatu di dekat roda sepeda, lalu—

“Nah, ketemu.”

Dia ngangkat kacamata Cahyo.

“Ini dia.”

Kelihatan adaretakan kecil di lensanya yang membuat Anggun meringis.

“Kayaknya agak retak, deh.”

Cahyo pengen bilang, “Sama seperti jantungku setiap saat melihat ulasan senyummu.”

Tapi nggak jadi.

Cahyo segera mengambil kacamata minus dan memakainya.

Retaknya nggak “sedikit.” Satu retakan besar membelah lensa kanan tepat di tengah, sementara lensa kiri penuh goresan di sudut bawah. Dia masih bisa melihat, sih, tapi semuanya jadi lebih buram dari biasanya. Dan jujur saja, kacamata itu membuatnya merasa tampak lebih culun dari biasanya yang udah culun maksimal.

Tapi mau gimana lagi, sodara-sodara?

“Makasih banyak, Anggun,” katanya buru-buru.

Cahyo langsung bangkit, menarik sepedanya tegak lagi, lalu bersiap naik.

Baru aja satu kaki menginjak pedal, Anggun meraih lengan Cahyo.

“Kamu mau pergi ke mana?”

Sentuhan Anggun yang menahanny di tempat seakan menciptain sengatan arus listrik sekecil 35.000 Megawatt menjalar di lengan Cahyo, yang bikin anunya—maksudnya, bodinya—tegang otomatis.

Lanjut membaca
Lanjut membaca