

Cekrek…
Berganti posisi sang model saat kamera mengeluarkan kilatan cahaya. Tangan kokoh dan tegas memainkan beragam angle dengan beragam gaya. Sesekali mengarahkan sang model agar luwes berpose.
“Tangan arahkan ke dada.” Suara dingin pria itu mengintruksi.
Sang model sangat andal berpose erotis, seakan mata itu fokus menatap pria pemilik rahang tegas.
“Sudah puas menatap saya, Mila?” tutur pria itu tersenyum tipis.
“Ayolah, Yudistira, sini! Coba bantu aku peragakan pose ini,” goda Mila sambil mengerlingkan mata menyentuh organ intimnya.
Yudistira menghela napas, ini bukan kali pertama ia mendapatkan job ‘foto vulgar’ dan sering kali godaan datang dari para perempuan cantik.
Sekalipun perempuan melucuti pakaian tanpa sehelai benang pun, ia sudah biasa mendapatkan pemandangan ini. Ia laki-laki normal, bisa ereksi.
“Shit!” Ia sadar kelaminnya sudah mengeras sedari tadi.
Perempuan itu berjalan ke arahnya tepat di hadapan Yudistira beberapa inci saja. Sangat intim. Napas mereka beradu. Yudistira mematikan kamera. Ia mengulum bibir wanita itu, mengecup leher, dan memangkunya di atas meja.
Tok… tok
Suara pintu menggagalkan aksi saling lumat. Seorang perempuan sudah di depan pintu membawa hasil beberapa foto yang telah dicetak.
“Maaf, Pak.”
“Masuk Mawar. Ini bukan pertama kali bukan? Pelan-pelan kamu akan terbiasa dengan pemandangan ini,” jelas Yudistira dengan senyum tipis dan sorot mata tajam menggoda.
Tatapan Yudistira berhasil menghipnotis siapa pun yang ditatapnya, tanpa terkecuali Mawar tampak biasa saja.
“Baik, Pak. Aku taruh hasil fotonya di meja, permisi.” Agak gugup Mawar menaruh dokumen di samping tubuh wanita sintal yang menatapnya sinis.
Suara pintu tertutup. Posisi Yudistira dan model ini masih berbahaya.
“Mau lanjut nggak, nih?” bisik Mila.
Yudistira mengangkat tubuh Mila, mereka berdiri dan tatapan panas. “Pakai pakaianmu, kita break makan siang.”
Yudistira kembali mengambil kamera. Lalu pergi dengan pintu terbuka. Model cantik itu mendengkus kesal sambil memunguti pakaian berserakan.
——
“Siapa yang tidak kenal Yudistira, seorang pria tanpa riwayat mantan, selalu diterpa dengan gosip cinta satu malam. Tidak ada satu pun berhasil menjadi pacarnya. Bagi kalangan model, pria bermata dingin ini seksi dan memabukkan,” ucap pria berpakaian hitam dengan sedikit tawa.
“Yud, kamu beneran mau jomlo terus?” bisik temannya sambil meneguk fermentasi anggur.
Yudistira meneguk setengah dan menyecapi rasa asam dan manis seolah tak ingin mengabaikan sensasi terbakar di tenggorokan.
“Rokok tembaga asli, ini untuk Ganes yang rajin cari job foto vulgar dan Agus selalu bawa model anomali.” Yudistira membagikan rokok sambil menyesap rokok, asap keluar dari hidung.
Ganes dan Agus terdiam. Mereka saling melempar pandang. Yudistira mencoba membungkam mulut mereka. Marah Yudistira tampak berwibawa, terlihat diam dan elegan, sekaligus menyindir halus.
“Itulah filosofi rokok— menyesap, embuskan dan bernapas.” Yudistira mematikan sebatang rokok yang tinggal separuh.
Agus menyenggol bahu Ganes. “Kami cabut, ya! Ada janji sama Vina.”
Yudistira terlihat tidak peduli. Ia terus meneguk wiski, tak sadar banyak botol tertata di meja bartender. Ia mengambil ponsel, menelpon seseorang.
Tak lama, seseorang itu merangkul bahu pria yang sedang mabuk berat. “Owalah, Pak. Ini aku badannya kecil lho, harus banget yak! Pake mabok segala,” celoteh Mawar sambil memapah Yudistira yang hilang kesadaran.
Yudistira diam dan sesekali tersenyum, ia tidak berbicara sepatah kata pun. Gadis itu menaruh tubuh lunglai tuannya di kursi belakang dengan posisi rebahan. Baru saja Mawar membenarkan posisi tidur, pria ini memeluk pinggangnya.
Posisi canggung. Mata mereka saling memandang. Mawar menahan napas saat Yudistira memajukan wajahnya. Wanita itu sadar siapa pria yang dihadapinya sekarang. Penuh kesadaran tinggi, Mawar mendorong tubuh pria itu. Segera ia duduk di kursi depan dan mengambil alih menyetir.
——
Handuk menutupi sebagian tubuh Yudistira, melingkar pinggang dengan menyisakan dada bidang, punggung lebar, dan perut berotot. Pria itu duduk di bibir kasur, sambil memijat pelipis karena efek semalam.
Telepon berdering. Terpampang nama kontak “Mawar”. Tetapi, ia tak tertarik. Ia menggeser ke kiri sebagai tanda penolakan. Lalu mencari pakaian senada dengan tampilan kasual.
Kamarnya diketok.
“Masuk.”
Tidak salah lagi kalau bukan Mawar. Mawar si asisten pribadi yang siaga 24 jam ada disaat butuh.
"Pak, Ganes memberi dokumen ini untuk tanda tangan kontrak, ia nggak sempat ketemu Bapak langsung karena ada janji mendadak,” terang Mawar sambil menyodorkan dokumen tetapi masih berdiri di lorong.
“Oke.” Respons Yudistira singkat dan padat. Tetapi bahasa tubuhnya sangat jelas, tangan kanan sedikit menengadah dan tangan kiri menyentuh kasur agak ke belakang.
Mawar pelan-pelan melangkah dan memberikan dokumen itu di atas tangan kanan milik pria kekar ini.
“Baik Pak, sampai jumpa jam 8 pagi di lokasi Mitra Motret, jam 9 sudah ada di pantai, jam—“ Belum selesai Mawar menyebutkan agenda padat merayap, pria itu menarik lengannya.
Posisi apa lagi ini?
Yudistira menatap lekat kedua mata yang tak berkedip. Ini bukan kali pertama ia mengerjai asisten pribadi. Tampak di mata pria ini, gadis itu tampak polos dan gugup. Sebuah adrenalin bermain di otaknya.
“Pernah bercumbu?” tanya Yudistira dengan sedikit tatapan nakal.
Bibir Yudistira naik sebelah, sudah bisa ditebak ekspresi Mawar melotot dan mulut menganga. Seakan siap diterkam saat ini pula.
“Bagian mana yang kamu suka?” bisiknya pelan.
Mawar segera menjaga jarak. Ia ingin memberi jarak, tetapi tertahan oleh tangan kokoh dan keras milik tuannya.
“Pak, ada telepon, sebentar… sepertinya Ganes menelpon,” ujar Mawar bernapas lega dan segera mengangkat telepon.
——
Jam 8 pagi, tepat waktu Yudistira hadir di lokasi pemotretan. Beberapa pakaian sudah disediakan. Tata rias segera make over wajah tampan milik pria ini. Tidak ada celah, sempurna.
“Anugerah banget, punya wajah setampan kamu,” ujar pria yang agak sedikit kemayu menyentuh pipi Yudistira sambil tap tap tipis.
Yudistira tersenyun tipis. Bukan hanya wanita saja yang mengaguminya, bahkan pria pun bisa jatuh hati.
“Terima kasih.” Yudistira tak banyak bicara, ia segera melakukan pemotretan.
Kali ini, ia menjadi model untuk tabloid dewasa. Selain fotografer, ia menekuni dunia modeling. Sosok maskulin dan berkarismatik tampak sempurna di depan layar.
Selepas break, ia duduk di balkon. Dengan handuk membaluti pinggang dan telanjang dada. Ia melihat di atas ketinggian. Sesekali ia memejamkan mata sembari angin menyapu rambut hitam sepanjang telinga. Ia menghirup napas panjang.
Ia tak tahu, sedari tadi ada yang memperhatikannya. Lantas menoleh sebentar. Gadis itu membawa minuman dingin sambil tersenyum.
“Ini untuk Bapak, pasti haus banget, ya!” seru Mawar tersenyum menampilkan gigi gingsul.
“Thanks.” Yudistira menerima dengan senang hati. Ia meneguk air mineral dalam satu tegukan.
“Pak, kayaknya aku harus pulang kampung, udah lama aku nggak pulang. Aku boleh izin cuti?” tiba-tiba Mawar berucap demikian.
Yudistira dengan wajah tenangnya sama sekali tidak menampilkan guratan cemas atau terkejut. Ekspresi sulit diterka dan dibaca. Pria setenang ini tentu sedalam itu menanggapi permintaan asistennya.
“Cantumkan surat izin cuti, temui saya besok.” Yudistira menatap kilas mata Mawar, pria itu tidak tersenyum. Melainkan menatap tajam mata gadis yang terus membatu.
——
Bersambung
Makacihhh lope sekeboon untuk pembaca