Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BANGKITNYA SANG PANGLIMA PERANG

BANGKITNYA SANG PANGLIMA PERANG

Coky Junior | Bersambung
Jumlah kata
41.4K
Popular
100
Subscribe
26
Novel / BANGKITNYA SANG PANGLIMA PERANG
BANGKITNYA SANG PANGLIMA PERANG

BANGKITNYA SANG PANGLIMA PERANG

Coky Junior| Bersambung
Jumlah Kata
41.4K
Popular
100
Subscribe
26
Sinopsis
18+FantasiSci-FiMonsterBalas DendamKekuatan Super
Pertarungan antara Sains vs Purba "Dendam adalah pemicunya. Sains adalah senjatanya. Dan kekuatan purba adalah sekutunya. Ikuti perjalanan Jason, sang Panglima yang bangkit dari kematian untuk memburu para pembunuh orang tuanya dalam perang antar legiun yang tak terelakkan." ​Keluarga Perkins dihancurkan oleh pengkhianatan orang kepercayaan dan konspirasi Jenderal militer rakus. Jason, sang putra mahkota yang selamat, tak menyadari bahwa sebuah serum rahasia telah mengalir di darahnya sejak bayi—senjata biologis yang hanya terbangun oleh kemarahan.​Kini, di tengah kejaran tentara bayaran Pablo, Jason harus membangkitkan insting purbanya. Bersama tiga sahabat setia, dia memulai perburuan maut untuk menuntut balas. Namun, di dunia di mana teknologi bertemu mistis, Jason harus memilih: menjadi penyelamat, atau monster yang ditakuti dunia.
Bab 1-Mata Merah di Balik Kegelapan

Darah mengalir deras di betisnya, namun Jason tetap berlari dengan sisa tenaganya dari kejaran Pablo dan pasukannya tanpa arah yang pasti. Suasana rimba belantara yang gelap, membuat dia melabrak apa pun yang di depannya, hingga sekujur tubuhnya penuh dengan luka memar.

Pablo mengayunkan senjatanya dengan kuat. "Cepat, kejar sampai dapat!" titahnya dengan bengis. "Tangkap dia hidup-hidup!" lanjutnya.

Jason tidak peduli lagi dengan luka di sekujur tubuhnya, air matanya mengering sudah mengingat kedua orang tuanya di bunuh dengan sadis di depan matanya oleh Pablo. Tekad hidupnya kian membara, demi membalas kematian orang tuanya. Adiknya yang bernama Jane, berhasil ditangkap oleh anak buah Pablo.

Dalam larinya yang tidak kenal lelah, di otak Jason cuma ada satu harapan. "Jane, semoga kau baik-baik saja! Aku berjanji akan datang menyelamatkanmu," batinnya panas. "Ayah, ibu, maafkan aku yang tidak mampu melindungi kalian."

Derap langkah pasukan Pablo, terdengar seperti guntur yang menggetarkan permukaan tanah rimba belantara. Jason merayap di antara semak berduri, napasnya tersengal, meninggalkan jejak darah yang kental di atas dedaunan kering. 

Blade yang berjalan angkuh di samping Pablo, hanya bisa tersenyum liar. Bulu hitam dan berduri di seluruh tubuhnya, tampak menajam di kegelapan malam. "Aku Blade, dia tidak akan lari jauh, Pablo!"

"Mengapa kau begitu meremehkannya, Blade? Kau punya kekuatan super, mengapa tidak langsung tangkap itu Jason?"

"Aku Blade, aku tidak meremehkannya, aku sedang menguji kesabarannya sejauh mana dia mampu berlari."

"Aku tidak ingin berlama-lama di dalam hutan sialan ini, Blade! Kau tahu sendiri, aku masih banyak kesibukan di markas."

"Aku Blade, tenanglah, Pablo! Anggap saja ini permainan."

Pablo meludah kasar ke samping. "Permainan? Aku tidak butuh permainan, aku butuh chip yang ada di tangan Jason!"

Di kedalaman rimba, Jason merayap di atas tanah yang lembap, merasakan hawa dingin mulai menusuk sumsum tulangnya. Setiap kali Blade berucap, suaranya yang berat seolah bergema di antara pepohonan, membuat bulu kuduk Jason berdiri kaku. Luka di betisnya tidak hanya mengeluarkan darah, tapi juga mulai terasa berdenyut dengan irama yang aneh, panas dan menyakitkan. 

"Aku Blade, aku bisa mencium aroma ketakutanmu, Jason!" teriaknya lagi, disusul suara gesekan dahan pohon yang patah saat tubuh berdurinya melintas. 

Jason menggigit bibirnya hingga berdarah, untuk menahan erangan sakit. Di depannya, sebuah jurang yang terjal pekat menghadang, dengan bau busuk yang menyengat. Tidak ada pilihan lain, terjun ke dalam jurang itu atau menjadi mainan Blade yang angkuh.

Tawa Blade menggema kembali, kali ini lebih keras. "Aku Blade, kau tidak perlu bersusah payah berlari, Jason! Kau tahu, aku bisa menangkapmu dalam sekejap mata."

Jason mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan. Tanpa dia sadari, tanah lembap di bawah kakinya sedikit berasap setiap kali jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Penderitaannya di rimba ini baru saja memasuki babak yang paling mematikan. 

Jason berdiri di tepi jurang, kerikil yang dipijaknya jatuh ke dalam kegelapan tanpa suara dasar, menandakan betapa dalamnya jurang itu. Hawa panas di telapak kakinya semakin menjadi-jadi, kepulan asap tipis dari tanah lembap itu mulai berbau belerang. "Kalau aku mati di sini, Pablo tidak akan mendapatkan apa-apa!" batinnya penuh dendam, matanya menatap jurang yang tampak seperti mulut raksasa yang siap menelannya. 

Blade muncul dari kegelapan, tubuhnya yang setinggi dua meter lebih tampak mengerikan dengan duri-duri hitam yang bergetar dan mengeluarkan suara gesekan yang memekakkan telinga. "Aku Blade, lari ke mana lagi kau sekarang, Adik kecil?" 

Jason menoleh sekilas, melihat mata kuning Blade yang menyala liar. Tanpa banyak bicara, dia memejamkan mata dan menjatuhkan badannya ke belakang, membiarkan gravitasi membawanya ke dalam jurang terjal itu. Lebih baik hancur berkeping-keping daripada chip itu jatuh ke tangan iblis seperti Pablo. 

Namun sayang, Blade yang memiliki gerakan yang sulit diikuti mata, berhasil menangkap tubuh Jason yang baru saja melayang di udara.

Begitu Blade memijakkan kakinya di tanah lagi, dia menghempaskan tubuh Jason dengan kuat.

Tubuh Jason menghantam tanah dengan bunyi "GEDEBUK!" yang memuakkan, paru-parunya seolah meledak dan pandangannya langsung buram tertutup debu serta darah. "Uhukk!" Jason terbatuk hebat, memuntahkan cairan kental berwarna merah ke atas dedaunan kering. 

"Aku Blade, kau pikir punya hak untuk memilih kematianmu sendiri?" suara Blade terdengar begitu dekat, mengintimidasi tepat di atas kepala Jason yang terkulai lemah. 

Pablo berjalan mendekat dengan langkah yang angkuh, matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat mangsanya tidak berdaya. "Bagus, Blade! Jangan biarkan dia mati dulu sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau," ucapnya sambil menendang rusuk Jason dengan sepatu bot kulitnya yang keras. "Sekarang, berikan chip itu atau aku akan memotong betismu inci demi inci!" 

Jason mengerang, tapi di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sensasi kesemutan di ujung jemarinya berubah menjadi sengatan panas yang luar biasa. Tanah di bawah tubuhnya tidak lagi hanya berasap, tapi mulai mengeluarkan percikan cahaya biru yang sangat tipis, seiring dengan dendamnya yang mulai mendidih. 

Jason menatap Pablo dengan tatapan yang sulit ditebak. "Kau membunuh ayah dan ibuku, aku tidak akan mengampunimu, Pablo! Kau pengkhianat!"

Tawa lepas Pablo menggema di tengah rimba yang menyeramkan. "Dengan cara apa kau akan membunuhku, Jason? Bila kau memang ingin melakukannya, sekarang atau tidak sama sekali."

Blade berdiri di belakang mereka, duri-duri di tubuhnya kembali menajam level predator. "Aku Blade, serahkan dia padaku jika dia tetap bungkam, Pablo. Aku punya ribuan cara untuk membuat kulitnya terkelupas perlahan." 

Jason hanya bisa memejamkan mata, menahan rasa sakit yang luar biasa. Di tengah keputusasaannya, telinganya menangkap suara geruman rendah yang sangat dalam dan mengerikan dari kegelapan hutan di sekeliling mereka. Geruman yang bukan berasal dari manusia, juga bukan dari mutan seperti Blade. 

"Aku Blade, jangan menguji kesabaranku, Jason! Bila kau memberikannya sekarang, hidupmu lebih panjang."

Pablo yang sudah tidak sabar dan tidak tahan di alam liar, menginjak kepala Jason yang terkapar tak berdaya. "Di mana kau sembunyikan chip itu, Jason?" bentaknya tajam.

Di tengah siksaan itu, Jason hanya bisa mengepalkan jemarinya ke tanah. Di bawah telapak tangannya yang gemetar, suhu tanah perlahan mulai naik, seolah-olah ada arus panas yang mengalir dari tubuhnya menuju akar-akar pohon di bawah sana. Sebuah tanda samar dari serum yang bereaksi terhadap trauma fisik yang ekstrem, meski Jason sendiri terlalu lemah untuk menyadarinya.

Di saat Jason dalam kondisi kritis, tiba-tiba saja bermunculan banyak sosok bayangan hitam dari balik pepohonan. Mereka tidak bersuara, hanya sepasang mata merah menyala yang mengintip dari balik kegelapan, mengunci setiap gerakan pasukan Pablo. 

Lanjut membaca
Lanjut membaca