

Riko Ardiansyah Dwi Saputra adalah seorang pria yang hidup dalam kenyamanan yang stagnan. Baginya, dunia adalah sebuah lingkaran kecil yang berporos pada tiga titik: pabrik tempatnya bekerja sebagai karyawan biasa dan kamar tidurnya yang pengap namun hangat. Riko selalu memegang teguh sebuah filosofi yang ia buat-buat sendiri untuk menenangkan hatinya: bahwa takdir itu seperti kurir paket, ia akan menemukan alamatnya sendiri tanpa perlu kita kejar sampai berkeringat.
Namun, sore itu, tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun mulai retak. Pemicunya sangat sederhana, namun dampaknya lebih dahsyat daripada guncangan mesin di pabriknya.
Riko baru saja melepas sepatu botnya yang berat ketika ibunya muncul dari dapur. Di tangannya, sang ibu membawa sebuah amplop berwarna krem dengan aksen emas yang elegan.
"Ko... tadi teman sekolahmu dulu datang. Dia memberikan ini," ujar ibunya pelan, menyodorkan benda tipis itu.
Riko mengernyitkan dahi. "Apa ini, Bu?"
"Undangan pernikahan," jawab ibunya singkat. Beliau kembali ke meja makan, melanjutkan ritual sorenya mengelap piring-piring keramik yang sebenarnya sudah bersih. "Teman-temanmu... Ibu lihat kebanyakan sudah menikah. Malah ada yang sudah punya anak dua. Kalau kamu... kapan, Ko?"
Kalimat itu meluncur begitu saja, namun bagi Riko, itu terasa seperti serangan telak yang menghantam tepat di ulu hati. Ia terdiam sebentar, mencari kata-kata di antara tumpukan rasa canggungnya.
"Belum waktunya, Bu..." jawabnya pelan, hampir seperti bisikan.
"Dari dulu juga begitu kalau kamu ditanya," sahut sang ibu tanpa menoleh, namun ada nada prihatin yang tidak bisa disembunyikan.
Tanpa membantah lagi, Riko segera masuk ke kamarnya. Ia merasa butuh perlindungan. Ia mengangkat "Boy", kucing persia medium kesayangannya yang sedang tidur mendengkur di atas bantal. Riko merebahkan tubuhnya di kasur, mendekap Boy erat-erat hingga kucing itu mengeong protes.
"Emang penting ya, Boy, menikah itu?" gumam Riko sambil menatap mata kuning kucingnya yang bulat. Boy hanya mengerjap, lalu kembali memejamkan mata, membiarkan majikannya tenggelam dalam kegalauan sendirian.
Beberapa hari kemudian, dengan setelan batik yang paling mendingan yang ia punya, Riko terpaksa hadir di pesta pernikahan tersebut. Ia mencoba berbaur, namun insting introvert-nya terus berteriak agar ia segera pulang.
"Lho! Riko! Mana pacarmu? Kok nggak diajak?" seorang teman lama menyapanya dengan suara keras, menarik perhatian beberapa orang di sekitar meja prasmanan.
Riko tersentak, hampir saja menjatuhkan gelas sirupnya. "Pacar... pacar hantu," jawabnya spontan dengan nada datar yang kikuk.
Gelak tawa pecah dari teman-temannya. Mereka menganggap itu sebuah lelucon yang lucu, namun bagi Riko, tawa itu terdengar seperti ejekan halus. Ia merasa sebal, merasa seperti alien di tengah kerumunan orang-orang yang sibuk memamerkan pasangan dan cincin di jari manis mereka.
Saat hendak melangkah menuju parkiran, langkah Riko terhenti sejenak di dekat gerbang. Ia tidak sengaja mendengar dua pemuda yang sedang merokok sambil tertawa-tawa membahas sesuatu di ponsel mereka.
"Gila, gue dapet match lagi di aplikasi ini. Cantik banget, Bro! Orangnya asyik diajak chatting," ujar salah satu pemuda itu.
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Riko sepanjang jalan pulang. Sesampainya di rumah, rasa penasaran itu membuncah. Ia duduk di pinggir kasur, menatap layar ponselnya yang retak di bagian sudut.
"Oke, Riko. Ini cuma aplikasi. Bukan berarti kamu bakal langsung nikah besok," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya terdengar agak parau karena seharian ini ia hanya bicara dengan Boy.
Proses mengunduh terasa seperti selamanya. Begitu aplikasi itu terpasang, tantangan pertama yang membuatnya hampir menyerah muncul: Buat Profil Anda.
Riko berkeringat dingin. Baginya, mendeskripsikan diri sendiri lebih sulit daripada menjelaskan teori relativitas. Ia mulai mengisi kolom nama.
Nama: Riko Ardiansyah Dwi Saputra.
Ia menghapusnya. "Terlalu panjang. Kayak nama tersangka di berita kriminal," pikirnya.
Nama: Riko Sang Pengembara Kata.
Ia menghapusnya lagi sambil bergidik. "Terlalu lebay. Nanti dikira jualan obat herbal."
Akhirnya, ia memilih nama singkat: "Rads". Diambil dari huruf depan namanya yang panjang. Kemudian masuk ke bagian paling horor: Foto Profil.
Riko membuka galeri foto. Isinya 90% adalah foto kucing, 5% foto pemandangan langit yang estetik tapi suram, dan 5% sisanya adalah foto dirinya yang diambil secara tidak sengaja atau swafoto gagal. Ia menemukan satu foto saat ia sedang berada di sebuah kedai kopi murah beberapa bulan lalu. Di foto itu, ia sedang menatap kosong ke arah luar jendela. Wajahnya tertutup sebagian oleh cangkir kopi, hanya menyisakan sorot matanya yang terlihat melankolis.
"Ini oke. Orang bakal mikir aku cowok puitis, padahal aslinya aku cuma lagi bingung mau pesan kopi apa lagi yang paling murah supaya bisa numpang Wi-Fi lamaan," pikirnya bangga.
Terakhir, ia harus mengisi bio.
Riko mengetik: "Suka main game dan jago menggendong di dalam game. Tidak pandai berbasa-basi."
Ia menghapusnya dengan cepat. "Terlalu kekanak-kanakan."
Ia mencoba lagi: "Suka menggambar dan hal-hal yang lucu."
"Nah, ini lumayan," pikirnya. Ia menekan tombol Save dengan tangan gemetar.
Petualangan pun dimulai. Layar ponselnya mulai menampilkan deretan foto perempuan. Ada yang berpose di puncak gunung, ada yang di depan menara Eiffel yang ia curigai itu hanya editan studio, dan ada yang fotonya hanya menampakkan kaki atau kuteks saja. Riko melakukan swipe dengan sangat hati-hati. Ia tidak mau asal geser. Setiap profil dipelajari layaknya ia sedang membedah naskah novel atau instruksi operasional mesin di pabrik.
Tiba-tiba, muncul sebuah profil dengan foto seorang wanita yang tersenyum manis di bawah pohon. Namanya Rista. Ada sesuatu yang berbeda dari matanya—terlihat ramah dan hangat. Tanpa berpikir panjang kali ini, Riko menggeser jempolnya ke kanan.
MATCH!
Ponsel Riko bergetar hebat. Jantungnya ikut melompat seolah-olah baru saja mengalami serangan panik. Warna layar berubah menjadi penuh kembang api digital dan tulisan besar yang menyatakan bahwa mereka berdua saling menyukai.
"Astaga, dia juga swipe kanan?" Riko melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu baru saja mengeluarkan setruman listrik ribuan volt.
Ia mondar-mandir di kamar, memegangi kepalanya yang mendadak pening. Ia menatap ponselnya dari kejauhan, menanti sesuatu yang mustahil. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Akhirnya, sebuah notifikasi muncul dengan bunyi denting yang nyaring.
Rista: "Hai :)"
Riko membeku. Ia harus membalas. Tapi bagaimana caranya agar tidak terlihat seperti orang bodoh? Apakah ia harus membalas dengan gaya formal? Atau puitis seperti novel-novel yang sering ia bayangkan?
Ia mulai mengetik dengan jari gemetar.
"Hai juga. Kamu orang mana, Nona?"
Pesan terkirim. Begitu melihat gelembung pesannya sendiri, Riko langsung ingin menenggelamkan wajahnya ke bak mandi. "Ini terlalu alay nggak sih? Nona? Emangnya ini zaman penjajahan?" ia merutuk dirinya sendiri, menggulingkan tubuh di kasur dengan rasa malu yang membara.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Rista: "Aku orang Jabar, Tuan."
Riko terbelalak. "Wohh, dia jawabnya juga pakai begituan!" serunya tertahan. Ia merasa ada secercah harapan. Apakah wanita ini punya frekuensi kegilaan yang sama dengannya? Apakah dia suka dengan gaya bicara kuno ini?
Riko pun semakin berani. Ia membalas lagi, kali ini dengan niat menggoda yang ia pelajari dari kutipan-kutipan internet.
"Jauh juga ya. Kirain tadi Nona orang Jawa Tengah... maksudnya, Jawa-ban dari doa-doa saya selama ini. Hehe."
Begitu menekan tombol kirim, Riko langsung menutup mukanya dengan bantal. "Kok aku jadi kayak gini ya? Memalukan sekali!"
Ponselnya berdering lagi. Dengan satu mata tertutup, ia mengintip layar.
Rista: "Ehh, bisa aja ngegombalnya, Tuan."
Wajah Riko memerah panas. Ia bisa merasakan aliran darahnya berdesir kencang. Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman tulus yang jarang muncul di wajahnya belakangan ini. Ia menatap Boy yang sedang menjilati kakinya di pojok kasur.
"Maaf ya, Boy," bisik Riko. "Aplikasi ini mungkin tidak memberiku jodoh secara instan, tapi setidaknya, aku punya alasan untuk tidak terlalu sering berbicara denganmu malam ini."
Riko kembali menatap layar ponselnya, menunggu balasan selanjutnya dari Rista, sambil merasa bahwa mungkin saja—hanya mungkin—kurir takdir itu memang benar-benar sedang menuju ke alamatnya melalui sinyal internet.