Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Triliuner Nyicil Kerupuk: Obsesi Kejar Rp0

Triliuner Nyicil Kerupuk: Obsesi Kejar Rp0

keenan | Bersambung
Jumlah kata
55.6K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Triliuner Nyicil Kerupuk: Obsesi Kejar Rp0
Triliuner Nyicil Kerupuk: Obsesi Kejar Rp0

Triliuner Nyicil Kerupuk: Obsesi Kejar Rp0

keenan| Bersambung
Jumlah Kata
55.6K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratPecundang Kaya
Galih Ginanjar bukan CEO dingin yang gemar membuang uang, melainkan penderita fobia pengeluaran kronis yang lebih memilih berjalan kaki sejauh dua puluh kilometer daripada kehilangan kembalian dua ratus perak. Para pemegang saham mengira gaya hidup kumuhnya adalah kampanye 'Eco-Green-Asceticism' yang revolusioner hingga membuat saham perusahaan meroket, padahal Galih sedang sibuk menyamar menjadi kurir paketnya sendiri demi menghemat biaya pengiriman. Drama meledak saat ia hampir memecat manajer operasionalnya hanya karena sang manajer menggunakan dua lembar tisu toilet sekaligus, sebuah tindakan kikir yang tanpa sengaja membongkar rahasia bahwa seluruh gedung kantor megahnya sebenarnya dibangun dari material sisa proyek dan tumpukan barang hasil 'buy one get one free' selama satu dekade.
Triliuner Pemburu Ongkir: Misi Rahasia di Tengah Rapat

Di puncak lantai delapan puluh delapan Ginanjar Tower, suasana seharusnya tegang karena laporan laba kuartal ketiga yang baru saja dirilis. Namun, ketegangan yang dirasakan Galih Ginanjar sama sekali tidak ada hubungannya dengan angka-angka miliaran dolar yang terpampang di layar proyektor raksasa di depan ruang rapat. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu meruntuhkan mental lawan bisnis dalam sekali tatap, kini terpaku pada layar ponsel pintar miliknya yang diletakkan secara tersembunyi di balik map dokumen kulit buaya seharga satu unit apartemen. Detik terus berdetak, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia mengakuisisi perusahaan tambang di Australia tahun lalu. Tiga, dua, satu, gumamnya dalam hati, nyaris tak terdengar. Jari jempolnya menari dengan kecepatan cahaya di atas layar, menekan tombol 'Klaim' pada spanduk digital bertuliskan 'Gratis Ongkir Rp0 Tanpa Minimum Belanja'.

"Pak Galih, proyek reklamasi ini membutuhkan persetujuan Anda segera," ucap salah seorang direktur operasional dengan suara bergetar. Galih tidak mendongak sedikit pun. Ia justru baru saja mendapati notifikasi menyakitkan di layar ponselnya: 'Voucher gagal diklaim, silakan coba lagi'. Wajahnya berubah pucat, lalu memerah padam dalam sekejap. Seluruh ruangan mendadak hening, para petinggi perusahaan saling lirik, mengira sang CEO sedang murka karena angka proyek yang tidak sesuai ekspektasi. Padahal, di balik jas khusus penjahit Savile Row itu, Galih sedang meratapi hilangnya potensi penghematan sebesar sepuluh ribu rupiah. Sebuah tragedi finansial yang menurutnya lebih buruk daripada krisis moneter tahun sembilan delapan.

"Indra!" teriak Galih tiba-tiba, memanggil asisten pribadinya yang berdiri siaga di pojok ruangan. Indra segera menghampiri dengan langkah sigap, mengira ada instruksi strategis untuk menghancurkan kompetitor. "Kenapa kecepatan Wi-Fi di lantai ini turun 0,5 Mbps? Apakah kamu tahu bahwa keterlambatan satu milidetik tadi baru saja merampas hak asasi saya untuk berhemat?" Seluruh direksi terperangah, mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan bos besar mereka, namun mereka mengangguk-angguk seolah itu adalah metafora bisnis yang sangat dalam tentang efisiensi waktu.

Indra hanya bisa menelan ludah, ia satu-satunya orang yang tahu bahwa bosnya adalah penderita fobia pengeluaran kronis. Galih Ginanjar, pria yang hartanya sanggup membeli satu pulau kecil di Karibia setiap bulan, adalah orang yang sama yang akan mencuci kantong plastik bekas demi bisa digunakan kembali. Indra membungkuk sedikit dan berbisik, "Maaf Pak, mungkin karena cuaca. Tapi tenang, masih ada sesi Flash Sale jam satu siang nanti untuk produk Kerupuk Kaleng Putih diskon 99%." Mendengar itu, binar mata Galih kembali. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri demi menjaga reputasi dinginnya sebagai 'The Shark of Wall Street' versi lokal.

"Lanjutkan rapatnya," ujar Galih dengan suara berat yang dibuat seserius mungkin. "Tapi pastikan AC di ruangan ini disetel ke 26 derajat Celsius. Kita tidak perlu membekukan ruangan untuk sekadar bicara soal uang. Ingat, efisiensi adalah kunci." Para direktur mencatat instruksi itu dengan takzim, mereka benar-benar mengira ini adalah bagian dari kampanye 'Eco-Green-Asceticism' yang sedang dipopulerkan Galih. Mereka tidak tahu bahwa Galih baru saja menghitung bahwa menaikkan suhu AC dua derajat akan menghemat tagihan listrik gedung sebesar empat puluh ribu rupiah per jam.

Setelah rapat yang terasa seperti siksaan bagi Galih selesai, ia segera mengunci diri di ruang kerjanya yang luas namun terasa sepi karena ia sengaja mencopot tiga dari empat lampu gantung kristal di sana. Ia kembali membuka aplikasi belanja 'Tokokilat'. Di sana, ia sedang mengikuti kompetisi 'Si Paling Hemat' tingkat nasional. Posisinya saat ini berada di peringkat kedua, terpaut tipis dari seorang pengguna bernama 'MendangMendingQueen'. Galih mengepalkan tinjunya. Ia harus menang. Baginya, menjadi triliuner bukan tentang berapa banyak uang yang dimiliki, tapi tentang berapa banyak uang yang berhasil tidak dikeluarkan.

Ia melihat target buruannya: satu kaleng besar Kerupuk Ikan Premium. Harga aslinya lima puluh ribu rupiah, tapi dengan sistem 'Cicilan 12 Kali' dan gabungan voucher gratis ongkir, ia hanya perlu membayar sekitar empat ribu rupiah per bulan. "Nyicil kerupuk?" gumamnya sambil tersenyum licik. "Siapa lagi yang terpikir ide sejenius ini? Bunganya nol persen, dan saya bisa memutar sisa uang empat puluh enam ribu rupiah itu di pasar saham untuk menghasilkan keuntungan dua puluh persen dalam sebulan. Ini bukan sekadar belanja, ini adalah arbitrase keuangan tingkat dewa!"

Namun, masalah besar muncul. Alamat pengiriman harus akurat agar kurir tidak berputar-putar yang bisa berisiko paket dibatalkan. Galih tidak mungkin mengirimnya ke lobi Ginanjar Tower. Jika para karyawan melihat bos mereka menerima paket kerupuk kaleng hasil promo, reputasinya bisa hancur. Ia harus menyamar. Ia segera membuka lemari rahasia di balik rak buku mahoninya. Di sana, alih-alih berisi brankas uang, terdapat koleksi seragam kurir berbagai ekspedisi, jaket ojek online yang sudah agak pudar, hingga topi lusuh yang ia beli di pasar loak dengan tawar-menawar yang berlangsung selama dua jam.

Galih mengganti jas mahalnya dengan jaket parasut berwarna oranye kusam. Ia menatap cermin, merasa puas. "Sempurna. Tidak akan ada yang mengenali Galih Ginanjar di balik bau matahari ini," ucapnya bangga. Ia kemudian keluar melalui pintu servis, menghindari kamera CCTV yang sebenarnya ia sendiri yang memerintahkan untuk dimatikan di area tertentu demi menghemat biaya penyimpanan memori hard disk server.

Di luar gedung, udara Jakarta yang panas menyengat langsung menyambutnya. Galih berjalan kaki menuju gang kecil di samping gedung pencakar langitnya. Ia harus menunggu kurir di sana. Sambil menunggu, ia melihat seorang pengemis yang sedang duduk santai. Bukannya memberi uang, Galih justru mendekat dan bertanya, "Bang, tahu tidak kalau pakai aplikasi ini, abang bisa dapat beras gratis cuma dengan main game siram tanaman?" Si pengemis menatap Galih dengan tatapan kasihan, lalu merogoh sakunya dan memberikan uang seribu rupiah kepada Galih. "Nih, Mas, buat beli minum. Kelihatannya Mas lebih butuh daripada saya."

Galih menerima uang seribu itu dengan tangan gemetar. Bukannya marah, ia justru menangis terharu dalam hati. Keuntungan bersih seribu rupiah tanpa modal! Ini adalah hari terbaik dalam hidupnya. Ia segera memasukkan uang itu ke dalam kaus kakinya, tempat penyimpanan paling aman yang ia miliki. Tak lama kemudian, sebuah motor bebek tua berhenti di depannya. Si kurir tampak kebingungan mencari alamat.

"Paket atas nama G. Ginanjar?" tanya kurir itu sambil menyeka keringat. Galih segera maju dengan semangat membara. "Saya! Saya sendiri!" Ia menerima kaleng kerupuk itu seolah-olah itu adalah trofi kemenangan Piala Dunia. Namun, saat ia memeriksa aplikasi di ponselnya, jantungnya nyaris berhenti. Status pengiriman tertulis: 'Gagal mendapatkan cashback karena koordinat GPS tidak sesuai'.

Galih melotot. Hanya karena ia bergeser sepuluh meter dari titik yang ditentukan untuk menghindari satpam, ia kehilangan cashback sebesar lima ratus rupiah. Darahnya mendidih. Ia menatap kurir itu dengan pandangan yang biasanya ia gunakan untuk mengintimidasi menteri ekonomi. "Kamu... kenapa tidak berhenti tepat di koordinat 6.2088 derajat Lintang Selatan?!" serunya. Kurir itu kebingungan, "Waduh Mas, saya kan cuma pakai Google Maps, bukan pakai sistem navigasi rudal balistik!"

Drama kerupuk itu baru saja dimulai. Di saat yang sama, sebuah mobil mewah Bentley berhenti tepat di depan gang. Kaca jendela belakang menurun perlahan, menampakkan sosok wanita cantik dengan kacamata hitam yang tampak sangat familiar. Itu adalah Clarissa, saingan bisnisnya sekaligus wanita yang dijodohkan dengannya oleh sang kakek. Galih membeku, masih memeluk kaleng kerupuk besar dengan jaket oranye kusamnya. Jika Clarissa melihatnya seperti ini, bukan hanya perjodohannya yang batal, tapi saham Ginanjar Group bisa terjun bebas karena spekulasi bahwa sang CEO telah bangkrut dan menjadi kurir lepas.

Lanjut membaca
Lanjut membaca