
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
“senja Cowok 28th penjaga butik di Ubud yang jago dandanin orang tapi nggak bisa dandanin hubungannya sendiri. Tiap malam dia nulis surat buat mantannya yang nggak pernah dikirim. Sampai surat itu nggak sengaja kebaca sama anak bosnya yang baru pulang dari bandung untuk ngecek keadaan di butik.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pertemuan
Hujan di Ubud sore itu mencampur bau tanah basah dengan aroma dupa melati. Arga, laki-laki 28 tahun, sedang mengelap kaca butik yang mengembun. Iseng, jarinya menulis satu nama yang sudah ia hapus dari kontak: “Asri”.
Bodoh, gumamnya. Buru-buru ia hapus nama itu dengan kanebo, seolah kenangan bisa hilang segampang uap di kaca. Ia palingkan wajah, pura-pura sibuk, sampai tepukan pelan di pundak membuyarkan lamunannya.
“Kak,” panggil Wina sambil melambaikan tangan di depan wajah Arga."
“Bengong aja. Ucapnya "
Arga berbalik, otomatis memasang senyum Pepsodent . “eh ada kak Wina ada yang bisa saya bantu, Kak ?”
“Boleh minta tisu?” Wina nunduk, mengelap dress-nya yang basah."
“Tumben keliatan, Kak.kata Arga sambil mengambilkan tisu ke belakang "
"Baru pulang dari Bandung, habis cari bahan buat dress orderan kemarin. Butik rame nggak?”tanya Wina
Arga meletakkan kanebo, menyerahkan kotak tisu. “Alhamdulillah ada aja yang datang, Kak. Bentar lagi juga ada yang mau fitting dress prewed, janjian jam 5. Cuma kayaknya telat karena hujan.”
“Atas nama Dihan, bukan?” Wina menebak.
“Iya, Kak.”
“Wah itu sahabat aku pas SD, Bang. Biar aku aja yang handle sekalian temu kangen.” Belum sempat Arga jawab, lonceng pintu berdenting. Sepasang kekasih masuk, basah kuyup. Dihan langsung melambaikan tangan dari jauh, lalu memeluk Wina erat.
“Kangen banget, Njirr. Udah lama bet kita nggak ketemu. Makin cantik aja nih calon penganten gue liat. Gimana kabar Mama Papa, sehat kan?” cerocos Wina.
“Alhamdulillah sehat. Oh iya, Umi sama Abi gimana? Kapan pulang dari kampung?”
“Mungkin 2-3 minggu lagi. Ada sepupu gue wedding juga di sana."
"Lah, lu nggak pulang?”tanya dihan
“Kemungkinan habis bahan dateng baru gue bisa pulang ke Padang, Yan. Eh ayo duduk dulu. Mau minum apa?”
“Nggak usah repot, Njirr. Gue sebentar doang kok. Mau fitting terus lanjut ke tempat cetak undangan. Lu kapan nih?” goda dihan ke Wina
“Doain secepetnya ya,” Wina nyengir. “Ya udah kalo nggak lama, gue buatin teh anget aja ya. Abis ujan biar nggak kedinginan.” Ia menoleh ke Arga. “Bang, tolong buatin 3 teh hangat ya.”
"oke kak" sambil berjalan menuju ke pantry Arga melewati manekin yang dibalut slayer biru muda. "udah 8 bulan belum ada yang cocok juga sama warna ini sama kaya gua udah beberapa kali coba belum ada yang cocok gumamnya."
"bentar ya gua siapin dress-nya dulu sambil nunggu Ini ada katalog baru lu bisa liat" dulu sambil nyemil nih ada dodol juga gua bawa dari bandung." ucap Wina sambil menyerahkan katalog dan sekotak dodol.
"makasi besti Masi inget aja gua emng demen banget Ama dodol." sambil mencomot 2 buah dodol 1 untuknya dan 1 untuk Bayu.
"gua kan selalu inget apapun tentang lu. Jadi buat lu jangan sampe buat sahabat gua nangis, ya karna gua sesayang itu sama kunyuk satu ini." sambil menunjuk lalu berjalan ke arah dress yg akan di coba Dihan.
"Aman itu, yang ada sahabat lu nih yang sering buat gua hampir nangis ngadepin sikapnya." sambil memakan dodol
Tak lama Wina datang bersamaan dengan Arga.
Wina
"yan udah bisa di coba sekalian Ama tuxedo Bayu udah gua taro di fitting room juga, kalo lu ga bisa iket talinya ntar panggil gua aja." ucap Wina sambil berjalan lalu duduk di sofa.
Arga
"ini tehnya kak." sambil meletakkan teh di atas meja
mengambil teh yg di buatkan Arga lalu mengaduk teh Wina melihat ke arah fitting room “Bang, inget bgt dulu Dihan nangis 3 hari karna ikan cupangnya mati. Sekarang udah mau nikah aja . Cepet banget ya waktu berlalu. belum siap rasanya aku di tinggal dia nikah duluan”
Arga
Ambil lap, pura-pura beresin meja: “Iya, Kak. Yang ditinggal kadang nggak siap, tapi yang ninggalin udah jalan duluan.”
Wina
Diem sebentar, mengaduk teh. Terus nyeletuk: “Abang nggak kepikiran nikah?”
Arga
Ketawa kecil, pahit: “Saya Kak? Ngurus idup sendiri aja masih berantakan.”
Wina
Nada ngeledek tapi matanya serius: “Alah, berantakan gimana. Tuh tiap customer cewek pulang pasti senyum. Abang kan pinter bikin orang ngerasa cakep.”
Arga
Nunjuk selendang biru di manekin: “Yang itu udah 8 bulan nggak ada yang mau bawa pulang, Kak. Nggak semua bisa saya bikin cakep.”
Wina
Ngenotice selendang itu, terus natap Arga: “Atau mungkin belum ketemu yang pantes makenya aja, Bang.”Jari Arga yang lagi ngelap meja berhenti sepersekian detik. melihat teh di cangkir Wina ngebul, nutupin setengah wajahnya. Seketika tatapan Arga kembali kosong teringat kejadian saat kaca butik yang tadi dia lap: ngembun, terus dihapus, terus ngembun lagi. Nama "Asri" tiba-tiba kebaca lagi di kepalanya.
HENING. SUARA HUJAN. LONCENG FITTING ROOM KEBBUKA
Dihan
Keluar, udah ganti baju: “Woy Yan, gila ini dressnya pas banget. Calon gue sampe pangling. Lo emang nggak pernah salah.”
Bayu
“Makasih ya win udah buat calon bini gua makin cantik tadi pas nyoba sampe pangling gua. ” Terus noleh ke Arga: “Masnya juga, makasih tehnya. Hangat.”
Arga
Nunduk dikit: “Sama-sama, Kak. Semoga lancar sampai hari-H.”
Dihan
" yaudah kalo gitu gua mo langsung sekalian balik ya mau ke tempat cetak undangan soalnya biar ga keburu malem." menenteng payung dan merangkul Dihan sambil berjalan ke luar di antar oleh Wina dan Arga
sebelum keluar mereka sempat berpelukan lagi "jangan lupa Dateng ya sekalian ajak mas Agra biar lu ga keliatan banget jomblonya.'' Dihan tersenyum menggoda Wina
"ye kunyuk, tapi boleh juga sih saran lu yaudah hati' ya." wina tersenyum sambil melambaikan tangan dan mengusap kedua lengannya karna merasakan tusukan dinginnya udara di tambah hujan di luar
"makasi, bye" ketemu di acara aku ya mas Agra." ucap Dihan sambil naik dan menutup pintu mobil di ikuti batu yg masuk dan melipat payung lalu menutup pintu mobil lalu perlahan pergi menghilang di Ujang jalan sana
Lonceng pintu kembali berbunyi menandakan Agra dan Wina kembali masuk ke butik. Tinggal suara hujan sama aroma dupa di meja yang hampir habis. Arga natap selendang biru itu lagi. "Belum ketemu yang pantes," kata Wina tadi. Dia narik napas. Buat pertama kalinya, dia pengen selendang itu tetap nggak laku. Biar ada alasan buat nyimpen.
di saat keheningan menyelimuti mereka terdengar suara nyaring hp Wina yang membubarkan lamunan mereka tertulis nama "Umi" di hp Wina saat mengangkat telepon terlihat perubahan di wajah Wina yang menandakan dia sedikit syok karna mengangkat telpon dari umi antara kabar baik atau buruk yg di dapat Wina.
Wina
"assalamualaikum mi."
Umi
......
Wina
"KOK BISA!"
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








