
Sistem Kultivasi Tiada Tanding
AksaKelana|Bersambung
- Jumlah kata
- 63.5K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 152
- Jumlah kata
- 63.5K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 152
Sinopsis
Wisnu Aji, seorang kakek 89 tahun, meninggal dunia di rumah sakit dengan penuh penyesalan karena hidup miskin dan tidak pernah merasakan cinta. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia memohon agar diberi kesempatan kedua untuk hidup bersenang-senang dan mengencani ribuan wanita. Alih-alih mati, rohnya berinkarnasi menjadi seorang bayi di sebuah dunia kultivasi. Tragedi langsung menyambutnya ketika sang ibu dibunuh oleh sosok misterius bertopeng. Saat nyawanya terancam oleh tikaman pedang, cahaya keemasan tiba-tiba keluar dari tubuhnya dan melenyapkan pembunuh tersebut. Di saat bersamaan, sebuah suara misterius bergemerincing di kepalanya. [Selamat: Host telah mengaktifkan Sistem Kultivasi Tiada Tanding]
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
“Tiga hari.”
Suara dokter muda itu terdengar begitu dingin di telinga Wisnu, seolah menjatuhkan vonis mati tanpa ampun, memotong sisa-sisa harapan yang sejak lama meredup di dalam dadanya.
“Sisa hidup Anda tinggal menghitung hari, Pak. Paling lama tiga hari kedepan.”
Wisnu Aji tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat, kering dan pecah-pecah. Namun anehnya, ia terlihat tenang dan tidak kecewa, seolah memang sudah pasrah dengan hidupnya.
Di usianya yang menginjak delapan puluh sembilan tahun, di atas ranjang rumah sakit kelas tiga yang bau obat antiseptik, ia hanya bisa menatap nanar langit-langit kamar yang putih dan hampa.
Tidak ada anak, tidak ada cucu, bahkan tidak ada satupun yang menemani di sisi ranjang yang sempit ini. Ia hidup sebatang kara, terisolasi dalam penyesalan yang membatu di lubuk hatinya.
“Hidup macam apa ini?” batinnya getir, merutuki takdir yang memperlakukannya dengan begitu kejam.
Sepanjang hidupnya, Wisnu adalah definisi dari kesunyian abadi. Bukan karena ia memilih untuk sendiri, melainkan karena takdir tak pernah memberinya pilihan.
Selain hidup dalam kemiskinan yang mencekik dan meremukkan tulang, ia terbelenggu oleh ketakutan sosial yang akut, sebuah fobia yang membuatnya selalu menunduk, takut berbicara, dan merasa dirinya tidak terlihat di dunia.
Hingga detik-detik menjelang ajalnya, jangankan mencium pipi seorang wanita, menggenggam tangan lembut seorang wanita pun tidak pernah ia rasakan. Ia hidup bagaikan bayangan, melintasi dunia tanpa meninggalkan jejak atau merasakan kehangatan cinta.
“Tuhan... jika Engkau benar-benar ada, dan jika ada kesempatan kedua... aku tidak mau hidup seperti ini lagi!”
Isakan tertahan lolos dari tenggorokannya yang kering. Di dalam hatinya, api keputusasaan yang membara berubah menjadi kobaran dendam pada nasib.
“Jika aku diberi kehidupan selanjutnya, aku akan merenggut semua kesenangan yang tak pernah kudapatkan. Aku akan mencicipi indahnya dunia, mengencani ribuan wanita, dan hidup tanpa penyesalan!”
Itulah kalimat terakhir yang melintas di benaknya, sebuah janji egois dari seorang pria tua yang mati dalam kehampaan.
Setelah itu, garis hijau pada layar monitor ECG lurus mendatar, diiringi bunyi panjang yang memekakkan telinga, sebuah tanda universal bahwa riwayatnya di dunia telah paripurna. Wisnu menutup mata untuk selamanya dari dunia yang telah mengabaikannya.
Wisnu mengira ia akan langsung diseret ke neraka yang paling dasar. Namun, kesadarannya tidak musnah. Gelap gulita menyelimuti sejenak, sebelum sensasi hangat dan sesak menghimpit tubuhnya dengan ganas, seolah menariknya keluar dari lorong waktu yang sempit.
Deru angin malam yang dingin, bau darah yang amis dan menyengat, serta tangisan bayi yang melengking tiba-tiba menghantam indranya tanpa ampun.
“Tunggu... apa ini? Kenapa aku bisa mendengar suara bayi menangis? Kenapa paru-paru ini terasa begitu kecil dan sesak?”
Ketika Wisnu berhasil membuka matanya, pandangannya masih kabur, terkabut oleh air mata dan kotoran dunia baru.
Ia tidak berada di atas ranjang rumah sakit yang sempit, melainkan terbaring di atas tanah yang dingin, basah, dan penuh lumpur.
Seketika, gelombang memori asing menghantam kepalanya bagaikan hantaman palu godam.
Ini bukanlah bumi. Ini adalah dunia kultivasi, sebuah tempat di mana hukum rimba berlaku tanpa belas kasihan, di mana yang kuat memangsa yang lemah, dan kekuatan bela diri adalah satu-satunya mata uang yang berlaku.
Namun, sambutan atas kelahiran keduanya sama sekali tidak ramah.
Di hadapannya, sesosok bayangan hitam berdiri tegak menjulang di bawah rembulan. Wajah sosok itu tertutup rapat oleh topeng perak yang memantulkan cahaya pucat, memancarkan niat membunuh yang pekat.
Di tangan sosok bertopeng itu, sebilah pedang panjang berlumuran darah segar menetes ke tanah, menciptakan suara cipratan kecil yang mengerikan.
“Darah siapa itu?”
Pandangan Wisnu yang mulai fokus bergeser ke samping, menembus kabut tipis hutan.
Jantungnya, meskipun berukuran bayi dan berdetak kencang, mendadak serasa copot dari tempatnya. Di atas rerumputan yang basah oleh embun dan darah, seorang wanita berlumuran luka menganga tergeletak tak bernyawa.
Wanita itu adalah ibu yang baru saja melahirkannya, wanita yang mempertaruhkan nyawanya di tengah hutan belantara. Tubuhnya terkoyak kejam oleh tebasan pedang, dan matanya masih terbuka lebar, menatap kosong ke langit malam seolah meminta keadilan pada semesta.
“Ibu? Aku baru saja dilahirkan ke dunia, dan sekarang ibuku sudah dibunuh di depan mataku sendiri?!” maki Wisnu dalam hati yang berteriak histeris, rasa amarah dan ngeri bercampur menjadi satu.
“Sialan! Dunia macam apa ini?! Aku baru saja mati di bumi, bertransmigrasi dengan penuh harapan, dan sekarang aku akan mati lagi di hari pertama kelahiranku?!”
Sosok bertopeng itu tidak membuang waktu sedetik pun untuk menikmati kejahatannya. Dengan langkah dingin tanpa suara, si pembunuh mendekati bayi Wisnu yang terbaring tak berdaya.
Ujung pedang yang masih meneteskan darah segar diarahkan tepat ke dada kecilnya, bersiap untuk memusnahkan seluruh keturunan keluarga tersebut hingga ke akar-akarnya.
“Tidak... Sialan! Aku belum sempat memegang tangan wanita! Aku belum merasakan indahnya dunia kultivasi ini! Aku tidak mau mati sekarang!” teriak batin Wisnu dengan segenap sisa jiwanya, menolak takdir tragis yang kembali merenggut hidupnya.
Tepat sepersekian detik sebelum ujung tajam pedang berdarah itu menembus kulit dada bayi Wisnu, keajaiban yang melampaui hukum alam terjadi.
BOOM!
Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan panas meledak dari dalam tubuh mungil Wisnu Aji, menyibak kegelapan malam hutan rimba.
Cahaya itu begitu terang, membelah malam bagaikan fajar buatan. Aura kuno, agung, dan menindih ruang di sekitarnya mendadak membeku, membuat udara di tempat itu terasa berat seolah menanggung beban satu galaksi.
Sosok bertopeng itu mendadak terpental mundur sejauh belasan meter, terseret di atas tanah.
Topeng peraknya retak menjadi serpihan, dan ia mengeluarkan suara mengerang kesakitan yang tertahan di tenggorokan. Sebelum pembunuh misterius itu sempat bangkit atau melarikan diri, gelombang cahaya keemasan yang mematikan itu menyapu tubuhnya tanpa ampun.
KREK… ARRGHHH!
Tanpa sempat mengeluarkan jeritan penuh atau memohon ampun, tubuh sosok bertopeng itu hancur berkeping-keping dalam sekejap, melebur menjadi debu emas yang berserakan dan diterbangkan angin malam.
Hutan kembali sunyi mencekam.
Cahaya keemasan yang luar biasa itu perlahan memudar, meresap kembali dengan lembut ke dalam pori-pori kulit bayi Wisnu Aji, meninggalkan rasa hangat yang menenangkan.
Wisnu terengah-engah dalam tubuh bayinya, dadanya naik-turun dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang hingga nyaris melompat keluar. Ia selamat dari maut untuk kedua kalinya dalam hitungan jam.
“Selamat. Aku tidak jadi mati lagi!”
Namun, sebelum rasa lega sempat menenangkan pikirannya yang kalang kabut, sebuah suara mekanis yang dingin namun penuh otoritas surgawi bergema langsung di dalam kepalanya.
[Selamat: Host telah mengaktifkan Sistem Kultivasi Tiada Tanding]
Daftar bab
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








