Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Wagimin Petani Beruntung

Wagimin Petani Beruntung

Gorenganbasah | Bersambung
Jumlah kata
81.2K
Popular
2.0K
Subscribe
391
Novel / Wagimin Petani Beruntung
Wagimin Petani Beruntung

Wagimin Petani Beruntung

Gorenganbasah| Bersambung
Jumlah Kata
81.2K
Popular
2.0K
Subscribe
391
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPria MiskinHarem21+
Sebagai petani biasa, aku mendapat gigitan ular yang membuatku harus dekatdengan para wanita. Setiap penyatuan itu, menunjukkan jalan menuju keberuntungan dan kemenangan.
Bab 1 Hah, Menikahiku?!

Baru berdiri di depan pintu, Wagimin yang merupakan kuli sekaligus petani di desa, tiba-tiba mendengar suara aneh.

“Ahh, i-iya, iya di situ… enak, lanjutin, di situ enak!”

Selama tiga tahun dia menggarap sawah Juragan Darman, pintu itu tidak pernah dikunci sebelum timbangan sore selesai.

"Pak Sukri? Ini saya, Wagimin, mau ngembaliin karung yang dua puluh!" Pemuda itu menggedor daun pintu dengan sisi telapak tangan sampai debu di kusennya berjatuhan ke kepalanya sendiri.

Tidak ada satupun jawaban yang keluar dari dalam sana, padahal bunyi karung yang digeser terdengar jelas sampai ke tempatnya berdiri. Diikuti suara desahan dan nafas yang memburu dari dalam.

"Permisi! Kalau nggak ada orang, karungnya saya taruh di depan aja, ya!" Wagimin menempelkan telinga ke celah kusen sambil menahan napas supaya tidak ada bunyi lain yang mengganggu.

Suara yang masuk ke kupingnya jelas suara perempuan, tertahan seperti orang yang menahan bersin di tengah rapat desa, lalu disusul derit papan yang panjang dan berulang-ulang dengan jarak yang teratur.

“Mpphh… Ma-Mas, aku takut ada orang yang dengar ini, Mpph, ahh…” kata suara gadis yang ada di dalam.

“A-aku mau crot, dikit lagi… biarin orang itu, a-a-aku mau… mau keluar…”

Wagimin yang penasaran, akhirnya coba menaiki papan lapuk yang sudah digerogoti rayap, tempat sebuah celah selebar dua jari menganga setinggi dada.

Di dalam sana cahaya cuma datang dari ventilasi atas, jatuh miring seperti garis kapur ke tumpukan karung gabah setinggi pinggang, dan di atas tumpukan itulah seorang perempuan bertumpu pada kedua lututnya dengan punggung menghadap celah tempat Wagimin mengintip.

kaos merah muda yang dikenakannya sudah kembali menutup badan, tetapi anak rambut yang menempel basah di kening serta napasnya yang masih memburu tidak mampu menyembunyikan sisa pergulatan panas di atas tumpukan karung goni.

Dasim, anak laki-laki tunggal Juragan Darman, berdiri di belakangnya dengan kemeja yang masih terkancing rapi sampai leher, kedua tangannya mencengkram pinggul perempuan itu, dan sabuknya sudah tergeletak begitu saja di lantai semen bersama satu sandal jepit yang terlempar entah dari kaki siapa.

Setiap kali Dasim mendorong ke depan, tumpukan karung paling atas ikut bergeser dengan bunyi sret yang berhenti sebentar lalu berulang lagi, dan dari posisi Wagimin, sepasang kelapa muda yang menggantung bebas di bawah dada perempuan itu ikut berayun mengikuti irama yang sama.

Jari-jemari perempuan itu meremas goni, kepalanya menunduk dalam-dalam, dan rambutnya yang tergerai menyapu karung setiap kali tubuhnya terdorong maju.

"Pelan-pelan, Mas, mmphh, karungnya bunyi terus, mmphh ahh, entar, ahh, ada yang denger dari luar, ahh" pinta perempuan itu dengan suara yang pecah di tengah kalimat, sembari mendesah.

"Yang denger cuma tikus. Kuli-kuli lagi pada makan di bawah asem, tunggu aku crot dulu!" balas Dasim tanpa memelankan apa pun.

Kepala perempuan itu terangkat, wajahnya menoleh ke samping sampai setengahnya tertangkap garis cahaya dari ventilasi, dengan mata terpejam rapat dan mulut menganga tanpa suara yang berani keluar.

Wagimin menelan ludah yang sudah tidak ada, sementara tubuhnya sendiri ternyata jauh lebih tidak sopan daripada otaknya.

"Wagimin, kamu ini laki-laki macam apa, sih? Manggul dua puluh karung goni di bawah matahari jam satu, terus berdiri di luar gudang orang sambil kepanasan sendiri kayak kambing dijemur." Pemuda itu memukul pahanya sendiri dua kali dengan pelan.

Perempuan di dalam sana menggeser tangan kanannya untuk mencari pegangan yang lebih kokoh, dan lengan itu masuk penuh ke dalam pantulan cahaya sehingga Wagimin bisa melihat sebuah gelang yang familiar.

Gelang tipis berwarna kuning muda melingkar di pergelangannya, gelang yang dibeli Wagimin sendiri di pasar malam Ngadirojo pakai upah nyangkul tiga minggu, dan penjualnya waktu itu berani bersumpah lapisan emasnya tahan sampai dua tahun.

Baru sepuluh bulan berjalan, dan sepuhannya memang belum mengelupas sedikit pun.

Betul sekali.

Perempuan yang sekarang bersama Dasim adalah Linda, kekasih Gimin dan ternyata cincin itu masih dipakai Linda ketika berhubungan dengan Dasim.

Di meja kecil dekat pintu tergeletak map cokelat yang terbuka bersama selembar peta petak sawah yang sebagian kotaknya dicoret merah, dan mata Wagimin sempat singgah di situ beberapa detik tanpa mengerti apa maksudnya.

Kakinya mundur selangkah, lalu seng bekas yang disandarkan di dinding ikut mundur bersamanya.

BRAAK!

Palang pintu ditarik dari dalam tanpa terburu-buru sedikit pun, persis orang membuka warung di pagi hari, lalu Dasim keluar sambil memasang sabuknya dengan rambut yang masih klimis dan wangi minyak wangi kota yang tercium sampai ke tempat Wagimin berjongkok.

"Ngapain kowe melotot di situ, Min? Nggak punya kerjaan lain apa?" sembur Linda dengan bibir yang sedikit bengkak dan bergetar.

Pandangan Linda bertubrukan dengan mata Wagimin selama sepersekian detik, dan perempuan itu buru-buru menyilangkan tangan di dada seraya membuang muka.

"Lho, Gimin. Kamu ngapain jongkok di situ kayak orang nungguin ayam bertelur?" tanya Dasim dengan senyum yang lebarnya wajar-wajar saja, coba menyembunyikan fakta bahwa dia baru saja berhubungan dengan Linda.

Gimin kemudian berdiri sambil menepuk celana kerjanya yang penuh debu semen. "An-anu, Mas Dasim. Saya cuma mau ngembaliin karung, disuruh Pak Sukri."

Linda melangkah cepat mendekati pemuda itu, menyisakan jarak dua jengkal hingga aroma keringat bercampur parfum murahnya menusuk hidung Wagimin.

"Halah, alasan! Dari dulu kelakuanmu ya cuma bisa bikin malu, nyangkul nggak becus, ngurus perempuan juga mlempem!" desis Linda dengan telunjuk menuding dada Wagimin

Dasim bersandar santai di kusen pintu gudang sambil menyulut rokok, menikmati tontonan di hadapannya dengan senyum mencemooh. Tapi karena tidak mau menimbulkan keributan, Dasim langsung mengambil alih.

"Oh, karung. Ya taruh sana di pojok, jangan di tengah, entar diinjak orang terus sobek, terus yang disalahin aku. Tapi kamu kok mukanya pucet gitu, Min, kepanasan, ya? Ngapain sih berdiri di luar lama-lama, orang pintunya tinggal digedor aja kalau mau ngembaliin karung," ucapnya sambil merapikan kerah kemeja yang sebenarnya sudah rapi.

"Saya udah gedor kok, Mas, dua kali." Wagimin memindahkan tumpukan karung ke pojok yang ditunjuk tanpa berani mengangkat muka.

"Masa? Aku nggak denger. Mungkin gedornya kurang keras. Kamu itu masalahnya begitu, semuanya setengah-setengah. Nyangkul setengah, ngomong setengah, gedor pintu juga setengah," balas Dasim sambil terkekeh pendek.

Beberapa kuli yang tadi istirahat di bawah pohon asam sudah berdiri gara-gara bunyi seng tadi, dan Paijo yang paling depan menganga duluan sebelum ada satu pun hal lucu yang terjadi.

Kemudian Linda keluar dari gudang dengan kaos yang sudah rapi dan rok yang sudah lurus, cuma rambutnya yang masih menceritakan semuanya, berantakan seperti yah… orang habis nananina pada umumnya.

Mata Linda kemudian menangkap mata Wagimin selama sepersekian detik, dan raut wajahnya berubah persis anak kecil yang ketahuan mencuri gula. "Ngapain kamu liat-liat, hah?"

"Aku nggak ngintip, Lin. Aku disuruh ngembaliin karung."

"Halah, boong! Dari tadi kamu berdiri di situ, kan? Emang kamu kira aku nggak tahu kelakuan kamu?" sembur Linda dengan telunjuk yang menuding ke hidung Wagimin.

"Kita ngomong berdua aja, ya, jangan di sini!" Wagimin melirik ke arah pohon asam tempat kuli-kuli itu berdiri berjajar.

Dasim yang memang tahu bahwa Linda adalah kekasih Wagimin, membiarkan Linda pergi berbincang dengan Wagimin terlebih dahulu.

Setelah Linda sampai di sana, Linda langsung berkata dengan nada gusar. "Ngomong apa lagi, sih? Kamu tuh tahu diri dikit, Min. Aku bertahan tiga tahun itu karena kasihan. Kamu mau tahu kenapa aku nggak pernah mau kamu ajak nikah? Kamu itu miskin, nggak punya apa-apa!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca