

"Hajar! Hajar! Hajar!"
Sorak-sorai menggema di gelanggang pertarungan Desa Layung. Seluruh pendekar dari lima desa besar berkumpul untuk mengikuti ujian kenaikan. Dari cantrik menjadi jaka taruna, serta jaka taruna menjadi pandhega.
Di tengah lingkaran tanah yang dipadatkan, Megha Anggara terengah-engah. Debu menempel pada wajah dan pakaiannya. Beberapa memar dan goresan menghiasi lengan dan pipinya. Putra dari Jaka Purana, petinggi Desa Layung itu belum mau menyerah.
Di hadapannya, Subhandana berdiri gagah dengan mata tombak mencuat. Seperti halnya Megha Anggara, pemuda ini juga merupakan seorang putra petinggi. Tepatnya dari Desa Pakuan. Maka tak heran kalau aura persaingan begitu menguar.
"Masih mau lanjut?" ejeknya. "Mundur saja!"
Gelak tawa langsung menyambut dari pinggir arena. Hampir semua orang bertaruh kalau putra Jaka Purana itu pasti kalah. Atau bahkan gagal naik tingkat menjadi seorang jaka taruna.
Megha Anggara mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku masih bisa berdiri. Jangan sombong dulu!"
"Bukannya kamu yang sombong? Sudah mau mati begitu masih berlagak!"
"Baru mau." Dia tersenyum tengil.
Subhandana mendecih. "Kalau begitu jangan salahkan aku."
Subhandana melesat maju. Pukulan keras menghantam bahu lawan hingga oleng. Namun, kali ini Megha Anggara tidak langsung membalas. Dia memejamkan mata sesaat. Mengatur napas.
Mencoba merapal mantra yang diajarkan bapanya sejak kecil. Mengalirkan tenaga sukma dari pusat tubuh menuju kedua telapak tangan.
Dalam satu tarikan napas Megha Anggara merasakan energi yang meluap dalam dirinya. Seberkas kehangatan berputar jauh di dalam tubuhnya. Bukan aliran kecil yang biasa dia rasakan saat berlatih. Melainkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Seperti sungai deras yang tersembunyi di balik bendungan. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar menyadari keberadaan tenaga itu. Namun, saat aliran tersebut bergerak menuju jalur sukma, mendadak lenyap.
Ada sesuatu yang menghalanginya. Sesuatu yang tak terlihat. Seolah ada rantai raksasa melilit seluruh jalur energinya. Mengikat. Menekan. Mencegah tenaga itu keluar.
"Mengapa selalu seperti ini?" batin Megha Anggara dengan kening dipenuhi peluh sebiji-biji jagung.
Dagh!
Tendangan Subhandana menghantam dadanya sebelum sempat memahami. Tubuhnya kontan terpental keluar arena. Debu beterbangan seiring gelak tawa yang kembali pecah.
"Dia malah melamun!"
"Dasar pecundang!"
Subhandana menggeleng malas. "Kalau memang tidak sanggup, jangan memaksakan diri."
Megha Anggara bangkit perlahan. Dadanya nyeri. Tidak menggubris gelombang olok-olok yang ditujukan padanya. Karena sudah terbiasa. Ya, dia sudah kalah.
Pertandingan demi pertandingan berlanjut. Hingga akhirnya seorang pemuda yang wajahnya nyaris identik dengan Megha Anggara melangkah ke arena.
Megha Gumilang, saudara kembarnya yang begitu dielu-elukan banyak orang. Seorang panji anom yang didapuk sebagai calon pengganti bapa mereka.
Seperti biasanya, tiap langkah dan gerakan si kembaran selalu mencuri perhatian. Sorak kekaguman membahana. Tanpa banyak bicara dan gaya, pemuda bagus itu selalu berhasil memenangkan pertarungan.
Gelar pendekar terbaik yang lulus sebagai pandhega. Sudah pasti didapat oleh Megha Gumilang dengan mudah. Sedang murid yang gagal naik tingkat menjadi jaka taruna. Cantrik abadi. Inilah gelar paling memalukan yang dibawa pulang oleh Megha Anggara.
Pemuda itu hanya bisa melihat kemenangan kembarannya dengan senyum kecut dari jauh. Sedang Megha Gumilang menanggapi dengan wajah datar. Padahal seluruh pendekar dan penonton yang hadir tak ada habisnya memberi tepuk tangan. Sungguh, pemandangan yang membuat Megha Anggara muak.
Dia pun memilih untuk segera pergi dari padepokan. Sebelum jalanan ramai oleh penonton yang sebentar lagi bubar. Lebih baik pulang saja untuk mengisi perut dan beristirahat. Dia lapar. Sudah barang pasti lelah bukan main.
"Aku malu, Kakang."
Saat tiba di rumah, Megha Anggara tidak langsung masuk. Dia berhenti di dekat jendela samping ketika mendengar suara biyungnya dari dalam.
"Anak itu gagal lagi naik tingkat. Kentus yang bilang. Sungguh memalukan! Lebih baik kita memiliki satu putra seperti Gumilang saja kalau begini."
Megha Anggara menundukkan kepala. Dadanya terasa lebih sakit daripada saat ditendang Subhandana. Tanpa suara, dia pun berbalik. Lalu meninggalkan rumah.
Desa Sadu. Itulah tujuannya. Ada warung panganan enak tak jauh dari padepokan. Lebih baik dia ke sana saja untuk mengganjal perut. Menjauhkan diri sejenak dari situasi yang tidak menyenangkan.
Namun, ada yang aneh. Mulai memasuki perbatasan yang ditandai dengan gapura, desa terasa sepi. Tidak ada yang lewat satu orang pun. Hingga terdengar suara ledakan yang mengguncang tanah.
Penasaran, Megha Anggara berlari menuju sumber suara. Dari jauh terlihat kepulan asap yang membumbung di pemukiman. Bukan hanya itu, suara jeritan bersahutan dari arah sana.
Menyadari ada sesuatu hal yang tidak beres, pemuda itu mencari jalan lain. Bukan jalan utama yang biasa dilalui banyak orang. Mengendap-endap. Semakin dekat, suara pertempuran mulai terdengar. Masih diringi oleh ledakan lain dan pekikan.
Belum sempat dia lebih dekat dengan titik kericuhan, tampak seorang gadis tengah berlari. Dikejar oleh sekelompok pendekar bercadar merah. Dalam situasi genting itu, Megha Anggara langsung memutuskan satu hal.
"Ikut aku!"
Megha Anggara menyambar tangan si gadis. Mengajaknya bersembunyi pada sebuah lumbung padi. Untuk sementara mereka berhasil mengecoh kelompok tersebut.
"Kamu ...." Si gadis itu tampak terkejut.
"Megha Gumilang?" Dengan cepat Megha Anggara paham situasinya. Lalu menggeleng cepat. "Bukan. Aku Megha Anggara."
"Kalian kembar?"
"Menurutmu?" Pemuda itu merasa pertanyaan si gadis tidak penting. Apalagi pada saat seperti ini.
"Aku Gantari." Gadis itu memperkenalkan diri. "Terima kasih sudah menolongku."
Kembaran Megha Gumilang itu mengangguk. "Ke mana tujuanmu?"
Gantari terdiam sejenak. Menggigit bibir bawahnya sampai pucat. Sedang kedua tangannya mendekap sebuah buku dluwang. Jelas bukan buku sembarang karena begitu langka. Kecuali dari lontar yang sudah biasa.
"Mengapa diam? Kita tidak mungkin bertahan di sini! Cepat atau lambat kita pasti ketahuan."
"Aku antar sampai perbatasan. Dengan syarat jaga buku ini!" Gantari menyodorkan buku bersampul papan kayu jati tua berukir itu.
Megha Anggara belum mengerti. Bukankah seharusnya dia yang menentukan pelarian.
"Aku juga akan membuka segel jalur sukmamu."
Pemuda itu membelalak. "Bagaimana ...."
"... Jangan banyak oceh!" Gantari langsung menarik kepala Megha Anggara mendekat. Bibir mereka pun bersentuhan.
Untuk sejenak, dunia seakan berhenti berputar. Sesuatu yang hangat perlahan menjalar ke dalam tubuhnya. Seperti ada ledakan. Bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya. Saat dia berusaha melonggarkan kecupan, dengan kencang Gantari menahannya. Sampai semua dirasa selesai.
"Aku percaya padamu. Karena kamu putra Jaka Purana. Aku yakin, bapamu tidak akan mungkin mangkir dari tanggung jawabnya sebagai penjaga gerbang Kalang Singid."
Megha Anggara sama sekali tidak mengerti.
"Aku akan mengalihkan perhatian. Setelah itu, segera berlarilah menuju perbatasan!" Gantari hendak bangkit.
"Tidak!" Pemuda itu menariknya kembali hingga saling berhadapan. Satu kecupan tadi seperti telah mentakdirkan sebuah jalinan. "Kita bersama."
Gantari menggeleng. "Aku harus tetap berada di sini. Sedang tugasmu membuka segel kutukan nantinya. Jemput aku!"
"Hah?"
Gantari sudah beranjak dan ke luar dari lumbung. Berlari ke arah berlawanan agar Megha Anggara leluasa kabur menuju perbatasan. Beberapa anggota bercadar merah yang melihat pergerakannya pun segera mengejar. Perkelahian tak terelakkan begitu dia terperangkap.
Sempat bengong sesaat, pemuda itu akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali. Menyimpan buku titipan di balik baju. Lalu segera berlari ke luar bermaksud menyusul Gantari. Tapi, baru saja berlari, sebilah pedang berkelebat dan nyaris membelah wajahnya.
Seharusnya dia tidak bisa menghindar secepat itu dari serangan mendadak. Apalagi ditambah dengan tubuhnya melenting ke belakang sampai tiga empat depa jauhnya. Sehingga pedang lawan hanya menebas ruang kosong.
Perkelahian pun terjadi. Megha Anggara melawan empat pendekar bercadar merah. Sedangkan Gantari melawan jauh lebih banyak di titik sana. Dirasuki rasa khawatir, pemuda itu dengan mudahnya menghabisi keempat lawan. Lalu dalam satu hentakan kaki, tubuhnya melayang ringan menuju pertarungan Gantari.
"Ayo! Waktunya sudah tidak banyak."
Gantari ganti menarik tangan si pemuda. Setelah mereka berdua berhasil membantai sebagian besar penyerang. Tapi beberapa diantaranya masih ada yang bisa bangkit. Bukan tidak mungkin akan kembali mengejar.
"Aku bisa bertarung sekarang!" Megha Anggara bersorak dan memeluk erat Gantari tanpa sadar. "Terima kasih, Gantari. Terima kasih."
"Ya. Cepatlah!" Gantari mendorong dada si pemuda menjauh.
"Gantari ...."
Megha Anggara membelalak ke arah belakang. Bukan para pendekar yang telah berhasil mengejar mereka. Melainkan sebuah gelombang besar kabut hitam keabuan yang bergerak mendekat. Begitu cepat dengan muatan petir.
Sebelum benar-benar memahami kabut apa itu, Gantari sekali lagi mendorongnya. Namun, kali ini dengan mantra kuat. Sehingga tubuhnya terpental jauh ke belakang.
Satu yang dia ingat, sosok Gantari yang mulai ditelan kabut hitam berpetir. Serta seruannya yang mengatakan, "jemput aku!"