Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rebirth 1990: Penguasa Teknologi

Rebirth 1990: Penguasa Teknologi

MeAndYou | Bersambung
Jumlah kata
52.8K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Rebirth 1990: Penguasa Teknologi
Rebirth 1990: Penguasa Teknologi

Rebirth 1990: Penguasa Teknologi

MeAndYou| Bersambung
Jumlah Kata
52.8K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
FantasiSci-FiMiliarderSistemMengubah Takdir
Danny Tubaka (46) meninggal dalam kecelakaan setelah menjalani hidup tanpa makna seluruh keluarganya (ayah, ibu, dan adik perempuan) telah tiada karena ketidakberdayaannya. Ia terbangun sebagai siswa SMA di tahun 1990, lengkap dengan ingatan masa depan dan sebuah System Shop yang hanya menjual teknologi hitam dari film-film fiksi ilmiah dengan mata uang Poin Kekayaan & Ketenaran. Dengan tekad membahagiakan orang-orang tercinta yang masih hidup di lini masa ini, Danny membangun perusahaan dengan kepemilikan 100%, memonopoli segala sektor, dan menjadi manusia terkaya di dunia hingga alam semesta. Seiring teknologi yang dibelinya melesat, ia berekspansi ke luar angkasa, menjumpai ras-ras primitif fantasi, peradaban maju, hingga ancaman kosmik. Semua yang menghalangi akan dihancurkan tanpa ampun, sementara keluarga dan lingkaran dalamnya akan ia lindungi dengan sepenuh hati.
Chapter 1: Debu yang Kembali

Aroma itu yang pertama kali hadir.

Bukan bau darah, bukan bau aspal panas, bukan jerit klakson yang barusan memekakkannya. Melainkan aroma kapur tulis. Aroma kertas buku bekas. Aroma keringat remaja yang bercampur dengan pengharum ruangan murahan.

Danny Tubaka membuka mata.

Langit-langit ruangan itu bukan langit-langit rumah sakit. Bukan pula kegelapan yang ia duga sebagai akhir dari segalanya. Itu langit-langit kelas. Retak di sudut kiri, dengan kipas angin yang berputar lamban, mengerik seperti jangkrik sekarat.

“Dan! Danny!”

Seseorang mengguncang pundaknya. Danny menoleh dan dunia seakan berhenti.

Rangga. Rambutnya masih lebat. Wajahnya masih mulus tanpa garis usia. Padahal Danny ingat, terakhir kali ia melihat Rangga adalah di pemakaman. Rangga yang botak, Rangga yang matanya cekung karena kanker, Rangga yang

“Woy, jangan bengong. Lo tumbang dari tadi, gue kira lo mati.”

Kata-kata itu menusuk.

Danny mendongak, menatap sekeliling. Seragam putih abu-abu. Tas punggung yang digantung di sandaran kursi. Poster-poster band rock yang ditempel dengan lakban di dinding. Dan papan tulis hijau dengan tulisan kapur: Bahasa Indonesia – Puisi Chairil Anwar.

1990.

Bukan kenangan. Bukan mimpi.

Tangannya gemetar. Ia mengangkat tangan itu bukan tangan lelaki 46 tahun yang urat-uratnya menonjol dan kulitnya mulai mengendur. Ini tangan remaja. Tangan yang belum pernah memegang botol minuman keras sendirian di apartemen kosong. Tangan yang belum pernah menandatangani surat kematian ibu, lalu bapak, lalu adiknya, satu per satu.

Jantungnya berdebar. Tidak, ini bukan debaran biasa. Ini debaran yang terasa seperti seseorang meremas jantung itu dari dalam.

“Dan? Lo kenapa?”

Danny tidak menjawab. Ia bangkit berdiri. Kursinya bergesekan dengan lantai, menghasilkan bunyi yang memekakkan. Seluruh isi kelas menoleh. Tapi Danny tidak peduli. Kakinya melangkah, meninggalkan kelas. Suara guru memanggilnya dari belakang, tapi ia terus berjalan, menyusuri koridor, menuruni tangga, menuju halaman sekolah.

Matahari menyambutnya. Hangat. Begitu hangat.

Danny jatuh berlutut di rumput.

Air mata itu turun tanpa suara. Ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena di dalam dadanya ada begitu banyak hal yang bertabrakan kesedihan, kebingungan, harapan, dan sesuatu yang telah lama mati di dalam dirinya, kini berdenyut kembali.

Mereka masih hidup.

Ibu. Bapak. Keisha.

Di suatu tempat, di kota yang sama, di tahun yang sama, mereka masih bernapas. Masih tertawa. Masih belum tahu bahwa di kehidupan yang lain, mereka akan meninggalkan Danny sendirian.

“Tuan.”

Suara itu. Bukan dari sekelilingnya. Tapi dari dalam kepalanya.

Danny mengangkat wajah. Matanya masih basah. “Siapa?”

Sebuah panel muncul di depan matanya. Transparan. Berwarna biru pucat dengan aksen neon. Teks di dalamnya tertulis rapi:

[SISTEM “BLACK TECH SHOP” TELAH TERAKTIVASI]

Selamat datang, Danny Tubaka.

Anda telah diberikan akses ke Toko Teknologi Sci-Fi Multiversal.

Mata uang: Poin Kekayaan + Poin Ketenaran.

Item tersedia: Teknologi dari seluruh film fiksi ilmiah yang pernah ada dan yang belum ada.

Selamat berbelanja.

Angin berhembus. Rumput bergoyang. Beberapa siswa lewat di kejauhan, tapi tak ada yang menyadari pemuda yang sedang berlutut dengan air mata di pipinya.

Danny membaca panel itu. Lalu membacanya lagi. Lalu membacanya lagi.

Ia menutup mata, dan di dalam kegelapan kelopaknya, ia melihat ibunya. Ibunya yang di kehidupan sebelumnya meninggal karena kanker rahim, setelah berbulan-bulan dirawat tanpa biaya cukup. Ia melihat bapaknya, yang meninggal dalam kecelakaan mobil sebuah tabrakan yang begitu tragis, begitu tiba-tiba, begitu tidak adil. Dan ia melihat Keisha, adik perempuannya yang baru berusia 15 tahun, yang tewas dalam perampokan di bus malam, dengan luka tusuk di perut.

Danny gagal melindungi mereka.

Di kehidupan sebelumnya, ia hanyalah pria biasa. Bekerja sebagai pegawai menengah. Hidup pas-pasan. Menonton keluarganya mati satu per satu tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia ingat malam-malam di apartemen sempit, menatap langit-langit, bertanya pada Tuhan: kenapa aku? Tapi tak pernah ada jawaban. Hanya sunyi.

Kini Tuhan atau apa pun itu memberinya kesempatan kedua. Bukan dalam bentuk doa. Tapi dalam bentuk sistem.

Jika ini gila, Danny akan menerima kegilaan ini sepenuh hati.

Ia bangkit. Menyeka air matanya dengan punggung tangan. Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia tersenyum. Bukan senyum remaja yang polos. Tapi senyum lelaki 46 tahun yang telah melalui neraka, dan tahu bahwa neraka tidak akan menakutinya lagi.

“Sistem,” bisiknya, “tunjukkan apa yang bisa kubeli dengan poin nol.”

Panel itu bergetar. Daftar item bermunculan. Danny membacanya dengan mata menyipit. Sebagian besar terkunci, berwarna abu-abu dengan label Poin Tidak Cukup. Tapi di bagian paling bawah, di sudut yang seolah-olah sengaja disembunyikan, ada satu item yang menyala.

[STARTER PACK: Asisten AI Dasar “Minerva”]

Asal teknologi: Adaptasi dari film Her (2013).

Kemampuan: Asisten suara dengan kapasitas belajar mandiri. Mampu mengakses dan memproses data dari jaringan internet era 1990. Koneksi terbatas, tapi dapat ditingkatkan.

Harga: Gratis. (Klaim 1x saja.)

Danny menatap layar itu cukup lama. Ia bukan remaja bodoh yang akan mengabaikan sesuatu hanya karena gratis. Justru karena gratis, ia harus paham bagaimana memaksimalkannya.

Ia mengepalkan tangan.

“Klaim.”

Sejenak, tak ada yang terjadi. Lalu, sensasi aneh menjalari pelipisnya. Seperti ada sesuatu yang hangat dan dingin sekaligus, merayap di bawah kulit kepalanya, mendekat ke telinga, lalu menetap di suatu tempat di antara pikirannya.

Hening.

Kemudian, suara itu datang lagi kali ini lebih lembut. Lebih… manusiawi.

“Halo, Tuan Tubaka,” suara itu feminin, tenang, dengan nada rendah yang menenangkan. “Saya Minerva. Senang bisa terhubung dengan Anda.”

Danny menghela napas panjang. Ia masih belum terbiasa. Tapi ia belajar dengan cepat.

“Minerva,” katanya sambil berjalan meninggalkan lapangan, kembali ke koridor, “aku butuh informasi. Pasar saham. Kurs rupiah terhadap dolar. Komoditas yang nilainya akan naik dalam dua tahun ke depan. Semua yang bisa kau akses.”

“Dimengerti, Tuan. Proses pencarian dimulai. Namun, dengan infrastruktur internet tahun 1990 yang masih sangat terbatas, saya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mengunduh data dari server-server publik yang tersedia.”

“Lakukan.”

Danny melangkah masuk ke kelas. Guru yang tadi memanggilnya hanya menggeleng, menganggapnya siswa aneh yang mengalami gangguan pribadi. Danny duduk di bangkunya, menyandarkan punggung, dan berpura-pura mendengarkan pelajaran. Tapi pikirannya sudah berkelana jauh.

Poin Kekayaan. Berarti ia harus menghasilkan uang. Banyak uang.

Poin Ketenaran. Berarti ia harus dikenal, diakui, disegani.

Keduanya tidak bisa ia dapatkan dengan duduk diam di kelas SMA.

Ia butuh modal. Ia butuh akses. Ia butuh strategi.

Dan di dunia ini, di tahun 1990, dengan otak lelaki 46 tahun yang pernah hidup di era 2020-an, Danny Tubaka memiliki keunggulan yang tak dimiliki siapa pun: ingatan masa depan.

Ia tahu saham mana yang bakal naik. Ia tahu teknologi apa yang bakal meledak. Ia tahu krisis ekonomi 1998 akan datang dan ia bisa mempersiapkan diri untuk menjadi satu-satunya pemenang di atas reruntuhan.

Tapi informasi saja tidak cukup. Ia perlu alat.

“Minerva,” katanya dalam hati, “selain data keuangan, aku ingin kau mulai analisis kelemahan sistem perbankan lokal. Bagaimana cara membuka rekening tanpa dicurigai. Bagaimana cara mendapatkan pinjaman kecil dengan identitas yang sah tapi tidak menarik perhatian.”

“Dipahami. Namun, jika boleh bertanya, apa tujuan jangka pendek Anda, Tuan?”

Danny menatap jendela. Di luar, langit biru membentang, begitu polos, begitu lugu, seolah tak tahu bahwa di dalam kelas ini, seorang raksasa baru saja membuka matanya.

“Aku ingin membangun perusahaan,” katanya pelan. “Perusahaan yang sahamnya seratus persen milikku. Perusahaan yang akan menyentuh setiap sektor telekomunikasi, energi, transportasi, luar angkasa. Aku ingin monopoli yang begitu mutlak, sampai dunia tidak punya pilihan selain bergantung padaku.”

Hening sejenak.

“Dan Tuan ingin melakukan ini sendiri?”

Danny tersenyum tipis.

“Tidak sendiri,” katanya. “Aku punya kau. Dan aku punya toko itu. Dan yang paling penting…” Ia mengepalkan tangan di bawah meja. “Aku punya alasan.”

Di benaknya, wajah ibu muncul. Lembut. Hangat. Tangan itu yang selalu membelai rambutnya saat ia sakit. Wajah bapak, dengan senyum letihnya yang selalu menyemangati. Dan Keisha, dengan tawa renyahnya yang dulu pernah memenuhi rumah kecil mereka.

Danny tidak akan membiarkan mereka pergi lagi.

Kali ini, ia akan menjadi tameng mereka.

Kali ini, ia akan menjadi pilar yang tak tergoyahkan.

Dan bagi siapa pun yang mencoba menghancurkan kebahagiaannya entah itu manusia, korporasi, atau bahkan dunia

Danny Tubaka akan menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Bel istirahat berbunyi.

Danny beranjak dari kursinya, meraih tas lusuhnya, dan melangkah keluar. Langkahnya ringan. Matanya tajam. Dan di kepalanya, Minerva terus bekerja dalam diam.

Satu bab telah dimulai.

Bab tentang seorang pria yang mati dalam keputusasaan, lalu terlahir kembali dengan api yang tak akan padam.

Bab tentang kerajaan yang akan dibangun di atas fondasi teknologi dari bintang-bintang.

Bab tentang kaisar yang belum dinobatkan, yang berjalan di koridor SMA sederhana di tahun 1990, dengan dunia yang sama sekali tidak tahu apa yang akan menghantamnya.

Saat ia menyusuri koridor, seorang gadis berambut pendek melintas. Seragamnya kebesaran. Langkahnya gugup. Mira. Teman sekelasnya. Di kehidupan sebelumnya, Danny terlalu pengecut untuk menyapanya. Terlalu rendah diri.

Mira menoleh, menangkap tatapan Danny.

Danny tidak menunduk.

Ia tersenyum. Bukan senyum gugup remaja. Tapi senyum seorang pria yang telah kehilangan segalanya, dan tahu bahwa ia tidak akan kehilangan lagi.

“Hai,” katanya.

Mira terkejut. Pipinya sedikit merona. “Hai juga.”

Detik itu, di kepalanya, suara Minerva berbisik: “Data saham telah terkumpul, Tuan. Rekomendasi investasi siap ditampilkan.”

Tapi Danny tidak buru-buru.

Ada waktu.

Ada begitu banyak waktu.

Dan kali ini, ia akan mengisi setiap detiknya dengan kemenangan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca