Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Syair-syair Sanfosi

Syair-syair Sanfosi

Bulan Separuh | Bersambung
Jumlah kata
46.3K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Syair-syair Sanfosi
Syair-syair Sanfosi

Syair-syair Sanfosi

Bulan Separuh| Bersambung
Jumlah Kata
46.3K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPendekarHaremKerajaan
Aku adalah Darma Ekaputra, seorang citralekha atau penyalin naskah di komplek pendidikan Sanfosi. Aku menyaksikan mereka yang mengendalikan sistem bukan dengan kekuasaan apalagi kedudukan di istana. Ialah tangan-tangan sesama siswa yang menyunting kata-kata. Sedikit saja bergeser jeda dan tanda baca, maka butalah seluruh pejabat istana. Di Sanfosi ini aku tak hanya sebagai pion bagi perempuan-perempuan itu. Aku punya pisaupena-ku sendiri di atas daun-daun lontar, satu-satunya senjata yang kelak membawaku pada tampuk kekuasaan yang tak tertandingi.
Chapter 1. Satu Titik, Seribu Kematian

Ujung pisau tulisku patah.

Krak …

Bunyi kecil itu terdengar seperti ledakan di keheningan Dharmasala. Aku mengumpat pelan. Ini adalah pisau ketiga malam ini. Di luar, hujan badai menghantam atap kayu ulin asrama penyalin ini, seolah langit Sanfosi sedang mencoba menenggelamkan kami semua. Namun, bukan badai yang membuat tanganku gemetar, melainkan naskah yang ada di depanku itu.

"Selesaikan, Darma. Atau kepala asrama akan menjadikan kulitmu sampul buku."

Aku menoleh ke samping. Rakai, penyalin tua di sebelahku, sudah mendengkur dengan kepala di atas meja. Dia tidak tahu apa yang sedang kami salin. Dia pikir ini hanya Daftar Pajak Tahunan biasa untuk wilayah Bhumi Jawa. Rutinitas birokrasi yang membosankan, isinya seputar beras, emas, gading.

Namun, aku melihatnya.

Aku mengambil pisau baru, menajamkannya dengan gerakan kasar. Mataku kembali menelusuri baris ke-12 lempeng lontar itu.

Ada yang salah.

"Rakai," bisikku, menyikut lengannya. "Bangun."

"Apa lagi?" Rakai mengerang, matanya merah. "Besok pagi harus disetor ke Balairung. Jangan cari masalah."

"Lihat ini," aku menunjuk baris ke-12 dengan ujung pisauku. "Lihat tanda virama (pemati bunyi) di kata 'Kepatuhan'. Siapa pun yang menulis naskah induk ini menggesernya dua milimeter ke kiri."

Rakai menyipitkan mata, lalu mendengus. "Itu cuma gaya tulisan, Darma. Tinta meleber. Jangan paranoid."

"Bukan. Itu bukan tinta meleber. Itu tekanan yang disengaja," bantahku cepat. "Jika virama itu digeser ke kiri, kata 'Kepatuhan' (Bhakti) secara tata bahasa kuno berubah makna menjadi 'Beban' (Bhara). Kalimat ini tidak lagi berbunyi 'Rakyat Jawa menyerahkan upeti sebagai tanda kepatuhan', tapi 'Rakyat Jawa menyerahkan upeti sebagai beban yang mematikan'."

Rakai terdiam. Wajahnya pucat seketika. "Itu ... itu penghinaan terhadap Raja. Kalau naskah ini sampai ke Jawa, para Datu di sana akan tersinggung. Mereka akan berpikir Sanfosi menganggap mereka budak, bukan sekutu."

"Tepat," kataku, jantungku berpacu. "Ini bukan surat pajak. Ini surat tantangan perang."

Aku pun berdiri, meraih naskah induk itu. "Aku harus melapor ke Kepala Asrama. Seseorang sudah menyabotase naskah istana sebelum sampai ke tangan kita."

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, bukan karena angin.

Tiga orang prajurit Bhayangkari masuk, baju zirah mereka basah kuyup, tangan mereka sudah memegang gagang pedang. Di tengah mereka, berdiri seorang wanita yang belum pernah kulihat di asrama ini.

Dia mengenakan jubah merah marun yang basah, menempel ketat di tubuhnya. Wajahnya keras, cantik, dan berbahaya. Matanya langsung tertuju padaku, atau lebih tepatnya, pada naskah di tanganku.

"Duduk, Penyalin," perintah wanita itu. Suaranya tidak keras, tapi memiliki otoritas yang membuat lututku lemas.

Rakai langsung menjatuhkan diri berlutut, dahinya menyentuh lantai. "Ampun, Gusti Putri Kenanga! Kami hanya bekerja!"

Kenanga, Putri dari Panglima Perang. Salah satu orang paling berpengaruh di faksi militer.

Kenanga melangkah mendekatiku. Sepatu bot kulitnya berbunyi tak-tak-tak di lantai kayu, setiap langkah seperti hitungan mundur eksekusi. Dia berhenti tepat di depan mejaku, aroma melati dan besi berkarat menguar dari tubuhnya.

Dia mengambil naskah induk dari tanganku dengan kasar.

"Kau punya mata yang terlalu jeli untuk orang yang gajinya hanya cukup beli nasi aking, Darma," katanya dingin.

"Naskah itu cacat, Gusti," jawabku, mencoba menjaga suaraku agar tidak pecah. "Ada kesalahan tata bahasa yang bisa memicu perang."

Kenanga tersenyum miring. Dia mencabut pisau belati emas dari pinggangnya, lalu dengan gerakan santai, dia menancapkannya ke meja, tepat di sela-sela jari tanganku.

Aku tersentak mundur, tapi tatapannya menahanku.

"Kesalahan?" Kenanga tertawa pelan, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Kau pikir aku sebodoh itu sampai salah menaruh tanda baca?"

Suasana hening begitu saja. Suara guntur di luar meledak, menerangi wajahnya yang menyeringai.

Aku menatapnya ngeri. "Anda... Anda sengaja?"

"Jawa sudah terlalu lama membangkang," desis Kenanga, mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Mereka menunda upeti. Mereka bersekutu dengan pedagang asing di belakang punggung kita. Ayahku butuh alasan untuk mengirim armada perang ke sana dan menghancurkan pelabuhan mereka. Tapi Raja terlalu lembek. Raja ingin diplomasi."

Dia mencabut belatinya, lalu menggoreskan ujungnya di pipiku. Rasanya begitu perih. Darah pun menetes.

"Jadi, aku butuh pemicu," lanjutnya. "Aku butuh naskah resmi yang membuat orang Jawa marah duluan. Jika mereka menyerang pos perbatasan karena tersinggung oleh surat ini, Ayahku punya legitimasi untuk membumihanguskan mereka."

"Itu pengkhianatan," bisikku.

"Itu politik, Bodoh," Kenanga menampar pipiku pelan dengan sisi belatinya. "Dan sekarang, kau punya dua pilihan."

Dia meletakkan kembali naskah itu di depanku.

"Satu, kau lari keluar dan berteriak bahwa Putri Kenanga memalsukan naskah. Prajuritku akan memenggalmu di koridor sebelum kau sempat menarik napas kedua."

Prajurit di belakangnya serentak mencabut pedang setengah jengkal. Bunyi logam beradu dengan sarung kulit terdengar nyaring.

"Dua, kau salin naskah ini. Persis seperti aslinya. Termasuk tanda baca yang 'salah' itu. Buat seribu salinan malam ini juga. Jika kau lakukan itu, kau akan hidup. Dan mungkin ... aku akan memberimu posisi yang lebih baik daripada tempat sampah ini."

Aku menatap Rakai. Orang tua itu masih sujud, gemetar hebat. Dia tidak akan menolongku.

"Kenapa aku?" tanyaku. "Ada ratusan penyalin di sini."

"Karena tulisanmu memiliki 'Tekanan'," jawab Kenanga, matanya menelusuri hasil kerjaku. "Aku sudah memantau kerjamu sebulan ini, Darma. Kau tidak sekadar menyalin. Kau meniru emosi penulis aslinya. Tulisanmu punya wibawa. Jika kau yang menyalin provokasi ini, orang Jawa akan percaya bahwa Raja sendiri yang menulisnya dengan penuh amarah."

Tanganku mengepal di bawah meja. Dia tidak hanya ingin aku bekerja, tapi dia ingin aku menjadi senjatanya. Dia ingin tanganku berlumuran darah ribuan orang Jawa yang akan mati karena perang ini.

"Dan jika aku menolak?" tantangku nekat.

Kenanga tidak menjawab. Dia hanya menoleh ke arah Rakai.

Dengan satu gerakan cepat, prajurit di sebelah kanan menebaskan pedangnya.

CRASH …

Tidak ada teriakan. Kepala Rakai menggelinding di lantai, matanya masih melotot kaget. Darah menyembur ke mejaku, menodai naskah kosong yang belum terisi.

Aku terlonjak, menabrak kursi hingga jatuh. Napasku tercekat. Rakai ... dia baru saja sarapan denganku tadi pagi.

"Ups," kata Kenanga datar, seolah baru saja menumpahkan tinta. "Penyalin tua itu kerjanya lambat. Tidak efisien."

Dia kembali menatapku. Tatapannya kini setajam belatinya. "Waktumu lima detik, Darma. Salin, atau kepalamu menyusul temannya?"

Aku menatap mayat Rakai. Aku menatap pedang prajurit yang masih meneteskan darah. Aku menatap naskah itu.

Insting bertahan hidupku mengambil alih. Persetan dengan moral. Persetan dengan Jawa. Aku ingin hidup.

Aku menarik kursiku kembali, duduk dengan tangan gemetar. Aku mengambil pisau tulisku yang patah tadi, membuangnya, dan mengambil yang baru.

"Bagus," Kenanga tersenyum puas. Dia berdiri di belakangku, tangannya memijat bahuku dengan cengkeraman yang menyakitkan. "Buat huruf 'R'-nya tajam seperti cakar elang. Aku ingin mereka merasakan sakit saat membacanya."

Aku pun mulai menulis.

Sreeet ... Sreeet …

Suara pisau menggores daun lontar terdengar mengerikan di telingaku sendiri. Setiap huruf yang kuukir terasa seperti aku sedang menggali kuburan massal. Kenanga mengawasiku seperti elang, mengoreksi setiap lekukan, memaksaku memasukkan amarah ke dalam setiap goresan.

Satu jam berlalu. Dua jam. Tumpukan lontar provokasi itu makin tinggi.

Pintu terbuka lagi.

Seorang kurir istana berlari masuk dengan napas memburu. Dia tidak melihat mayat Rakai di sudut gelap. Dia langsung berlutut di depan Kenanga.

"Lapor, Gusti Putri! Mahamantri (Perdana Menteri) sedang menuju ke sini! Beliau melakukan inspeksi mendadak!"

Wajah Kenanga berubah. Senyum kemenangannya lenyap. "Sialan. Orang tua itu pasti mencium sesuatu."

Dia menyambar tumpukan naskah yang sudah kuselesaikan. "Bereskan sisanya! Jangan sampai Mahamantri melihat naskah ini!"

"Bagaimana dengan mayat ini?" tanyaku panik, menunjuk tubuh Rakai.

"Itu urusanmu," Kenanga sudah berbalik menuju pintu. "Jika kau buka mulut pada Mahamantri, aku akan pastikan keluargamu di desa habis tak bersisa."

Kenanga dan prajuritnya menghilang ke dalam badai secepat mereka datang, meninggalkanku sendirian dengan mayat tanpa kepala dan naskah induk yang berbahaya.

Aku berdiri, panik. Suara langkah kaki berat dan gemerincing zirah terdengar mendekat dari lorong utama. Itu pasti rombongan Mahamantri. Jika mereka menemukanku dengan mayat Rakai dan naskah makar ini, aku akan dieksekusi sebagai pengkhianat.

Aku harus menyembunyikan naskah ini.

Aku berlari ke arah tungku perapian di sudut ruangan. Aku hendak melempar naskah induk itu ke dalam api.

"Jangan dibakar." Suara itu muncul dari arah jendela yang terbuka. Itu suara wanita, tapi bukan Kenanga. Suaranya halus, berirama, seperti lonceng kecil yang tertiup angin.

Aku berputar, memegang pisau tulisku sebagai senjata.

Di bingkai jendela, duduk seorang wanita yang basah kuyup karena hujan, tapi terlihat sangat tenang. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang menyatu dengan bayangan, tapi ada motif batik kawung perak di selendangnya.

Dia melompat masuk ke dalam ruangan. Gerakannya sunyi. Dia tidak melihat mayat Rakai dengan jijik, tapi dengan rasa kasihan sekilas.

"Siapa kau?" bentakku.

"Teman," jawabnya singkat. Dia menunjuk naskah di tanganku. "Kenanga ceroboh. Dia meninggalkan sidik jarinya di mana-mana. Jika kau bakar naskah itu, kau menghancurkan satu-satunya bukti yang bisa menyelamatkan lehermu dari tuduhan pembunuhan penyalin tua itu."

Suara langkah kaki Mahamantri semakin dekat. Tinggal beberapa belokan lagi.

"Mereka akan masuk!" kataku histeris. "Aku akan digantung!"

Wanita itu melangkah mendekat. Dia mengambil naskah itu dari tanganku, lalu dengan gerakan cepat, dia menyelipkannya ke balik baju Rakai yang bersimbah darah.

"Mereka tidak akan menggeledah mayat yang menjijikkan," bisiknya. "Sekarang, ambil ini."

Dia melemparkan sebuah gulungan naskah lain ke mejaku. Naskah yang terlihat sangat kuno dan suci.

"Duduk. Menulis. Dan menangis."

"Apa?"

"Menangislah seolah-olah kau baru saja melihat temanmu dibunuh oleh perampok yang masuk lewat jendela," perintah wanita itu, matanya berkilat cerdas. "Aku akan mengurus sisanya."

"Siapa namamu?" tanyaku sebelum dia melompat kembali ke jendela.

Dia menoleh, tersenyum tipis. "Citra. Dan kau berhutang satu nyawa padaku, Darma."

Dia menghilang ke dalam kegelapan malam.

Detik berikutnya, pintu didobrak.

BRAKK …

Mahamantri masuk, diiringi sepuluh pengawal elit. Dia melihat mayat Rakai, darah di lantai, dan aku yang duduk gemetar memegang naskah suci.

Mahamantri menatapku, matanya menyelidik tajam. "Apa yang terjadi di sini, Citralekha?"

Aku menelan ludah. Di kepalaku, aku mendengar ancaman Kenanga dan instruksi Citra. Perang baru saja dimulai, dan aku terjebak tepat di tengah-tengahnya.

Aku menjatuhkan pisauku, menatap Mahamantri, dan mulai bersandiwara.

"Perampok, Tuanku ..." isakku. "Mereka ... mereka mencari naskah pajak ..."

Lanjut membaca
Lanjut membaca