
Pendekar Hebat Mengubah Takdir di Dunia Modern
Ramdani Abdul|Bersambung
- Jumlah kata
- 129.0K
- Popular
- 5.7K
- Subscribe
- 497
- Jumlah kata
- 129.0K
- Popular
- 5.7K
- Subscribe
- 497
Sinopsis
Arya Cakra Wira adalah pendekar muda hebat dari kerajaan Pasir Larang. Saat pasukan musuh menyerang dan meluluh lantakkan kerajaan akibat ulah para pengkhianat, dia terpaksa mundur dan melompat ke sebuah sumur tua untuk menyelamatkan diri. Siapa sangka dia justru terbangun di tubuh seorang pemuda gendut sekaligus anak tiri di keluarga Candra Wibawa.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 01
BAM!
Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul dari sebuah portal di langit gelap, menerobos hujan, lalu melintasi kamar Cakra, pemuda gendut yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang.
Cakra menggelinjang berkali-kali sampai akhirnya jari-jarinya mulai bergerak.
Dia mengerjapkan mata, memijat kepala berulang kali. Saat matanya terbuka sepenuhnya, benda yang ia lihat pertama kali adalah atap putih dengan cahaya terang.
Cakra seketika terduduk di ranjang, mengamati keadaan sekeliling. Matanya membulat lebar melihat banyaknya benda asing di sekitarnya, termasuk sebuah selang-selang yang menempel di tangannya.
"Apa yang terjadi? Di mana aku? Kenapa aku berada di tempat ini?"
Cakra turun dari ranjang, melepaskan benda asing di tangannya sembarang. Tubuhnya memutar bersamaan dengan tatapannya yang mengedar ke sekeliling.
"Aku ... belum pernah melihat benda-benda itu."
Cakra menyentuh selimut dan ranjang, bergerak menuju laci sofa, menyentuh keramik dan dinding hingga berdiri di samping jendela. Matanya semakin terbelalak saat melihat gedung-gedung tinggi dan kendaraan-kendaraan yang merayap pelan di jalan.
"Di mana pohon-pohon tinggi dan tanah lapang yang luas? Aku hanya melihat bangunan-bangunan aneh dan benda-benda aneh sejak tadi."
Cakra memutar tubuh berkali-kali. "Di mana aku sebenarnya? Bukankah sebelumnya aku berada di hutan Wanaherang? Aku ...."
Cakra mundur beberapa langkah hingga nyaris terjatuh. Ia berpegangan pada sofa ketika kilasan peristiwa memenuhi pikirannya.
"Pasukan kerajaan musuh bekerja sama dengan para pengkhianat untuk menyerang istana. Kebakaran melanda banyak pedukuhan dan halaman istana. Aku mendadak... tidak bisa membuka ilmu kanuraganku sehingga aku berlari ke hutan untuk menyelamatkan diri. Saat musuh menyerang, aku melompat ke ... sebuah sumur tua."
"Lalu, saat aku terbangun, aku berada di tempat aneh ini."
Saat sedang berpikir, perutnya mendadak berbunyi.
"Aku sangat lapar sekarang." Cakra menyentuh perutnya. "Di mana aku bisa menemukan makanan?"
Cakra menoleh pada tumpukan buah-buahan di piring, mengambil satu buah apel, mulai memakannya. "Buah merah ini terlihat aneh, tapi rasanya sangat manis."
Cakra mulai mengelilingi ruangan sembari memakan buah-buahan. Saat melewati sebuah cermin, ia seketika terdiam mematung.
"Si-siapa pemuda gemuk di depanku?"
Cakra menyentuh wajah dan kepala, membuka mata lebar-lebar karena terkejut. "Pemuda itu mengikuti gerakanku."
Cakra mendekati cermin, mengamati saksama sembari menyentuh cermin berkali-kali. "Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Cakra meraba semua bagian tubuhnya, mengintip badan bagian dalam. "Ini jelas sekali bukan tubuhku. Badanku tegap dan kuat. Aku juga tidak memiliki ...'barang' kecil."
Cakra mundur beberapa langkah saat menyadari sesuatu, menatap pemuda gemuk di cermin. "Pemuda gemuk itu adalah aku?"
"Sukmaku berpindah ke tubuh pemuda gemuk ini. Aku berubah menjadi orang lain."
Cakra merenggangkan tangan dan kaki, bersiap untuk melompat. Akan tetapi, ia justru terjatuh dan berguling-guling hingga membentur dinding.
"Sulit sekali hanya untuk sekadar meluruskan kaki dan tangan. Tubuh gemuk ini menghalangi pergerakanku."
Pintu ruangan mendadak terbuka.
Seorang dokter memasuki ruangan. Ia bergegas berlari saat melihat Cakra terbaring di lantai. "Apa yang terjadi?"
Cakra terus terjatuh saat berusaha untuk bangkit. Ia harus berpegangan ke kaki kursi hanya untuk berdiri. "Hanya untuk berdiri saja aku kesulitan. Tubuh gemuk itu benar-benar merepotkanku."
"Siapa sosok itu?"
Cakra seketika mengambil kuda-kuda siaga, mengamati pria yang memakai jas putih itu saksama. "Siapa kau, Kisanak? Apa keperluanmu sampai kau memasuki ruangan ini?"
"Kisanak?" Dokter itu menaikkan alis, menghampari Cakra. "Aku adalah dokter. Aku datang untuk memeriksa keadaanmu."
"Memeriksa keadaanku?" Cakra masih bersiaga, tidak bergerak dari tempatnya. "Aku baik-baik saja meski aku tidak berada di tubuh asliku. Aku berada ...."
"Kau terjatuh dari ketinggian hingga kepalamu terluka sangat parah. Kaki dan tanganmu juga patah karena kecelakaan itu." Dokter mengamati Cakra dari ujung kepala hingga kaki. "Bagaimana bisa kau ...."
Cakra seketika terdiam, mengingat-ingat kejadian. "Aku ... memang terjatuh dari dahan pohon yang tinggi saat aku berlari dari kejaran musuh. Mereka menyerangku dengan anak panah dan tombak. Mereka ...."
"Kau terjatuh dari lantai dua karena tersandung. Kepalamu membentur pinggiran kolam." Dokter itu mulai memeriksa Cakra.
"Apa yang kau lakukan, Kisanak? Kenapa kau menyentuhku?" Cakra menepis tangan dokter itu sembari mundur beberapa langkah.
"Aku tidak merasakan niat buruk darinya," gumam Cakra.
"Aku adalah dokter, orang yang mengobatimu dan memastikan kau pulih dengan cepat." Dokter segera menekan tombol di dekat ranjang. "Ini benar-benar aneh. Bagaimana kau bisa bergerak tanpa kesakitan, padahal beberapa jam lalu kau terbaring koma dengan harapan hidup yang sangat sedikit."
"Jadi, kau seorang tabib?"
"Tabib?" Dokter itu tertawa. "Kau bisa menganggapnya seperti itu."
Cakra mulai tenang saat merasa dokter itu tidak melakukan hal mencurigakan. Meski begitu, ia tetap waspada.
"Ini luar biasa. Kau sembuh total dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku mengira kau akan meninggal ...." Dokter itu menggeleng beberapa kali sembari mengecek Cakra. "Kalaupun kau sadar, kau bisa sepenuhnya pulih paling cepat sekitar satu tahun."
Cakra duduk di ranjang. "Di mana aku sebenarnya? Aku tidak tahu di mana aku sekarang. Tempat ini sangat ... aneh."
"Kau berada di rumah sakit. Rumah sakit adalah tempat di mana orang sakit dan para dokter berada." Dokter itu semakin mengernyit keheranan.
"Rumah sakit? Apa maksudmu semacam balai pengobatan di mana para tabib mengobati orang-orang sakit?"
"Ya, kau benar." Dokter itu keluar dari ruangan, berbincang dengan beberapa suster mengenai keadaan Cakra sekarang.
"Tabib itu mirip dengan tabib di pedukuhan kecil di selatan kerajaan." Cakra menepuk-nepuk pipi bulatnya, kembali terkejut saat melihat penampakannya di cermin.
"Siapa sebenarnya pemilik tubuh asli ini? Kenapa sukmaku bisa masuk ke dalam tubuhnya? Aku benar-benar kesulitan bergerak dengan tubuh ini."
"Saat aku berada di tempat asing ini, sang prabu dan istana kerajaan tengah diserang oleh pasukan musuh. Aku tidak boleh berdiam diri."
Cakra duduk bersila dengan kedua tangan terbuka di atas lutut. Bersamaan dengan matanya yang terpejam, ia mulai memusatkan seluruh indra dan perhatiannya.
Cakra bersemedi di tengah keheningan ruangan. Kilasan peristiwa penyerangan pasukan musuh terus bermunculan dalam pikirannya.
"Ilmu kanuraganku masih terkunci. Aku kesulitan bergerak dengan tubuh ini. Lalu, bagaimana caraku menolong sang prabu dan kerajaan?"
Cakra membuka mata perlahan, bergegas berdiri meski kembali terjatuh ke lantai. Ia baru bisa berdiri setelah berpegangan pada kaki ranjang.
"Sumur tua itu. Sumur tua itu melemparkanku ke tempat yang aneh. Jika aku kembali melompat ke sumur itu, aku pasti bisa kembali ke hutan Wanaherang."
"Tapi, aku harus menemukan tempat sumur itu. Mau tak mau, aku harus melakukannya dengan tubuh gemuk ini. Aku tidak boleh membuang-buang waktu."
Cakra berlari menuju pintu. Saat tangannya akan menggapai gagang pintu, pintu justru terbuka dari dalam. Seorang gadis dan pria muda muncul di celah pintu yang terbuka.
Cakra sontak mundur beberapa langkah, terkejut saat dua sosok tak asing baginya mendadak muncul.
"Pangeran Rangga dan Putri Rara." Cakra segera menyatukan kedua tangan di depan dada, membungkuk. "Pangeran, Putri, senang bertemu dengan kalian berdua di tempat ini."
Daftar bab
122 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
122 bab








