

Di SMA Rajawali, lorong sekolah yang menghubungan gedung olahraga dan gudang masih sama mencekam seperti hari-hari sebelumnya.
Di sanalah perundungan terjadi. Para siswa yang berada di level 3 akan menjadi samsak bagi siswa-siswa di level 1, alias si penguasa sekolah.
Bambang Saputra atau orang-orang biasa memanggilnya Bam, menjadi salah satu korbannya. Ia dijuluki pecundang dari para pecundang.
"Hari ini aku bakalan babak belur lagi, level 1 sialan!" rutuk Bam dalam hati, sementara kaki kirinya sedang dijadikan tumpuan kursi oleh Rama-- si penguasa level 1.
Sudah bukan rahasia lagi, para siswa di sekolah ini menganut sistem kasta atau level. Terdapat 3 level.
Sesuai urutannya, level 3 adalah mereka si pecundang yang payah dan tidak memiliki apa-apa. Mereka bukan orang kaya, tidak pintar, dan dianggap sebagai aib bagi sekolah.
Sementara level 2 adalah mereka yang memiliki cukup kuasa, seperti orangtua mereka adalah guru atau para siswa dengan kemampuan otak yang lumayan.
Sementara level 1 adalah raja dari segala raja di sekolah itu. Mereka sekumpulan siswa dari kalangan elit, langganan juara olimpiade, dan orangtua mereka adalah donatur atau pejabat yang disegani.
Tak sedikit yang menghindari masuk ke sekolah ini jika tidak benar-benar akan berada di level 1. Karena semuanya akan berubah menjadi neraka. Seperti yang Bam alami.
"Tahan.. lima belas menit lagi!" bentak Rama yang masih duduk di atas kursi kayu, sementara satu kaki kursi menumpu pada kaki kiri Bam yang telah membiru.
Rama adalah siswa top 1, leader dari para level 1. Dia sangat disegani, bahkan oleh guru sekalipun.
Tampangnya sangat berandalan, terdapat satu tatto di bawah telinganya, dan dia selalu menggertak anak-anak level 3. Termasuk Bam yang paling parah kena getahnya.
"Ahh, sakit.. tolong biarkan aku pulang. Besok aku bakal ngumpulin uang lebih banyak lagi," rintih Bam.
Kini badannya seakan remuk tatkala harus menahan berat kursi jati ditambah Rama yang perawakannya cukup tinggi besar itu.
Mata Rama melotot ke arahnya, diselingi dengan deheman yang kasar, "lo siapa? Berani-beraninya nyuruh gue!" bentaknya sambil menaikkan kedua kaki ke atas kursi. Beban yang harus ditahan Bam kini lebih banyak lagi.
"To.. tolong.., aku nggak kuat lagi," rintih Bam, dahinya berkerut dan giginya mengatup menahan sakit yang luar biasa.
Rama tetap cuek, siapa pun tidak ada yang berani melawannya. Maka dia dijuluki 'Si Jagoan'.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki itu terdengar samar di telinga Bam yang mulai berdengung. Langkah kaki dari sepatu Converse yang sangat ia kenal kini mendekat ke arahnya.
"Beb, dari mana saja?" Rama bangkit dari kursi dan langsung merangkul pinggang sosok itu.
Dia adalah Jessie, cewek paling cantik di level satu sekaligus pacar Rama. Berbeda dari pacar-pacar Rama sebelumnya, Jessie justru kerap risi jika Rama sudah bersikap seperti itu.
Pun dengan semua siswa yang berada di level 1, hanya Jessie yang masih punya belas kasihan.
Dia berambut pendek sebahu, mata almond serta hidung mancungnya benar-benar membuatnya terlihat sangat cantik. Sejujurnya, Bam pun telah jatuh hati pada Jessie. Meskipun ia tahu hal ini adalah keputusan yang sangat bodoh.
Jessie masih berdiri di tempatnya, ia melepaskan rangkulan Rama, kemudian jongkok di depan Bam.
Sorot matanya terlihat sedang mengamati Bam secara dalam-dalam. Seperti rasa iba yang terbendung.
"Kamu sudah babak belur lagi, kasian sekali kamu Bam," ucap Jessie, tangannya membelai halus tumit kaki kiri Bam.
Melihat hal itu, Bam langsung panik. Terlebih saat ia melihat ekspresi Rama sudah naik pitam di belakang Jessie.
Dengan cepat Bam menyingkirkan tangan cantik Jessie. Dari jarak sedekat itu, Jessie terlihat sangat menawan. Apalagi dengan bau parfum tiga jutaan yang turut menambah keeliteannya.
"Ngapain Beb? Kamu gila ya!" ujar Rama dengan nada datar dan ekspresi yang penuh emosi.
Bukan Jessie namanya jika ia tidak bisa meredakan emosi Rama. Mudah saja baginya untuk mendinginkan sumbu obor yang sudah membara itu.
"Rama, aku cuma nggak mau tangan bersihmu kotor karena anak-anak dari level 3." Jessie menangkup pipi Rama, sukses membuat wajah berandalan itu jadi memerah.
"Sudahi saja ya, kamu bilang kita mau nonton kan malam nanti?" tambah Jessie.
Rama susah payah menelan ludah. Ia selalu gugup jika sudah dihadapkan dengan Jessie.
"Oke, ayok."
Pinggang ramping Jessie dirangkul lagi. Mereka berjalan meninggalkan anak-anak level 3 yang berjam-jam lalu mereka bully.
Bam bangkit dengan susah payah. Selama ini dia sudah berpura-pura kuat, tapi tetap saja semuanya terasa tidak berguna.
Diikuti oleh belasan anak-anak yang lain, Bam berjalan meninggalkan lorong gelap yang penuh trauma itu. Wajahnya lesu, rambutnya berantakan, ada sungutan rokok di dahinya yang masih belum hilang.
Bam hanya bisa berjalan pelan sambil terpincang-pincang. Kaki kirinya terasa remuk kali ini.
"Aku nggak kuat lagi."
Bruk.
Ia terjatuh di depan gerbang sekolah. Beruntung ada orang yang menunggunya. Dia Ann.
Berbeda dari anak-anak level 2 lainnya, Ann sangat peduli dengan Bam. Hal ini karena dulu Bam pernah menolongnya saat kena jambret di dalam bus.
Dan semenjak itu, keduanya menjadi akrab. Ann tidak masalah dipandang rendah atau dijauhi teman-temannya hanya karena dia bergaul dengan level 1.
"Bam! Bangun.. Bam..!" Ann terus menggerak-gerakan badan Bam yang terjatuh lemas, namun ia masih sadar.
"Aku belum mati, Ann," ucap Bam sambil menyingkirkan tangan mungil Ann dari atas dadanya.
"Syukurlah! Barusan aku mau ngasih napas buatan buat kamu."
"Apa? Napas buatan?"
"Iya."
"Udahlah, nggak usah aneh-aneh." Bam berusaha sekuat tenaga untuk berdiri lagi, "semakin kamu berteman sama aku, nanti levelmu turun loh," ucap Bam.
Perkataan itu membuat hati Ann mencelos. Padahal ia tulus berteman dengan Bam dan ia juga selalu nyambung setiap mengobrol dengan Bam.
"Bam.. aku antar kamu sampe rumah ya, kita naik taksi." Ann buru-buru mengejar Bam dan merangkul pundaknya.
Sayangnya bantuan itu tidak disambut baik oleh Bam yang sudah tak karuan lagi.
"Sudahlah Ann! Jangan pernah dekat-dekat sama aku lagi. Aku bukan di levelmu, aku ini cuma pecundang yang setiap pulang selalu babak belur begini!"
Bam kembali berjalan tertatih-tatih menuju halte depan sekolah. Perasaannya kacau hingga ia sudah tidak menghiraukan lagi perasaan Ann, teman satu-satunya yang ia miliki.
Dalam diam hati Ann sakit bukan main. Ia hanya bisa melihat sosok Bam perlahan menjauh darinya. Dan mungkin akan semakin jauh ke depannya.
"Bam.. aku cuma mau berteman sama kamu. Kamu orang baik," ucapnya lirih.
Malam itu langit tidak mendung, namun hujan turun begitu saja di kedua matanya. Ann menangis tersedu-sedu. Ia tak ingin kehilangan Bam, orang yang sangat ia sayangi. Sambil memeluk lutut, Ann berkali-kali berdoa agar hal-hal baik datang padanya dan juga pada Bam.
**
Dari balik meja, seorang kasir di minimarket memandang khawatir ke arah Bam. Bagaimana tidak, seorang siswa SMA baru pulang di malam hari dengan kondisi babak belur dan jalan yang pincang kini malah membeli sebotol racun serangga.
"Dek, kamu kenapa?" tanya sang penjaga kasir, iba.
"Berapa, Mbak?" Bam mengabaikan pertanyaan itu, ia buru-buru mengeluarkan uang selembar dua puluh ribuan yang tersisa di dompetnya. Itu uang sakunya hari ini, untuk makan siang. Namun ia sudah terlanjur kenyang karena rasa sakit yang diterimanya.
"Dek, biar saya bantu panggilkan taksi ya?" Suara mbak kasir bahkan masih terdengar saat posisi Bam sudah hampir menjauh.
Digenggamnya barang itu. Sebentar lagi ia akan melakukan sesuatu yang gila. Yang mungkin akan mengakhiri penderitaannya.
**