
cinta antara iman dan logika
Virgil|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 1.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Di kaki Gunung Cikuray yang berselimut kabut, Muhamad Varen Ghazali Mutaqin adalah sebuah anomali. Sebagai cucu dari sang maestro filsafat, Prof. Anwar Mutaqin, Varen justru tumbuh menjadi pemuda yang sombong, blak-blakan, dan membenci segala bentuk perdebatan logika yang memusingkan. Baginya, setelan jas hitam dan dasi merah adalah simbol bahwa ia milik dunia modern yang nyata, bukan dunia pesantren yang abstrak. Namun, sebuah peristiwa besar di Cilawu memaksanya berdiri di garis depan. Varen harus memilih: terus memberontak dengan logikanya yang dingin, atau mulai menyentuh sisi "iman" yang selama ini ia jauhi demi menyelamatkan nama besar Mutaqin. Di tengah konflik itu, ia bertemu dengan seseorang (atau sebuah situasi) yang membuktikan bahwa terkadang, hal yang paling tidak logis di dunia ini adalah keimanan—dan itulah yang justru paling menenangkan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: PENJARA DARI BATU DAN FILSAFAT
Kabut di Cilawu tidak pernah ramah. Ia turun dari puncak Gunung Cikuray seperti raksasa yang merangkak, menyelimuti hamparan kebun teh dan menelan atap-atap gedung di Pesantren Riyadlu Muttaqin ke dalam pelukan yang dingin dan bisu. Sore itu, udara terasa lebih menusuk dari biasanya, namun aroma tanah basah dan melati yang tumbuh di sepanjang selasar pesantren tidak sedikit pun mampu menenangkan badai yang bergejolak di dada seorang pemuda bernama Muhamad Varen Ghazali Mutaqin.
Varen berdiri tegak di atas anak tangga teratas gedung utama yayasan. Ia mengenakan setelan jas hitam yang licin, disetrika begitu sempurna hingga tak ada satu pun kerutan yang berani muncul. Di balik kerah kemeja putihnya yang kaku, sebuah dasi merah menyala terikat kencang—seperti simbol kemarahan yang ia coba sembunyikan di balik profesionalisme semu. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyembunyikan tatapan matanya yang tajam dan sarat akan kebosanan.
Baginya, hari ini adalah penderitaan. Hari ini adalah acara milad besar Pesantren Riyadlu Muttaqin yang ke-40, sekaligus peresmian gedung perpustakaan baru yang diberi nama Anwar Mutaqin Library. Sebuah ironi besar, pikirnya. Sebuah perpustakaan megah yang akan menampung ribuan buku filsafat dan logika yang sangat ia benci.
“Aceng Varen, kacamata itu... tolong dilepas sebentar. Kiai Wahid sudah menatap ke arah sini,” bisik Kang Dadang, salah satu pengurus senior pesantren, dengan nada suara yang bergetar karena sungkan.
Varen tidak menoleh. Ia hanya menaikkan sudut bibirnya, membentuk senyum sarkas yang menjadi ciri khasnya. “Kenapa, Kang? Apa kacamata ini menutupi 'nur' di wajahku yang seharusnya memancar karena garis keturunan Mutaqin? Maaf, mataku sakit melihat kepura-puraan di bawah sana.”
Di bawah sana, keluarga besar Mutaqin berkumpul dalam formasi lengkap. Selain kakeknya, Prof. Dr. KH. Muhamad Anwar Mutaqin dan ayahnya, Prof. Dr. KH. Muhamad Wahid Mutaqin, kini hadir pula putra-putri Kakek Anwar lainnya yang tak kalah mentereng prestasinya.
Ada Paman Luqman, putra kedua kakek, seorang diplomat yang baru pulang dari Mesir, berdiri dengan postur tenang di samping istrinya. Lalu ada Bibi Sarah, putri bungsu kakek yang menjadi dekan di sebuah universitas Islam ternama di ibu kota. Mereka semua adalah "produk sukses" dari didikan filsafat dan iman Kakek Anwar. Mereka berdiri berkelompok, berdiskusi kecil dengan istilah-istilah Arab dan Barat yang bercampur baur, menciptakan atmosfer intelektual yang bagi Varen terasa seperti kabut yang mencekik.
“Abang Varen!” sebuah suara cempreng dan ceria memecah lamunan pahitnya.
Varen merasakan sesuatu memeluk kaki jenjangnya. Ia menunduk. Di sana, Zahra, adik perempuannya yang baru berusia lima tahun, mendongak dengan cengiran lebar. Zahra adalah satu-satunya anggota keluarga Mutaqin yang tidak pernah Varen balas dengan kalimat sarkas. Gadis kecil itu memakai gamis putih bersih dengan jilbab instan yang sedikit miring.
“Abang kenapa pakai kacamata hitam? Kan sudah mau gelap,” tanya Zahra polos, tangannya yang mungil mencoba menggapai kacamata Varen.
Varen berjongkok, satu tangannya menahan kacamata agar tidak jatuh. “Supaya Abang tidak silau melihat orang-orang yang terlalu banyak bicara di sana, Sayang,” jawab Varen dengan nada yang jauh lebih lembut, meski kalimatnya tetap tajam.
“Bicara kan enak, Abang. Kata Kakek, bicara itu tandanya kita punya akal,” sahut Zahra, menirukan gaya bicara kakeknya yang sering ia dengar saat mengaji sore.
Varen mendengus kecil. “Akal tanpa aksi itu cuma bunyi, Zahra. Sudah, sana kembali ke Ibu. Nanti gamis putihmu kotor kalau main di tangga.”
Zahra tertawa kecil sebelum berlari kembali ke arah Ning Dalina Humaira, ibunya, yang sedang berbincang dengan Bibi Sarah. Varen kembali berdiri tegak, merapikan jasnya. Ia melihat pemandangan di bawah sana dengan muak. Paman Luqman sedang tertawa menanggapi guyonan filosofis dari ayahnya. Mereka tampak begitu serasi dengan lingkungan ini. Sementara Varen? Ia merasa seperti titik hitam di atas kertas putih yang luas.
Varen melangkah turun. Suara sepatu pantofelnya yang keras beradu dengan lantai granit, menciptakan irama yang kontras dengan gumaman selawat dari ratusan santri. Di panggung utama, Kakek Anwar sedang tersenyum bijak, menerima ucapan selamat dari para tamu.
“Anakku, kemarilah,” suara ayahnya terdengar melalui pelantang suara.
Varen berjalan perlahan, sengaja memperlambat langkahnya. Ia berdiri di tengah-tengah keluarga besar itu. Di sampingnya, Paman Luqman menepuk bahunya. “Jas yang bagus, Varen. Tapi kakekmu lebih senang kalau kamu pakai sarung Samarinda yang beliau hadiahkan.”
Varen melirik pamannya dari balik kacamata hitam. “Sarung tidak punya kantong yang cukup untuk kunci motor dan ponselku, Paman. Terlalu memusingkan untuk bergerak cepat.”
Paman Luqman hanya terkekeh, sementara ayahnya, Prof. Wahid, menatapnya dengan pandangan dingin yang memperingatkan.
Klik.
Foto keluarga besar itu diambil. Kakek Anwar di tengah, diapit oleh putra-putrinya yang profesor dan diplomat. Varen berdiri di pinggir, tangan satu di saku, kacamata hitam tetap terpasang, dan dasi merahnya menyala seperti api di tengah lautan pakaian religi yang tenang. Zahra berdiri di depan, memegang tangan kakaknya, satu-satunya penghubung Varen dengan tanah Riyadlu Muttaqin sore itu.
Begitu sesi foto selesai, Varen tidak menunggu acara penutupan. Ia berbalik dan melangkah lebar menuju area parkir belakang.
“Varen! Mau ke mana kamu?” suara ayahnya menyambar.
Langkah Varen terhenti di depan motor besar hitamnya. Ia tidak berbalik. “Acara sudah selesai. Aku sudah jadi boneka pajangan keluarga Mutaqin selama tiga jam. Tugasku sebagai 'Aceng' sudah lunas.”
Prof. Wahid berjalan mendekat, disusul oleh Bibi Sarah yang menatap keponakannya dengan prihatin. “Varen, setidaknya dengarkan pidato Kakek tentang Logika Iman malam ini. Beliau sengaja menyiapkan materi itu untukmu,” ujar Bibi Sarah lembut.
Varen berbalik, merobek dasi merahnya dengan satu tarikan kasar. “Filsafat? Aku benci hal-hal yang memusingkan, Bi. Buat apa membedah 'hakikat keberadaan' kalau setiap hari kita hanya berputar-putar di kata-kata tanpa solusi nyata? Ayah, Kakek, Paman, bahkan Bibi... kalian semua membangun perpustakaan seharga miliaran hanya untuk menyimpan buku yang isinya debat tanpa ujung. Bagiku, itu tidak logis.”
“Logika itu dasar dari iman, Varen! Tanpa logika, imanmu buta!” bentak ayahnya.
Varen tertawa pendek, tawa yang kering dan sarkas. “Dan tanpa hasil nyata, iman Ayah cuma pajangan. Aku pergi. Aku butuh udara yang tidak berbau kertas tua.”
Varen memakai helmnya, menyalakan mesin motor yang menderu keras, membelah kesunyian Riyadlu Muttaqin. Ia memacu motornya keluar dari gerbang pesantren, meninggalkan kabut Cilawu yang mulai tebal.
Ia melesat di jalanan berkelok menuju arah Garut kota. Di kecepatan 100 km/jam, ia merasa bebas. Ia berhenti di sebuah tepian tebing yang menghadap ke arah lembah Cilawu. Lampu-lampu pesantren Riyadlu Muttaqin tampak kecil di kejauhan.
Varen melepas helmnya, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah tasbih kecil dari kayu gaharu—pemberian Nenek Nyimas Anindya tadi pagi. Ia menatap benda itu dengan tatapan kosong.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari ibunya, Ning Dalina.
“Aceng, pulanglah sebelum Isya. Zahra terus menanyakan 'Abang Berjas' nya. Nenekmu juga sudah membuatkan sambal terasi kesukaanmu. Jangan biarkan kemarahanmu pada filsafat membuatmu lapar. Ibu tahu kamu hanya sedang lelah menjadi orang lain.”
Varen menatap pesan itu lama. Ibunya benar, ia lelah. Lelah menjadi cucu sang profesor, lelah menjadi anak sang doktor, dan lelah menjadi harapan sebuah dinasti yang bahasa sehari-harinya adalah logika dan filsafat.
Varen menyimpan kembali tasbih itu ke sakunya. Ia tidak akan pulang secepat itu. Ia ingin menikmati dinginnya Cilawu sedikit lebih lama, membiarkan kabut menyelimuti jas hitamnya. Di bawah langit Garut yang mendung, Muhamad Varen Ghazali Mutaqin menyadari satu hal: sejauh mana pun ia berlari dengan motor besarnya, suara tawa polos Zahra dan aroma melati Riyadlu Muttaqin akan selalu menariknya kembali ke rumah yang ia sebut penjara itu.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








