
lelembujang (wanita penggoda yang mematikan)
gerbang pujangga|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
- Jumlah kata

gerbang pujangga|Bersambung
Lelembujang: Makhluk Penggoda yg mematikan Lelembujang adalah makhluk gaib , yang wujudnya berupa wanita cantik yang sangat mempesona, namun menyimpan niat yang sangat jahat dan mematikan. Konon, makhluk ini berasal dari arwah wanita yang semasa hidupnya sangat cantik, namun hatinya jahat, penuh rasa iri dengki, dan mengamalkan ilmu hitam tingkat tinggi. Ia menjual jiwanya kepada kekuatan kegelapan agar bisa memiliki kecantikan abadi dan kekuatan untuk mengendalikan hati manusia. Wujudnya begitu sempurna dan memikat hati siapa saja yang melihatnya. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih dan halus, rambutnya hitam panjang yang selalu wangi semerbak, dan tubuhnya ramping serta elok. Pakaian yang dipakainya selalu indah dan berwarna cerah, seolah ia adalah putri raja yang turun dari kayangan. Suaranya halus, lembut, dan sangat merdu, mampu meluluhlantakkan hati siapa saja yang mendengarnya. Namun di balik kecantikannya yang luar biasa itu, tersembunyi wujud asli yang sangat mengerikan dan menjijikkan. Di bagian belakang tubuhnya, tepat di pinggang hingga punggung, tubuhnya berlubang dan kosong, tidak memiliki tulang belakang, organ dalam, maupun daging, hanya berupa rongga kosong yang gelap dan berbau sangat busuk serta amis. Bagian depannya yang cantik hanyalah kulit luar yang disusun dan disihir sedemikian rupa untuk memikat mangsanya. Ia sangat suka mengincar laki-laki, terutama yang masih muda, tampan, atau yang memiliki hati yang lemah dan mudah tergoda. Cara kerjanya sangat licik: ia akan muncul di jalan sepi, di pinggir hutan, atau di dekat sumber air, lalu berpura-pura menjadi wanita yang tersesat, kesusahan, atau sedang menunggu seseorang. Begitu ada laki-laki yang berhenti, menolong, atau tertarik padanya, ia akan menggunakan pesonanya untuk menghipnotis dan mengendalikan pikiran orang itu, hingga orang tersebut rela melakukan apa saja yang diperintahkannya. Tujuannya hanya satu: menghisap tenaga hidup, darah, dan jiwa korbannya secara perlahan namun pasti. Korbannya akan merasa semakin lemah, kurus kering, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia dalam keadaan yang sangat menyedihkan, seolah tenaga hidupnya tersedot habis sampai ke akar-akarnya. Di sebuah desa yang dikelilingi bukit dan hutan lebat, hiduplah seorang pemuda bernama Ridwan. Ia dikenal sebagai pemuda yang sangat tampan, kuat, pekerja keras, dan juga dikenal sebagai orang yang paling disukai banyak wanita. Namun ada satu kelemahan Ridwan: ia sangat suka memuji kecantikan wanita dan mudah sekali tergoda oleh pesona wanita cantik. Ia sering membual bahwa tidak ada wanita yang bisa menolak pesonanya, dan tidak ada hal yang bisa membuatnya takut atau dikendalikan oleh orang lain. Orang-orang tua dan tetua desa sudah sering memperingatkannya dengan serius: "Ridwan, hati-hatilah dengan kesombongan dan nafsumu. Di hutan sana ada Lelembujang, makhluk yang berwujud wanita tercantik di dunia, tapi sebenarnya adalah maut yang menyamar. Jika kau b
Lelembujang: Makhluk Penggoda yg mematikan
Lelembujang adalah makhluk gaib , yang wujudnya berupa wanita cantik yang sangat mempesona, namun menyimpan niat yang sangat jahat dan mematikan. Konon, makhluk ini berasal dari arwah wanita yang semasa hidupnya sangat cantik, namun hatinya jahat, penuh rasa iri dengki, dan mengamalkan ilmu hitam tingkat tinggi. Ia menjual jiwanya kepada kekuatan kegelapan agar bisa memiliki kecantikan abadi dan kekuatan untuk mengendalikan hati manusia.
Wujudnya begitu sempurna dan memikat hati siapa saja yang melihatnya. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih dan halus, rambutnya hitam panjang yang selalu wangi semerbak, dan tubuhnya ramping serta elok. Pakaian yang dipakainya selalu indah dan berwarna cerah, seolah ia adalah putri raja yang turun dari kayangan. Suaranya halus, lembut, dan sangat merdu, mampu meluluhlantakkan hati siapa saja yang mendengarnya.
Namun di balik kecantikannya yang luar biasa itu, tersembunyi wujud asli yang sangat mengerikan dan menjijikkan. Di bagian belakang tubuhnya, tepat di pinggang hingga punggung, tubuhnya berlubang dan kosong, tidak memiliki tulang belakang, organ dalam, maupun daging, hanya berupa rongga kosong yang gelap dan berbau sangat busuk serta amis. Bagian depannya yang cantik hanyalah kulit luar yang disusun dan disihir sedemikian rupa untuk memikat mangsanya.
Ia sangat suka mengincar laki-laki, terutama yang masih muda, tampan, atau yang memiliki hati yang lemah dan mudah tergoda. Cara kerjanya sangat licik: ia akan muncul di jalan sepi, di pinggir hutan, atau di dekat sumber air, lalu berpura-pura menjadi wanita yang tersesat, kesusahan, atau sedang menunggu seseorang. Begitu ada laki-laki yang berhenti, menolong, atau tertarik padanya, ia akan menggunakan pesonanya untuk menghipnotis dan mengendalikan pikiran orang itu, hingga orang tersebut rela melakukan apa saja yang diperintahkannya.
Tujuannya hanya satu: menghisap tenaga hidup, darah, dan jiwa korbannya secara perlahan namun pasti. Korbannya akan merasa semakin lemah, kurus kering, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia dalam keadaan yang sangat menyedihkan, seolah tenaga hidupnya tersedot habis sampai ke akar-akarnya.
Di sebuah desa yang dikelilingi bukit dan hutan lebat, hiduplah seorang pemuda bernama Ridwan. Ia dikenal sebagai pemuda yang sangat tampan, kuat, pekerja keras, dan juga dikenal sebagai orang yang paling disukai banyak wanita. Namun ada satu kelemahan Ridwan: ia sangat suka memuji kecantikan wanita dan mudah sekali tergoda oleh pesona wanita cantik. Ia sering membual bahwa tidak ada wanita yang bisa menolak pesonanya, dan tidak ada hal yang bisa membuatnya takut atau dikendalikan oleh orang lain.
Orang-orang tua dan tetua desa sudah sering memperingatkannya dengan serius:
"Ridwan, hati-hatilah dengan kesombongan dan nafsumu. Di hutan sana ada Lelembujang, makhluk yang berwujud wanita tercantik di dunia, tapi sebenarnya adalah maut yang menyamar. Jika kau bertemu dan tergoda olehnya, maka habislah riwayatmu. Kecantikannya adalah jebakan, dan pesonanya adalah racun yang mematikan."
Tapi Ridwan hanya tertawa dan menganggap itu hanya cerita takut-takut biasa. Ia merasa dirinya sudah cukup kuat dan pintar untuk membedakan mana manusia dan mana makhluk halus, dan ia yakin tidak akan pernah bisa dipermainkan oleh siapa pun.
Suatu sore, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi kemerahan, Ridwan sedang pulang dari ladang melewati jalan setapak yang sepi dan membelah pinggir hutan. Udara saat itu terasa sejuk dan tenang, angin bertiup pelan membawa aroma bunga yang sangat harum, manis, dan menyegarkan hati — aroma yang belum pernah ia cium sebelumnya.
Saat ia sedang berjalan santai, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang duduk di atas batu besar di pinggir jalan, membelakangi arahnya. Wanita itu mengenakan pakaian yang sangat indah dan berwarna cerah, rambutnya yang hitam panjang terurai indah dan berkilau terkena cahaya matahari sore. Dari kejauhan saja, aura kecantikannya sudah terasa begitu kuat dan memikat.
Ridwan yang penasaran dan tertarik, segera mempercepat langkahnya mendekat. Saat ia sampai di dekatnya, wanita itu perlahan menoleh dan menatapnya. Saat wajahnya terlihat jelas, jantung Ridwan serasa berhenti berdetak seketika. Belum pernah seumur hidupnya ia melihat wanita secantik itu. Wajahnya bulat telur, matanya bening dan bersinar bercahaya, hidungnya mancung, dan bibirnya merah segar yang sedang tersenyum manis dan menggoda.
"Selamat jalan, Abang..." ucap wanita itu dengan suara yang begitu lembut dan merdu, yang langsung terasa menembus ke dalam dada dan menggetarkan seluruh jiwa Ridwan. "Maaf mengganggu, tapi aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Bisakah Abang menolong dan mengantarku sedikit? Aku akan sangat berterima kasih..."
Mendengar suara itu dan melihat wajah yang begitu mempesona, akal sehat dan kewaspadaan Ridwan langsung lenyap seketika. Ia lupa akan segala peringatan orang tua, lupa akan rasa takut, dan pikirannya hanya dipenuhi oleh keinginan untuk mendekat dan melayani wanita cantik itu. Ia segera mengangguk dengan semangat dan berkata:
"Tentu saja, Nona. Jangan khawatir, aku akan menolongmu. Kemana pun kau mau pergi, aku akan antar sampai selamat."
Sejak saat itu, Ridwan mulai sering bertemu dengan wanita cantik itu yang mengaku bernama Sari. Mereka sering berjalan berdua, mengobrol, dan semakin lama Ridwan semakin terikat dan jatuh hati padanya. Baginya, Sari adalah wanita paling sempurna yang pernah ada di dunia ini, dan ia merasa hidupnya menjadi jauh lebih indah dan bahagia sejak mengenalnya.
Namun lama-kelamaan, hal-hal aneh mulai terjadi pada diri Ridwan. Tubuhnya yang dulu kuat dan kekar, perlahan menjadi semakin kurus dan ringkih. Wajahnya yang dulu cerah dan segar, kini menjadi pucat dan kuyu, matanya cekung dan kurang bersinar, dan tenaganya makin lama makin berkurang. Ia sering merasa sangat lelah, mengantuk, dan sakit-sakitan tanpa sebab yang jelas, seolah ada sesuatu yang sedang mengambil tenaganya sedikit demi sedikit setiap hari.
Teman-teman dan keluarganya sangat cemas dan menanyakannya, tapi Ridwan hanya menjawab bahwa ia hanya kelelahan bekerja, dan melarang siapa pun untuk mencampuri urusannya atau menjelek-jelekkan Sari. Rasa cintanya sudah berubah menjadi ketergantungan yang buta dan obsesi yang kuat, seolah ia sudah tidak bisa hidup satu detik pun tanpa wanita itu.
Suatu malam, Ridwan mengajak Sari untuk berjalan-jalan di pinggir hutan seperti biasa. Malam itu sangat terang karena bulan purnama bersinar terang, namun udaranya terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Saat mereka sedang duduk berdua di tempat yang agak gelap dan tertutup pepohonan, tiba-tiba Ridwan merasa penasaran dan berkata:
"Sari, sayangku. Selama ini kita sudah bersama lama sekali, tapi aku belum pernah melihat punggungmu. Kenapa kau selalu menutupinya rapat-rapat? Izinkanlah aku melihatnya, aku ingin melihat keindahan seluruh tubuhmu..."
Awalnya Sari menolak dengan lembut dan mengalihkan pembicaraan, tapi karena Ridwan terus mendesak dan memohon, akhirnya Sari mengangguk dengan wajah yang berubah menjadi dingin dan seram, senyum manisnya perlahan hilang dan berganti dengan senyum yang kaku dan mengerikan.
"Baiklah... Jika kau memang sangat ingin tahu... Lihatlah... Dan rasakanlah akibatnya..." ucapnya dengan suara yang berubah menjadi berat, parau, dan tidak lagi lembut seperti biasanya.
Perlahan, Sari memutar badannya dan memunggungi Ridwan. Saat ia membuka pakaian yang menutupi punggung dan pinggangnya, apa yang terlihat membuat darah Ridwan langsung membeku, dan seluruh tubuhnya kaku lumpuh karena rasa ngeri yang luar biasa dahsyatnya.
Di hadapannya, bukan punggung wanita yang indah dan halus yang ia bayangkan, melainkan sebuah lubang besar yang menganga lebar dan kosong, dari leher hingga ke pinggul. Di sana tidak ada apa-apa, tidak ada daging, tidak ada tulang, tidak ada organ, melainkan hanya rongga gelap yang hitam pekat, yang berbau sangat busuk, amis, dan menyengat — bau mayat yang sudah membusuk berbulan-bulan lamanya. Di dalam lubang kosong itu, terlihat ribuan serat dan urat yang bergerak-gerak, serta sisa-sisa darah kering yang menempel di dinding rongganya.
Seketika itu juga, Ridwan sadar betul siapa wanita yang ada di hadapannya itu. Itu bukan manusia, melainkan Lelembujang yang diceritakan orang-orang dulu. Ia ingin berteriak, ingin lari secepatnya, tapi terlambat sudah.
Sari perlahan berbalik kembali menghadapnya, tapi kali ini wajahnya sudah berubah sepenuhnya menjadi wujud aslinya yang mengerikan. Kulitnya menjadi keriput dan kehitaman, matanya melotot besar dan merah menyala penuh amarah serta kelaparan, mulutnya terbuka lebar sampai ke telinga dengan gigi-gigi yang tajam dan panjang, dan rambutnya yang indah tadi kini berubah menjadi kaku, kasar, dan menjalar ke segala arah seperti ular yang sedang marah.
"AKHIRNYA KAU TAHU JUGA... TAPI SUDAH TERLAMBAT... KAU SUDAH MENJADI MILIKKU SEUTUHNYA... TUBUHMU, DARAHMU, JIWAMU... SEMUANYA AKAN KUAMBIL SEKARANG..."
Sambil berteriak mengerikan itu, Lelembujang langsung melompat ke arah Ridwan, melilit tubuhnya dengan tangan dan rambutnya yang panjang. Dari lubang kosong di punggungnya, keluar ribuan urat halus yang panjang dan tajam, yang langsung menembus kulit dan tubuh Ridwan, menancap kuat ke dalam pembuluh darah dan organ tubuhnya.
Ridwan menjerit sekuat tenaganya karena rasa sakit yang luar biasa hebatnya, rasanya seperti seluruh darah, tulang, dan isi tubuhnya sedang ditarik dan dihisap keluar secara perlahan dan menyiksa. Ia merasakan tenaganya, ingatannya, dan nyawanya perlahan tersedot habis masuk ke dalam rongga kosong makhluk itu. Ia mencoba melawan, memohon ampun, tapi tenaganya makin lama makin hilang, dan kesadarannya perlahan meredup hingga akhirnya semuanya menjadi gelap gulita selamanya.
Keesokan harinya, keluarga dan warga desa yang cemas karena Ridwan belum pulang, pergi mencarinya ke tempat yang biasa ia kunjungi. Saat mereka menemukannya di pinggir hutan, apa yang mereka lihat membuat mereka langsung menangis histeris dan pucat pasi karena ngeri.
Tubuh Ridwan terbaring kaku di tanah, sangat kurus, kering, dan ringkih seolah tinggal kulit yang menempel pada tulang saja. Kulitnya pucat sekali seputih kapur, matanya terbelalak kosong dan penuh ketakutan yang membeku, dan seluruh tubuhnya terasa sangat ringan dan dingin, seolah tidak ada isi atau cairan sedikit pun yang tersisa di dalamnya. Di sekitar tubuhnya tidak ada tanda-tanda perkelahian atau luka luar apa pun, namun bau amis dan busuk yang sangat menyengat masih tercium kuat di udara, bau yang sama persis dengan bau yang dikaitkan dengan makhluk jahat itu.
Mereka tahu persis apa yang terjadi, dan siapa pelakunya. Berita mengerikan itu menyebar dengan cepat ke seluruh desa, membuat seluruh penduduk hidup dalam ketakutan dan kecemasan luar biasa. Mereka sadar bahwa makhluk jahat itu masih berkeliaran di sekitar mereka, mencari korban baru yang cukup sombong atau mudah tergoda pesona semu.
Segera para tetua desa dan orang pintar berkumpul, lalu melakukan upacara dan ritual untuk mengusir makhluk itu dari wilayah mereka selamanya. Mereka memasang jimat, menanam tanaman pelindung, dan membacakan doa-doa suci di sekeliling desa agar tidak ada lagi makhluk jahat yang bisa masuk atau mengganggu kedamaian mereka.
Dan benar saja, setelah ritual itu dilakukan, bau harum yang memabukkan dan sosok wanita cantik misterius itu tidak pernah lagi terlihat atau tercium di sana. Desa kembali menjadi tenang dan damai seperti sedia kala.
Namun cerita tentang Ridwan dan Lelembujang itu terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi pelajaran dan peringatan yang paling berat bagi siapa saja:
"Jangan pernah terlalu menyombongkan diri, dan jangan pernah mudah tergoda oleh keindahan atau kesenangan yang tampak indah di luar saja. Sering kali hal yang paling indah dan memikat mata, sebenarnya adalah jebakan yang paling berbahaya dan mematikan, yang membawa kehancuran dan kematian yang paling mengerikan. Ingatlah, di balik segala hal yang indah, selalu ada rahasia dan risiko yang harus kita waspadai dengan bijak dan rendah hati."
Dan sampai sekarang pun, konon jika ada orang yang melewati jalan setapak di pinggir hutan itu saat senja atau malam hari yang sepi, kadang masih bisa tercium bau harum yang samar dan manis, atau terdengar suara wanita yang tertawa kecil dan merdu dari kejauhan — mengundang, memikat, dan menunggu korban baru yang lengah dan tidak waspada...
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.