Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Satpam Pemikat Hati Nyonya

Satpam Pemikat Hati Nyonya

Itsmoore | Bersambung
Jumlah kata
98.0K
Popular
3.3K
Subscribe
650
Novel / Satpam Pemikat Hati Nyonya
Satpam Pemikat Hati Nyonya

Satpam Pemikat Hati Nyonya

Itsmoore| Bersambung
Jumlah Kata
98.0K
Popular
3.3K
Subscribe
650
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeZero To HeroHarem21+
Aris, 26 tahun, adalah satpam yang direndahkan sesama, tapi selalu diidolakan para wanita di komplek perumahan elit. Ada Elena (32) yang merupakan konglomerat kaya dan haus belaian, Ratna (38) janda kesepian yang ingin ditusuk, Kirana (29) wanita super cantik dan hyper tapi suaminya impoten, juga Nindy, dokter cantik yang selalu menggoda iman. Masing-masing dari mereka selalu menanti kedatangan Aris, seraya berkata, “Kamu yang biasanya jagain komplek, sekarang biar Mbak jagain kamu ya, mau yang atas apa yang bawah dulu?”
Aku Cuma Orang Miskin

"Selesai juga akhirnya."

Aris menyeka peluh yang menetes di pelipisnya menggunakan punggung tangan. Seragam satpam biru yang ia kenakan sudah basah kuyup oleh keringat.

Sebagai petugas keamanan kompleks yang merangkap menjadi teknisi serabutan, ia memang sudah biasa keluar masuk rumah megah. Namun, kediaman keluarga Wijaya ini selalu berhasil membuatnya sadar diri.

Lantai marmer mahal, interior mewah, serta suasana yang tenang.

Ahh, itu seolah mengingatkan Aris bahwa dirinya hanyalah orang kecil yang kebetulan sedang mencari nafkah di sana.

"Tinggal pasang isolasi tembaga ini, beres sudah tugas ronda siang," gumam Aris seraya mengencangkan ikatan kabel.

Sayangnya, sebelum jemari kasarnya selesai melilit sambungan kawat, sebuah suara serak dan basah mendadak merembes dari celah pintu kamar utama yang renggang.

"Nghh... Mas Anton, kamu di mana? Lima tahun aku tersiksa di rumah sebesar ini... apa sepasang buah melon ranum ini masih kurang padat buat kamu sentuh?"

Sialnya, pintu kamar bercat putih berukir emas tersebut rupanya tidak terkunci rapat, menyisakan celah selebar lima sentimeter yang memamerkan bagian dalam ruangan.

Dengan napas tertahan, pemuda itu mengendap-endap mendekat dan langsung menyipitkan mata ke arah celah sempit tersebut. Siapa tahu, kan, Aris menemukan Nyonya sedang butuh pertolongan dan dia bisa membantu? Mungkin saja dia bisa dapat bonus, kan lumayan buat beli rokok.

Alih-alih hanya melihat kondisi biasa, mata Aris justru membelalak melihat pemandangan di dalam sana.

Di atas ranjang berukuran besar dengan seprai sutra abu-abu, sang majikan, Elena, sedang berbaring telentang. Wanita yang selalu tampil tertutup dan sangat anggun di luar rumah itu kini hanya mengenakan gaun tidur satin merah yang luar biasa tipis.

Akibat pergerakan tubuhnya yang gelisah, kain tersebut sudah tersingkap jauh hingga ke atas perut, menelanjangi paha putih mulusnya yang berkilat karena keringat.

Kacamata berbingkai merah miliknya tergeletak begitu saja di sandaran kasur. Sementara itu, bagian bahu gaun tidurnya sudah melorot jatuh tanpa ikatan tali, memperlihatkan kulit mulus yang sepenuhnya polos.

Asem!

Aris menggeleng pelan ketika melihat sepasang buah melon ranum milik sang majikan terekspos. Bentuknya sangat bulat, padat, dan begitu kenyal.

"Arghhh, kenapa indah banget bentukannya? Eh, Tot, Gatot, kok kamu berdiri tegak gini sih!" gerutu Aris dalam hati saat melihat tonjolan masif mendadak mendesak celana seragamnya.

Pemandangan tersebut kian menjadi-jadi manakala tangan kanan Elena menyusup ke balik kain putih berenda tipis di bagian bawah. Jari-jari lentik wanita itu bergerak keluar masuk, menyentuh muara lembah rahasia yang telah basah oleh rembesan embun hangat.

Sementara tangan kirinya meremas kuat gundukan padat di dada, memijat puncak kecokelatan dengan desahan yang kian memburu.

Elena terus bergeliat dengan mata terpejam rapat, menikmati sentuhan jemarinya sendiri.

"Gila, kulitnya mulus sekali. Tubuh seperti ini mana mungkin bisa disentuh oleh tanganku yang kasar. Hmm, andai aku kaya, aku bisa menikmati yang sekelas Bu Elena, tapi kayaknya mustahil, aku cuma orang miskin," batin Aris sembari menelan ludah dengan susah payah.

Visual lekuk tubuh Elena yang bergetar setiap kali mendesah itu sukses meruntuhkan pertahanan diri Aris.

Tanpa bisa dicegah, pusaka di balik celana seragamnya langsung terbangun meregang kencang, menuntut kebebasan. Senyum tanpa sadar terukir di bibirnya, menikmati tontonan terlarang yang mustahil ia gapai.

Tiba-tiba, fantasi itu buyar seketika ketika sebuah tepukan keras mendarat di bahunya dari arah belakang.

Plak!

"Lagi ngapain kamu di situ, Aris?" bisik suara berat tepat di samping telinganya.

Wajah Aris berubah pucat pasi tatkala ia memutar lehernya kaku. Di hadapannya, sudah berdiri tegak Pak Anton, suami dari wanita yang baru saja ia tonton adegan panasnya.

"P-Pak Anton... saya... saya tadi cuma..." Suara Aris bergetar hebat di ambang kepanikan.

Pemuda itu sudah pasrah jika detik ini juga wajahnya dihantam bogem mentah atau diseret ke pos penjagaan untuk dipecat secara tidak hormat.

"Ikut aku," potong Anton singkat tanpa basa-basi sedikit pun.

Mau tidak mau, Aris mengekor dengan langkah gontai menyusuri lorong menuju sudut ruangan yang tersembunyi. Anton mendorong pintu kayu jati sebuah ruang kerja privat, lalu menguncinya rapat-rapat dari dalam.

"Duduk, Aris," perintah Anton santai sembari melangkah ke arah dinding.

Alih-alih melayangkan pukulan, pria paruh baya itu justru membuka panel lukisan kuno yang memperlihatkan sebuah brankas besi berukuran besar.

"Pak, saya benar-benar minta maaf. Saya khilaf. Tolong jangan lapor ke komandan saya, Pak."

"Sudah, kamu ngaku saja, tadi lihat apa?" desak Anton tajam.

"En-enggak, Pak, saya nggak lihat apa-apa. Saya cuma…"

"Jujur atau aku telepon komandan kamu, mumpung saya masih baik hati mau diajak bicara baik-baik seperti ini!" ancam Anton tanpa ampun.

Karena terdesak, Aris akhirnya mengaku dengan terbata-bata, menceritakan sekilas apa yang ia lihat di balik celah pintu kamar utama. Termasuk bagaimana gerakan Elena ketika di dalam tadi.

"Kamu mau sama dia, kan?" Anton tiba-tiba melontarkan pertanyaan pamungkas yang membuat Aris tertegun.

"P-Pak… bukan itu maksud saya. Sa-saya tidak sengaja melihat itu dan saya minta maaf," sangkal Aris dengan napas tercekat.

Tidak peduli dengan ucapan Aris, Anton justru mengambil koper, memutar kombinasi angka pada brankasnya. Dan saat koper itu dibuka…

Brak!

Sebuah koper kulit hitam dibanting ke atas meja kerja, berisi tumpukan tebal uang pecahan seratus ribu rupiah yang tersusun rapi. Warna merah menyala dari lembaran uang tersebut seolah mengejek status ekonomi Aris yang serba kekurangan.

"Itu lima ratus juta tunai, kalau kamu mau nuruti perintahku," ucap Anton seraya menatap tajam ke dalam pupil Aris.

"Ma-maksudnya bagaimana ya, Pak?" tanya Aris dengan kening berkerut bingung.

Anton menyandarkan punggungnya ke kursi kulit sembari menyalakan sebatang cerutu. "Alasan kenapa aku tanya kamu mau sama Elena atau tidak, karena aku punya tugas khusus untukmu. Aku tahu kamu mendambakan perempuan seperti dia dan kamu pasti nggak nolak, kan, untuk bermain dengan wanita secantik istriku, apalagi dibayar?"

"Pak, demi Tuhan, saya—"

"Diam dan dengarkan aku!" potong Anton cepat dengan suara dingin yang mematikan nyali. "Malam ini juga, kamu masuk ke kamar itu. Tugasmu cuma satu, buat dia hamil secepat mungkin!"

Anton menutup koper hitam itu dengan bunyi dentang kunci yang tajam hingga membuat Aris tersentak dari lamunannya.

"Kenapa bengong? Uang lima ratus juta ini bukan jumlah receh buat orang rendahan seperti kamu," ucap Anton santai seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kulit.

Aris menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. "Tapi Pak... permintaan Bapak ini sama saja cari mati. Menghamili Bu Elena? Kalau urusan ini sampai ke telinga polisi, saya bisa membusuk di penjara seumur hidup."

Mendengar ketakutan itu, Anton tertawa sinis dengan nada meremehkan.

"Siapa yang mau lapor polisi?" Anton mendengus geli sembari mengibaskan abu cerutunya ke asbak kristal.

"Dengar baik-baik, Ris. Keluarga besar Wijaya punya harta warisan yang tidak akan habis tujuh turunan. Sayangnya, mendiang ayah mertuaku memberi syarat konyol di surat wasiat. Kalau dalam batas waktu yang ditentukan kami belum juga punya keturunan, seluruh aset utama perusahaan bakal disita dan jatuh ke tangan para sepupu penjilat itu."

Lanjut membaca
Lanjut membaca