
Kiamat Zombie: Awal Era Baru
Rigelion|Bersambung
- Jumlah kata
- 87.0K
- Popular
- 710
- Subscribe
- 26
- Jumlah kata
- 87.0K
- Popular
- 710
- Subscribe
- 26
Sinopsis
Toni hanyalah seorang kasir minimarket yang menjalani hidup biasa. Namun, semuanya berubah ketika sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul di hadapannya. Sistem itu terus memberinya misi aneh dan memperingatkan bahwa dalam tiga hari, dunia akan berubah menjadi neraka yang dipenuhi zombie. Menganggap semua itu hanya halusinasi akibat kelelahan, Toni memilih mengabaikannya. Hingga hukuman dari Sistem membuatnya sadar bahwa apa yang terjadi bukanlah mimpi. Di saat yang sama, fenomena aneh mulai bermunculan di seluruh dunia. Tidak ada yang menyadari bahwa bencana terbesar dalam sejarah umat manusia sudah berada di ambang pintu. Ketika hari itu akhirnya tiba, peradaban runtuh dalam sekejap. Di tengah kekacauan yang dipenuhi kematian, hanya ada satu pilihan yaitu bertahan hidup.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Malam itu, sekitar pukul 22.00.
Di sebuah minimarket yang mulai sepi, seorang pemuda berusia dua puluh tahun berdiri di balik meja kasir.
"Ini, Bu, kembaliannya. Terima kasih."
Setelah pelanggan terakhir keluar, seorang rekan kerjanya menghampiri.
"Ton, bantu angkat stok barang, yuk. Truknya baru datang," ujar Budi sambil menepuk bahu Toni.
"Oke, bentar."
Keduanya berjalan menuju pintu belakang minimarket. Sebuah truk pengangkut barang telah terparkir, sementara sang sopir, seorang wanita bernama Asti, sedang memeriksa surat jalan.
Budi menyenggol lengan Toni sambil berbisik, "Makin cantik ajah ya, Mbak Asti."
Toni melirik sekilas lalu terkekeh. "Kalau suka, sana ajak jalan. Jangan cuma berani bisik-bisik."
"Cih, ngomong doang gampang."
Mendengar percakapan mereka, Asti hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Kalau sudah selesai ngobrolnya, bantu turunkan barangnya. Biar cepat."
"Siap, Bos!" jawab Toni dan Budi hampir bersamaan, membuat mereka bertiga sama-sama tersenyum sebelum mulai menurunkan stok barang.
Beberapa saat kemudian, hanya tersisa satu kardus terakhir.
"Buseet... yang ini berat banget, Ton! Bantu dong!" teriak Budi dari dalam boks truk.
"Halah, gitu doang udah nyerah. Cemen banget."
Toni terkekeh lalu naik ke dalam boks truk untuk membantu.
"Ayo... satu... dua... tiga... Hiaaak!"
Mereka mengerahkan seluruh tenaga, tetapi kardus itu hanya bergeser sedikit.
"Sialan... apaan sih ini? Berat banget!" gerutu Toni sambil mengusap keringat di dahinya.
"Kan udah kubilang," balas Budi dengan napas tersengal.
Mereka mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
Melihat tingkah kedua pria itu, Asti yang berdiri di samping truk langsung tertawa.
"Hahaha... dasar laki-laki letoi. Gitu doang nggak kuat?"
Toni mendengus. "Kalau gampang, sini Mbak yang angkat."
Asti menggeleng pelan sambil menunjuk ke arah bawah kardus.
"Kalian ini gimana, sih? Itu kardusnya masih diikat ke lantai truk. Talinya aja belum dilepas."
Toni dan Budi saling berpandangan beberapa detik sebelum menunduk melihat tali pengikat yang masih terpasang.
"..."
"Waduh."
"Hahaha!" Asti tak kuasa menahan tawa melihat wajah malu kedua pria itu.
Beberapa saat kemudian, seluruh stok barang akhirnya berhasil dipindahkan ke dalam gudang minimarket.
"Kalau gitu aku duluan, ya." pamit Asti sambil masuk ke kabin truk.
"Hati-hati, Mbak!" balas Toni dan Budi bersamaan.
Truk boks itu pun perlahan meninggalkan halaman minimarket.
Setelah memastikan semua barang telah tersusun rapi, Toni dan Budi menutup pintu gudang, mematikan lampu, lalu mulai menutup minimarket.
"Capek juga hari ini," gumam Budi sembari meregangkan tubuh.
"Iya. Untung besok aku masuk siang," sahut Toni sambil mengambil tasnya.
Keduanya mengunci pintu minimarket, memastikan semuanya telah aman, lalu berpamitan.
"Duluan ya, Bud."
"Hati-hati di jalan, Ton."
Toni mengangguk pelan sebelum berjalan menuju tempat parkir, menyalakan motor supranya, lalu melaju menembus dinginnya malam menuju rumah.
Setibanya di rumah, Toni memarkirkan motor Supra tuanya di halaman. Ia membuka pintu, meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menuju dapur untuk menghangatkan makan malam.
Toni adalah seorang yatim piatu. Empat tahun lalu, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta yang merenggut nyawa puluhan penumpang. Sejak saat itu, ia hanya memiliki seorang adik perempuan yang kini sedang menempuh pendidikan di ibu kota Republik Townai berkat beasiswa pemerintah.
Demi menghidupi diri dan adiknya, Toni bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket. Selain gaji dari pekerjaannya, setiap bulan ia juga menerima bantuan sosial dari pemerintah yang diperuntukkan bagi anak yatim piatu. Meski hidup pas-pasan, Toni tak pernah mengeluh dan selalu berusaha menjalani hidup dengan senyum di wajahnya.
Selesai makan, Toni merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil menyalakan televisi. Sesekali ia mengganti saluran, tetapi tidak ada acara yang menarik.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 23:35.
"Udah larut malam juga, ya."
Toni menguap pelan, lalu kembali menekan tombol remote hingga berhenti di sebuah saluran berita Nasional Republik Townai.
"Berita terkini. Ketua Badan Antariksa dan Sains Angkasa (BASA) baru saja memberikan keterangan resmi mengenai fenomena aneh yang terdeteksi di luar angkasa. Hingga saat ini, fenomena tersebut masih dalam tahap pengamatan oleh tim peneliti BASA."
"Menurut pihak BASA, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan untuk mengetahui penyebab fenomena tersebut."
Toni hanya mengangkat sebelah alis.
"Paling-paling asteroid lagi," gumamnya santai sambil mengambil remote.
Baginya, berita itu tak lebih dari kabar biasa yang mungkin akan terlupakan dalam beberapa hari ke depan.
Merasa kantuk mulai menyerang, Toni mematikan televisi lalu berjalan menuju kamarnya.
Baru saja ia hendak merebahkan tubuh, ponselnya tiba-tiba berdering.
Di layar tertulis nama yang membuatnya tersenyum.
Rara.
Tanpa berpikir panjang, Toni langsung mengangkat panggilan itu.
"Kak, belum tidur?" tanya suara perempuan dari ponselnya.
"Belum. Ada apa? Kangen sama kakakmu yang tampan dan perkasa ini, ya?"
"Huh, pede banget."
Toni terkekeh kecil.
"Terus, kenapa kamu belum tidur?"
"Aku baru selesai kegiatan di laboratorium. Kami lagi bantu penelitian vaksin baru bareng profesor-profesor Townai."
"Wah, keren juga adikku."
"Hehe."
Mereka terus mengobrol, mulai dari kehidupan di sekolah hingga hal-hal sepele yang membuat keduanya sesekali tertawa.
Tak terasa waktu terus berlalu.
"Udah sana tidur. Besok kamu masuk sekolah, kan?" ujar Toni.
"Iya, Kak. Kakak juga jangan begadang terus."
"Siap, Bos."
"Hehe... dadah."
"Dadah. Jaga diri baik-baik."
Panggilan pun berakhir.
Toni meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mematikan lampu kamar.
Namun, baru saja ia memejamkan mata.
"Ugh."
Kepalanya mendadak terasa nyeri.
Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba, seolah ada sesuatu yang sedang menusuk bagian dalam kepalanya.
"Ugh."
Toni memegangi kepalanya yang terasa semakin nyeri. Rasa sakit itu datang bergelombang, seolah ada ribuan jarum menusuk otaknya.
"Akh, sialan."
Tiba-tiba, sebuah suara dingin bergema di dalam kepalanya.
[Memuat Sistem...]
Toni sontak membuka mata.
"Suara apa itu?"
Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan menoleh ke kiri dan kanan. Kamarnya sunyi. Tidak ada seorang pun.
Beberapa detik kemudian, suara itu kembali terdengar.
[Memuat selesai.]
Di saat yang bersamaan, sebuah layar biru transparan perlahan muncul di hadapannya.
Ting!
[Sistem berhasil diaktifkan.]
[Memuat data Host...]
[Nama: Toni
Umur: 20 Tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
Ras: Manusia
Tingkat Kekuatan: Tingkat 0
Kemampuan Spesial: -
[Data Host berhasil disimpan.]
Toni membelalakkan matanya.
"Apa-apaan ini?"
Refleks ia mengayunkan tangan, mencoba menyentuh layar biru itu. Namun, tangannya hanya menembusnya begitu saja, seolah layar tersebut hanyalah bayangan.
"Apa ini yang dinamakan halusinasi?"
Toni menatap kembali layar biru di hadapannya dengan serius.
Toni menatap layar biru transparan di hadapannya dengan wajah serius.
Belum sempat ia mencerna apa yang sedang terjadi, tulisan di layar kembali berubah.
[Peringatan!]
[Dalam 3 hari lagi, kiamat zombie akan dimulai.]
Ruangan mendadak terasa sunyi.
"..."
Toni berkedip beberapa kali, lalu mengusap kedua matanya.
"Zombie?"
Sudut bibirnya berkedut sebelum akhirnya tertawa kecil.
"Hahaha... mimpi apaan, sih."
Ia menggeleng pelan.
"Kayaknya aku kecapekan kerja. Masa iya zombie? Kebanyakan nonton film."
Tanpa memedulikan layar itu lagi, Toni menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
"Besok juga hilang sendiri."
Ia memejamkan mata, berusaha menganggap semua yang dilihat dan didengarnya hanyalah bunga tidur akibat kelelahan.
"Lagian... mana mungkin di dunia ini ada zombie."
Dengan pikiran itu, Toni memaksa dirinya untuk tidur, sama sekali tidak menyadari bahwa tiga hari lagi, kehidupan seluruh umat manusia akan berubah selamanya.
Daftar bab
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








