
KESAYANGAN TANTE TANTE
Mitragyna|Bersambung
- Jumlah kata
- 35.8K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 315
- Jumlah kata
- 35.8K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 315
Sinopsis
Pemuda tampan bernama Jaka yang baru saja di PHK mengambil sebuah keputusan penting untuk masa depanya..berawal dari tagihan kos dan pinjol yang harus diselesaikan hingga dia mengambil keputusan menjadi Gigolo ... Kisah hidup selanjutnya membuat Jaka bergelimang harta namun beberapa resiko harus dilaluinya dan tentu saja dia berada di persimpangan antar pekerjaan dan kisah cintanya
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1. PEMUDA TANPA UANG
Sore itu, Jaka, pemuda berusia dua puluh tahun dengan wajah tampan dan gaya santai, berjalan menyusuri trotoar sambil membawa kardus berisi perlengkapan kantornya.
Hari itu menjadi hari yang buruk baginya. Ia baru saja terkena pemutusan hubungan kerja massal. Lebih dari tiga puluh karyawan kehilangan pekerjaan pada hari yang sama.
Jaka menghela napas.
“Apes banget hidupku hari ini,” gumamnya.
Uang yang tersisa di dompetnya hanya tujuh puluh ribu rupiah. Sementara itu, dua hari lagi tagihan kosnya sudah jatuh tempo dan tiga hari selanjutnya tagihan pinjol
Ia berhenti di sebuah kios rokok di tepi jalan.
“Rokok Sam Su ketengan enam batang, Bang,” katanya sambil menyerahkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.
Penjual rokok menatapnya heran. “Tumben ketengan, Ka?”
Jaka tersenyum tipis. “Aku dipecat, Bang. Pecatan massal.”
“Ah, aneh-aneh aja kantor kau itu. Kayak sunatan massal aja!”
Jaka tertawa kecil mendengar celetukan penjual rokok itu. “Ya, mau bagaimana lagi, Bang? Namanya juga nasib.”
Penjual rokok menyerahkan enam batang rokok beserta uang kembaliannya.
Di sisi kios, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun juga sedang membeli rokok. Penampilannya terlihat mewah. Tas bermerek tersampir di lengannya, sementara sebuah mobil Rubicon hitam terparkir tidak jauh dari tempat itu.
Sejak tadi, perempuan bernama Elin itu beberapa kali melirik Jaka.
Bukan tanpa alasan. Wajah Jaka tampan, tubuhnya proporsional, dan pembawaannya terlihat asik. Bahkan dengan kemeja murah dan celana yang sudah agak pudar, penampilannya tetap menarik.
Elin tersenyum tipis, seolah menemukan sesuatu yang sejak tadi dicarinya.
Ketika Jaka selesai membeli rokok dan hendak pergi, perempuan itu tiba-tiba menyapanya. “Hai, anak muda!”
Jaka menoleh. “Iya, Tante?”
Perempuan itu tersenyum ramah. “Kenalkan, aku Elin.”
“Jaka, Tante.”
Elin mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya. “Ini, simpan kartu namaku. Kebetulan aku sedang mencari karyawan. Kalau kau berminat, nanti hubungi aku.”
Jaka menerima kartu nama itu dengan sedikit heran. “Baik, Tante. Terima kasih.”
“Sama-sama. Semoga kita bisa bekerja sama.”
Setelah memberikan senyum misterius, Elin berbalik dan melangkah menuju Rubicon hitam miliknya.
Jaka memperhatikan mobil itu sebentar, lalu menatap kartu nama di tangannya.
ELIN — PERSONAL MANAGEMENT
Di bawah nama itu tercantum nomor telepon dan alamat kantor. Jaka lalu memasukkan kartu nama tersebut ke dalam saku kemejanya.
“Entahlah pekerjaan apa ini. Tapi, daripada menganggur, lebih baik dicoba,” gumamnya.
Ia kembali berjalan pulang sambil membawa kardus perlengkapan kantor. Jaka merasa bahwa mungkin saja hari buruk itu masih menyisakan sebuah kesempatan.
Lima menit kemudian, Jaka tiba di kamar kosnya. Ia meletakkan kardus berisi perlengkapan kantor di sudut ruangan, lalu merebahkan diri di atas kasur tipis.
Kedua lengannya menopang kepala. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya dipenuhi berbagai masalah.
Dipecat dari pekerjaan. Uang tersisa hanya beberapa puluh ribu rupiah. Dua hari lagi harus membayar kos satu juta rupiah dan tiga hari kemudian tagihan pinjol satu juta setengah
“Gila… bagaimana caranya aku mendapatkan uang sebanyak itu?” gumamnya.
Hampir sepuluh menit Jaka membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana. Akhirnya, ia bangkit dan memutuskan untuk mandi.
Selesai mandi, Jaka mengenakan kaus dan celana pendek. Saat hendak mengambil rokok di atas meja, ia teringat kartu nama yang diberikan perempuan bernama Elin di kios tadi.
Jaka mengambil kartu itu, memperhatikan nomor teleponnya, lalu segera menelepon.
Tut… tut… tut…
“Halo,” terdengar suara perempuan dari seberang.
Jaka langsung mengenali suara itu. “Tante, ini aku Jaka. Yang tadi bertemu Tante di kios rokok.”
“Oh, Jaka!” Suara Elin terdengar ramah. “Iya, Tante ingat. Nomormu Tante simpan, ya.”
Jaka tersenyum kecil meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihatnya. “Oh, ya, Tante. Sebenarnya pekerjaan apa yang Tante tawarkan tadi? Aku benar-benar sedang butuh uang. Dua hari lagi aku harus membayar kos dan tagihan lainya”
Mendengar pengakuan polos itu, bibir Elin terangkat membentuk senyum menawan.
“Kosmu dan lainya berapa?”
“ Total dua juta setengah, Tante.” jawab Jaka lalu menghela napasnya panjang . “Masalahnya, uangku sekarang tinggal sedikit.”
“Begini saja,” ujar Elin. “Malam ini kau ikut Tante menemui beberapa klien.”
Jaka langsung duduk tegak. “Memangnya Tante bisnis apa?”
“Barang antik. Tante biasa mempertemukan penjual dengan kolektor yang tepat. Kalau kau ikut dan kebetulan klien Tante tertarik pada barang antik yang ditawarkan, kau bisa mendapatkan komisi.”
“Komisi berapa, Tante?” “Dua sampai sepuluh juta rupiah, tergantung nilai transaksi dan kesepakatan kita.”
Mata Jaka langsung membesar. “Antara dua hingga Sepuluh juta?”
“Benar. Tapi tentu saja tidak selalu sebesar itu. Semuanya bergantung pada transaksi yang berhasil kau bantu.”
Bagi Jaka, tawaran itu terdengar seperti pertolongan yang datang tepat pada waktunya. Bahkan jika ia hanya mendapatkan tiga juta rupiah, ia sudah bisa membayar kos dan pinjol kemudian bisa menyisakan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Tanpa berpikir panjang, ia menyetujui tawaran tersebut. “Baik, Tante. Aku ikut!”
Elin tertawa kecil mendengar semangatnya.
“Bagus. Tante jemput kau di kios rokok tempat kita bertemu tadi. Jam delapan malam, jangan terlambat.”
“Oke, Tante. Aku tunggu di sana.”
“Kalau begitu, sampai nanti, Jaka.”
Telepon terputus.
Jaka menatap layar ponselnya beberapa saat, lalu mengepalkan tangan dengan penuh semangat. “Semoga saja malam ini aku bisa mendapatkan uang. Setidaknya, masalah kos beres dulu!”
Ia melirik jam dinding. Masih ada waktu beberapa jam sebelum pukul delapan malam.
Sejak kehilangan pekerjaan, Jaka kembali memiliki harapan. Ia belum tahu seperti apa klien yang akan ditemuinya malam itu, tetapi ia bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.
Pukul setengah delapan malam, Jaka sudah berada di kios rokok tempat ia berjanji bertemu Elin. Malam itu ia mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang. Meski murah, penampilannya tetap menarik.
“Wih, rapi amat, Ka! Mau ke mana?” goda penjual rokok.
“Ada urusan, Bang. Kejar setoran.”
“Hahaha! Biasa, Ka. Hidup itu rumusnya gampang.”
“Apa tuh, Bang?”
“Kadata!”
Jaka mengernyitkan dahi. “Hahaha, artinya apa, Bang?”
“Kadang ada, kadang tiada!”
Mereka tertawa bersama dan mengobrol santai.
Tepat pukul delapan lewat lima menit, sebuah mobil Rubicon hitam berhenti tidak jauh dari kios. Jaka langsung mengenali mobil itu.
“Bang, aku pergi dulu.”
“Oh, iya, Ka. Semoga berhasil!”
“Amin. Makasih, Bang!”
Jaka menghampiri mobil. Kaca jendela terbuka dan Elin menyuruhnya masuk.
“Malam, Tante.”
“Malam, Jaka. Ayo, kita berangkat.”
Mobil itu melaju menuju salah satu restoran ternama. Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba. Elin memarkirkan mobil, lalu mengajak Jaka menuju ruangan privat bernama Mawar.
Sebelum membuka pintu, Elin menoleh kepadanya. “Ayo, jangan canggung. Jawab yang perlu-perlu saja.”
“Baik, Tante.”
Di dalam ruangan, tiga wanita sedang menikmati hidangan.
“Haiii!” sapa Elin ceria.
“Haiii! Ayo, makan dulu!” sambut Yeni, wanita berusia empat puluh dua tahun.
Di sebelahnya duduk Yanti, wanita berusia tiga puluh lima tahun, serta Lisa, wanita berusia lima puluh tahun. Ketiganya merupakan pemilik perusahaan masing-masing.
Elin tersenyum sambil memperkenalkan Jaka. “Kenalkan, ini karyawan baruku.”
Ketiga wanita itu serentak menoleh. Tatapan mereka tertuju kepada pemuda tampan yang berdiri di samping Elin.
Daftar bab
35 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








