Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Overpower Anak Terbuang

Sistem Overpower Anak Terbuang

ajengfelix | Bersambung
Jumlah kata
111.4K
Popular
100
Subscribe
34
Novel / Sistem Overpower Anak Terbuang
Sistem Overpower Anak Terbuang

Sistem Overpower Anak Terbuang

ajengfelix| Bersambung
Jumlah Kata
111.4K
Popular
100
Subscribe
34
Sinopsis
FantasiIsekaiSistemBalas DendamPerebutan Tahta
Andi adalah putra yang selalu disiksa dan dijadikan pelayan di rumahnya sendiri karena dianggap tidak memiliki bakat sihir atau kekuatan. Puncaknya, ia dibuang ke jalanan dalam kondisi sekarat setelah difitnah oleh saudara tirinya. Di ambang kematian, sebuah suara mekanis muncul di kepalanya—Sistem Kaisar Langit telah aktif. Andi mulai meningkatkan levelnya secara rahasia di dunia urban yang penuh dengan pengguna kekuatan tersembunyi. Di tengah perjalanannya, ia harus melindungi Ajeng, putri dari keluarga saingan yang merupakan satu-satunya orang yang pernah menunjukkan belas kasihan padanya. Dari seorang pecundang, Andi bertransformasi menjadi penguasa bayangan yang siap menghancurkan dinasti keluarga yang telah membuangnya.
Darah di Aspal Panas

Aspal jalanan pinggiran kota yang kasar itu terasa seperti parutan logam yang menguliti pipi Andi. Aroma karet terbakar dan oli mesin yang bocor menusuk indra penciumannya, bercampur dengan amis darah yang mulai menggenang di bawah wajahnya. Tubuhnya baru saja terlempar dari pintu SUV hitam yang melaju kencang, berguling beberapa kali sebelum berhenti dalam posisi tertelungkup yang menghinakan.

Lampu jalan yang berkedip-kedip di atas sana seolah mengejek nyawa Andi yang juga sedang di ambang padam.

"Hanya segini kemampuan 'Pewaris' kesayangan Ayah?"

Suara itu dingin, halus, namun penuh dengan racun. Langkah kaki yang terukur mendekat. Sepatu kulit buaya yang mengkilap berhenti tepat di depan mata Andi yang membengkak. Tak butuh waktu lama bagi pemilik sepatu itu untuk menghantamkan tumitnya ke belakang kepala Andi, menekan wajah pemuda itu lebih dalam ke permukaan aspal yang panas dan kasar.

"Berhenti... Baron..." suara Andi hanya berupa bisikan parau. Giginya berderit, mencoba menahan beban kaki kakak tirinya yang seolah ingin meretakkan tengkoraknya.

Baron Wiratama berjongkok, mengabaikan debu yang mungkin mengotori setelan jas mahalnya. Ia menjambak rambut Andi, memaksa adiknya itu mendongak. Di bawah cahaya bulan yang pucat, wajah Baron tampak seperti iblis yang mengenakan topeng bangsawan.

"Dengar baik-baik, Sampah," desis Baron. Napasnya berbau cerutu mahal. "Dunia ini tidak butuh orang lemah yang membawa marga Wiratama. Ayah sudah tua, dan dia tidak perlu melihat kegagalannya terus-menerus bernapas di depannya. Kau bukan pewaris. Kau hanyalah kesalahan yang harus dihapus."

Andi mencoba meludah, namun yang keluar hanyalah gumpalan darah kental. "Kau... kau hanya takut... Ayah tahu siapa kau sebenarnya."

Tawa Baron pecah, sebuah suara kering yang bergema di kesunyian jalanan yang sepi. Ia melepaskan jambakannya, membiarkan kepala Andi terhentak kembali ke aspal. Dari balik saku jasnya, ia mengeluarkan sebilah belati dengan gagang berukir naga—pusaka kecil keluarga yang seharusnya menjadi lambang perlindungan.

"Takut?" Baron berdiri tegak, menatap Andi dengan pandangan jijik seolah sedang melihat bangkai tikus. "Aku adalah masa depan Wiratama. Sedangkan kau? Kau hanyalah catatan kaki yang akan dilupakan besok pagi."

Baron memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang bertubuh besar untuk memegangi lengan Andi. Mereka menyeret tubuh lunglai itu, memaksanya berlutut meski kedua lutut Andi sudah hancur dan bersimbah darah.

Tangan Andi gemetar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang membakar hingga ke sumsum tulang. Namun, tubuhnya yang lemah tidak mampu memberikan perlawanan. Penganiayaan selama berbulan-bulan di kediaman Wiratama telah menguras seluruh energinya.

"Ucapkan selamat tinggal pada dunia yang tidak pernah menginginkanmu, Andi," ujar Baron datar. Ia mengangkat belatinya tinggi-tinggi. Cahaya lampu jalan memantul di mata pisau yang tajam, mengincar tepat di ulu hati Andi.

Di saat itulah, ketika kematian terasa begitu dekat hingga Andi bisa mencium aroma dinginnya, sebuah sensasi aneh meledak di dalam kepalanya.

Bzzzt—

Dunia di sekitar Andi tiba-tiba kehilangan warnanya. Suara desiran angin malam membeku. Baron yang sedang mengayunkan belatung itu berhenti di udara, gerakannya terkunci seolah-olah waktu baru saja menekan tombol jeda.

Sebuah suara mekanis, dingin namun megah, bergema langsung di dalam kesadaran Andi.

[Mendeteksi Keinginan Bertahan Hidup: 100%] [Kondisi Inang: Sekarat. Ambang Kematian Terdeteksi.] [Protokol Darurat Diaktifkan...] [Sistem Kaisar Langit: Aktif.]

"Apa... ini?" batin Andi. Matanya yang semula redup kini melebar. Ia melihat deretan teks transparan berwarna keemasan melayang di depan matanya.

[Memulai Evolusi Darah Murni: Tahap Awal.] [Menghapus Kontaminasi Genetik Lemah...] [Menyinkronkan Jantung Kaisar...]

Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam dada Andi. Rasanya seolah-olah ada besi panas yang dituangkan ke dalam pembuluh darahnya. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan oleh keajaiban yang sedang terjadi. Luka-luka di sekujur tubuhnya mulai mengeluarkan uap panas. Kulit yang terkoyak merapat kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal, meninggalkan kulit baru yang lebih keras dan halus.

Di luar kesadaran Andi, cahaya keemasan mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Cahaya itu awalnya redup, namun dalam hitungan detik berubah menjadi ledakan energi yang membutakan.

"A-apa ini?! Sialan!" Baron berteriak, ia terlempar mundur beberapa meter saat waktu kembali berputar. Belatinya terlepas dari tangan, berdenting di aspal.

Dua anak buah Baron yang memegangi Andi berteriak kesakitan. Tangan mereka yang menyentuh pundak Andi terasa seperti terbakar api suci. Mereka terpelanting ke belakang, menabrak bodi SUV hingga penyok.

Andi berdiri.

Gerakannya tidak lagi lunglai. Ia bangkit dengan keanggunan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Setiap sendinya berderak, melepaskan kekuatan yang selama ini terkunci di balik rantai tak kasat mata. Aura di sekitarnya bergetar, menciptakan gelombang tekanan yang membuat debu-debu di aspal terbang menjauh.

Baron menutupi matanya dengan lengan, mencoba melihat melalui celah jarinya. "Apa yang kau lakukan, Sampah?! Kekuatan apa ini?!"

Andi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang kini memancarkan pendar emas tipis. Ia merasa seolah-olah bisa meremukkan beton hanya dengan genggaman tangannya. Rasa haus akan pembalasan yang tadinya berupa api kecil, kini telah menjadi badai yang siap meluluhlantakkan apa pun di depannya.

[Evolusi Darah Murni: 5% Selesai.] [Status: Kebangkitan Awal.] [Misi Baru: Bertahan Hidup dan Berikan Pelajaran pada Penghina.]

Andi mengangkat kepalanya. Matanya yang semula hitam kini memiliki lingkaran emas di sekitar pupilnya, menatap Baron dengan intensitas yang membuat sang kakak tiri gemetar tanpa sadar.

"Kau bilang aku sampah, Baron?" suara Andi kini terdengar lebih berat, berwibawa, dan dingin seperti es kutub.

Baron menggeram, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayap di punggungnya. "Jangan sombong! Kau hanya melakukan trik sihir murahan! Habisi dia! Sekarang!"

Kedua anak buah Baron merangkak bangun, mencabut pistol dari balik pinggang mereka. Namun, sebelum jari mereka sempat menyentuh pelatuk, Andi menghilang dari pandangan.

Wusss!

Hanya dalam sekejap mata, Andi sudah berdiri di depan salah satu pria bertubuh besar itu. Tanpa emosi, Andi melayangkan satu pukulan ke arah perut pria itu.

BRAKK!

Pria itu terbang sejauh sepuluh meter, menghantam tiang lampu jalan hingga melengkung, dan langsung jatuh pingsan dengan mulut berbusa. Andi tidak berhenti. Ia berputar, menangkap pergelangan tangan pria kedua yang mencoba menembak. Dengan satu pelintiran ringan, tulang lengan pria itu patah dengan bunyi krak yang mengerikan.

"Arghhh!" Senjata itu jatuh ke aspal. Andi menendang dada pria itu, mengirimnya menyusul rekannya ke alam bawah sadar.

Kini, hanya tersisa Baron.

Pewaris utama Wiratama itu melangkah mundur, wajahnya pucat pasi. Ia meraih belatinya yang terjatuh, menggenggamnya dengan tangan yang bergetar hebat. "Jangan mendekat! Aku adalah Baron Wiratama! Jika kau menyentuhku, seluruh keluarga akan memburumu!"

Andi terus melangkah maju. Setiap injakan kakinya di aspal meninggalkan retakan kecil, menunjukkan betapa besarnya energi yang baru saja terbangun di dalam dirinya.

"Keluarga?" Andi berhenti tepat satu jengkal di depan Baron. Ia meraih leher Baron, mengangkat pria dewasa itu ke udara hanya dengan satu tangan seolah beratnya tak lebih dari sehelai bulu. "Malam ini, aku telah mati sebagai seorang Wiratama."

Cahaya emas di mata Andi berpijar semakin terang, membuat Baron berteriak ketakutan saat merasakan energi panas mulai membakar kulit lehernya.

"Dan aku terlahir kembali sebagai sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan," bisik Andi tepat di telinga Baron.

Tepat saat Andi hendak menghantamkan tinjunya ke wajah Baron, sebuah peringatan merah berkedip di sudut penglihatannya.

[PERINGATAN: Radar Pemburu Darah Terdeteksi!] [Keberadaan Energi Murni Terdeteksi oleh Pihak Ketiga.] [Saran: Segera Tinggalkan Lokasi atau Hadapi Eliminasi.]

Di kejauhan, suara raungan mesin motor sport terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi, diikuti oleh kilatan laser merah yang membidik tepat ke arah jantung Andi dari kegelapan hutan di pinggir jalan.

Andi menoleh ke arah datangnya laser itu, cengkeramannya pada leher Baron mengendur sedikit.

"Siapa mereka?" gumam Andi, sementara titik merah itu kini berhenti tepat di tengah keningnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca