

Zill Reta masuk ke ruang bosnya sembari menggenggam erat surat keterangan biaya rumah sakit yang diberikan oleh dokter yang merawat adiknya.
Semenjak perusahaan ayahnya bangkrut, dan ayahnya menikah lagi usai bercerai dengan sang ibu, keuangan adalah hal paling sulit diselesaikan oleh Zill.
Apalagi setelah adik perempuannya terdeteksi dua penyakit sekaligus karena komplikasi, kanker usus dan ginjal bermasalah, uang adalah hal paling utama dipikirkan oleh Zill termasuk hari ini.
Namun, bukan bosnya yang ditemui Zill saat pemuda bertubuh tinggi itu masuk ke dalam ruangan sang pemilik cafe di mana ia bekerja, tapi seorang perempuan cantik berpakaian seksi hingga Zill menghentikan langkahnya seketika.
"Papi lagi keluar, tapi dia berpesan kalau ada orang yang memiliki urusan dengan dia, bisa disampaikan sama aku!"
Seolah tahu apa yang difikirkan oleh Zill, perempuan berpakaian seksi itu buru-buru menjelaskan situasi yang ada. Hingga membuat Zill menarik napas.
Jemari tangannya semakin erat menggenggam kertas dari rumah sakit di tangannya, tapi hatinya ragu untuk bicara, apa yang membawanya sampai ia menghadap sang bos segala seperti sekarang padahal ia baru saja menerima gaji dua hari yang lalu.
Akan tetapi, biaya rumah sakit harus segera dibayar jika ia ingin sang adik mendapatkan perawatan yang baik dari pihak rumah sakit.
Melihat Zill hanya berdiri di tempatnya, Chika, putri tunggal pemilik cafe di mana Zill bekerja bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah mendekati Zill sembari menatap pemuda itu tanpa berkedip.
Zill tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Chika, sebab, tatapan mata gadis yang kuliah di luar negeri itu seperti seekor kucing yang sedang melihat ikan yang segar.
Ini membuat Zill mundur perlahan dan membulatkan tekadnya untuk menunda saja apa yang sudah ia niatkan dari rumah sakit.
Namun, niat Zill diketahui oleh Chika hingga perempuan itu merampas kertas yang ada di tangan Zill dengan cepat.
Mata gadis itu membaca isi yang tertulis di atas kertas tersebut, dan ia mengarahkan pandangannya pada Zill meminta penjelasan.
"Yui Sakura? Adikmu?" tanyanya, dan Zill menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan itu meskipun ia heran darimana gadis itu tahu nama adiknya.
Ia tidak banyak bicara tentang adiknya pada orang lain kecuali pada Lee salah satu sahabat dekatnya.
"Kamu butuh uang sebanyak ini untuk adikmu?"
Suara Chika terdengar lagi dan membuat Zill semakin tidak nyaman dengan situasi yang sekarang sudah tercipta.
"Maaf, mungkin nanti saya kembali lagi ke sini ketika ayah Nona sudah kembali!"
Buru-buru Zill mengucapkan kalimat tersebut, untuk mengakhiri percakapan yang membuatnya menjadi tidak nyaman dengan situasinya.
Chika mencekal pergelangan tangan Zill ketika Zill ingin mengambil kembali kertas yang ia rampas dari tangan pemuda itu tadi.
"Aku tadi sudah bilang, apapun urusanmu dengan ayahku, silahkan sampaikan padaku, kau butuh uang?" katanya berakhir dengan sebuah pertanyaan.
"Nona, saya memang butuh uang, tapi urusan ini saya rasa dengan ayah Nona saja, nanti saya kembali lagi."
Zill berusaha untuk sesopan mungkin di hadapan Chika seraya berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan gadis itu di lengannya.
Membuat Chika tidak suka dengan aksi penolakan Zill terhadapnya.
Selama ini, banyak pria yang berlomba untuk bisa sekedar menyentuh tangannya, kenapa Zill justru terlihat tidak nyaman saat ia menyentuh pemuda itu? Ini yang membuat Chika tidak terima karena Chika tidak terbiasa untuk menerima sebuah penolakan.
"Yakin kembali lagi setelah ayahku datang? Bagaimana kalau nyawa adikmu tidak tertolong lagi karena kamu tidak cepat mendapatkan uang?"
Kembali telapak tangan Zill mengepal mendengar apa yang diucapkan oleh Chika, ini membuat Zill mengakui, apa yang dikatakan oleh Chika memang ada benarnya.
Berpikir sampai di sana, Zill mengurungkan niatnya untuk menunda keinginannya mencari pinjaman.
Namun, tangan Chika tetap berusaha untuk dilepaskannya meskipun gerakan yang dilakukan oleh Zill sangat halus seolah khawatir Chika akan tersinggung lagi dengan tindakannya.
"Saya memang sedang butuh uang, saya mau pinjam uang dulu dengan -"
"Jangan terlalu formal. Aku seperti bicara dengan orang asing kalau kamu bersikap seperti itu!" potong Chika.
"Tapi, Nona adalah anak atasan saya."
"Lalu kenapa? Kau merasa tidak percaya diri?"
"Tidak. Saya hanya merasa lancang jika saya bersikap seenaknya dengan, Nona."
Zill berusaha untuk menjelaskan alasannya pada Chika, membuat gadis itu tersenyum mendengarnya, meskipun tadi terlihat kesal saat Zill melepaskan cengkraman tangannya di lengan pemuda berdarah Jepang-indonesia dan Jerman tersebut, namun sikap sopan Zill mampu membuat Chika melupakan semua itu.
"Ya, kau memang harus tahu diri, itu bagus. Paham dengan posisimu, tapi Zill, aku tidak suka dengan situasi yang seperti itu, aku ingin kita akrab, jadi pakai aku dan kamu saja saat bicara denganku, panggil juga aku Chika tidak perlu pakai embel-embel Nona!" kata Chika memberikan penjelasan.
"Saya tidak bisa, Nona," tolak Zill dengan nada suara perlahan tapi tegas untuk meyakinkan bahwa, ia serius dengan apa yang dikatakannya.
"Harus bisa, jika tidak bisa aku akan menghukummu!" sahut Chika tidak mau kalah.
"Setidaknya saat kita berdua, jika ada ayahku terserah kau saja!" lanjut Chika tidak ingin mendapatkan bantahan dari Zill karena ia melihat wajah Zill masih terlihat tidak enak untuk dilihat seolah tertekan.
Zill menghembuskan napasnya. Merasa tidak bisa untuk membantah.
Energinya sudah terkuras karena mendapat kenyataan adik satu-satunya menderita sakit yang parah, jadi untuk berdebat lagi dengan Chika, Zill sudah tidak mampu.
"Baiklah."
Senyuman Chika mengembang saat Zill menyerah kalah atas tuntutan darinya.
"Sini, duduk dulu!" katanya sambil kembali meraih tangan Zill dan menyeretnya ke arah tempat duduk yang ada di ruangan itu, meskipun lagi-lagi tangan Chika dilerai halus oleh Zill.
"Aku bisa bantu kamu untuk mengatasi masalah adikmu itu!" katanya dan Zill mengarahkan tatapannya pada Chika seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu padanya.
Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, Zill hanya tahu bahwa atasannya, Pak Charles memiliki seorang putri yang sedang kuliah di luar negeri, itu saja tapi saat mereka bertemu pertama kali seperti sekarang, mengapa Chika jadi sangat peduli padanya?
"Nona, eh, maksudku, kamu serius bisa membantu?" tanya Zill penuh dengan perasaan tidak percaya dan sedikit sungkan karena harus bicara sesuai keinginan Chika.
"Tentu saja! Aku punya uang, dan aku bisa membayar biaya pengobatan adikmu itu asalkan kau mau jadi pacarku!" tegas Chika dengan penuh rasa percaya diri.
"Apa?"
Zill tidak bisa menahan rasa terkejutnya kembali saat Chika dengan sikap terbuka menyatakan perasaan di hadapannya.
"Apanya yang apa? Kamu enggak percaya kalau aku yang cantik ini mau dengan kamu yang miskin ini?" tanya Chika tidak suka dengan ekspresi Zill yang bukannya terlihat senang mendengar kejujurannya tapi lebih terlihat seperti shock seolah Zill sedang melihat hantu.