
- Jumlah kata
- 2.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
Sinopsis
Datang dari desa dan hanya membawa ijazah, Sebiru Langit yang biasa dipanggil Langit memberanikan dirinya untuk melamar pekerjaan sebagai office boy di perusahaan besar yang bergerak di bidang perminyakan. Tak lama setelah diterima, sialnya ia malah jatuh cinta dengan salah satu wanita penting yang duduk di kursi penguasa perusahaan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
"Kamu yakin Langit, mau merantau? ijazah kamu cuma SMA, lho. Pakdhe nggak meragukan kamu, cuma biasanya di ibukota perlu pendidikan tinggi buat melamar pekerjaan bagus, Langit" Pakdhe, salah satu dari keluarganya yang Langit punya saat ini memberinya nasihat.
Langit merenungi perkataan pakdhenya.
Saat ini mereka berdua sedang berada di depan teras rumah yang ramai oleh beberapa saudara Langit seperti pakdhe dan budhenya.
3 hari yang lalu saat ijazahnya baru keluar, Langit juga menerima informasi besar yang membuat ia lemas seketika.
FLASHBACK ON
"Selamat ya Langit, sudah selesai menempuh pendidikan disini. Rencana kamu mau kemana, Langit? lanjut kuliah, atau mau kerja seperti teman teman kamu?" Tanya bu Ratna, selaku wali kelas Langit.
"Saya pengen lanjut kuliah bu, bapak sama ibu saya juga sepertinya menyanggupi kemauan saya. Tapi mungkin saya baru mulai kuliah tahun depan aja bu, saya mau nambah nambah biaya kuliah" Jelas Langit kepada bu Ratna.
"Oh bagus itu Langit, kamu mau pilih jurusan a-"
Dering telpon dari hp Langit menghentikan kalimat bu Ratna.
"Halo pakdhe, ada apa?"
"Langit, yang sabar ya.. Ibu sama bapak kamu kecelakaan di lampu merah, dua duanya meninggal ditempat. Sekarang jenazahnya dibawa ke rumah kamu, cepet pulang ya"
Langit terdiam, kakinya lemas. Bu Ratna yang juga mendengar perkataan pakdhe langsung mengusap lembut bahu Langit untuk menenangkannya.
FLASHBACK OFF
"Aku yakin pakdhe, kerjaan apapun yang penting aku bisa kuliah" Ucap Langit dengan tegas kepada pakdhenya.
Pakdhe pun hanya bisa mendukung kemauan keponakannya itu.
"Yasudah, berangkat kapan kamu atur aja. Rumah kamu biar pakdhe yang atur, nanti pakdhe bantu jual beberapa barang untuk tambah modal kamu ke kota"
Ujar pakdhe.
"Kalo.. rumah ini dijual, gimana menurut pakdhe?" Tanya Langit ragu ragu.
"Kalau kamu yakin, silahkan jual. Keputusan ada di tangan kamu, Langit"
"Aku mau jual rumah juga pakdhe, buat nambah nambah. Kalo lapak bapak sama ibu yang di pasar mau aku sewakan" Jelas Langit.
Pakdhe hanya meng-iyakan keinginan langit itu dan membantunya.
4 HARI KEMUDIAN
📍Terminal bus, 04.15
Dengan satu koper dan dua carrier, sekarang Langit berdiri di sisi bus yang akan membawanya pergi ke kota besar, mengadu nasibnya.
"Hati hati disana ya, kalau ada apa apa telpon kami" Budhe memeluk keponakannya dengan penuh kasih sayang, seperti anaknya sendiri.
"Iya budhe, nanti aku kabar kabar. Doakan aku disana" Ujar Langit.
Tak lama setelah perpisahan singkat itu, Langit menaiki bus dan mencari tempat duduk. Bus itu akan membutuhkan waktu 10 jam untuk sampai ditempat tujuan.
Sejujurnya, Langit kebingungan dengan bagaimana kehidupannya ketika sampai di kota? mulai dari tempat tinggal, makanan hingga pekerjaan dan teman. Ia hanya anak sma yang baru lulus sekolah, belum memiliki pengalaman dan berasal dari desa.
Beruntungnya, tidak ada orang lain yang menempati kursi disebelah Langit, jadi ia letakkan dua carriernya di kursi tersebut dan menjadikannya sebagai sandaran.
Rumahnya sudah laku dengan harga tujuh ratus juta rupiah yang ia simpan di tabungan bank sebanyak enam ratus lima puluh juta rupiah dan sisanya berada di dalam atmnya untuk bertahan hidup.
Seraya menanti bus tiba di kota tujuan, Langit mulai mencari pekerjaan dan rumah kontrakan untuk ia tinggali. Setelah lama mencari, Langit mendapat sebuah rumah kontrakan kecil dengan harga 1 juta rupiah per bulannya yang langsung ia setujui dengan pemilik rumah, padahal sama sekali belum ia kunjungi rumah itu.
Tak lama, Langit pun memutuskan untuk tidur karena ia tidak tau harus melakukan apa lagi untuk mengusir rasa bosan dan mengusir rasa sedih karena kehilangan kedua orangtuanya.
3 JAM KEMUDIAN
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, masih ada waktu 7 jam untuk ia tiba ke kota tujuan. Ia terbangun karena petugas bus mengatakan bahwa akan ada penumpang yang duduk di sebelah Langit.
Dengan segera, Langit mengemasi carriernya dan meletakkan di tempat lain. Tak lama, penumpang yang dimaksud pun datang; seorang pria yang sepertinya seumuran dengan Langit, namun tidak setinggi Langit.
"Permisi, mas" Sapa penumpang baru itu.
"Iya, silahkan silahkan" Sahut Langit dengan lemas karena bangun tidur.
"Mau kemana mas?" Tanya penumpang itu.
"Ke ibukota, nyari kerja" Sahut Langit seadanya.
"Wah saya juga mas, kenalin nama saya Arjuna" Orang disebelah Langit pun memperkenalkan diri, namanya Arjuna.
"Salam kenal ya Arjuna, aku Langit. Kalo boleh tau, kamu umur berapa?" Tanya Langit.
"17 mas, saya cuma lulusan SMP. Maunya saya ngelanjutin SMA, tapi orangtua saya nggak mampu, saya pilih buat ngerantau" Jelas Arjuna.
"Oh gitu, ya" Sahut Langit singkat.
"Iya mas, tapi saya udah di terima kerja. Masnya udah?" Tanya Arjuna
"Belum, kamu kerja apa memangnya?" Tanya Langit yang mulai tertarik.
"Jadi office boy mas, di perusahaan yang ngurusin minyak minyak gitu, cuma dibagian kantornya aja. Masnya mau juga kah? soalnya lowongannya masih ada" Ajak Arjuna
"Boleh tuh Jun, gimana caranya?" Tanya Langit penasaran.
Akhirnya, 2 orang laki laki yang bertemu karena keadaan itupun mulai menjadi teman. Arjuna mengajari Langit bagaimana cara membuat CV, apply CV dan latihan interview. Langit dan Arjuna pun bercerita tentang latar belakang mereka masing masing, Langit pun menawarkan rumah kontrakannya untuk dihuni bersama sama agar biayanya semakin ringan.
"Jadi gitu mas" Ujar Arjuna setelah mengajari Langit.
"Oh iya iya, makasih ya Jun. Semoga kita sukses bareng bareng" Ujar Langit seraya tersenyum lebar, ia cukup senang bertemu Arjuna yang sekarang menjadi temannya di ibukota untuk mengadu nasib.
Kini pikiran Langit mulai ringan, ia berharap harap agar segala yang ia lakukan berjalan sesuai keinginannya setelah diuji dengan kematian kedua orangtuanya.
Diluar jendela bus, rintik hujan mulai menjatuhkan dirinya ke tanah dan embunnya menutupi pemandangan diluar jendela bus, samar samar mata Langit menangkap pemandangan banyak orang yang terkena tetesan air hujan.
Ia merenung sejenak, bayang bayang ibu dan bapaknya muncul samar samar. Sebagai anak tunggal, Langit mendapat kasih sayang yang sederas hujan saat ini dari kedua orangtuanya.
Walau bapak dan ibunya berasal dari keluarga kurang mampu, tapi ibu dan bapaknya berusaha bekerja keras di pasar untuk menghidupi Langit sehingga tidak kekurangan walaupun tinggal di desa.
Sekarang, Langit hanya memiliki dirinya sendiri, hanya ia yang mengendalikan. Sejenak keraguan terlintas di kepalanya, apakah ia dapat menjalani ini semua? ataukah ia akan menyerah di tengah jalan tanpa arah dari ibu dan bapaknya?
Namun demi Tuhan, Langit akan berusaha sekeras mungkin untuk bertahan dan menggapai cita citanya.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








