
Pewaris Takhta Mafia - Dikelilingi Tiga Wanita Berbahaya
Kuciing Biru|Bersambung
- Jumlah kata
- 53.2K
- Popular
- 146
- Subscribe
- 26
- Jumlah kata
- 53.2K
- Popular
- 146
- Subscribe
- 26
Sinopsis
Dia adalah pewaris tunggal kekaisaran kejahatan yang ditakuti seantero kota. Dingin, mematikan, tidak tersentuh hukum. Namun takdir mengikatnya pada tiga wanita yang masing-masing bisa menghancurkannya: satu menyimpan dendam, satu menyembunyikan rahasia, dan satu lagi... mencintainya dengan cara yang mematikannya. Di antara kemewahan, darah, dan janji setia, ia harus memilih siapa yang akan mendampinginya untuk memerintah, dan siapa yang akan dikorbankan. Tiga wanita. Satu takhta. Tidak ada yang benar-benar tulus, dan tidak ada yang benar-benar bersalah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pewaris Takhta
Damian Vincenzo, don terbesar dalam sejarah mafia modern. Mati bukan karena peluru, bukan karena racun. Tapi karena jantung yang akhirnya menyerah setelah puluhan tahun hidup dalam tekanan luar biasa.
Aku berdiri di depan makam dengan jas hitam yang basah. Air hujan bercampur dengan air mata yang aku coba tahan. Tapi gagal. Tetap mengalir.
Dante Vincenzo. Enam belas tahun. Anak tunggal dari Raja dan Ratu Neraka. Dan sekarang... aku harus jadi Raja berikutnya.
"Dante."
Suara ibunya, Alexa. Empat puluh tahun tapi masih terlihat seperti tiga puluhan. Cantik dengan cara yang menakutkan. Mata yang sudah melihat terlalu banyak kematian tapi masih punya kehangatan untuk aku.
Aku berbalik, dia berdiri di belakang dengan payung hitam. Tangan kanannya terulur. Di telapak tangannya, cincin emas dengan lambang Vincenzo.
Cincin Don. Cincin yang ayah pakai selama dua puluh tahun.
"Sudah waktunya," katanya. Suara tenang tapi ada sesuatu di matanya. Kesedihan yang dia coba sembunyikan.
"Aku baru enam belas tahun, Ibu," jawabku. Suara keluar lebih lemah dari yang kumau. "Aku belum siap."
"Tidak ada yang pernah siap," jawabnya sambil melangkah lebih dekat. Meraih tanganku yang gemetar. Meletakkan cincin di telapakku. "Ayahmu juga tidak siap ketika dia jadi Don di usia dua puluh dua. Tapi dia lakukan. Dan kau akan lakukan juga."
Aku menatap cincin di tanganku. Berat. Jauh lebih berat dari seharusnya sepotong logam.
"Bagaimana kalau aku gagal?" tanyaku. Pertanyaan yang bodoh tapi aku harus tanya.
"Maka kamu akan mati," jawabnya dengan jujur yang brutal. "Dan semua yang ayahmu bangun akan runtuh. Ratusan keluarga yang bergantung pada Vincenzo akan menderita. Musuh akan datang seperti serigala pada domba."
Dia menyentuh wajahku dengan tangan yang dingin dan basah.
"Tapi kamu tidak akan gagal," lanjutnya. "Karena darah ayahmu mengalir di tubuhmu. Darahku mengalir di tubuhmu. Kamu lahir untuk ini, dibesarkan untuk ini. Dan mau tidak mau, kamu harus lakukan ini."
Aku menatap matanya. Mencari keraguan. Tapi tidak ada. Hanya keyakinan yang absolut.
Dan aku menyadari sesuatu. Ibu tidak memberiku pilihan. Ini bukan permintaan. Ini perintah. Aku memakai cincin di jari tengah tangan kanan. Pas sempurna. Seolah dibuat untukku.
Di sekeliling kami, ratusan orang berdiri dalam hujan. Anggota keluarga Vincenzo. Sekutu dari sepuluh negara. Semua menunggu untuk lihat apakah anak remaja ini layak jadi pemimpin mereka.
Aku berbalik menghadapi mereka. Mengambil napas dalam.
"Ayahku adalah orang terhebat yang pernah kukenal," kataku. Suara masih bergetar tapi lebih keras sekarang. "Dia membangun Vincenzo dari nol menjadi kekuatan terbesar di dunia bawah tanah. Dia mengajari aku segalanya yang kutahu tentang kekuasaan. Tentang loyalitas. Tentang apa artinya jadi Don."
Aku berhenti. Menatap setiap wajah yang bisa kulihat.
"Tapi aku bukan ayahku," lanjutku. Dan aku lihat beberapa orang bertukar pandangan khawatir. "Aku tidak akan memimpin seperti dia memimpin. Aku tidak akan membuat keputusan seperti dia membuat."
Kekhawatiran semakin jelas di wajah mereka.
"Karena aku akan lebih buruk," kataku dengan suara yang tiba tiba berubah jadi dingin. Seperti suara orang lain keluar dari mulutku. "Ayahku masih punya belas kasihan kadang kadang. Masih punya garis yang tidak dia lewati. Tapi aku? Aku dibesarkan melihat semua yang dia lakukan. Semua kebrutalan. Semua kekerasan. Dan aku belajar satu hal."
Aku melepas jas basah. Berdiri dalam kemeja putih yang menempel di tubuh karena hujan.
"Belas kasihan adalah kelemahan," lanjutku. "Garis adalah untuk orang yang takut melewatinya. Dan aku tidak takut pada apapun. Tidak lagi."
Hening total. Bahkan hujan seolah berhenti sebentar.
"Jadi siapa yang tidak setuju dengan kepemimpinanku," kataku sambil menatap mereka satu per satu, "silakan tinggalkan sekarang. Aku tidak akan hentikan kalian. Tapi kalau kalian tinggal, kalian tunduk sepenuhnya. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada keraguan. Hanya kepatuhan absolut."
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara.
Lalu satu orang melangkah maju. Pria tua berusia tujuh puluhan. Capo senior yang sudah mengabdi sejak zaman kakek.
Dia berlutut di lumpur. Kepala menunduk.
"Aku mengabdi pada Don Dante Vincenzo," katanya dengan suara yang bergetar. "Sampai napas terakhir."
Satu per satu yang lain mengikuti. Ratusan orang berlutut dalam hujan dan lumpur. Menyatakan loyalitas pada remaja enam belas tahun yang baru saja mengubur ayahnya.
Dan aku berdiri di sana menatap mereka semua. Merasakan beban cincin di jari. Merasakan tanggung jawab yang akan menghancurkan kebanyakan orang.
Tapi aku tidak kebanyakan orang, aku Dante Vincenzo. Anak dari dua monster terbesar yang pernah hidup, dan aku akan membuktikan bahwa aku lebih mengerikan dari mereka berdua.
Ibu berdiri di sampingku. Tidak berlutut. Karena dia bukan bawahanku. Dia partnerku sekarang.
"Selamat datang di neraka, anakku," bisiknya hanya cukup keras untuk aku dengar. "Sekarang mari kita lihat apakah kau bisa bertahan."
Aku menatapnya. Melihat sedikit kebanggaan di matanya. Tapi juga kesedihan yang dalam.
Karena dia tahu apa yang akan terjadi sekarang. Dia hidup ini selama dua puluh lima tahun. Melihat apa yang kekerasan lakukan pada jiwa. Dan sekarang dia harus menonton anaknya sendiri melewati jalan yang sama.
Tapi tidak ada pilihan lain. Tidak pernah ada sejak aku lahir. Ini takdirku yang sudah tertulis sejak hari pertama. Menjadi monster yang akan membuat ayahku bangga, atau mencoba mati.
***
Malam itu di mansion yang sekarang jadi milikku, aku duduk sendirian di ruang kerja ayah. Kursi kulit besar yang dia duduki untuk membuat keputusan yang mengubah dunia.
Sekarang kursiku.
Pintunya diketuk. Tiga kali. Pola khusus.
"Masuk," kataku tanpa menoleh.
Pintu terbuka. Tiga orang masuk. Tiga wanita yang tidak kukenal tapi entah kenapa membuat jantung berdetak lebih cepat.
Yang pertama tinggi dengan rambut hitam panjang dan mata yang tajam seperti pisau. Pakaian bisnis ketat yang menunjukkan tubuh atletis. Dia bergerak seperti predator.
Yang kedua lebih pendek dengan rambut coklat sebahu dan tatapan yang... berbahaya. Seperti dia sedang hitung berapa detik yang dibutuhkan untuk bunuhku. Ada pisau kecil terlihat di pinggang.
Yang ketiga paling muda dengan rambut pirang platinum dan kacamata. Terlihat paling tidak berbahaya. Tapi ada sesuatu di cara dia menatapku yang membuat bulu kuduk berdiri. Seperti dia bisa lihat langsung ke dalam kepalaku.
Ibu masuk di belakang mereka. Menutup pintu.
"Dante, ini tiga orang yang ayahmu percayai lebih dari siapapun selain aku," kata ibu sambil berjalan ke meja. "Mereka akan membantumu memimpin Vincenzo. Atau lebih tepatnya, tanpa mereka kau tidak akan bertahan seminggu."
Yang berambut hitam melangkah maju. Mengulurkan tangan.
"Maya," katanya dengan suara yang dalam dan tenang. "Strategi dan diplomasi. Aku yang rancang semua operasi besar Vincenzo selama lima tahun terakhir."
Aku jabat tangannya. Genggaman kuat. Mata menatap langsung tanpa berkedip.
Yang berambut coklat tidak mengulurkan tangan. Hanya mengangguk.
"Kira," katanya singkat. "Pembunuhan dan interogasi. Kalau kau butuh seseorang mati tanpa jejak atau butuh informasi dari seseorang yang tidak mau bicara, aku yang lakukan."
Langsung ke intinya. Aku suka itu.
Yang berambut pirang tersenyum. Tapi senyum yang tidak mencapai mata.
"Yuki," katanya dengan suara yang lebih lembut. "Teknologi dan intelijen. Aku tahu segalanya tentang semua orang. Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan dariku."
Dia mendorong kacamata dengan satu jari.
"Termasuk rahasiamu," lanjutnya sambil menatapku. "Dante Vincenzo. Lahir lima belas Februari. Golongan darah AB negatif. Alergi ringan pada kacang. Suka musik klasik tapi pura pura suka rock supaya terlihat lebih keras. Takut ketinggian tapi tidak akan pernah akui. Dan..."
"Cukup," potongku. Tidak suka bagaimana dia tahu semua itu. "Aku mengerti maksudmu."
Yuki tersenyum lebih lebar.
"Bagus. Maka kita mulai dengan pengertian yang sama. Kami tahu segalanya tentangmu. Kau tidak tahu apapun tentang kami. Tapi itu akan berubah kalau kau mau survive."
Aku menatap ketiganya. Lalu menatap ibu.
"Kenapa mereka?" tanyaku. "Kenapa bukan capo senior atau underboss?"
"Karena mereka tidak punya ambisi untuk kekuasaan," jawab ibu. "Mereka tidak akan coba kudeta. Tidak akan coba ambil tahtamu. Mereka diselamatkan ayahmu dari situasi yang sangat buruk bertahun lalu. Mereka berhutang nyawa pada Vincenzo. Dan hutang itu sekarang jadi milikmu."
Dia berjalan ke pintu. Berhenti sebelum keluar.
"Percaya pada mereka, Dante," katanya. "Atau setidaknya percaya bahwa mereka butuh kau hidup untuk melunasi hutang mereka."
Lalu dia pergi. Meninggalkan aku sendirian dengan tiga wanita asing yang seharusnya jadi penyelamatku. Atau mungkin pembunuhku, waktu akan memberitahu yang mana.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








