Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sisir Tua Penakluk Wanita

Sisir Tua Penakluk Wanita

Devie Shinta | Bersambung
Jumlah kata
246.7K
Popular
2.0K
Subscribe
483
Novel / Sisir Tua Penakluk Wanita
Sisir Tua Penakluk Wanita

Sisir Tua Penakluk Wanita

Devie Shinta| Bersambung
Jumlah Kata
246.7K
Popular
2.0K
Subscribe
483
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperHaremTime Travel
(SEASON 2 TELAH RILIS: MENEMBUS DIMENSI WAKTU) Reyhan, mahasiswa miskin yang selalu sial, mendadak berubah total setelah menemukan sisir saku tua di Pasar Loak Jatinegara. Sekali sisir, wajah kusamnya berubah setampan aktor, tubuhnya menjadi atletis, dan rezekinya mengalir deras.Karisma magisnya membuat primadona kampus, dosen killer, hingga ibu kos janda muda berbalik agresif mengejarnya demi menyerahkan hati dan tubuh mereka. Namun, di balik kenikmatan duniawi ini, ada rahasia gelap: Reyhan harus memuaskan satu wanita misterius sebelum bulan purnama, atau ketampanannya akan berubah menjadi kutukan mematikan.
Bab 1: Nasib Sial di Jatinegara

"Kita putus aja ya, Rey. Aku capek."

Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Reyhan Pratama sejak tiga jam yang lalu. Di bawah terik matahari Jakarta yang membakar kulit, Reyhan berjalan lunglai di sepanjang trotoar daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Keringat bercucuran membasahi kaos oblongnya yang sudah mulai menipis karena terlalu sering dicuci.

"Tapi kenapa, Sela? Udah dua tahun kita bareng-bareng," bisik Reyhan lirih, mengulang pertanyaannya sendiri yang tadi siang hanya dibalas dengan dengusan sinis.

"Dua tahun, Rey! Dan selama dua tahun itu kita kalau kencan cuma makan bakso gerobakan atau mi ayam pinggir jalan. Kamu mau wisuda, tapi skripsi mandek. Kerja sampingan di minimarket juga gajinya habis cuma buat bayar kosan sama bensin motor Astrea kamu yang sering mogok itu. Aku butuh masa depan yang jelas, bukan cuma modal cinta sama janji manis!"

Kata-kata Sela benar-benar menghantam ulu hatinya. Reyhan meraba saku celana jinsnya. Dia mengeluarkan sebuah dompet lipat kulit yang sudah mengelupas di bagian sudutnya. Begitu dibuka, pemandangan di dalamnya sangat mengenaskan. Hanya ada satu lembar uang sepuluh ribu rupiah, dua lembar uang dua ribu rupiah, dan beberapa keping uang koin seratus perak. Total kekayaannya hari itu tidak lebih dari lima belas ribu rupiah. Nilai akademik pas-pasan, dompet sekarat, dan statusnya kini resmi menjadi jomblo.

"Sial banget hidup gua," umpat Reyhan sambil menendang sebuah kaleng bekas di jalanan.

Untuk menenangkan pikirannya yang kusut, Reyhan memutuskan untuk membelokkan langkahnya masuk ke dalam area Pasar Loak Jatinegara. Suasana pasar siang itu sangat ramai dan bising. Suara klakson kendaraan di jalan raya beradu dengan teriakan para pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Kanan-kiri jalan dipenuhi oleh hamparan terpal yang memajang berbagai macam barang bekas, mulai dari sepatu olahraga bekas, jam tangan tiruan, kaset pita jadul, hingga barang-barang elektronik yang entah masih berfungsi atau tidak.

Reyhan berjalan tanpa tujuan, menyusuri gang-gang sempit di antara kerumunan orang yang sibuk menawar barang. Dia hanya ingin mencari pengalihan agar tidak terus-menerus memikirkan wajah Sela yang pergi naik mobil Honda Civic milik cowok barunya.

Langkah Reyhan terhenti ketika dia sampai di bagian paling sudut pasar loak, dekat sebuah gang buntu yang agak remang-remang karena tertutup tenda terpal besar. Di sana, ada sebuah lapak kecil yang terlihat sangat sepi. Penjualnya adalah seorang pria paruh baya keturunan Tionghoa yang mengenakan kaos kutang dan topi pet usang. Pria itu sedang asyik menghisap rokok kreteknya sambil membaca koran lama.

"Cari apa, Tong? Masuk aja, lihat-lihat dulu," sapa pria paruh baya itu tanpa mengalihkan pandangannya dari koran. Di papan kayu kecil dekat lapaknya, tertulis nama 'Koh Antoni'.

"Cuma mau lihat-lihat aja, Koh," jawab Reyhan agak canggung.

Di atas meja kayu lapak Koh Antoni, terjajar rapi berbagai macam benda antik yang berdebu. Ada keris kecil, cincin akik, batu giok, hingga beberapa kacamata tua. Namun, mata Reyhan mendadak tertuju pada sebuah benda kecil yang tergeletak di sudut meja, agak terpisah dari benda-benda lainnya.

Benda itu adalah sebuah sisir saku tua. Ukurannya hanya seukuran telapak tangan, terbuat dari bahan kayu hitam pekat yang terasa sangat padat. Desainnya sangat sederhana, namun ada ukiran sulur halus yang samar di bagian pegangannya. Entah kenapa, begitu melihat sisir itu, ada dorongan aneh di dalam diri Reyhan yang menyuruhnya untuk menyentuh benda tersebut.

Reyhan mengulurkan tangannya dan mengambil sisir kayu hitam itu. Begitu jemarinya bersentuhan dengan permukaan kayu yang dingin, dia merasakan sensasi seperti sengatan listrik kecil yang halus merambat ke ujung jarinya, membuat bulu kuduknya sempat meremang selama sedetik.

"Koh, ini sisir apaan?" tanya Reyhan sambil membolak-balikkan benda itu.

Koh Antoni menurunkan korannya, lalu menatap sisir di tangan Reyhan dengan pandangan mata yang sulit diartikan. Dia mengembuskan asap rokoknya perlahan ke udara.

"Oh, itu. Itu barang lama, Tong. Dapat dari bongkaran rumah tua di daerah Jawa Tengah. Bahannya dari kayu gaharu hitam pilihan. Kenapa? Tertarik?" tanya Koh Antoni dengan nada suara yang santai.

"Berapaan harganya, Koh?" Reyhan bertanya dengan ragu. Dia ingat isi dompetnya yang sangat mengenaskan. Kalau harganya sampai ratusan ribu, tentu saja dia harus melupakan keinginan anehnya ini.

Koh Antoni menatap Reyhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia memperhatikan wajah Reyhan yang kusam, rambutnya yang berantakan karena angin jalanan, dan penampilannya yang serba pas-pasan. Sebuah senyuman tipis yang misterius mendadak muncul di sudut bibir pria paruh baya itu.

"Buat kamu, habisin sisa uang di dompetmu aja. Berapa yang kamu punya?"

Reyhan tertegun. "Hah? Maksudnya gimana, Koh?"

"Ya itu, sisa uang receh di kantongmu. Siniin semuanya, sisir itu jadi milikmu," kata Koh Antoni sambil mengibaskan tangannya, seolah-olah barang itu tidak berharga sama sekali.

Reyhan langsung meraba sakunya dan mengeluarkan seluruh uang yang tersisa. Dia menghitungnya dengan cepat di atas telapak tangan. "Cuma ada empat belas ribu lima ratus, Koh. Ini serius boleh?"

"Serius. Taruh aja uangnya di situ, lalu bawa pergi sisirnya," ucap Koh Antoni sambil menunjuk ke atas meja.

Tanpa berpikir panjang lagi, Reyhan langsung meletakkan semua uang recehnya dan memasukkan sisir kayu hitam itu ke dalam saku celananya. "Makasih banyak ya, Koh."

"Iya, sama-sama. Pakai yang bener ya, Tong. Jangan sampai salah sisir," celetuk Koh Antoni dengan nada bergumam saat Reyhan mulai berbalik badan untuk pergi.

Reyhan sempat menghentikan langkahnya sejenak karena bingung dengan ucapan terakhir sang penjual. 'Jangan sampai salah sisir? Maksudnya apaan?' Namun, karena perutnya sudah mulai keroncongan dan pikirannya masih agak kacau, dia memilih untuk mengabaikan ucapan itu dan segera berjalan menuju tempat parkir motor Astrea-nya.

****

Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam, suasana di daerah tempat kos Reyhan sudah mulai sepi. Reyhan tinggal di sebuah rumah kos dua lantai yang terletak di dalam gang sempit kawasan Depok, tidak jauh dari kampus Universitas Indonesia tempatnya kuliah. Kamar kosnya berukuran tiga kali tiga meter, dengan fasilitas seadanya: sebuah kasur lantai yang busanya sudah mulai menipis, lemari pakaian plastik, dan sebuah meja belajar kayu kecil yang dipenuhi tumpukan kertas draf skripsi yang belum selesai.

Reyhan baru saja selesai mandi setelah seharian menembus kemacetan Jakarta yang berdebu. Dia hanya mengenakan celana kolor pendek dan kaos singlet putih. Dia duduk di tepi kasur sambil menatap langit-langit kamar kosnya yang agak berjamur. Pikiran tentang Sela kembali muncul, membuat hatinya terasa sesak.

"Kenapa ya hidup gua gini-gini amat? Kalau gua kaya dan ganteng, mungkin Sela gak bakal pergi," gumam Reyhan sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan frustrasi.

Saat merapikan celana jins yang dipakainya tadi siang, tangan Reyhan menyentuh sesuatu yang keras di dalam saku. Dia merogohnya dan mengeluarkan sisir saku kayu hitam yang dibelinya di Jatinegara tadi siang. Di bawah pendaran lampu neon kamarnya yang agak redup, sisir itu terlihat memiliki warna hitam yang sangat pekat, seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya. Ukiran sulur di pegangannya kini terasa lebih menonjol saat diraba.

Reyhan bangkit berdiri dan berjalan mendekati sebuah cermin kaca murah yang menggantung di dinding kamarnya, tepat di atas meja belajar. Di dalam cermin itu, terpantul wajahnya sendiri yang terlihat sangat kuyu. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya karena sering begadang mengerjakan tugas dan kerja paruh waktu, kulit wajahnya agak kusam dan berminyak, serta rambutnya tampak kusut berantakan tidak beraturan.

"Minimal rambut gua rapi lah, biar gak kelihatan kayak gembel banget," bisik Reyhan pada dirinya sendiri.

Dia mengangkat tangan kanannya yang memegang sisir kayu hitam itu. Perlahan, Reyhan menempelkan mata sisir ke bagian depan rambutnya yang kusut, lalu mulai menariknya ke arah belakang dengan gerakan menyisir yang biasa.

Sreeek...

Baru satu kali tarikan sisir itu melewati rambutnya, Reyhan mendadak membeku.

Sebuah sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan seumur hidup mendadak muncul dari kulit kepalanya. Rasa hangat yang sangat pekat, mirip seperti aliran air hangat yang mengalir deras, mendadak menjalar turun dari kepala, melewati dahi, lalu menyebar ke seluruh bagian wajahnya. Rasa hangat itu tidak menyakitkan, melainkan terasa sangat nyaman dan membuat jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih kencang.

Reyhan memejamkan matanya rapat-rapat saat rasa hangat itu mulai meresap lebih dalam ke dalam pori-pori kulit wajahnya. Dia merasa seolah-olah otot-otot di wajahnya sedang digeser dan ditata ulang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Bersamaan dengan itu, aroma harum yang sangat maskulin dan menenangkan—perpaduan antara wangi kayu gaharu murni dan aroma laut yang segar—mendadak menguar hebat dari tubuhnya, memenuhi seluruh ruangan kamar kosnya yang sempit.

Reyhan terengah-engah, memegang pinggiran meja belajar dengan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan karena kepalanya mendadak terasa agak pening. Napasnya memburu, menghembuskan hawa panas ke udara.

KREEEEK...

Sebuah suara retakan tajam mendadak terdengar di depan wajahnya, memecah keheningan malam di dalam kamar kos tersebut.

Reyhan langsung membuka matanya dengan terkejut. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Di hadapannya, permukaan cermin kaca yang menggantung di dinding itu mendadak memunculkan garis retakan panjang yang menjalar dari sudut atas hingga ke bawah, seolah-olah kaca tersebut baru saja menerima tekanan gelombang energi yang sangat besar dari arah depan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca