
- Jumlah kata
- 5.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Memperistri seorang gadis yang terpaut usia 12 tahun tentu bukan hal mudah bagi Zayn. Selain soal perasaan, perbedaan karakter pun menjadi PR besar baginya. Andina, gadis muda yang lembut, harus menghabiskan hidupnya bersama Zayn, pewaris tunggal berwatak dingin dan keras kepala. Hubungan mereka seperti rollercoaster, namun penuh kejutan yang membuat mereka belajar tentang cinta.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Sakit
"Andin, nanti malam jadi kan kita pergi ke pesta ulang tahunnya Bara?".
"Aduh aku belum tahu nih, nanti sore aku kabari ya", Andina merespon Kanya dengan malas.
"Ih jangan gitu dong, Din. Semua anak nanti malam pada datang loh ke pestanya Bara. Masa kamu gak ada sih, gak seru ah".
Andina menatap Kanya, sahabat baiknya di kampus.
"Lihat nanti sore deh, ya. Hari ini aku rasanya gak enak badan, Nya", Andina merebahkan kepalanya di meja.
"Waduh, kamu sakit, Din?", Kanya spontan menempelkan tangannya ke kening Andina.
"Gak tahu nih, Nya, dari tadi pagi badanku lemas, mual pula", keluh Andina.
"Pantas dari tadi kamu lebih banyak diam. Kalau dilihat-lihat sih iya ya wajah kamu pucat, Din. Kita ke klinik kampus, yuk", Kanya berinisiatif.
Andina menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak ingin kemana-mana.
"Din, kalau sakit kamu ini dibiarkan, nanti tambah parah loh. Ayo, kita ke klinik kampus. Aku antar", Kanya masih mencoba membujuk sahabatnya itu.
"Gak usah, Nya, sebentar lagi jam kuliah dimulai. Nanti setelah kelas selesai, aku langsung balik, ya dan soal ke pesta nanti malam, aku janji kabari kamu, ok?", Andina menatap Kanya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
"Ok, tapi kalau memang kondisi kamu gak membaik, jangan dipaksakan ya, Din. Nanti aku bilang deh ke Bara biar dia gak nunggu-nunggu".
Andina menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Tak lama perkuliahan pun dimulai. Andina mengikuti kelas dengan kondisi tidak fokus. Sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.
Kanya yang tahu kondisi Andina sedang tidak baik-baik saja terus memantau.
"Ya Tuhan, aku ingin kelas ini segera selesai", harap Andina dalam hati.
Jam satu siang kelas pun bubar. Sesuai dengan rencana, Andina memilih untuk segera pulang.
"Din, kabari aku ya kalau kamu sudah sampai rumah", pesan Kanya sebelum taksi yang Andina pesan pergi melaju.
"Iya, Nya. Makasih, ya, aku duluan", Andina berpamitan.
"Iya, Din. Pak, bawa mobilnya hati-hati ya, sahabat saya lagi sakit", pesan Kanya pada Sang supir yang dijawab supir dengan anggukkan.
Taksi pun melaju membelah jalanan kota yang tampak panas dan berdebu.
Butuh waktu 30 menit untuk Andina sampai di apartemen.
Kepalanya terasa pusing sekali. Beberapa kali ia hampir terjatuh saat berjalan.
Andina bersusah payah menghampiri lift untuk sampai ke apartemennya di lantai 25.
"Tolong cepatlah, aku butuh rebahan", gerutu Andina yang merasa tersiksa menunggu lift turun.
Lift masih menunjukkan angka 15 saat kepala Andina terasa semakin pusing, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang dan dunia seolah mendadak berputar cepat, Andina pun tak sadarkan diri.
Andina mengerjapkan kedua matanya, perlahan dia melihat ke sekeliling. Suasana temaram di sebuah kamar.
"Ini ... aku di mana?", gumam Andina dalam hati.
Dia mencoba melihat ke sekeliling, pandangannya masih belum jelas sampai di satu titik dia melihat seseorang duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur.
"Kamu sudah sadar? syukurlah".
Sebuah suara bariton terdengar jelas di telinga Andina.
"Kamu ... siapa? aku di mana?", Andina masih mencoba mengenali sosok di depannya dan suasana ruangan yanga temaram itu.
Sosok itu berdiri lalu berjalan menghampiri Andina yang masih tergeletak di kasur.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sakit?".
Andina menyipitkan kedua matanya, mencoba melihat lebih jelas sosok yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Mas Zayn", ucap Andina lirih.
Zayn menarik nafas dalam. Dia masih terpaku di tempatnya menatap Andina.
"Tadi kamu pingsan di depan lift", terang Zayn.
"Aku sudah panggil dokter ke sini. Dokter bilang denyut nadimu rendah dan tubuhmu demam. Setelah agak membaik, makan buburnya dan segera minum obat ini", Zayn menunjuk mangkuk bubur dan beberapa jenis obat yang ada di nakas samping tempat tidur Andina.
"Terima kasih, Mas", jawab Andina pendek.
"Kalau kamu sakit, kabari aku. Jangan sok kuat".
"Aku gak sok kuat, Mas", respon Andina ketus, ia tidak terima.
Lagi, Zayn menarik nafas dalam.
"Ya sudah, sekarang kamu sudah sadar. Makan buburnya sebelum dingin lalu minum obat", Zayn memberikan perintah lagi.
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa memanggilku", pesan Zayn sebelum akhirnya dia berlalu dari hadapan Andina.
Andina menggerutu kesal. Disaat kondisinya sedang tidak baik-baik saja bisa-bisanya Zayn bilang kalau ia sok kuat.
"Ih dasar manusia menyebalkan", omel Andina.
Butuh waktu sampai lima belas menit untuk Andina benar-benar bisa bangun dari tempat tidurnya. Ia menatap bubur dan obat yang entah sejak kapan ada di nakas kamarnya.
"Kalau bukan karena aku lapar dan butuh obat-obatan ini, gak sudi rasanya menerima pemberian manusia menyebalkan itu", Andina masih merutuki sikap Zayn padanya beberapa waktu lalu.
Sementara di ruangan yang berbeda, Zayn masih sibuk memeriksa beberapa berkas pekerjaannya. Ia mengurut dahinya yang terasa menegang.
"Kenapa aku sulit sekali konsentrasi?", gumam Zayn sendiri.
Kedua mata dan tangannya memang sejak tadi sibuk melihat dan membuka lembar demi lembar berkas di atas meja, tapi pikirannya masih terpaut pada Andina yang sejak dua jam lalu dia tinggalkan di kamar tanpa ia periksa kembali.
"Ck, kenapa aku malah memikirkan Andina?", lagi, Zayn bergumam.
Kejadian tadi siang sebenarnya sempat membuat Zayn panik. Ia mendapatkan kabar dari security apartemen bahwa Andina ditemukan tak sadarkan diri di depan lift.
Zayn yang kala itu sedang memimpin rapat tanpa pikir panjang langsung meninggalkan ruangan dan segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Zayn cemas melihat kondisi Andina yang terlihat pucat dan tak bergeming meski ia sudah berusaha menyadarkannya.
"Kenapa aku harus memikirnya dia sih? dia sudah cukup dewasa untuk bisa mengurus dirinya sendiri", celoteh Zayn seraya mengusap kasar wajahnya.
Bayangan wajah Andina berkelebat. Zayn masih mengingat rasa cemas yang sempat menyelimutinya sepanjang tadi ia menunggu Andina sadar.
Zayn dan Andina adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah. Delapan bulan lamanya status itu mereka sandang. Namun, pernikahan keduanya sejak awal dilakukan bukan atas dasar cinta, akan tetapi karena perjodohan keluarga.
Rupanya sejak kecil Zayn sudah dijodohkan oleh Sang kakek pada cucu keluarga sahabat baiknya, Relish. Jarak usia Zayn dan Andina memang cukup jauh, terpaut 12 tahun.
Pernikahan Zayn dan Andina dilangsungkan sebagai wasiat terakhir dari Sang kakek. Zayn terpaksa menyetujui wasiat tersebut sebagai bentuk kasih sayang Zayn pada Sang kakek yang telah merawatnya sejak kecil, tepatnya semenjak Zayn kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan pesawat saat Zayn berusia 7 tahun.
Bagi Zayn, kakek adalah dunianya. Dia sangat menyayangi dan menghormati Sang Kakek, baginya tidak ada alasan untuk tidak membahagiakan satu-satunya orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Zayn menjadi satu-satunya keturunan dan pewaris tunggal keluarga Aldrich.
Andina sendiri lahir dari keluarga Relish yang sederhana. Seingat Zayn, Sang kakek pernah bercerita jika ia dan Relish, kakek dari Andina adalah sahabat karib sejak kecil. Mereka lahir dan besar di desa yang sama, namun keluarga Aldrich adalah keluarga terpandang, keluarga tuan tanah di desa itu dan memiliki banyak pabrik di perkotaan.
Hubungan mereka sangat baik dan keduanya berjanji jika kelak memiliki cucu, mereka akan menjodohkannya sebagai bentuk menjaga ikatan agar lebih kuat.
"Sebaiknya aku menengoknya sebentar", bisik Zayn dalam hati.
Sejak tadi pikirannya memang belum tenang, dia khawatir Andina tidak memakan bubur dan obat yang sudah ia sediakan.
Zayn berjalan sambil menggulung lengan kemejanya yang terlihat kusut. Sejak tadi siang dia belum sempat mengganti bajunya, setengah hari Zayn habiskan untuk menjaga Andina hingga sadar.
Zayn sudah berdiri di depan pintu kamar Andina, namun ada perasaan ragu untuk mengetuk pintu kamar itu.
"Ah, sudahlah, dia bukan anak kecil lagi, Zayn. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan", alarm hati Zayn berbunyi.
Saat Zayn bermaksud meninggalkan pintu itu, Andina justru membukanya dari dalam.
"Loh Mas Zayn sedang apa di sini?", tanya Andina polos. Matanya beradu tatap dengan Zayn yang sempat terkejut.
Zayn segera menyembunyikan ekspresi terkejutnya itu.
"Aku hanya lewat, tadi dari dapur", ucap Zayn asal.
"Oh".
Andina tidak memperdulikan Zayn, dia berjalan melewati lelaki itu, ia menuju dapur untuk menyimpan nampan berisi mangkuk kosong dan gelas.
"Ternyata dia sudah makan dan minum obat", gumam Zayn seraya tersenyum tipis dan merasa tenang.
Daftar bab
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








