
Pelukan Hangat Para Wanita
Gitzer|Bersambung
- Jumlah kata
- 133.8K
- Popular
- 4.7K
- Subscribe
- 424
- Jumlah kata
- 133.8K
- Popular
- 4.7K
- Subscribe
- 424
Sinopsis
(Warning ada adegan 21+ Harap bijak memilih bacaan..) Rafka Adinata, putra konglomerat berusia 18 tahun, bukan remaja biasa. Di balik senyum tampan dan tubuh atletisnya, ia menyimpan harta 200 triliun dari hasil trading—jumlah yang bahkan melebihi kekayaan perusahaan keluarganya sendiri. Namun, harta bukanlah segalanya. Sejak ayahnya meninggal, Rafka hanya hidup bersama Aini, ibu tirinya yang cantik. Delapan tahun kebersamaan mengubah hubungan mereka menjadi lebih dari sekadar ibu dan anak tiri. Aini yang terkenal dingin dan tegas di luar rumah, berubah manja dan penuh kasih begitu berada di dekat Rafka. Awalnya, Rafka mengira Aini adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya. Namun takdir berkata lain. Menjelang kelulusan SMA, satu per satu wanita mulai memasuki kehidupannya—.
Ulasan
4 ulasan
aisiu
5/9/26 04:22
Bagus banget thorr semoga banyak bab nya harus tamat di ratusan sih atau ribuan🤣,semangat thorrrrrr
Pantai labu
11/7/26 20:28
lanjuttttt.................................................................. ............................
Bab 1
Senja mulai turun perlahan di kawasan elite Pondok Indah. Warna oranye keemasan membias di kaca-kaca besar rumah megah bergaya modern minimalis. Suasana kompleks begitu tenang, hanya terdengar suara gemericik air mancur kecil di sudut taman dan sesekali deru mobil mewah yang lewat..
Sebuah Toyota Alphard hitam mengilap berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang satpam pribadi dengan sigap membukakan pintu belakang. Dari dalam, seorang wanita melangkah turun dengan gerakan elegan. Ia adalah Aini.
Mengenakan blazer abu-abu yang pas di tubuhnya dan rok pensil selutut, Aini langsung memancarkan aura dingin dan berwibawa. Kacamata hitam masih bertengger di hidung mancungnya, menyembunyikan ekspresi matanya. Wajahnya yang nyaris tanpa cela itu datar, tanpa senyum sedikit pun. Bibirnya yang dipoles lipstik nude terkatup rapat. Semua orang yang melihatnya akan segan duluan. Dialah CEO muda yang ditakuti di perusahaan, the ice queen.
Sambil menggenggam tas Hermès, langkahnya mantap menuju pintu utama yang sudah dibuka oleh asisten rumah tangga, Mbak Sari. Wanita berusia tiga puluhan itu masih terlihat cantik dengan rambut dicepol sederhana.
“Selamat sore, Bu,” sapa Mbak Sari ramah.
Aini hanya mengangguk sekilas. Gestur minimal, namun cukup sebagai balasan. Seperti biasa, mode dingin itu masih aktif secara otomatis. Begitu menginjak lantai marmer ruang tamu yang luas, hawa sejuk AC langsung menyambutnya. Tapi, ada sesuatu yang lain.
Tepat di tangga besar melengkung yang mengarah ke lantai atas, seorang pemuda muncul. Rafka. Mengenakan kaus putih sederhana dan celana training abu-abu, ia turun sambil memegang ponselnya. Postur tubuhnya yang hasil latihan rutin terlihat jelas dari balik kausnya. Dada bidang, lengan berotot wajar, dan perut rata sixpack yang tersembunyi di balik bahan katun tipis. Wajahnya tampan, seperti artis Korea, dengan rambut hitam sedikit tergerai di dahi.
Mata Aini yang tadinya sedingin es itu tiba-tiba berubah. Manik matanya yang coklat tua langsung melunak, seolah seluruh es di kutub mencair dalam satu detik.
“Rafka!” panggilnya, suaranya yang tadi datar kini meninggi sedikit, penuh antusiasme.
Rafka menoleh. Belum sempat ia membuka mulut, Aini sudah menjatuhkan tas Hermès-nya sembarangan ke lantai. Blazernya juga ia buka dan serahkan asal ke Mbak Sari yang masih di dekat situ. Lalu, dengan langkah kecil yang hampir seperti berlari, ia menghambur ke arah Rafka.
Bugh!
Tubuh Aini langsung menabrak dada bidang Rafka. Kedua tangannya melingkar erat di leher pemuda itu. Ia memeluknya begitu kencang, seakan takut Rafka menghilang.
Rafka otomatis menangkap tubuh Aini. Ia sedikit terhuyung, namun refleksnya dengan cepat menjaga keseimbangan. Tangannya kini melingkar di pinggang ramping ibu tirinya itu. Saat itulah, ia merasakannya. Dua gundukan lembut dan empuk di dada Aini menekan kuat dadanya. Sensasi lembut itu begitu nyata, bikin Rafka menelan ludah sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berusaha bersikap senatural mungkin, meski napasnya tercekat sepersekian detik.
“Mama… pulang jam segini?” tanyanya, suaranya sedikit serak.
Aini tidak langsung menjawab. Ia malah mempererat pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rafka. Aroma parfum lembut bercampur aroma tubuh khas Aini langsung memenuhi hidung Rafka.
“Mama kangen banget,” bisik Aini akhirnya, suaranya terdengar manja, sangat kontras dengan sosok dingin yang baru saja masuk.
Rafka tersenyum tipis. Tangannya mengusap-usap lembut punggung Aini. “Aku juga kangen, Ma.”
Bagi orang lain yang mungkin melihat, pemandangan ini mungkin terlihat aneh. Seorang CEO yang ditakuti, yang terkenal dengan tatapan tajamnya, sekarang malah seperti anak kucing yang manja di pelukan seorang pemuda. Tapi tidak bagi orang-orang di rumah ini. Mbak Sari yang sedang merapikan blazer Aini hanya tersenyum kecil. Ia sudah sangat terbiasa.
Sudah delapan tahun Aini menjadi ibu tiri Rafka. Sejak menikah dengan mendiang ayah Rafka, Aini sudah langsung dekat dengan bocah laki-laki itu. Kedekatan mereka aneh, tapi nyata. Apalagi setelah ayah Rafka meninggal dua tahun lalu karena sakit komplikasi. Rafka-lah yang jadi satu-satunya sandaran Aini. Di luar rumah, Aini harus menjadi wanita super yang mengendalikan bisnis almarhum suaminya. Tapi di rumah, di depan Rafka, semua topeng itu luruh total.
Cukup lama mereka dalam posisi itu. Sampai Aini merasa seluruh penat dan stres pekerjaannya hilang ditelan hangatnya pelukan Rafka. Ia akhirnya sedikit melonggarkan pelukannya, mengangkat wajahnya untuk menatap Rafka lekat-lekat.
Tangannya yang mulus dan terawat naik mengelus pipi Rafka. Matanya berbinar penuh sayang, namun ada kilat lain di sana. Tanpa aba-aba, Aini maju dan mengecup bibir Rafka dengan lembut. Ciuman singkat namun terasa lama di hati Rafka.
“Makasih ya, udah jadi rumah buat Mama,” bisik Aini tepat di depan bibir Rafka.
Rafka hanya bisa mengangguk, masih sedikit terpana oleh ciuman tadi. Ia membiarkan ibu tirinya itu memandanginya sebentar, sebelum akhirnya Aini menarik tangannya.
“Sini, temenin Mama duduk. Mama capek banget, Sayang.”
Aini menarik Rafka dengan manja menuju sofa panjang abu-abu yang empuk di ruang keluarga. Tanpa menunggu, ia langsung merebahkan tubuhnya, kepalanya mendarat mulus di pangkuan Rafka. Kakinya ia angkat dan selonjorkan seenaknya di atas sofa. Posisi senyaman mungkin untuknya.
Rafka melihat wajah Aini yang kini di pangkuannya. Cantik. Itu kata yang selalu muncul di kepalanya. Di usia yang terpaut cukup jauh, Aini tetap terlihat mempesona. Garis rahangnya tegas, namun ekspresinya sekarang begitu damai, seperti bayi.
“Mama hari ini rapat panjang, ya?” tanya Rafka sambil mengamati wajah Aini.
“Hmm. Panjang dan bikin pusing. Banyak klien yang nyebelin,” jawab Aini sambil memejamkan mata. “Tapi begitu lihat kamu turun tangga tadi, semuanya langsung ilang.”
Tangan Rafka otomatis terulur, mengelus kepala Aini dengan sayang. Jemarinya menyelip di antara helaian rambut hitam lembut Aini. Ia mengelusnya pelan, teratur, seperti ritme yang menenangkan. Aini mendesah pelan. Senyum kecil mengembang di bibirnya yang ranum.
“Gituin terus, Sayang… enak,” katanya lirih, nyaris seperti dengkuran kucing.
Rafka terus mengelus kepala Aini. Ia memandangi wanita yang sudah delapan tahun ini menjadi bagian penting hidupnya. Ia tahu, di luar sana Aini adalah monster bagi para kompetitornya. Tapi saat ini, di pangkuannya, ia hanyalah Aini. Mama tirinya yang manja dan haus kasih sayang.
“Rafka,” panggil Aini tanpa membuka mata.
“Iya, Ma?”
“Mama sayang banget sama kamu. Jangan pernah ninggalin Mama, ya.”
Rafka terdiam sejenak, lalu mengangguk meski Aini tak melihatnya. “Nggak akan pernah, Ma. Aku selalu di sini.”
Ruang keluarga itu kembali hening. Hanya suara detak jam dinding dan hembusan napas pelan Aini. Di luar, langit senja sudah berubah jadi gelap. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan Mbak Sari dari kejauhan. Tapi Aini tidak peduli. Di pangkuan anak tirinya yang tampan dan berbadan tegap, ia menemukan dunianya sendiri. Dunia di mana ia hanya perlu menjadi wanita biasa yang disayangi. Sementara Rafka, tetap dengan sabar mengelus kepala ibunya, merasakan setiap hembusan napasnya, menjaga wanita yang baginya adalah rumah itu.
Daftar bab
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab








