Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Ardha Sang Pewaris Kutukan

Ardha Sang Pewaris Kutukan

Ocha Ruby | Bersambung
Jumlah kata
38.9K
Popular
100
Subscribe
19
Novel / Ardha Sang Pewaris Kutukan
Ardha Sang Pewaris Kutukan

Ardha Sang Pewaris Kutukan

Ocha Ruby| Bersambung
Jumlah Kata
38.9K
Popular
100
Subscribe
19
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPria MiskinPedangPertualangan
Ardha Widantara, kurir malam 21 tahun yang hidup sendirian di Jakarta, menemukan keris hitam di gang buntu yang tak ada di peta. Begitu menyentuhnya, roh leluhur purba merasuki tubuhnya dan memaksakan kontrak kejam: setiap kali ia menggunakan kekuatan, satu tahun usianya terpotong.   Ia diberi misi mustahil, mengumpulkan 7 Segel Darah yang tersebar di seluruh kota sebelum umurnya habis. Tapi ia bukan satu-satunya pemburu. Sanggar Kala, organisasi supernatural bawah tanah, menginginkan segel untuk membangkitkan kekuatan purba. Dan pemburu terbaik mereka, Galang Pratama, membayar kekuatannya dengan cara yang lebih kejam: jiwa orang lain.   Di tengah perburuan, lima perempuan masuk ke hidupnya. Masing-masing membawa rahasia dan koneksi langsung ke segel.
Kurir Malam

Kontrakan itu hanya tiga kali tiga meter. Cukup untuk kasur lipat, satu lemari plastik, dan meja kecil yang kakinya ditopang batu bata karena sudah patah sejak pertama kali Ardha menyewanya. Di sudut dekat pintu, helm hitam bergantung di paku yang tertancap miring, satu-satunya dekorasi di dinding yang catnya sudah mengelupas seperti kulit ular berganti musim.

Ardha Widantara duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding, menyeruput mie instan dari panci kecil yang juga berfungsi sebagai mangkuk, piring, dan kadang-kadang tempat mencuci muka kalau kran di kamar mandi macet lagi. Rasa kari ayam sintetis itu sudah bukan rasa lagi baginya, hanya kalori, hanya bahan bakar supaya kakinya masih bisa menginjak pedal motor besok pagi.

Umurnya dua puluh satu tahun. Tidak ada keluarga. Tidak ada teman dekat. Tidak ada siapa pun yang akan mengetuk pintu kontrakan ini dan bertanya apakah ia sudah makan malam.

Ponselnya berkedip. Notifikasi order masuk.

Ia melirik layar yang retak di pojok kanan bawah. Satu order lagi sebelum tengah malam, dan kuota hariannya selesai. Ia menelan suapan terakhir, meletakkan panci di samping kasur, dan meraih jaket ojek online-nya yang tergantung di balik pintu.

Motornya Honda Beat tahun 2016, warna putih yang sudah menguning, knalpot berisik, terparkir di depan kontrakan. Ardha menghidupkan mesin dengan dua kali tendangan. Satu kali tidak pernah cukup dan membiarkan getaran familiar mesin tua itu merambat ke seluruh tubuhnya.

Kota Jakarta di jam sebelas malam adalah binatang yang berbeda dari versi siangnya. Jalanan yang tadi siang macet total sekarang terbuka lebar, hanya diisi truk-truk kontainer, taksi-taksi yang mencari penumpang terakhir, dan kurir-kurir seperti Ardha yang mengejar sisa rupiah sebelum hari berganti.

Lampu-lampu jalanan menyala oranye pucat, memanjang seperti deretan mata yang mengantuk. Warung-warung pinggir jalan sudah menutup terpal. Satu-dua penjual nasi goreng masih mengayunkan spatula di atas wajan, minyak mendesis, asap membubung ke langit yang tidak pernah benar-benar gelap di kota ini.

Ardha menikung di perempatan Cempaka Putih, melewati deretan ruko yang tutup, dan memikirkan hal yang sama yang selalu ia pikirkan di jam-jam seperti ini.

Sepuluh tahun lalu, ayahnya pergi.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tanda-tanda. Suatu pagi Ardha bangun dan kursi ayahnya di meja makan sudah kosong. Ibunya duduk diam dengan mata merah, tangan mencengkeram secangkir teh yang sudah dingin. Ia tidak menangis, atau mungkin sudah berhenti menangis sebelum Ardha bangun.

"Bapak pergi, Dha. Jangan ditanya ke mana."

Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada surat. Tidak ada telepon setelahnya.

Ardha waktu itu sebelas tahun. Ia tidak mengerti. Ia menunggu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Setiap kali ada suara motor di depan rumah, ia berlari ke jendela. Setiap kali telepon rumah berdering, ia mengangkatnya sebelum ibunya sempat berdiri.

Ayahnya tidak pernah kembali.

Tiga tahun kemudian, ibunya menyusul pergi, tapi bukan dengan cara yang sama. Kanker paru-paru. Didiagnosis terlambat karena mereka tidak punya uang untuk periksa ke dokter yang benar. Ardha duduk di samping tempat tidur rumah sakit kelas tiga, memegang tangan ibunya yang semakin kurus, dan mendengarkan bunyi monitor jantung yang semakin lambat sampai akhirnya menjadi satu garis panjang yang datar.

Empat belas tahun. Sendirian.

Setelah itu adalah rentetan tahun-tahun yang kabur. Panti sosial. Titipan ke tetangga yang lama-lama merasa terbebani. SMA yang diselesaikan dengan nilai pas-pasan dan perut sering kosong. Ia diterima di universitas swasta kecil, jurusan manajemen, bukan karena suka, tapi karena itu satu-satunya yang mau menerima nilainya.

Semester kedua, uang habis. Tidak ada yang menanggung. Ardha berdiri di depan gedung rektorat, menatap papan pengumuman daftar mahasiswa yang di-DO karena tidak membayar, dan menemukan namanya di urutan keempat dari bawah.

Ia tidak marah. Tidak sedih juga. Hanya berbalik, naik motor, dan mendaftar sebagai kurir hari itu juga.

Dua tahun sejak saat itu. Setiap hari sama. Antar paket, makan mie instan, tidur. Bangun. Ulangi.

Ponsel bergetar lagi. Ardha melirik layar tanpa menghentikan motor.

ORDER MASUK

Tujuan: Jl. Kemuning No. 7, Gang Melati

Jenis Paket: Dokumen (0.5 kg)

Bayaran: Rp 150.000

Ardha mengerutkan dahi.

Seratus lima puluh ribu untuk satu kiriman dokumen malam-malam? Bayaran normal untuk jarak ini paling lima puluh ribu. Tiga kali lipat.

Ia mengecek detail pengirim. Kosong. Anonim. Tidak ada nama, tidak ada nomor telepon, tidak ada foto profil. Hanya alamat tujuan dan instruksi singkat.

"Taruh di depan pintu. Jangan ketuk."

Aneh.

Tapi seratus lima puluh ribu adalah dua hari makan. Ardha menekan tombol "Terima" tanpa berpikir lebih lama.

Paket sudah menunggu di loker pengambilan, amplop cokelat tebal, berat di tangan, tersegel rapat dengan lilin merah.

Siapa yang masih pakai segel lilin di zaman sekarang?

Ardha mengangkat bahu, menyelipkan amplop ke dalam tas, dan menghidupkan GPS.

Jl. Kemuning No. 7, Gang Melati Rute tidak ditemukan.

Ia mengetik ulang. Hasil yang sama. Peta menunjukkan Jalan Kemuning ada di daerah Tanah Abang, dekat pasar lama, tapi Gang Melati tidak muncul di mana pun. Tidak di Google Maps, tidak di Waze, tidak di aplikasi ojek-nya.

Gang yang tidak ada di peta.

Ardha seharusnya membatalkan order. Seharusnya menekan tombol merah dan melanjutkan hidup. Tapi seratus lima puluh ribu masih berkedip di layar ponselnya, dan perut Ardha masih mengingat rasa mie instan yang sudah ia makan setiap malam selama dua minggu terakhir.

Ia memutuskan untuk pergi ke Jalan Kemuning dan mencari Gang Melati secara manual.

Dua puluh menit kemudian, Ardha mematikan mesin motor di depan deretan bangunan tua Tanah Abang. Jalanan sepi hanya kucing liar dan kantung plastik yang ditiup angin. Lampu jalan berkedip tidak beraturan. Udara terasa lebih berat di sini, lebih lembap, seperti napas sesuatu yang besar sedang tertidur di bawah aspal.

Ia berjalan kaki, menelusuri dinding-dinding bata yang dipenuhi lumut dan grafiti pudar. Nomor rumah melompat dari tiga langsung ke sembilan. Tidak ada nomor tujuh.

Lalu ia melihatnya.

Di antara dua bangunan yang seharusnya saling menempel, ada celah. Sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan menyamping. Dindingnya berlumut tebal, basah, seolah hujan baru saja turun padahal langit kering. Di atas celah itu, setengah tersembunyi oleh akar tanaman merambat, ada papan kayu lapuk bertuliskan dua kata yang hampir tidak terbaca

Gang Melati.

Ardha menatap celah itu. Perasaan di dadanya bukan takut, lebih seperti tarikan. Seperti ada tali tak kasat mata yang terhubung dari tulang dadanya ke sesuatu di ujung gang itu. Menariknya masuk. Perlahan. Pasti.

Ia melangkah masuk.

Tiga langkah pertama, suara kota masih terdengar, klakson jauh, dengung generator, gonggongan anjing.

Lima langkah, suara-suara itu memudar.

Sepuluh langkah, sunyi total.

Bukan sunyi seperti tengah malam di desa. Ini sunyi yang berbeda, sunyi yang menelan. Seperti seseorang menekan tombol mute pada seluruh dunia. Tidak ada angin. Tidak ada serangga. Tidak ada apa pun kecuali detak jantung Ardha sendiri yang tiba-tiba terdengar sangat keras di telinganya.

Motor di belakangnya, ia bisa mendengarnya tadi. Sekarang tidak ada suaranya. Ia menoleh. Mulut gang masih terlihat, tapi rasanya jauh, sangat jauh, seperti melihat pintu keluar dari dasar sumur.

Ponselnya mati. Layar gelap total. Ia menekan tombol power berkali-kali. Tidak ada respons.

Udara berubah. Lebih dingin. Bau tanah basah digantikan oleh sesuatu yang lebih tua, bau batu kuno, logam berkarat, dan samar-samar ... darah.

Ardha berhenti melangkah.

Di ujung gang, di dinding buntu yang seharusnya menjadi akhir dari segalanya, sesuatu bercahaya.

Redup. Kebiruan. Berdenyut pelan seperti jantung kedua.

Dan Ardha tahu meski tidak bisa menjelaskan bagaimana ia tahu bahwa apa pun yang ada di ujung gang itu, sudah menunggunya.

Sudah sangat lama menunggunya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca