
Dewa Pedang Pemetik Bunga
Krownhill|Bersambung
- Jumlah kata
- 78.1K
- Popular
- 772
- Subscribe
- 158
- Jumlah kata
- 78.1K
- Popular
- 772
- Subscribe
- 158
Sinopsis
Konten Dewasa 21+ Mengandung tema dan adegan dewasa. Mohon bijak dalam membaca dan pastikan Anda telah berusia 21 tahun atau lebih. Bara, pendekar muda berjuluk Dewa Pedang Pemetik Bunga, adalah sosok tampan, santun, sakti mandraguna, dan sarat pesona. Ketampanan dan kepribadiannya yang hangat menjadi magnet bagi setiap wanita, mulai dari gadis, janda, hingga wanita bersuami. Kedua gurunya mengutus Bara turun gunung untuk menyelamatkan Kemaharajaan Kencana Geni yang dikuasai Naroko, seorang pemberontak kejam yang bersekutu dengan Balak, Dewa Kuno yang berambisi menguasai tujuh alam. Bara harus menghadapi perang, monster pemangsa manusia, makhluk malam penghisap darah, serta penindasan yang melanda seluruh penjuru negeri. Di tengah perjalanan penuh bahaya, petualangan Bara selalu diwarnai kehangatan asmara dan godaan wanita-wanita cantik.
Ulasan
6 ulasan
Krownhill
16/10/26 04:10
suka dengan cerita ini? jangan lupa dukung terus dengan klik subscribe agar nggak ketinggalan update.. happy reading... ❤️
Ocha Ruby
13/9/26 08:02
novel yang bagus dan awal pembukaan yang menarik, membuat yang baca betah dan terus scroll Karena penasaran.
01. Sang Pemetik Bunga
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela, menerobos masuk ke dalam kamar dan jatuh tepat di wajah Bara.
Perlahan, ia membuka mata.
Di sampingnya, seorang wanita cantik masih tertidur pulas.
Bara bergegas bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya. Ia teringat dengan tugasnya untuk ke ibu kota.
Cukup bersenang-senangnya, sekarang aku harus melanjutkan perjalanan.
Setelah merapikan pakaiannya, tanpa menunggu lebih lama, Bara membuka pintu dan melangkah keluar.
Baru selangkah kaki Bara menapak di ambang pintu, sebuah suara lembut menghentikan gerakannya.
"Tuan Pendekar... "
Bara memutar tubuhnya.
Di atas tempat tidur, wanita itu memeluk selimut tipis yang melilit tubuhnya. Wajahnya yang masih dibayangi kantuk tampak merona merah.
"Kok buru-buru amat sih?" Gumam wanita itu melandai.
"Hari masih begitu pagi, udara terasa dingin. Tubuhku masih butuh sentuhan dan kehangatanmu. Tuan mau ke mana?"
Wanita itu perlahan meluruhkan selimut yang menutupinya.
Bara termagu memandang keindahan di depannya. Ada perang batin yang berkecamuk hebat.
Bertahan sejenak menikmati kenikmatan yang ditawarkan, atau kabur segera.
Wanita itu beringsut dari peraduannya.
Kesadaran seketika menyergapnya. Dengan sigap Bara merapatkan kedua tangannya, menjura penuh hormat.
"Nona, maafkan aku. Bukannya aku menolak kebaikan dan kesenangan darimu, tapi ada tugas mendesak yang harus kuselesaikan. Aku janji, begitu urusanku di ibu kota selesai, aku pasti akan kembali menemuimu".
Bara memutar badan. Tubuhnya melesat ringan, melompati pagar dan meluncur cepat membelah udara pagi, meninggalkan rumah itu sebelum goyah untuk kedua kalinya.
Bara melesat melintasi jalanan tanah yang sepi, jauh meninggalkan Kota Waturumpuk tempat tinggal Ningsih, wanita cantik yang baru saja ditinggalkannya.
Di tengah lebatnya pepohonan hutan, langkah kaki Bara yang seringan kapas mendadak melambat. Penglihatannya yang tajam menangkap sebuah kereta pedati terperosok di ceruk pinggir jalan.
Tak jauh dari sana, sesosok mayat pria tua tergeletak bersimbah darah. Sapi penarik pedati itu pun sudah tak tampak lagi.
Bara memasang kewaspadaan. Lewat pendengarannya yang luar biasa tajam, ia menangkap samar-samar suara jeritan histeris seorang wanita, diselingi gelak tawa picisan beberapa pria dari balik rimbunnya hutan.
Tanpa membuang waktu, Bara melesat ke arah sumber suara.
Di sebuah pelataran kecil di tengah hutan, tampak seorang gadis desa berparas jelita sedang dikepung oleh sembilan pria berperawakan kasar.
Dari gaya, penampilan mereka yang liar, dan senjata yang mereka bawa, jelas mereka adalah komplotan penyamun hutan.
Gadis malang itu dipermainkan tanpa ampun. Tubuhnya didorong ke sana kemari bagaikan mainan.
Jemari kasar para penyamun itu terus merobek pakaian sang gadis bagian demi bagian, hingga helai kain yang tersisa nyaris tak mampu lagi menutup auratnya.
Sambil menangis histeris, gadis itu berusaha memeluk sisa pakaiannya, terus menghindar dari cengkeraman tangan-tangan kotor yang hendak menelanjanginya.
Pemandangan itu menyulut amarah di dada Bara.
Ia paling benci dengan orang-orang yang menggunakan kekuatan untuk menindas mereka yang tak mampu melawan. Apalagi ketika yang menjadi korban adalah seorang wanita yang tak berdaya.
Tatapan Bara berubah dingin.
Tubuh Bara meluncur bagai kilat. Gerakannya begitu tenang, cepat dan tanpa suara, seolah ia hanya sedang berjalan santai memetik kuntum bunga.
Tanpa memegang gagang pedang besi apa pun, Bara hanya mengibaskan ujung jemarinya yang dialiri Hawa Pedang Murni...
Cras! Cras! Cras!
Dalam satu hembusan napas, kesembilan penyamun itu tumbang serentak.
Sebuah luka garis tipis terukir dalam di leher mereka, rapi layaknya tangkai bunga yang dipetik dari batangnya.
Darah segar mengucur tanpa sempat muncrat ke mana-mana, membunuh mereka seketika tanpa sempat mengejang ataupun mengeluarkan suara.
Suasana hutan mendadak hening seketika.
Gadis malang itu menatap Bara dengan mata terbelalak. Ia bahkan tidak sempat memahami apa yang baru saja terjadi.
Bara menghampiri gadis yang masih gemetar hebat di tanah.
Ia melepas baju luarnya dan dengan lembut membalutkannya ke tubuh sang gadis untuk menutup auratnya.
Sentuhan hangat dan sikap Bara yang tenang serta santun perlahan membuat kepanikan gadis itu mereda.
Sambil terisak, gadis itu mulai bercerita.
Ia mengaku bernama Tumirah.
Bersama pamannya, ia bermaksud pulang menuju Desa Turi. Namun di tengah jalan, pedati mereka dihadang oleh komplotan penyamun.
Pamannya tewas dibunuh secara kejam, sementara ia diseret ke dalam hutan hendak dinodai.
Mereka kemudian kembali ke lokasi pedati untuk menguburkan jasad paman Tumirah di bawah sebuah pohon besar.
Sebuah makam sederhana dibuatnya, kemudian beberapa batu diletakkan di atasnya sebagai tanda.
Setelah selesai, Bara menghampiri Tumirah yang masih lemas.
"Terima kasih, Tuan Pendekar," Kata Tumirah.
Bara tersenyum tipis. Tanpa ragu, ia membopong tubuh molek gadis malang itu ke dalam pelukannya.
Tumirah terkejut.
"Aku akan mengantarmu pulang." Kata Bara.
Dengan satu hentakan kaki, tubuh Bara melesat ringan membelah pepohonan hutan, membawa Tumirah menuju Desa Turi.
Tumirah memejamkan mata dan berpegangan erat pada Bara.
Di sepanjang langkah kakinya yang ringan menembus rimbunnya pepohonan hutan, Bara merasakan tubuh Tumirah yang masih sedikit gemetar dalam pelukannya.
Dekapan gadis itu begitu erat, seolah menyandarkan seluruh sisa hidupnya yang rapuh pada dada Bara yang bidang dan hangat.
Bara membisu, menatap lurus ke depan. Rasa iba yang mendalam mengalir di dadanya.
Namun, di balik ketenangannya, mata batin sang pendekar tetap bersiaga. Kejadian yang baru saja menimpa Tumirah dan pamannya menyulut pemikiran serius di kepala Bara.
"Hanya berjarak beberapa jam perjalanan dari kota, bandit-bandit liar sudah seberani ini bertindak kejam di siang bolong," batin Bara.
Jejak aksi perampokan yang sadis dan mayat paman Tumirah yang tergeletak di tepi jalan tadi menjadi bukti nyata di depan matanya.
Kabar yang sampai ke telinga kedua gurunya di atas gunung ternyata bukan sekadar isapan jempol belaka. Kerajaan ini benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Tatanan hukum telah goyah, dan kekacauan mulai menjalar hingga ke pelosok negeri.
Jika jalanan saja sudah berubah menjadi sarang kejahatan yang menumpahkan darah orang tak berdosa, maka perjalanan panjang yang membentang di hadapannya pastilah tidak akan pernah mudah.
Kejadian ini makin menegaskan tekadnya untuk terus melangkah maju, membebaskan siapa pun yang membutuhkan pertolongannya di sepanjang jalan.
Langkah kaki Bara makin mendekati perbatasan Desa Turi.
Namun, tepat ketika kerimbunan hutan mulai agak merenggang, insting Bara mendadak meletup tajam.
Wuuush!
Tanpa ada helaan napas peringatan, dari arah balik rindangnya dedaunan meluncur larikan-larikan sinar putih keperakan.
Sinar itu melesat secepat kilat, membelah udara dengan suara mendesis yang memekakkan telinga. Daya hancurnya sungguh mengerikan, menghantam barisan pohon hingga tumbang berderak dan menembus batu-batu gunung hingga hancur berkeping-keping.
"Aaakh!" Tumirah menjerit tertahan, memejamkan mata rapat-rapat sambil makin membenamkan wajahnya di dada Bara.
Di tengah desingan maut yang menyilaukan mata, Bara tidak sedikit pun panik.
Membopong Tumirah hanya dengan satu tangan yang mendekap erat pinggang sang gadis, tubuh Bara meliuk fleksibel bagaikan selembar daun yang dimainkan angin.
Setiap tebasan sinar murni itu melintas beberapa senti di samping tubuh mereka. Anginnya mengibarkan ujung jubah Bara dan menerbangkan helai rambut Tumirah.
Brak! Duar!
Ledakan hawa murni menghantam bumi, memporak porandakan tanah. Kepulan asap tang tebal yang membumbung tinggi menutupi pandangan.
Serangan mendadak itu akhirnya berhenti. Udara di sekitar hutan terasa membeku.
Di balik gulungan asap yang perlahan sirna, sekitar lima puluh meter tepat di hadapan Bara, berdiri melayang sesosok wanita bergaun merah darah, menghadang jalan.
Kakinya tidak menyentuh bumi, mengapung anggun dengan gaun melambai tertiup angin. Parasnya luar biasa cantik. Kecantikannya terasa begitu dingin namun menawan hati.
Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah payung merah yang mengembang indah, menaungi sosoknya dari berkas sinar matahari yang menerobos rimbunnya dedaunan.
Dari kejauhan, payung itu tampak begitu eksotik. Namun, penglihatan Bara yang tajam sanggup menangkap detail mengerikan dari benda tersebut.
Gagang dan bilah-bilah rangkanya tersusun rapi dari tulang-tulang jemari dan rusuk manusia, sedangkan daun payungnya terbuat dari lembaran kulit manusia yang disamak halus dan diwarnai merah darah pekat. Pendaran hawa magis yang ganjil memancar tipis dari permukaan kainnya yang berkilau.
Wanita itu menatap Bara dengan ukiran senyum tipis yang penuh misteri.
Mata Bara menyipit tajam. Rasa terkejut melintas sejenak di wajah tampannya sebelum ia mendesis pelan, menyebut satu nama yang begitu familier di masa lalunya...
"Kunti...?"
Daftar bab
62 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








