

BAB 1 MALAM KEJATUHAN TIRTA LANGIT
Langit malam di atas Kerajaan Tirta Langit berubah merah darah.
Api membakar menara pengawas di berbagai sudut kota. Asap hitam membubung tinggi hingga menutupi cahaya bulan. Suara genderang perang mengguncang tanah, bercampur dengan jeritan rakyat dan dentingan senjata yang saling berbenturan.
Arya Nagapati berdiri terpaku di atas tembok utama istana.
Tatapannya menyorot ke arah gerbang timur kerajaan yang mulai runtuh dihantam batang kayu raksasa milik pasukan Rajegwesi.
Tubuh Arya menegang.
Jantungnya berdegup keras.
Ini pertama kalinya ia melihat perang sesungguhnya.
Selama delapan belas tahun hidupnya sebagai putra mahkota Tirta Langit, Arya hanya mengenal latihan pedang, kitab strategi perang, dan cerita kepahlawanan dari para panglima kerajaan.
Namun malam ini berbeda.
Malam ini adalah neraka.
“Pangeran Arya!”
Seorang prajurit berlari menaiki tangga batu menuju tembok pertahanan. Tubuhnya penuh luka dan darah mengalir dari pelipisnya.
“Kita tidak bisa menahan mereka lagi!”
Arya menggenggam gagang pedangnya erat.
“Bagaimana keadaan ayahku?”
“Sri Maharaja masih bertahan di aula utama bersama pasukan pengawal istana!”
Belum sempat Arya menjawab
BRAAAKKK!
Ledakan besar mengguncang gerbang timur.
Kayu raksasa itu akhirnya berhasil menghancurkan pintu utama kerajaan.
Sorak kemenangan pasukan Rajegwesi langsung menggema di seluruh medan perang.
“Mereka masuk!”
Puluhan prajurit berbaju zirah hitam menyerbu seperti kawanan iblis lapar. Tombak dan pedang mereka berlumuran darah.
Di belakang mereka, seekor gajah perang raksasa melangkah masuk sambil menghancurkan mayat-mayat prajurit Tirta Langit yang sudah gugur.
Di atas gajah itu berdiri seorang pria bertubuh besar dengan jubah perang hitam.
Kapak raksasa berada di pundaknya.
Tatapannya dingin seperti monster.
Jagat Brama.
Panglima perang terkuat Kerajaan Rajegwesi.
Pria yang dikenal sebagai Pembantai Seribu Medan Perang.
“BUNUH SEMUA!” raungnya.
Pasukan Rajegwesi langsung bergerak brutal.
Tidak ada belas kasihan.
Anak-anak, wanita, bahkan rakyat biasa ikut berlari menyelamatkan diri dari kobaran perang.
Arya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Kurang ajar…”
Selama ini Rajegwesi selalu mengincar wilayah Tirta Langit karena posisi strategis kerajaan mereka di jalur perdagangan Nusantara.
Namun Arya tidak menyangka mereka akan menyerang sebesar ini.
Tiba-tiba—
SWUSSH!
Sebuah anak panah melesat ke arah Arya.
CLANG!
Arya menepisnya dengan pedang.
“Pangeran! Kita harus mundur sekarang!” teriak prajurit tadi.
Arya menatap medan perang sekali lagi.
Mayat bergelimpangan.
Darah mengalir di jalan-jalan batu kerajaan.
Api terus membesar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Arya merasa takut.
Namun ia tidak bisa lari.
Ayahnya masih berada di dalam istana.
“Aku harus ke aula utama!”
Tanpa menunggu jawaban, Arya langsung berlari menuruni tangga batu.
Lorong-lorong istana dipenuhi suara teriakan dan benturan senjata. Para pelayan kerajaan berlarian sambil menangis.
Arya terus berlari melewati semuanya.
Saat hampir mencapai aula utama
DUAAAARRR!
Gelombang angin besar menghantam lorong istana.
Tubuh Arya hampir terpental.
Matanya membelalak.
Lantai batu retak.
Dinding istana bergetar hebat.
“Kekuatan apa itu…?”
Arya mempercepat langkahnya.
Dan ketika ia sampai di aula utama
napasnya langsung tertahan.
Sri Maharaja Rakai Mahendra sedang bertarung melawan Jagat Brama.
Tombak emas pusaka kerajaan berputar cepat di tangan sang Maharaja. Setiap ayunan menghasilkan gelombang energi yang menghancurkan lantai aula.
Namun Jagat Brama mampu menahannya dengan kapak raksasa miliknya.
BOOOOM!
Benturan kedua senjata menciptakan ledakan angin dahsyat.
Pilar-pilar istana mulai runtuh.
Arya membeku di tempat.
Inilah kekuatan pendekar tingkat langit…
Kekuatan yang selama ini hanya ada dalam legenda.
“Menyerahlah, Rakai Mahendra!” teriak Jagat Brama sambil menyeringai.
“Tirta Langit sudah kalah!”
Sri Maharaja menyeka darah di sudut bibirnya.
“Selama aku masih hidup… Rajegwesi tidak akan pernah menguasai Nusantara!”
“Kalau begitu mati saja!”
Jagat Brama melompat sambil mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
BOOOOM!
Lantai aula hancur.
Sri Maharaja menahan serangan itu dengan tombaknya, tetapi tubuh beliau terdorong beberapa langkah ke belakang.
Arya bisa melihat darah mulai mengalir dari lengan ayahnya.
Tidak mungkin…
Ayahnya terdesak?
Jagat Brama tertawa keras.
“Kau sudah tua, Rakai Mahendra!”
“Era Tirta Langit telah berakhir!”
SLAAASH!
Kapak hitam itu bergerak cepat.
Pertahanan Sri Maharaja akhirnya terbuka.
Kapak Jagat Brama menebas bahu kiri beliau hingga darah menyembur ke udara.
“Ayah!!”
Arya langsung berlari maju.
Namun Sri Maharaja mengangkat tangan.
“Jangan mendekat!”
Beliau terbatuk darah.
Tatapan matanya berubah serius.
Lalu—
SRET!
Sri Maharaja melempar sesuatu ke arah Arya.
Arya refleks menangkapnya.
Sebuah keris hitam.
Pendek.
Gelap.
Dan dipenuhi ukiran naga merah di seluruh bilahnya.
Namun anehnya…
Keris itu terasa hangat.
Seolah hidup.
Mata Arya membesar.
“Ayah… ini…”
“Bawa keris itu… dan pergilah…” suara Sri Maharaja mulai melemah.
“Apa maksud Ayah?”
Tatapan sang Maharaja berubah tajam.
“Menyatukan Nusantara… adalah takdirmu…”
DEG!
Arya membeku.
Takdir?
Belum sempat ia bertanya—
DUAAARRR!
Jagat Brama menghantam tubuh Sri Maharaja dengan kapaknya hingga beliau terpental menabrak singgasana kerajaan.
Singgasana emas itu hancur berkeping-keping.
“Ayah!”
Arya menyerang sambil mengayunkan pedangnya.
Namun
BUGHH!
Jagat Brama hanya meninju perut Arya sekali.
Tubuh pemuda itu langsung terpental dan menghantam lantai aula.
“Ughhh!”
Darah keluar dari mulut Arya.
Tubuhnya terasa hancur.
Terlalu kuat…
Jagat Brama berjalan mendekat perlahan sambil membawa kapaknya.
Tatapannya penuh penghinaan.
“Putra mahkota Tirta Langit ternyata selemah ini?”
Arya mencoba bangkit.
Namun kakinya gemetar.
Ia bukan tandingan monster itu.
Jagat Brama mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
“Anak Rakai Mahendra harus mati malam ini.”
Arya menggertakkan gigi.
Sial…
Apa semuanya berakhir seperti ini?
Namun tiba-tiba
DUM…
DUM…
DUM…
Suara aneh terdengar dari keris hitam di tangan Arya.
Seperti detak jantung.
Ruangan mendadak menjadi dingin.
Api-obor di aula mulai padam satu per satu.
Jagat Brama berhenti melangkah.
Tatapan dinginnya berubah.
“…Keris itu…”
Untuk pertama kalinya…
Panglima perang Rajegwesi terlihat takut.
Ukiran naga merah di bilah keris mulai menyala terang.
Bayangan hitam perlahan keluar dari permukaan keris.
Dan saat Arya menatapnya
sepasang mata merah menyala muncul dari dalam kegelapan.
Suara berat dan mengerikan menggema di dalam kepala Arya.
“AKHIRNYA… PEWARIS ITU TELAH DATANG.”