
- Jumlah kata
- 1.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0

Jauh di sebuah pulau tropis yang terpencil namun memukau, hiduplah seorang pria muda bernama Fiki. Ia dikenal di desa pesisirnya sebagai seorang dive guide yang handal, pemberani, dan memiliki ketampanan yang memikat. Hari-harinya dihabiskan untuk menjelajahi keindahan terumbu karang yang luas di bawah permukaan laut biru yang jernih. Namun, lautan bukan satu-satunya misteri di pulau itu.hutan lebat yang menyelimuti bagian tengahnya menyimpan rahasia kuno yang dijaga ketat oleh legenda desa.Suatu hari, ketika cuaca buruk menghentikan kegiatan menyelam,Fiki memutuskan untuk melakukan perjalanan santai ke arah perbukitan. Tanpa disadari, rasa ingin tahunya yang besar membawanya semakin jauh dari jalur aman, hingga ia memasuki bagian hutan yang belum pernah dijamah manusia. Di tengah keheningan, ia menemukan sesuatu yang tak terduga: Velia seorang gadis cantik dari desanya sendiri, sedang berjalan berputar-putar dalam ketakutan. Ia tersesat, dan kepanikan membuatnya mengira Fiki adalah seekor binatang buas.Dari pertemuan yang tak disengaja ini, dimulailah sebuah petualangan baru bagi sang pemandu selam. Mereka harus bekerja sama, mengandalkan keberanian dan naluri bertahan hidup, untuk menemukan jalan kembali ke desa mereka melalui labirin hutan yang penuh dengan keajaiban tersembunyi dan bahaya yang tak terduga. Sepanjang perjalanan, mereka akan menemukan bahwa ikatan di antara mereka tumbuh lebih kuat dari sekadar tetangga satu desa, mengungkap kebenaran di balik legenda hutan, dan membuktikan bahwa keberanian yang sesungguhnya terkadang ditemukan di tempat-tempat yang paling tidak terduga.
Di sebuah desa yang terpencil letaknya, di pulau yang sangat indah, tinggallah seorang pria yang tampan dan pemberani yang bernama Fiki. Sehari-hari, Fiki bekerja sebagai seorang dive guide. Lautan dan terumbu karang yang memukau di sekitar pulau sudah menjadi rumah keduanya, tempat ia memandu para wisatawan menikmati keindahan bawah air.
Namun hari itu, karena cuaca sedang kurang bersahabat untuk menyelam, Fiki memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan berjalan-jalan ke arah bukit. Tanpa rencana, langkah kaki membawa Aku semakin jauh, hingga tanpa sadar Aku telah memasuki bagian hutan lebat yang jarang dijamah orang. Suasana hutan begitu tenang, hanya terdengar suara kicauan burung dan gesekan daun-daun raksasa.
Di tengah keheningan hutan itu, langkahku tiba-tiba terhenti. Di balik rimbunnya pepohonan, secara tidak sengaja Aku melihat sesosok gadis cantik yang juga berasal dari desa yang sama dengan tempat tinggalku.
Namun, ada yang aneh. Gadis itu tidak sedang berjalan santai, melainkan tampak kebingungan sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah cemas. Gadis itu terus berjalan berputar-putar di tempat yang sama. Sedangkan aku segera menyadari bahwa gadis cantik tersebut sedang tersesat di dalam lebatnya hutan.
Agar tidak mengejutkannya, aku melangkah menghampiri perlahan.aku sengaja menginjak beberapa ranting kering di tanah agar langkah kakiku terdengar samar-samar, memberi tanda bahwa ada orang yang datang. Ketika jarak sudah cukup dekat, dengan suara yang lembut dan ramah, Aku menyapa :
"Permisi... kamu tidak apa-apa?"
"Aakh!" Gadis itu tersentak kaget dan langsung melompat mundur.
Wajah cantiknya seketika pucat pasi karena terkejut. Dengan napas yang memburu, ia refleks memasang posisi waspada, mengira suara langkah kaki dan sapaan tadi berasal dari binatang buas yang siap menerkamnya dari balik semak-semak. Matanya yang bulat membelalak ketakutan, menatap liar ke arah aku dengan jantung yang berdebar kencang.
Melihat kepanikan di wajah gadis itu, aku langsung mengangkat kedua tanganku terbuka di udara, memberikan isyarat bahwa aku sama sekali tidak berbahaya.
"Hei, tenang... jangan takut. Ini aku, manusia, bukan binatang buaa"
ucapku cepat dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, dibarengi dengan senyuman ramah yang menenangkan.
"Aku juga berasal dari desa yang sama denganmu."
Mendengar suara manusia yang begitu tenang, perlahan-lahan ketegangan di pundak gadis itu mengendur. Ia menurunkan posisi waspadanya, meskipun napasnya masih sedikit memburu. Sepasang matanya yang bulat menatap lurus ke arah Fiki, memperhatikan kedua tangan Fiki yang masih terangkat di udara.
"Fiki?" bisik gadis itu ragu, suaranya agak bergetar.
Tatapannya beralih mengenali wajah fiki di depannya.
"Kamu... Fiki si pemandu selam dari desa bawah bukit, kan?"
Fiki tersenyum lega lalu perlahan menurunkan tangannya.
"Iya, benar. Aku Fiki.
Dan kamu... Velia, anak Pak RT yang rumahnya dekat dermaga lama, kan?"
Velia langsung mengangguk cepat. Rasa takut akan binatang buas seketika lenyap, digantikan oleh rasa lega yang teramat sangat hingga matanya berkaca-kaca. Logika yang sempat hilang karena panik kini kembali merajai pikirannya.
"Oh, syukurlah..."
Velia mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhnya sedikit rileks.
"Aku benar-benar mengira akan menjadi santapan macan atau ular raksasa tadi."
Fiki terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana agar Velia tidak lagi tegang.
"Hutan ini memang lebat, tapi untungnya tidak ada binatang buas seperti itu di sini. Tapi, Velia, apa yang kamu lakukan di bagian hutan sedalam ini sendirian? Jalur setapak desa sudah tertinggal jauh di belakang."
Velia menunduk, menatap keranjang anyaman kecil yang dipegangnya dengan erat, lalu menatap Fiki dengan wajah sedikit tersipu malu. "Aku tadi berniat mencari jamur hutan dan beberapa tanaman hias di pinggiran bukit. Tapi, entah bagaimana, aku keasyikan berjalan dan tiba-tiba menyadari kalau semua arah terlihat sama.
"Aku... aku tersesat, Fiki."
Mendengar pengakuan Velia, Fiki tidak tampak panik sedikit pun. Ketenangannya seolah menular, membuat debar jantung Velia yang semula memburu kini mulai melambat.
Fiki merogoh saku rompi gunung yang dikenakannya, lalu mengeluarkan sebuah benda bulat bermaterial kuningan yang tampak kokoh. Sebuah kompas bidik khusus. Benda itu bergoyang pelan sebelum jarum magnetnya menunjuk dengan pasti ke satu arah.
"Jangan khawatir, Velia,"
kata Fiki sambil menunjukkan kompas itu dengan senyuman tipis.
"Di laut, tidak ada tanda jalan sama sekali, dan aku tetap bisa membawa wisatawan pulang dengan selamat. Menghadapi hutan ini, prinsipnya sama saja. Kita punya kompas ini."
Velia melangkah mendekat, memperhatikan benda di tangan Fiki dengan saksama. Ada rasa kagum yang terselip di hatinya melihat betapa tenangnya pria di hadapannya ini.
"Kamu... tahu jalan keluar dari sini?"
"Tentu saja," jawab Fiki.
Ia mendongak, melihat posisi matahari yang samar-samar menembus rimbunnya kanopi pohon, lalu mencocokkannya dengan arah jarum kompas.
"Desa kita berada di arah barat daya dari posisi bukit ini. Selama kita berjalan mengikuti arah ini, kita akan keluar tepat di dekat dermaga lama."
Fiki mengantongi kembali kompasnya, lalu berbalik dan menatap Velia dengan pandangan protektif.
"Ikuti langkahku, ya."
Tetap di belakangku dan perhatikan pijakanmu. Hutan ini agak licin setelah hujan semalam.
Velia mengangguk patuh.
"Baik, Fiki. Terima kasih."
Fiki mulai berjalan memimpin di depan, sesekali mematahkan ranting kecil atau membersihkan semak berduri dengan tangannya yang kekar agar Velia bisa lewat dengan mudah. Velia berjalan tepat di belakangnya, merasa jauh lebih aman daripada beberapa menit yang lalu.
Sekitar lima belas menit mereka berjalan membelah rimbunnya hutan, suara gemuruh air yang mengalir deras mulai terdengar dari kejauhan. Langkah Fiki melambat hingga akhirnya benar-benar terhenti di tepi sebuah aliran sungai kecil.
Jalur yang seharusnya mereka lewati kini terputus. Akibat hujan lebat semalam, sungai kecil yang biasanya dangkal itu berubah menjadi aliran air yang cukup deras dengan luapan yang menggenangi bebatuan besar di sekitarnya.
Velia mengintip dari balik punggung Fiki, dan wajahnya seketika kembali cemas.
"Fiki... bagaimana kita bisa lewat? Arusnya kelihatan sangat deras, dan batunya pasti licin sekali."
Fiki mengamati situasi dengan tenang. Sebagai seorang dive guide, air adalah dunianya. Ia tahu persis bagaimana membaca pergerakan arus. Ia melangkah maju, menapakkan salah satu sepatu gunungnya ke atas batu besar yang menonjol di tengah aliran sungai untuk menguji kekokohannya.
"Batunya cukup kuat, Velia. Jalur ini masih bisa dilewati," ujar Fiki sambil berbalik.
Ia mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arah Velia.
"Tapi kamu tidak bisa menyeberang sendirian. Sini, pegang tanganku erat-erat."
Velia menatap telapak tangan Fiki yang terbuka, lalu mendongak menatap sepasang mata pria itu yang memancarkan rasa aman. Jantung Velia tiba-tiba berdegup sedikit lebih kencang, dan kali ini bukan karena takut tersesat.
Dengan perlahan, Velia menyambut uluran tangan Fiki. Sentuhan kulit mereka terasa hangat di tengah dinginnya udara hutan. Jemari Fiki langsung menggenggam tangan Velia dengan mantap dan protektif, memastikan gadis itu tidak akan tergelincir.
"Langkah pertama, pijak batu yang di sebelah kiri ini"
instruksi Fiki dengan suara lembut namun tegas, menuntun pergerakan Velia.
Dengan hati-hati, Velia melangkah. Mengikuti arahan Fiki, ia melompati bebatuan satu demi satu. Namun, tepat di tengah sungai, sebuah batu yang diinjak Velia ternyata agak berlumut. Kakinya tergelincir.
"Aaah!"
Velia memekik, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Sebelum Velia sempat terjatuh ke dalam air yang deras, dengan refleks yang sangat cepat, Fiki menarik tangan Velia ke arahnya. Tangan kiri Fiki dengan sigap langsung merengkuh pinggang Velia, menahan tubuh gadis itu agar tetap tegak.
Dalam sekejap mata, posisi mereka menjadi sangat dekat. Velia bersandar sepenuhnya pada dada bidang Fiki, sementara napas mereka berdua memburu karena terkejut. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Mereka saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat, hanya ditemani oleh suara gemuruh air sungai di bawah mereka.
Fiki menatap mata bulat Velia dengan pandangan dalam, memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Kamu... tidak apa-apa?" tanyanya lirih,
memastikan suaranya terdengar di antara deru air.
Wajah Velia seketika merona merah, untungnya rona itu bisa tersamarkan oleh hawa dingin hutan.
"Aku... aku tidak apa-apa, Fiki. Terima kasih,"
jawab Velia setengah berbisik, perlahan mencoba menata kembali detak jantungnya yang kini berantakan karena hal lain.
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.