

Aku menumpahkan semua isi dompet cokelat lusuhku ke atas meja kayu milik paman penjaga toko.
Kling! Ting!
Koin-koin Chart¹ berhamburan, menciptakan gunungan kecil berwarna perak dan emas yang berkilau di bawah temaram lampu toko. Paman tua di hadapanku ternganga, tampak tak percaya melihat hasil tabunganku.
"Bagaimana? Apa masih kurang?" ujarku sembari menyeringai sombong, lalu mengusap hidung dengan ibu jari.
"Tidak. Ini bahkan menyisakan banyak," jawab paman berjenggot panjang berbentuk huruf U itu. Kedua tangannya yang mulai keriput meraba-raba kemeja hijau rapinya, mencari kacamata rantai dengan satu lensa bulat miliknya.
"Biar saya hitung dulu, Nak."
"Baiklah," sahutku.
Aku berjalan meninggalkannya seraya menarik tali tas serut untuk menutupnya kembali. "Aku mau lihat-lihat sebentar. Panggil aku kalau sudah selesai."
Paman tua itu tidak menjawab. Ia terlalu sibuk menatap tumpukan Chart dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa-sisa rasa terkejut.
Aku melangkah lambat, menyusuri sela-sela rak yang dipenuhi tumpukan buku. Jujur, aku selalu takjub setiap kali melihat ribuan jilid buku yang tersusun rapi bak barisan bata sebuah tembok kastel. Sayangnya, aku tidak bisa membawa mereka semua pulang. Untuk saat ini, gulungan itu adalah prioritasku.
Tapi tunggu saja, batasku dalam hati. Kelak, aku akan memiliki perpustakaan sendiri. Sebuah tempat yang semegah dan seluas imajinasiku. Itulah impian besarku.
"Sudah, Nak. Kemarilah," panggilan dengan suara berat memecah lamunanku.
"Baik, Paman." Aku berbalik, melangkah tegap mendekati meja kasir. Sedikit kuangkat daguku, bersiap memasang kembali raut sombong andalanku.
"Totalnya seribu dua ratus Chart emas," sebut paman itu sembari memasukkan sisa uangku kembali ke dalam dompet lusuh tadi.
Mendengar angka itu, kedua alis sepasangku bertaut curiga. Aku memiringkan kepala, mempertahankan tatapan penuh selidik. "Bukankah harganya dua ribu Chart emas?" tanyaku heran.
Aku ingat betul kejadian tahun lalu saat aku hendak membelinya. Waktu itu tabunganku masih sangat sedikit, membuat negosiasi kami berakhir dengan kegagalan total. Yah, tidak mungkin harganya turun drastis tanpa alasan, kan? Kecuali... ada diskon tersembunyi.
"Benar. Anggap saja ini potongan harga dariku," jawab paman toko, kali ini sebuah seringai manis terukir di wajah tuanya yang biasa ketus.
"T-terima kasih..." Ucapanku terbata. Wajah sombongku yang tadinya kokoh langsung luntur, berganti rasa sungkan yang bercampur aduk dengan rasa heran. Aku tidak menyangka paman tua pemarah yang kerap membelalakkan mata kepadaku ini ternyata bisa menjelma jadi sosok yang begitu baik hati.
"Ini gulunganmu. Saya masih tidak menyangka anak kecil nakal yang dulu suka mengacau di sini sekarang sudah tumbuh sedewasa ini," ujar paman toko sembari menyodorkan sebuah gulungan kertas beralaskan kulit tipis.
"I-iya, terima kasih banyak," jawabku canggung.
Pikiranku mendadak terlempar ke masa lalu.
Dulu, setiap kali berkunjung ke Eden City, aku selalu menyempatkan diri mampir ke toko ini hanya untuk menempelkan wajahku di kaca depan, menatap deretan buku dengan tatapan penuh damba.
Bahkan, tak jarang aku menyelinap masuk tanpa izin, berlarian mengitari seisi ruangan hingga membuat paman ini berteriak naik pitam.
"Oh ya, siapa namamu?" Suara tegas paman tua itu menyela jalinan ingatan lamaku. Ia menyodorkan tangan kurusnya yang berurat ke hadapanku.
Aku menjawab jabat tangan eratnya sembari menyeringai.
"Aspecz… cuma Aspecz. Panggil saja As," ucapku dengan lantang.
"Semoga perjalananmu menyenangkan, As," jawabnya.
Aku berjalan keluar ruangan sambil melambaikan tangan dengan percaya diri. Ya, terima kasih, Paman.
Krieeek!
Aku melangkah keluar sembari menutup pintu toko pelan.
Namaku As, keturunan terakhir keluarga Quintus. Langkah tegasku beralaskan sepatu bot kulit hitam membelah keramaian jalanan pasar di Eden City. Orang tua? Entahlah. masih sangat samar jika membahas perihal mereka.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tatapanku berbinar, seakan baru saja menemukan harta karun tersembunyi.
"KOTA YANG MENGAGUMKAN!"
Aku langsung menutup mulut dengan cepat. Sepertinya aku kelepasan berteriak. Tapi salah sendiri, siapa juga yang tidak akan tertarik jika melihat jajaran buku indah terpampang di sana-sini?
Aku berhenti di depan sebuah toko kelontong, berdiri menyandar sembari menunggu.
Ting!
Suara bel pintu berdenting memecah lamunan. Aku menoleh kaget saat seorang wanita paruh baya keluar membawa tas belanjaan yang tampak penuh. Ia tersenyum, lalu menepuk pundakku pelan.
"Sudah selesai, As?" Suara lembutnya menyapa, seketika menghangatkan soreku.
"Ya, benar saranmu, Bunda. Paman tadi punya peta lengkap yang murah," jawabku dengan senyum lebar yang tak bisa kusembunyikan.
"Ayo pulang," ajak wanita itu sembari menarik tanganku, menggaetnya erat layaknya seorang ibu yang tak ingin kehilangan anaknya di tengah keramaian.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Ada semburat hangat sekaligus malu yang menjalar di pipiku. Bagaimana tidak? Umurku sudah hampir kepala dua, tapi di matanya, aku tetaplah bocah kecil yang harus dituntun.
Wanita paruh baya ini adalah Mater Tammy. Bagi anak-anak di Panti Zoya—termasuk aku—ia adalah sosok ibu pengganti yang merawat kami dengan ketulusan tanpa batas. Ah, sial, aku malah melamun dan membiarkannya membawa beban berat!
"Biarkan aku yang membawa tasnya, Bunda," ucapku was-was, langsung mengambil alih kantong belanjaan dari tangannya.
"Oh... Terima kasih, Nak." Mater Tammy tersenyum teduh, lalu mengusap lembut rambut di kepalaku.
Sesampainya di penginapan, aku langsung mengantar Mater ke kamarnya dan meletakkan tas-tas belanjaan di atas meja kayu.
"Kamu bebas pergi ke mana saja sore ini, As. Besok siang kereta kuda kita sudah datang," ucap Mater Tammy sembari merapikan barangnya.
"Siap, Bunda! Aku cuma mau duduk di atap seperti biasa."
"Jangan begadang!" ujarnya memperingatkan dengan tatapan menyelidik.
"I-iyaaa..." jawabku lemas, pura-pura cemberut.
Duk, duk... Hyaat!
Dengan satu hentakan kaki, aku berhasil memanjat dan langsung merebahkan diri di atas atap penginapan yang landai.
"Ah, segarnya angin sore..." bisikku pada langit.
Langit senja Eden City merona jingga dengan cuaca yang begitu bersih. Menatap awan yang berarak pelan membuat pikiranku melayang jauh. Kapan Kak Sonya akan berkunjung ke panti lagi, ya? Lalu si kecil Mundus... semoga bocah nakal itu tidak mengacaukan panti selama aku dan Mater pergi.
"Oh, iya! Hampir lupa!"
Aku langsung duduk sigap. Rasa penasaran mendadak membakar dadaku. Dengan cepat, kuambil gulungan kertas besar dari dalam tas serut.
"Mari kita lihat apa yang kita dapatkan tadi."
Perlahan, kubuka gulungan itu. Aroma tinta segar dan wangi khas alas kulit tipis langsung menyeruak. Di bagian atas, sebuah judul tertulis dengan megah: TERRARIA ETERNUM.
Akhirnya, sebuah peta yang nyata dan mudah dimengerti ada di tanganku. Yah, meskipun garis-garis grid skalanya agak sedikit mengganggu estetika gambarnya yang menakjubkan, ini sudah lebih dari cukup.
"Tapi... bukankah akan jauh lebih seru jika tanpa garis grid ini?" gumamku sembari mengusap permukaan peta.
Ya, tanpa sekat dan batas buatan manusia, aku justru bisa merasakan esensi yang sesungguhnya dari sebuah petualangan: tersesat dan menemukan hal baru.
Selang beberapa waktu…
"Ah! Apakah aku ketiduran? Jam berapa sekarang?" gumamku sembari mengerjapkan mata yang terasa berat.
Sial. Langit di atas Eden City sudah sepenuhnya gelap dan aku terbangun dalam pelukan hawa dingin yang menusuk tulang. Aku harus segera kembali ke kamar sebelum Mater Tammy memergokiku yang belum juga tidur.
Aku bergegas mendekati tepi atap, memeluk tiang kayu penyangga yang kokoh, lalu menyilangkan kedua kaki bersiap untuk melorot turun.
Sriiiit... Dup!
Aku mendarat mulus di balkon depan kamarku. "Huft, aman!" bisikku lega. Untung saja kamar Mater Tammy berada di lantai dua, tepat di bawah kamarku.
Biasanya kami memesan kamar yang bersebelahan, dan susunan kamar vertikal seperti inilah yang sering kali membuatku tepergok saat nekat begadang.
Klap-ktak! Klap-ktak!
Suara gesekan roda kayu dan entakan lambat telapak kaki kuda dari arah jalanan bawah seketika memicu rasa penasaranku. Aku melongokkan kepala melewati pagar pembatas balkon.
Hmm? Kereta kuda tingkat? Mataku menyipit, berusaha mengenali sebuah lambang yang tertera di badan kereta. Sebuah panji merah dengan gambar matahari putih di tengahnya.
Mori Empire? Ada urusan apa bangsawan dari Keluarga Mori ke kota ini malam-malam? batinku penuh tanya.
Saat kereta itu melintas pelan di bawah balkon, tirai jendelanya sedikit tersingkap. Tampak sekilas siluet seorang perempuan di balik kaca. Entah bagaimana, ia mendongak dan tatapan kami bertemu. Sepasang netra merah menyala dengan bentuk pupil unik bak matahari berwarna putih menatap lurus ke arahku.
"Cantik..." desisku tanpa sadar.
Perempuan itu tiba-tiba memejamkan mata, mengulas senyum manis yang misterius, sebelum akhirnya memalingkan wajah kembali ke dalam kegelapan kereta. Rambut hitam indahnya yang tergerai jatuh melewati telinga, samar-samar menyembunyikan lesung pipi di wajahnya.
Ups! Apakah posisiku terlalu mencolok sampai menarik perhatian putri bangsawan itu? Aku terkekeh pelan sembari mengusap tengkuk. Yah, pesona orang tampan memang susah disembunyikan, sih. Hehe.
Ciiit... Klek.
Aku buru-buru menyelinap masuk dan mengunci pintu balkon. Dengan langkah setengah huyung karena sisa kantuk, aku berjalan ke arah cermin kotak panjang yang berdiri sejajar dengan meja kayu. Aku melepas tas serut, meletakkannya dengan hati-hati, lalu menanggalkan jubah putih seragam khas Panti Zoya.
Aku menatap pantulan diriku di cermin, lalu tersenyum lebar.
"Nah, loh. Bukannya sombong, tapi aku memang tampan," gumamku narsis, meletakkan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf V di bawah dagu.
Aku menunduk, mengusap noda debu yang menempel di kaus hitamku. Apakah selera pakaianku aneh? Tidak, bagi seorang petualang, inilah yang disebut unik.
Kaus hitam panjang ketat dengan potongan tanpa lengan di sisi kanan, dipadukan dengan celana panjang hitam yang senada. Tak lupa sepasang bot hitam dengan kerah lipat di bagian atas. Ini sepatu prajurit model kekinian, tahu! belaku dalam hati.
Dengan cepat aku berganti pakaian tidur—atau lebih tepatnya, hanya memakai celana tidur. Aku selalu lebih nyaman tidur dengan dada terbuka, membiarkan kulitku merasakan langsung embusan sejuk udara malam.
Bruk!
Aku menjatuhkan diri ke atas kasur empuk, telentang dengan kedua tangan terbuka lebar. Baiklah, waktunya tidur. Cuci muka sudah, melipat pakaian sudah, mengunci pintu sudah... Oh, aku belum menata rambut.
"Biarkan sajalah," gumamku malas sambil melirik helaian rambut cokelat gelapku yang berantakan. Tanganku bergerak refleks, mengelus dan merapikan sedikit ujung rambut panjangku agar tidak terselip atau tertarik saat aku membalikkan badan nanti.
Tangan kiriku terangkat, menarik tali sakelar lampu kecil di dekat ranjang. Cahaya seketika padam, menyisakan berkas pendar sinaran bulan yang menerobos masuk dari celah ventilasi kamar.
Namun, entah mengapa, bayangan sepasang netra merah menyala bak matahari putih milik gadis di dalam kereta tadi masih enggan pergi dari benakku. Seolah menjadi pertanda bahwa hari esok tidak akan berjalan sehangat biasanya.
"Selamat tidur…”
———
¹Chart: Mata uang sah di Terraria Eternum, berupa koin perak dan emas.
———