Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tekad Perintis Menuju Puncak

Tekad Perintis Menuju Puncak

Cenkzy | Bersambung
Jumlah kata
55.9K
Popular
100
Subscribe
33
Novel / Tekad Perintis Menuju Puncak
Tekad Perintis Menuju Puncak

Tekad Perintis Menuju Puncak

Cenkzy| Bersambung
Jumlah Kata
55.9K
Popular
100
Subscribe
33
Sinopsis
18+PerkotaanAksiGangsterMafiaPria Miskin
Di dunia yang keras sejak usia 10 tahun, Arhan tumbuh dengan penuh tekanan. Ia sering diremehkan, dihina, bahkan tidak dianggap oleh keluarganya sendiri. Namun di balik semua itu, ia menyimpan satu mimpi besar: menjadi pengusaha nomor 1 di dunia. Perjalanan itu tidak ia lalui sendirian. Ada Leon, sahabat yang selalu setia mendampinginya dalam setiap jatuh dan bangkit. Ada juga Sabrina, sosok yang perlahan menjadi alasan Arhan tetap bertahan ketika dunia terasa terlalu berat untuk dilawan. Dari sebuah janji sederhana di masa kecil, hubungan mereka menjadi pengikat yang terus menjaga Arhan tetap melangkah maju. Arhan memulai semuanya dari nol, tanpa kekuatan, tanpa dukungan besar, hanya tekad yang semakin lama semakin kuat. Namun dunia yang ia hadapi bukan dunia biasa. Di balik industri bisnis yang terlihat normal, terdapat musuh-musuh dengan kekuatan yang tidak masuk akal—mereka mampu mengguncang pasar global dalam sekejap, menghancurkan perusahaan tanpa jejak, dan mengendalikan arah dunia bisnis seolah hanya permainan di tangan mereka. Setiap langkah Arhan selalu menjadi target. apakah arhan bisa menjadi puncak atau tumbang ditengah jalan?
Diusir dari rumah

Disebuah kontrakan kecil.

"PERGI DARI SINI!! MAMAH BENCI SAMA KAMU!! GARA-GARA KAMU MAMAH DICERAIKAN SAMA PAPAH KAMU!! ARGHHHH!!" Teriak wanita berusia 26 tahun yang tengah hamil, dengan tatapan berkobar-kobar. Dia Ranti, ibunya arhan.

Arhan putra Pratama yang berusia 10 tahun seketika menunduk sedih.

"HARUSNYA KAMU NGGAK PERNAH LAHIR KEDUNIA INI!! HARUSNYA KAMU MAMAH GUGURIN AJA WAKTU DULU!! MAMAH JIJIK NGELIAT WAJAH KAMU!! SANA PERGI ANAK SIALAN!! ANAK NGGAK BERGUNA!! PERGII!!"

Deg!

Hati arhan hancur berkeping-keping mendengar perkataan sang ibu yang selalu saja menyalahkan dan membencinya tanpa tahu apa kesalahan yang ia perbuat.

"PERGI!!" Amarah Ranti meledak, ia menunjuk pintu.

Tanpa membalas. Arhan langsung melangkah keluar kontrakan.

"JANGAN PERNAH PULANG KESINI LAGI!!" Setelah berkata seperti itu, Ranti membanting pintu kontrakan dengan keras.

Brak!

Arhan terhenyak. Ibunya tega mengusirnya?

"Baiklah. Aku nggak akan pulang lagi." Gumam arhan lirih.

Ia melangkah sambil menunduk, menyembunyikan air matanya, juga menghiraukan tatapan para tetangga yang berbisik-bisik usai menyaksikan keributan itu.

"Kasihan sekali ya dia." Bisik ibu-ibu menatap iba.

"Kamu nggak denger? Ibunya diceraikan gara-gara dia?" Kata salah satu ibu-ibu lain.

"Cih! Kalo aku jadi ibunya, bakal aku bejek-bejek tuh anak kayak gitu!" Geram ibu-ibu lain.

"Iya, dasar anak sialan kamu! Kecil-kecil sudah menghancurkan rumah tangga orang tuanya sendiri."

"Ish! Dia benar-benar menjijikan." Bisik ibu-ibu memandang jijik fisik arhan yang kotor dan penuh luka-luka yang masih baru.

Tatapan-tatapan lain ikut mengikuti, menilai dari ujung kepala sampai kaki. Pakaian Arhan kotor, tubuhnya penuh luka baru yang belum sempat sembuh, membuat orang-orang justru semakin menjauh tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Menjijikan! Huek!" Salah satu ibu-ibu mau muntah.

"Bocah nakal!" Sinis ibu-ibu tua.

"Jangan-jangan ayahnya menceraikan ibunya gara-gara jijik dengan penampilan anaknya yang seperti gembel ini!"

Bisikan itu terdengar ditelinga arhan. Namun, ia mengabaikan semuanya karena apa yang mereka dengar dan saksikan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang dialaminya.

Ayahnya—adrian, menceraikan ibunya karena sudah memiliki wanita lain dan menikah dengannya, lalu mengkambing hitamkannya seolah-olah dialah penyebab utamanya.

Arhan terus berjalan melewati gang-gang sempit, mengabaikan tatapan sinis para tetangga yang termakan omongan ibunya.

Di matanya, tidak ada lagi air mata, yang ada hanyalah api dingin yang mulai membeku.

"Dikhianati oleh keluarga sendiri jauh lebih sakit dari pada dikhianati orang lain." Gumam arhan.

Sialan? Jijik? Anak nggak berguna?

Kalimat itu terus terngiang-ngiang dibenaknya seperti kaset rusak.

Arhan melangkah tanpa tahu arah. Tanpa tahu kemana ia akan pergi setelah diusir.

Ia pergi dengan modal nekat dan luka hati, tanpa membawa apa pun yang bisa menjadi pegangan untuk bertahan di tengah kejamnya dunia. Selain uang 5 ribu rupiah.

"Apa aku bisa bertahan?" Batinnya bertanya-tanya.

Ia mendongak, menatap air hujan yang membasahi wajahnya.

"Fisikmu nggak sesuai sama umurmu!"

"Kau seperti wanita simpanan!"

"Berapa tarifmu? Hahahah!"

Arhan tersentak mendengar suara-suara itu.

Pandangannya reflek terarah kedepan.

"Astaga! Apa yang mereka lakukan!" Arhan mengepalkan kedua tangannya.

Di sana seorang wanita sedang memeluk lututnya, duduk diam di sudut. Ia tampak dirundung oleh empat bocah. dua laki-laki dan dua perempuan yang mengelilinginya sambil terus mengganggu dan mengejeknya.

Krek! Cletak!

Tanpa pikir panjang, Arhan maju sambil membawa balok besar yang ia copot dari kursi kayu.

"Ka-"

"Jangan ganggu dia!" Potong arhan.

Sontak, keempat bocah itu menengok.

"Siapa kamu?" Tanya bocah laki-laki pertama, dengan ekspresi terkejut.

"Pergi sebelum kalian mati ditanganku!"

Suara misterius itu berhasil membuat keempat bocah itu lari ketakutan.

"Ha-hantu!"

"Setannn!!!!"

Bruk!

"Mamah!! Hiks!!" Teriak bocil perempuan itu terisak saat keselandung batu dan jatuh.

"Astaga! Kamu sangat menyusahkan!" Bocil laki-laki yang satunya mengomel. Meski takut, ia tetap menolong.

Arhan menyaksikan bocil yang jatuh itu ditolong oleh teman-temannya, sebelum akhirnya di gendong dan dibawa kabur dari sini.

"Hiks... Hiks..."

Arhan menengok ke sumber suara. Dia wanita yang dibully itu. Masih dengan posisi memeluk kedua lututnya.

Dengan cepat, ia langsung menghampiri seorang wanita yang terlihat sudah dewasa itu dan berjongkok tepat dihadapannya.

"Mereka sudah pergi, kak." Ucapnya lembut.

Gadis itu

Tangis gadis itu terhenti, kepalanya mendongak. "Aku bukan kakak-kakak!" Marahnya.

Arhan mengerutkan dahi. "Terus siapa? Mbak?"

"Huaaaa! Mamih! Dia ngejek aku!" Gadis itu kembali menangis sambil memeluk kedua lututnya.

"Maaf... Aku nggak bermaksud ngatain kamu." Ucap arhan gelagapan sambil celinguk kesana kemari. Panik takut jadi tersangka.

Gadis itu mendongak. "Makanya kalo nggak tau! Nggak usah ngata-ngatain!" Omelnya manyun sambil mengusap air matanya.

Arhan menggulum senyum. Merasa lucu dengan tingkahnya, juga mukanya yang sangat imut.

"Berapa umurmu?" Tanya arhan penasaran.

"8 tahun." Balas gadis itu.

"8 tahun?" Arhan reflek menelisik fisik gadis itu.

Dia terlihat dewasa. Bo kongnya berisi. Da Danya juga udah berisi. Mana mungkin gadis ini seorang bocah.

Fisiknya aja seperti wanita usia 20 tahun keatas.

Untung ia masih kecil. Jadi tak ada pikiran aneh-aneh.

"Kamu nggak percaya? Kamu mau ngata-ngatain aku lagi? Iya? Yaudah! Kata-katain aja!" Gadis itu tersinggung dengan ekspresi arhan.

Arhan geleng-geleng kepala. "Kamu sensitif banget jadi orang."

"Biarin!" Gadis itu bersedekap dada. Ia menelisik balik penampilan arhan. "Pipimu kenapa?" Gadis itu menunjuk kedua pipi arhan yang diplester. "Terus ini kenapa banyak luka-luka?" Tunjuknya pada lengan-lengan arhan yang terdapat bekas luka gores dan d4 rah yang mengering dibeberapa bagian. "Astaga luka kamu banyak sekali? Kamu habis ngapain?" Tanya gadis itu bingung menunjuk luka-luka dibagian kaki arhan.

Arhan nyengir. "Aku habis berantem sama orang." Ngarangnya asal. Tak mungkin ia memberi tahu yang sebenarnya.

"Ya Tuhan! Kamu ini!" Gadis itu tampak khawatir. "Sakit nggak?"

Arhan menggeleng. "Nggak kok."

"Bener?"

"Iya!"

"Ka-"

"Sebentar! Kamu mau ke warung!" Kata Arhan bangkit dari jongkoknya.

"I-ikut." Pinta gadis itu.

"Tunggu sebentar. Aku balik lagi kok." Ucap arhan.

Gadis itu menunduk.

Arhan mengernyit bingung. "Kenapa?"

"A-aku takut mereka Dateng lagi."

Arhan tersentak pelan. "Mereka nggak akan Dateng. Kalo mereka Dateng! Aku usir. Tenang aja." Arhan memegang kedua pundak gadis itu.

Gadis itu mendongak. "Tapi."

"Percaya sama aku." Arhan serius.

Gadis itu menghela nafas berat. "Yaudah. Jangan lama-lama ya!"

Arhan mengganguk. Tak lama ia pergi.

Gadis itu menatap kepergiannya.

Berselang 3 menit, arhan kembali membuat mata gadis itu berbinar dan segera berdiri.

"Akhirnya kamu Dateng." Ucapnya senang.

Arhan sampai mendongak. Tinggi sekali gadis ini. Beda dengan dirinya yang sangat pendek, sekitar 124cm.

Menurut perkiraannya gadis itu memiliki tinggi 152 cm. Selisih 30 cm dengannya.

Arhan ngerasa insecure masalah tinggi badan. Masa dirinya kalah tinggi dengan gadis umur 8 tahun.

"Hai?" Gadis itu melambaikan tangannya didepan wajah arhan.

"Eh!" Arhan tersadar dari lamunannya. "Ayo duduk!" Ajak arhan kemudian duduk sekalian neduh dari hujan deras.

"Kamu ngapain basah-basahan sih! Nanti kalo kamu sakit gimana?" Omel gadis itu khawatir menatap arhan yang basah total dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Arhan menatap gadis itu lama. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang memerhatikannya seperti itu.

"Udah tahu dingin, masih aja mau kewarung! Kalo kamu kenapa-kenapa gimana? aku tuh khawatir banget tau kalo kamu kenapa-kenapa, tapi kamu malah kayak nggak peduli sama diri sendiri!" Kesal gadis itu.

Dia khawatir banget. Batin arhan tersentuh.

"Kamu kenapa natap aku kayak gitu? Kamu suka sama aku?" Tanya gadis itu memicing.

Arhan mendadak gugup. "Si-siapa juga yang suka sama kamu."

"I-ini aku be-beli roti buat kamu." Arhan buru-buru menyodorkan roti dari plastik hitam.

"Serius ini buat aku?" Tanya gadis itu.

Arhan mengganguk pelan.

"Aku nggak mau!" Tolak gadis itu.

"Kenapa?" Tanya arhan heran.

"Nggak ada minum." Kata gadis itu manyun.

"Ini minumnya." Arhan mengeluarkan botol minuman dari plastik dan meletakkannya.

"Suapin." Pintanya tiba-tiba.

Arhan mendesah kasar. Manja sekali gadis ini. Namun, meski manja. Arhan tetap menuruti dan menyodorkan roti yang sudah ia buka ke bibir gadis itu.

Hap!

Gadis itu mengigit dan mengunyah roti itu dengan ekspresi sumringah.

Tangan arhan agak gemetar. Ia grogi karena baru pertama kali menyuapi seorang wanita.

"Kamu nggak makan?" Tanya gadis itu disela kunyahannya.

"Nggak."

"Kenapa?" Gadis itu berhenti mengunyah.

"Nggak papa." Jawab Arhan. Tak mungkin ia mengatakan bahwa ia hanya membeli satu roti untuk gadis itu karena uangnya tak cukup.

Roti 3 ribu. Air mineral 2 ribu. Pas banget dengan sisa uang arhan = 5 ribu.

"Makan bareng ya!" Kata gadis itu.

"Kamu aja." Jawab Arhan gengsi, meski laper.

"Kalo kamu nggak mau! Aku nggak mau makan lagi! Buang aja rotinya!" Ujar gadis itu membuang muka.

Arhan menghela nafas kesal. "Iya, iya. Aku makan nih!" Ia mengunyah roti itu sedikit dengan raut wajah kesal.

"Nah gitu dong! Suapin aku lagi!" Gadis itu menunjuk mulutnya sendiri.

Arhan menyodorkan roti bekas gigitannya.

Tanpa merasa jijik, gadis itu mengigit bekas kunyahan arhan.

"Kamu nggak jijik makan bekas orang?" Tanya arhan bingung.

Sambil mengunyah, gadis itu menggeleng.

Arhan menaikkan sebelah alisnya.

Gadis itu menelan kunyahannya. "Lagipula… aku nggak peduli itu bekas siapa. Yang penting kamu masih makan, itu aja cukup bagi aku."

Arhan terenyuh. Lagi-lagi gadis itu memperlakukannya dengan beda.

"Siapa namamu?" Tanya arhan.

Gadis itu berusaha membuka tutup botol, namun kesusahan.

Arhan dengan sigap meraih. Lalu membukanya dan menyodorkan.

"Makasih!" Gadis itu tersenyum sangat manis membuat jantung arhan berdegup kencang dan buru-buru memalingkan wajahnya.

"Namaku Sabrina." Ujar gadis setelah minum.

"Nama yang bagus." Puji arhan.

Pipi gadis itu merona, ia menunduk malu.

Arhan tersenyum kecil. Dia sangat lucu dan menggemaskan.

"Si-siapa namamu?" Tanya Sabrina nggak berani natap.

"Arhan."

"Nama kamu keren. Seperti orangnya." Puji Sabrina membuat arhan tertawa.

Entah karena merasa lucu atau karena sedih.

Cuman Sabrina yang mengatakan namanya keren dan memujinya. Padahal orang-orang mengatakan namanya sangat sial dan kehadirannya membawa petaka bagi siapapun.

"Makasih ya udah nolongin aku." Ucap Sabrina.

"Sama-sama." Jawab Arhan.

"Berapa umurmu?" Tanya Sabrina.

"10 tahun."

Sabrina menggangukan kepalanya.

"Hujannya deras ya!" Sabrina membuka topik.

"Iya, kita kejebak hujan." Jawab Arhan.

Sembari menunggu hujan berhenti, Mereka  berbincang-bincang ringan. Topik mengalir begitu saja. Arhan menyuapi Sabrina dengan telaten. Lalu mengunyah roti bekas gigitan Sabrina tanpa merasa jijik sama sekali.

Disela satu roti untuk berdua, Sabrina menceritakan tentang dirinya yang selalu dibully karena fisiknya terlalu dewasa untuk usianya.

"Jangan dengerin omongan orang. Omongan orang nggak akan ada habisnya." Kata Arhan bijak.

"Tapi mereka nyakitin aku," ucapnya lirih. "Aku nggak pernah minta dilahirkan kayak gini, tapi kenapa mereka malah benci sama aku cuma gara-gara pertumbuhanku terlalu cepat"

"Bukan kamu yang salah. Yang salah itu mereka yang nggak bisa nerima perbedaan." Ujar arhan membuat Sabrina noleh.

Arhan mengunyah roti. "Kamu nggak perlu berubah cuma buat nyenengin orang yang iri sama kamu. Karena itu percuma. Mau kamu kayak gimana pun, selalu akan ada orang yang nggak suka. jadi cukup jadi diri kamu sendiri." Ujarnya yang sudah pernah merasakan.

Sabrina tersentuh dengan kalimatnya. Dia sangat dewasa diusianya. Entah kenapa ia mulai kebawa perasaan dan nyaman dengan arhan.

"Boleh peluk?" Tanya Sabrina tiba-tiba.

Arhan menengok. "Pe-peluk? Memeluk wanita?" Ia bengong.

"Kenapa? Nggak boleh? Salah?" Tanya Sabrina kesal.

Arhan terdiam sejenak.

Sabrina berdecak. Merasa kesal dengan arhan yang sangat lama, akhirnya ia main peluk-peluk saja.

"Eh! Kamu! Kok meluk-meluk!" Arhan jantungan dipeluk oleh wanita. Berani banget dia meluk cowok.

"Ka-kamu wangi." Ucap Sabrina serius.

Arhan bingung. Ia tak membalas pelukannya.

"Aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Sabrina.

"Bo-boleh." Jawab Arhan gugup setengah mati.

"Apa cita-cita kamu?" Tanya Sabrina.

"Menjadi puncak." Jawab Arhan.

"Puncak?" Sabrina mengurai pelukannya.

"Maksudku...." Arhan berpikir sejenak. "A-aku mau jadi pengusaha nomor 1 didunia." Balasnya setelah kepikiran.

"Cita-cita yang sangat bagus. Aku yakin kamu bisa."

"Pasti bisa." Jawab Arhan nyengir.

"Nah gitu dong!" Sabrina ngacungin jempol. "Kamu harus yakin sama diri kamu. Kalo kamu yakin. Kamu berhasil. Kalo kamu ragu dengan diri kamu sendiri. Gimana mau berhasil? Orang kamunya aja nggak yakin." Tutur Sabrina.

"Dia pinter banget ya. Padahal masih kecil. Apa dia berasal dari keluarga orang kaya? Makanya pemikiran dia lebih pintar dan tau menghargai seseorang?" Batin arhan.

"Aku yakin kamu bisa. Semangat!" Sabrina memberikan semangat.

Arhan tersenyum haru. "Boleh aku minta sesuatu sama kamu?"

"Silahkan." Jawab Sabrina mengganguk.

"Temani aku sampai puncak, ya." Pinta arhan memberanikan diri.

Sabrina terdiam lama. Tak langsung menjawab.

"Boleh?" Harap arhan.

"Eungh!" Sabrina menganggukkan kepalanya.

"Janji?" Arhan mengulurkan jari kelingkingnya.

"Janji." Sabrina menautkan kelingkingnya sambil tersenyum. " Aku akan menemanimu…" Sabrina menJeda ucapannya.

"Sayang." Lanjutnya.

"Sayang? Hah?" Arhan bengong.

"Iya! Nggak boleh?" Sabrina kembali manyun.

"Kenapa harus sayang? Kenapa nggak manggil nama aja?" Tanya arhan dengan wajah memerah sampai ketelinga.

"Kalo aku temani kamu. Artinya kamu udah jadi suami aku." Jawab Sabrina polos.

"Pengertian dari mana itu?" Arhan menggaruk tengkuknya.

"Dari aku. Sekarang! Kamu udah jadi suami aku!" Kata Sabrina malu-malu.

Arhan menghela nafas. "Masih kecil udah mikirin suami-suami!"

"Biarin. Pokoknya kamu suami aku. Titik." Kata Sabrina menekankan.

"Cewek aneh!" Batin arhan.

"Kamu suami aku. Aku istri kamu. " Ucap Sabrina.

"Iya-iya." Arhan malas berdebat.

"Hujan sudah berhenti. Kamu nggak mau pulang?" Tanya arhan.

"Anterin." Rengek Sabrina.

Arhan mendesah panjang. Namun tetap menuruti gadis manja itu.

Sungguh menyebalkan. Hidupnya yang sudah terlalu ruwet ini kenapa harus dipertemukan dengan gadis yang makin ngeruwetin.

Arhan melangkah bersama Sabrina disebelahnya yang terus mengoceh tanpa henti. Nggak kerasa mereka sudah berjalan 1 jam dijalanan sepi dan waktu udah menjelang magrib saja.

"Sabrina!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca