
- Jumlah kata
- 151.1K
- Popular
- 802
- Subscribe
- 63
Sinopsis
Sanjaya bukan bocah biasa. Matanya memancarkan cahaya keemasan di malam hari, dan tanda lahir berbentuk matahari di punggungnya berdenyut seolah menyimpan nyawa sendiri. Selama sepuluh tahun, ibunya, Ratri, berhasil menyembunyikan semua itu dari dunia. Tapi malam ini, dunia datang menjemput. Seratus prajurit Kadipaten Waringin menyerbu desa Kedawung, membakar, menyisir, dan memburu satu nama, SANJAYA. Mereka dikirim oleh seorang Adipati yang tak bisa tidur sejak mendengar sebuah ramalan: ketika Anak Matahari tumbuh dewasa, tidak ada tahta yang aman.
Ulasan
3 ulasan
Raven Solstice
2/8/26 09:54
wow dari premis udh terlihat menjanjikan ceritanya. karakter Sanjaya disini juga bagus ya. Salah satu cerita yg pakai latar Indonesia jaman dulu yg keren. tetap semangat author!
NAGA 9
9/6/26 09:00
Saya masih berharap kritikan yang membangun. karena dengan kritikan itu bisa buat saya berupaya untuk bisa berkembang lebih jauh lagi. 🙏😊 Dan terimakasih banyak untuk para pembaca karyaku ini. semoga kalian betah berada disini sampai karyaku ini tamat. 🙏😊
01. Pelarian Sanjaya kehutan larangan
Angin senja baru saja mengusap wajah bukit-bukit di sekeliling desa Kedawung ketika bau sangit itu pertama kali tercium, bau besi, keringat kuda, dan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar malam, bau ancaman.
Ratri sedang meniup bara api di tungku ketika telinganya menangkap bunyi itu. Gemuruh. Bukan petir. Bukan langkah rusa turun dari bukit. Itu derap kuda, banyak kuda dan di sela-selanya terselip bunyi langkah ratusan tapak kaki manusia yang bergerak serempak, seperti jantung raksasa yang berdegup menuju desanya.
Ia berdiri. Jantungnya langsung tahu.
Mereka datang untuk Sanjaya.
"Nak..." suaranya nyaris tidak keluar. Ia berbalik. Di sudut ruangan, anaknya yang berusia sepuluh tahun duduk di atas tikar, tengah mengukir sebatang kayu kecil dengan pisau raut. Wajah bocah itu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang selalu membuat langit berubah warna setiap kali ia bermimpi.
"Ibu?" Sanjaya mengangkat wajahnya. Matanya, sepasang mata yang sejak lahir memancarkan cahaya keemasan samar di malam hari, menyipit memperhatikan wajah ibunya.
"Kita harus pergi. Sekarang."
Kemudian. mereka para prajurit tersebut datang dari arah barat seperti badai yang sengaja dibentuk oleh manusia.
Lima prajurit berkuda memimpin di barisan depan, zirah baja mereka memantulkan sisa cahaya senja yang sekarat. Di belakang mereka, seratus prajurit pejalan kaki berbaris dalam formasi tempur, tombak tegak, perisai rapat, wajah tersembunyi di balik topeng besi berbentuk tengkorak yang merupakan lambang pasukan elit Kadipaten Waringin. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Misi mereka harus menangkap anak kecil tersebut hidup atau mati.
Kepala desa Kedawung, seorang lelaki tua bernama Pak Soma, baru sempat keluar dari rumahnya ketika sebuah tombak melayang dan menancap tepat di depan kakinya, hanya sejengkal dari ujung jari kakinya yang telanjang.
"Di mana anak bernama Sanjaya?" Suara Pemimpin berkuda itu datar, tanpa emosi, seperti seseorang yang menanyakan harga beras di pasar.
Pak Soma tidak sempat menjawab. Tidak perlu menjawab. Karena api sudah mulai menjilat atap-atap ilalang di sisi timur desa, dan jeritan penduduk mulai meledak dari segala penjuru.
Kedawung terbakar.
Gubuk-gubuk kayu yang selama puluhan tahun menjadi tempat tumbuh generasi demi generasi kini roboh satu per satu dilahap kobaran api yang dengan rakus memakan dinding, kasur, kenangan. Prajurit-prajurit itu bergerak sistematis, bukan sekadar menghancurkan, melainkan menyisir. Mereka membuka setiap pintu, membalik setiap tempat persembunyian, memeriksa setiap wajah bocah yang mereka temukan dengan cara yang membuat perut siapapun yang menyaksikannya bergolak.
Tapi kamar Ratri dan Sanjaya sudah kosong.
Hutan Larangan tepat di tepi desa, dipisahkan hanya oleh sebidang ladang jagung yang kini mulai hangus disambar percikan api dari belakang. Penduduk Kedawung mengenal batas itu dengan sangat baik, sebuah deretan pohon beringin tua yang batangnya saling memeluk membentuk lengkungan gelap, seperti gerbang menuju dunia lain. Tidak ada yang masuk ke sana. Tidak ada yang berani.
Kecuali malam ini.
Ratri berlari sambil menggandeng tangan Sanjaya, kakinya nyaris tidak menyentuh tanah, dadanya terbakar bukan karena asap melainkan karena ketakutan yang telah bertahun-tahun ia simpan dan sembunyikan di balik senyum seorang ibu. Ia tahu malam ini akan datang. Seorang pertapa tua pernah membisikkan kepadanya, kelak mereka akan menginginkan anakmu, Ratri, dan kau harus memilih antara desa atau hutan.
Ia sudah memilih.
Saat kaki mereka menginjak tanah di balik gerbang beringin itu, udara berubah seketika. Lebih dingin. Lebih berat. Seperti udara yang sudah diam selama ratusan tahun dan tiba-tiba dipaksa bergerak oleh langkah manusia. Suara jangkrik yang tadi ramai mendadak senyap. Yang tersisa hanya bunyi napas Ratri yang terengah dan bunyi ranting patah di bawah telapak kaki mereka.
"Ibu, takut," bisik Sanjaya seorang anak laki-laki yang tampan.
"Ibu juga takut, Nak." Ratri tidak berbohong. "Tapi kita tidak ada pilihan selain tempat ini."
Di punggung bocah itu, tanpa ia sadari, sesuatu bersinar samar di balik kain bajunya, sebuah tanda lahir berbentuk matahari kecil yang kini berdenyut kemerahan, seperti bara yang belum padam.
Pemimpin berkuda itu, namanya Angga Reksa, kepala algojo Kadipaten Waringin, tidak berkedip ketika anak buahnya melaporkan bahwa target telah masuk ke Hutan Larangan.
Sunyi sejenak di antara para prajurit. Bahkan mereka yang wajahnya tersembunyi di balik topeng tengkorak sekalipun tampak berhenti bergerak.
"Kanjeng Senopati," ujar salah seorang prajurit senior dengan suara yang sedikit bergetar, "itu Hutan Larangan. Tidak ada yang..."
"Tidak ada yang berani masuk," potong Angga Reksa tanpa mengalihkan pandangannya dari tepi hutan yang gelap. "Tapi kita bukan tidak ada yang berani." Ia menarik tali kekang kudanya. "Dua puluh orang paling depan. Masuk. Anak itu harus dibawa hidup atau mati ke hadapan Sang Adipati sebelum fajar."
Para prajurit Waringin tidak ada yang berani bertanya mengapa. Mereka hanya menurut dan berjalan menuju gelap.
Di dalam hutan, Ratri dan Sanjaya sudah semakin jauh masuk ke kedalaman yang tidak pernah dijamah kaki manusia dalam ingatan siapapun. Pohon-pohon di sini berbeda, batangnya terlalu besar, terlalu tua, seolah telah ada sebelum nama-nama raja pertama diucapkan. Akarnya menggeliat di atas tanah seperti jari-jari raksasa yang baru terjaga dari tidur panjang.
Dan hutan itu... bernafas.
Sanjaya merasakannya lebih dulu. Ia memperlambat langkahnya, menoleh ke kiri dan ke kanan, ekspresinya bukan lagi ketakutan melainkan sesuatu yang lebih sulit dibaca, seperti seseorang yang mendengar nama panggilannya di tengah keramaian.
"Ada yang memanggilku, Bu," bisiknya.
Ratri hendak menjawab ketika dari jauh, dari arah desa yang sudah separuhnya terbakar, terdengar suara-suara yang kini menembus masuk ke dalam hutan. Suara langkah kaki. Suara perintah berbisik. Suara besi yang bergesekan dengan besi.
Mereka dikejar.
"Lari..." Ratri menarik tangan Sanjaya, tapi bocah itu tidak bergerak. Ia berdiri tegak, matanya terpejam, tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Tanda lahir di punggungnya kini bersinar jelas menembus kain bajunya, memancarkan cahaya oranye keemas-emasan yang membuat bayangan-bayangan aneh menari di antara pepohonan.
"Sanjaya!" Ratri mengguncang bahu anaknya.
"Ibu, jangan takut," kata bocah itu dengan suara yang entah mengapa terdengar lebih tua dari usianya. "Hutan ini mengenalku."
Dan seolah menjawab, tanah di sekitar mereka bergetar pelan. Bukan gempa, lebih lembut dari itu, seperti denyutan. Akar-akar pohon raksasa di dekat mereka perlahan menggeliat, bergerak, mengangkat diri dari tanah dan membentuk dinding hidup yang menutup jejak di belakang mereka.
Dua puluh prajurit Waringin yang masuk pertama langsung berhenti ketika melihatnya. Lentera-lentera mereka berkedip-kedip tanpa angin. Beberapa di antara mereka mundur setengah langkah tanpa sadar.
Lalu suara itu datang.
Bukan suara manusia. Bukan suara binatang. Sesuatu di antara keduanya, sebuah dengung rendah yang berasal dari semua arah sekaligus, seolah hutan itu sendiri sedang mengucapkan sebuah peringatan dalam bahasa yang lebih tua dari bahasa apapun yang diketahui manusia.
Dua orang prajurit langsung berbalik dan berlari. Yang lain berdiri gemetar, tombak-tombak mereka kini terasa seperti ranting mainan di tangan anak kecil.
Di atas kudanya, Angga Reksa mendengar laporan itu dengan rahang yang mengeras.
Hutan bergerak. Prajurit mundur. Target masih tidak tertangkap.
Ia menatap kegelapan di antara pohon-pohon itu lama sekali. Dalam benaknya ia tahu, Sang Adipati tidak akan menerima kegagalan. Tidak malam ini, tidak pernah. Bocah itu bukan sekadar bocah biasa. Bocah itu adalah kunci dari sebuah ramalan yang telah membuat Sang Adipati waringin tidak tidur selama bertahun-tahun.
Ketika sang Anak Matahari tumbuh dewasa, tidak ada tahta yang aman.
Angga Reksa mencabut pedangnya. Matanya tidak berkedip menatap hutan yang gelap dan hidup di depannya.
"Saya masuk sendiri," katanya pelan.
Dan kuda itu melangkah maju, menembus gerbang gelap di antara pohon-pohon raksasa, sementara di kedalaman hutan yang tidak pernah dijamah manusia, seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun berdiri dengan mata terpejam dan punggung bercahaya, sedang belajar untuk pertama kalinya dalam hidupnya bahwa ia bukan sekadar anak seorang ibu.
Ia adalah sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan malam itu baru saja dimulai.
Daftar bab
129 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
129 bab








