
- Jumlah kata
- 64.5K
- Popular
- 220
- Subscribe
- 52
Sinopsis
Bebarang berasal dari bahasa Sunda yang artinya "mengamen". Aktivitas ini dilakukan dengan cara menggelar pertunjukan seni keliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari rezeki.Jaka terlahir dari keluarga seniman yang berfokus pada seni tari dan gamelan. Kesenian tersebut sudah mereka jalani selama hampir sepuluh tahun. Keluarga Jaka bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah orang terpandang sekaligus sesepuh desa yang sangat disegani karena memiliki keahlian gaib atau mistis.Tarian mereka pun bukan tarian biasa. Gerakannya memiliki jiwa dan aura kuat yang mampu memikat siapa saja yang melihatnya. Di antara anak dan cucu lainnya, hanya Jaka satu-satunya yang mewarisi bakat seni sekaligus memiliki khodam pendamping. Namun, risiko menjadi seorang seniman tidaklah mudah. Jaka harus menyiapkan mental yang kuat untuk menghadapi segala rintangan. Dunia seni penuh dengan persaingan ketat, dan banyak orang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan satu sama lain.Mampukah Jaka mewarisi bakat seniman serta ilmu gaib tersebut?
Ulasan
3 ulasan
W.H. Eclipse
27/7/26 07:32
Baru baca... ternyata ceritanya bagus. Awalnya cuma di lewatin aja nih cerita karena horor ehh setelah baca seru... semangatt ka thor nulisnya.
Dianata
27/7/26 03:27
Keren eeuuyy cerita horor yang unik. Tradisional juga.Gaya penulisannya bagus dan mudah di pahami. Semangat buat author ya..
Bab.1
Sebuah desa yang terletak di ujung kulon kabupaten Lengka yang bernama desa karya mukti.
Didesa tersebut berdiri sebuah sanggar Tari "Cakra Mayang" yang didirikan oleh kepala keluarga Laksana yang bernama Gandi Laksana.
Sanggar ini berdiri sejak tahun 1940 sampai 1955 sekarang, Gandi memiliki istri yang bernama Ratmi Suri Laksana, Ia mempunyai anak bernama Jaka laksana.
Jaka adalah anak berusia 8 tahun yang sering ikut berlatih menari bersama murid-murid lain. Ia menyukai aktivitas tersebut, tetapi hanya sebatas hobi bukan untuk didalami.
Waktu berlalu, dan saat ini Jaka bersekolah dibekas sekolah penjajah. Jaka memilih berhenti menari di sanggarnya akibat cemoohan dan rundungan dari anak-anak lain. Kalimat ejekan seperti, 'Laki-laki kok nari kayak perempuan,' membuat Jaka trauma dan tidak pernah lagi menari seperti biasanya.
Jaka duduk termenung sendirian di pendopo sanggar, tempat yang dulu sering menjadi lokasi latihan menarinya. Di tengah lamunannya, suara derap langkah kaki dari arah belakang mendadak memecah kesunyian. Seseorang tengah berjalan menghampiri Jaka.
"Nak kenapa kamu melamun terus ada masalah apa?cerita sama ibu", ya dia adalah ibunya Jaka, Ratmi.
"Tidak apa apa bu" jawab Jaka.
"Ohhh,,,oh iya ibu mau tanya kenapa akhir akhir ini ibu tidak liat kamu ikut menari lagi?", tanya ibu Ratmi.
"Oh itu,,jaka hanya ingin fokus dulu belajar untuk ujian akhir masuk Smp bu", ucap jaka.
Jawaban jaka itu hanya untuk menutupi apa yang terjadi supaya ibunya tidak bersedih.
"Emm,,, ya sudah kalo gitu,dan sana mandi ini udah sore bentar lagi magrib",ucap ibu Ratmi.
"Baik bu Jaka mandi dulu",jawab Jaka.
Mereka berdua pun beranjak dari tempat tersebut pergi ke masing masing aktivitasnya.
******
Waktu bergulir hingga kini Jaka tumbuh menjadi seorang pemuda tampan. Selama itu pula, ia menjauhi dunia tari di sanggarnya dan memilih fokus belajar. Namun, prinsip itu berubah saat ia menyaksikan penampilan seorang penari laki-laki. Alih-alih merasa malu atau minder, penari tersebut justru tampil dengan penuh rasa percaya diri. Hal itu seketika memicu sesuatu di dalam hati Jaka.
Jaka menyadari bahwa ia harus memercayai dirinya sendiri dan mengabaikan cemoohan orang lain. Bagaimanapun, kesuksesan ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain. Kini, rasa percaya diri Jaka telah kembali. Inilah jawaban atas pencarian jati dirinya: ia memang terlahir sebagai seorang penari yang kelak akan menjadi seniman terkenal.
Setelah pulang sekolah Jaka memberi tahu ibunya ia akan menari lagi,dan ibunya terlihat senang, bahkan langsung membawa Jaka untuk bertemu Neneknya, yang bernama Warnih atau sering disebut Nek nih.
"Bu ibu,,, ini Jaka katanya mau belajar tari lagi ",ucap Ratmi ibu Jaka.
"Wahhh,,,, apakah benar nak",tanya Nek nih pada Jaka.
"Benar Nek Jaka mau belajar Nari lagi",jawab jaka sambil menganggukan kepala.
Nek nih masih tidak percaya kalo cucunya itu mau menari lagi.
"Kok tumben mau belajar nari lagi,biasanya dikamar terus alasanya belajar,kalo di ajak nari"sindir Nek nih pada jaka.
"Heheheh,,,, itu dulu Nek,sekarang Jaka sadar sukses itu kita yang tentukan bukan orang lain ",ucap Jaka percaya diri.
"Nya sudah, nanti sore ikut Nenek ke suatu tempat nya ",jawab Nek nih pada jaka untuk ikut dengannya.
"Kemana Nek?",tanya jaka penasaran.
" Sudah ikut aja ",singkat Nek nih.
Dengan perasaan bingung.Jaka hanya mengikuti apa kata nenek nya itu.
Sore harinya Jaka dibawa kesuatu tempat yang tidak diketahuinya, Nek nih membawa Jaka cucunya itu kesuatu tempat keramat untuk memperdalam suatu hal, supaya lebih kuat keinginanya. Tempat itu bernama kabuyutan ( makom/petilasan ).Makom/Petilasan adalah suatu yang merujuk pada tempat tempat yang dikeramatkan atau memiliki nilai sejarah,tempat yang diyakini pernah didatangi, disinggahi atau ditinggali sementara waktu oleh seseorang yang penting seperti raja,ulama,orang sakti dan lainnya.
Tempat keramat ini sering di kunjungi banyak orang.Dari kejauhan terlihat seseorang yang berada didepan pintu masuk makom/petilasan. Dia adalah pemegang kunci atau sering disebut Kuncen.
"Selamat sore bu bisa saya bantu ",tanya kuncen tersebut kepada Nek nih.
"Begini, Pak. Saya ke sini mau minta dimantapkan keinginan cucu saya supaya tidak goyah dan bisa lebih berkembang bakatnya," pinta Nenek Nih kepada kuncen itu.
"Oh,,, kalo gitu silahkan masuk bu", ajak kuncen itu pada mereka.
Saat pertama kali masuk Jaka merasa ada yang meperhatikan nya sampai bulu kuduknya berdiri. Setelah masuk keadalam,Ruangan tersebut begitu sunyi dan senyap, hanya ada keheningan semata.Tempat tersebut begitu sejuk dan bikin hati adem. Ditengah ruangan terlihat sebuah makam yang di sisi kiri kanannya ditutupi kain kafan putih. Kuncen tersebut duduk bersila dihadapan makam, Jaka dan Nek nih pun ikut duduk menghadap makam tersebut.
"Nak Jaka nanti, kalo saya berdo'a, nak Jaka aminkan nya",titah kuncen tersebut.
"Baik pak,,",patuh Jaka.
Kuncen itu mulai menyalakan dupa dan kemenyan ritual, lalu merapalkan doa serta mantra khusus yang dikuasainya. Jaka hanya bisa menuruti perintah sang kuncen untuk terus mengaminkannya. Seketika, ruangan itu dipenuhi kabut asap tipis yang membawa keharuman semerbak aroma kemenyan.
Setelah ritual doa selesai, kuncen itu menyuruh Jaka mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Jaka kemudian bergantian mengusap pipi kiri dengan tangan kiri, dan pipi kanan dengan tangan kanannya.
"Nak Jaka usap wajah mu dengan kedua telapak tanganmu, lalu usap wajah kiri mu dengan tangan kiri, lanjut usap wajah sebelah kanan dengan tangan kanan mu nak",perintah kuncen tersebut.
"Baik pak,,,Jaka akan lakukan ", jawab Jaka menurutinya.
Selepas itu Jaka diperintahkan untuk meminum air do'a atau mantra dari kuncen tersebut.
"Di minum nak,air do'a ini",kuncen tersebut menyerahkan air itu kepada Jaka.
Jaka yang penurut itu pun langsung meminum air hingga tandas tak tersisa.
Selesai sudah semua do'a dan ritual tersebut. Setelah pulang, kuncen menyuruh Jaka untuk mandi kembang 7 rupa. Satu pesan lagi untuk Jaka dari kuncen itu.
"Setelah pulang dari sini,kamu harus mandi dengan kembang 7 rupa", ujar kuncen itu.
"Baik pak,,, Jaka akan lakuin itu",jawab jaka.
"Dan satu hal lagi, apa yang akan terjadi nanti malam saat kamu tidur, bila kamu bermimpi apapun itu kamu jangan takut itu adalah bentuk dari dalam diri mu yang akan membantumu",saran dari kuncen agar tidak takut apa yang akan terjadi.
"Memang apa yang akan terjadi pak", tanya Jaka pada kuncen itu.
"Nanti kamu akan tau sendiri", jawab kuncen itu sambil tersenyum, dibalik senyum itu dia tau apa yang akan terjadi.
Nek nih yang dari tadi diam saja juga tersenyum, dia tau akan terjadi sesuatu. Karena dia juga pernah mengalaminya waktu dulu masih sepantaran cucunya itu.
Nek nih adalah juru kawih atau sinden, dia juga dibawa ke kabuyutan oleh ibunya waktu itu untuk memantapkan tekadnya sama seperti Jaka.
Mereka semua berpamitan, karena sudah selesai menjalankan ritual atau meminta do'a.
Diperjalanan Jaka merasa ada yang mengikuti, tapi tidak terlihat siapa yang mengikutinya. Saat sedang melamun, dia melihat sekilas sosok di atas pohon beringin. Jaka penasaran apa yang tadi di lihatnya, dia lihat kembali tapi tidak ada apapun. Pikirnya mungkin itu hanya halusinasi saja.
Nek nih yang melihat Cucunya itu sedang bingung ,dia pun bertanya pada Jaka.
"Kenapa Nak,,, kok kamu kaya bingung gitu",tanya Nek nih pada Jaka.
Tapi jaka tidak merespon tetap saja melamun.
"Nak,,,,"
" Nak"
"Hey Nak"
"Ney Nak Jaka,,,,"panggil Nek nih sedikit lebih keras.
" Ehhh,,, iya Nek ada apa",jawab Jaka dengan kagetnya.
"Kamu yang kenapa, kok melamun sampai segitunya,,,, dipanggil panggil kok gak jawab jawab",celoteh Nek nih sedikit kesal.
"Hehehe,,,, gak kenapa kenapa Nek hanya saja ingin melamun,, maaf Nek ",jawab jaka dengan cengirannya sambil menggaruk kelapa yang tidak gatal itu.
"Dasar kamu",kesal tanda sayang Nek nih.
Daftar bab
57 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








