
PANGERAN KEADILAN
senja menulis|Bersambung
- Jumlah kata
- 137.4K
- Popular
- 339
- Subscribe
- 43
- Jumlah kata
- 137.4K
- Popular
- 339
- Subscribe
- 43
Sinopsis
Dargo adalah seorang pelajar SMA yang terjebak di dunia lain yang sangat membingungkan. dia terjebak di sebuah kerajaan kuno yang dia sangat kenal. Dargo terjebak di kerjaan yang ada di sebuah buku sejarah ya dia pinjam dari perpustakaan sekolahnya. di dalam perjalanannya Dargo membuat perubahan yang amat besar.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. petir dan dunia baru
Langit siang di kota kecil Wonogiri terlihat cerah, meski awan abu-abu mulai berkumpul perlahan di ufuk barat. Angin berembus hangat melewati jalanan desa yang tidak terlalu ramai. Di atas motor matic hitam yang sudah penuh goresan, seorang pemuda SMA melaju santai sambil bersiul kecil.
Namanya Dargo.
Usianya baru tujuh belas tahun. Rambutnya sedikit berantakan, kulitnya sawo matang karena sering memancing di bawah matahari, dan wajahnya memiliki tatapan penasaran seperti orang yang selalu ingin tahu banyak hal.
Di punggungnya tergantung tas kecil berisi perlengkapan memancing. Sebatang pancing panjang diikat menyamping pada motor. Sedangkan di tangan kirinya, ia memegang sebuah buku tebal bersampul hitam kusam.
Buku itu sudah ia pinjam dari perpustakaan sekolah selama satu bulan penuh.
Judulnya sangat aneh.
**“Kekaisaran Abadi Sang Penguasa Dunia.”**
Awalnya, Dargo hanya iseng meminjamnya karena melihat gambar seorang pria duduk di atas singgasana emas, dikelilingi wanita-wanita cantik dan pasukan perang. Namun semakin dibaca, ia malah ketagihan.
Hari ini ia berniat menamatkan buku itu sambil memancing di Jembatan Gedong Wonogiri.
“Kalau di rumah pasti disuruh bantu ibu terus, mending berangkat mancing, sambil tamatin buku ini.” gumam Dargo sambil tertawa kecil.
Motor maticnya akhirnya berhenti di dekat sungai besar yang mengalir deras di bawah jembatan. Tempat itu cukup sepi. Hanya terdengar suara air sungai dan desir angin dari pepohonan sekitar.
Dargo turun dari motornya lalu meregangkan badan.
“Ah… mantap, tempatnya teduh cocok untuk mancing dan baca buku" kata Dargo dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
Ia berjalan menuju pinggir sungai, menancapkan pancing, lalu duduk di atas batu besar yang cukup datar. Setelah itu, ia membuka kembali buku yang hampir tamat itu.
Matanya langsung serius.
Halaman demi halaman ia baca dengan penuh fokus.
Isi buku itu menceritakan perang besar antara tiga kekaisaran raksasa.
Kerajaan Manusia.
Kekaisaran Elf.
Dan Negeri Para Siluman.
Tokoh utamanya adalah seorang pria bernama Wijaya, seorang jenderal muda yang kemudian menjadi kaisar paling kuat dalam sejarah dunia.
wijaya sangat kuat, malah Terlalu kuat untuk sekaliber jendral. Ia mengalahkan ribuan pasukan, menaklukkan kerajaan demi kerajaan, bahkan membangun kekaisaran baru yang absolut dan tidak runtuh selama ratusan tahun.
Dargo menggeleng pelan sambil membaca.
“Ini orang over power banget…”
Ia melanjutkan membaca hingga bagian akhir perang besar.
Namun semakin mendekati akhir cerita, wajah Dargo malah semakin kesal.
“Ah… goblok banget sih.” dargo menggerutu, Ia menutup buku itu cukup keras.
Dalam cerita tersebut, Kekaisaran Elf mengalami perang saudara yang mengerikan. Sesama bangsa elf saling membunuh demi perebutan tahta. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Kekaisaran Manusia.
Terjadilah genosida besar-besaran.
Kota-kota elf dibakar, Wanita dan anak-anak dibantai, Hutan suci mereka dihancurkan.
Dargo menghela napas panjang.
“Padahal elf di cerita ini baik-baik semua…”
Yang membuatnya semakin kesal adalah perubahan sifat tokoh utama.
Awalnya wijaya digambarkan sebagai pahlawan yang adil. Namun setelah menjadi kaisar, ia berubah semakin kejam dan haus kekuasaan.
Bahkan memiliki banyak selir.
Wati.
Ajeng.
Wulan.
Tri.
Semua wanita itu menjadi selir pribadi sang kaisar.
Dargo mendecih.
“Awalnya keren… lama-lama cabul juga.”
Ia lalu terdiam beberapa saat sebelum kembali membuka halaman terakhir. Bagian paling membuatnya marah adalah ketika Raja Elf terakhir datang mencari suaka politik ke Kekaisaran Wijaya.
Raja tua itu datang membawa rakyatnya yang tersisa. Mereka hanya ingin hidup damai. Namun, karena salah satu selirnya membenci bangsa elf, wijaya malah membunuh sang Raja Elf dan menyerahkan para pengungsi untuk dijadikan budak.
Dargo langsung menutup buku itu.
“Gila… cuma gara-gara wanita bisa segitunya.”
Angin mulai bertiup lebih dingin, Langit yang tadi cerah kini dipenuhi awan hitam pekat. Suara gemuruh terdengar dari kejauhan Dargo melihat jam di ponselnya, ternyata Sudah sore.
“Hujan nih kayaknya.” kata Dargo yang kaget, Baru saja ia berkata begitu, rintik-rintik air mulai turun dari langit.
Dargo buru-buru menggulung pancingnya lalu memasukkan buku ke dalam tas.
“Besok aja mancing lagi.”
Ia menaiki motornya dan mulai melaju pulang melewati jalan desa yang mulai basah oleh hujan.
Angin semakin kencang, Petir sesekali menyambar langit. Namun Dargo tetap melaju santai, Sampai akhirnya…
BRAKKKK!!!
Kilatan cahaya putih menyambar tepat dari langit, Dargo bahkan tidak sempat berteriak.
Petir itu menghantam tubuhnya secara langsung. Motor terpental dengan sangat keras. Tubuh Dargo terlempar beberapa meter sebelum menghantam aspal.
dan Semua menjadi gelap. Sunyi, Tidak ada suara, Tidak ada rasa. Hanya kegelapan tanpa akhir.
Entah berapa lama, Dargo perlahan membuka matanya perlahan. Pandangan pertamanya adalah langit malam yang gelap. Bulan besar menggantung di atas sana, Bintang-bintang memenuhi langit. Dargo mengerutkan kening.
“Kok… malam?” kata Dargo yang kaget.
Tubuhnya terasa dingin, Kepalanya sakit luar biasa. Ia mencoba bangun perlahan. Namun saat duduk, matanya langsung membelalak.
karena Di sekelilingnya banyak Mayat, Mayat bergelimpangan di mana-mana.
Tanah dipenuhi darah, Rumah-rumah kayu terbakar, Asap hitam membumbung tinggi dan Bau anyir menusuk hidung.
“A-apa ini…?” Jantung Dargo berdetak sangat cepat.
Ia berdiri sempoyongan sambil melihat keadaan sekitar. Perkampungan kuno, Rumah-rumah kayu beratap jerami, Obor menyala di beberapa tempat.
Semua tampak seperti kerajaan Jawa zaman dahulu. Tubuh Dargo mulai gemetar.
“Ini mimpi…” kata Dargo tidak percaya, Ia menatap tangannya.
Namun saat melihat tangannya, napasnya langsung terhenti. Tangannya kecil Pendek.
Bukan tangan remaja tujuh belas tahun.
“Apa…?”
Dargo buru-buru menyentuh wajahnya sendiri, Tubuhnya mengecil Suaranya berubah lebih muda.
“Tidak… tidak mungkin…” kata Dargo yang sangat panik.
Ia berlari menuju genangan air di dekat mayat prajurit, Dan saat melihat bayangannya…Dargo membeku.
Tubuhnya berubah menjadi anak laki-laki sekitar sebelas tahun. Wajahnya jauh lebih muda, Tubuhnya kecil dan kurus.
“Apa-apaan ini…?!”
Ketakutan mulai menguasainya. Napasnya memburu, Ia melihat kembali desa yang hancur itu.
Mayat, Darah, Api, Langit malam,.Semuanya terasa nyata.
Sangat nyata, dan Tiba-tiba…Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
“DI SANA!” teriak seseorang dari kejauhan.
Dargo menoleh cepat, Puluhan prajurit bersenjata tombak dan pedang datang mendekat sambil membawa obor.
Mereka mengenakan baju perang kuno, Wajah mereka dipenuhi darah..Seorang prajurit menunjuk ke arah Dargo.
“Senopati! Ada anak kecil yang masih hidup!”
Dargo mundur ketakutan.
“Aku bukan—”
Dua prajurit langsung menangkap kedua tangannya.
“Lepasin! Lepasin aku!” Dargo memberontak sekuat tenaga.
Namun tubuhnya kini terlalu kecil dan lemah.
“Kasihan anak ini, Mungkin dia gila setelah melihat pembantaian. Diamlah bocah!” kata salah satu prajurit
“Aku bukan bocah—!” teriak Dargo, namun.
BUKK!!
Salah satu prajurit memukul tengkuk Dargo dengan keras. Pandangan Dargo langsung berputar, Tubuh kecilnya lemas.
Sebelum kehilangan kesadaran, ia sempat melihat seorang pria tinggi berjubah hitam menatapnya dari kejauhan.
Pria itu memiliki mata merah menyala, Dan di tangannya…Ada lambang naga emas. Sama persis seperti simbol kekaisaran di buku yang baru saja Dargo tamatkan.
“Tidak mungkin…”Mata Dargo membelalak, namun langsung Gelap. Dan kesadarannya pun hilang sepenuhnya.
Daftar bab
115 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
115 bab








