Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Takdir Yang Terlupakan

Takdir Yang Terlupakan

author_gabut | Tamat
Jumlah kata
84.4K
Popular
100
Subscribe
34
Novel / Takdir Yang Terlupakan
Takdir Yang Terlupakan

Takdir Yang Terlupakan

author_gabut| Tamat
Jumlah Kata
84.4K
Popular
100
Subscribe
34
Sinopsis
18+PerkotaanAksiDunia Masa DepanBalas DendamPewaris
Arga, seorang pemuda yang selama ini dianggap sampah dan tidak berharga oleh keluarga besarnya serta calon istrinya sendiri, tiba-tiba dicampakkan tepat di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya. Tanpa harta, tanpa kedudukan, dan dihina habis-habisan, hidupnya terasa hancur total. Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah pesan rahasia datang mengubah segalanya. Arga mengetahui bahwa ia bukan orang biasa—ia adalah pewaris sejati dari kekuasaan dan kekayaan yang tersembunyi selama puluhan tahun. Semua penghinaan yang ia terima selama ini ternyata hanya bagian dari ujian berat yang harus ia lalui. Sekarang, saat jati dirinya terungkap, Arga bangkit dari keterpurukan. Ia kembali dengan kekuatan penuh, membawa kekuasaan yang tak terbayangkan. Mereka yang dulu meremehkan, menghianati, dan menginjak-injak harga dirinya kini harus menunduk takluk. Namun, perjalanan menuju puncak tak semudah yang dibayangkan. Ada musuh lama yang mengintai dari balik bayang-bayang, rahasia kelam keluarga yang terkuak satu per satu, dan pilihan sulit antara membalas dendam atau melindungi orang-orang yang masih ia sayangi. Akankah Arga memanfaatkan kekuasaannya untuk membalas setiap luka, atau ia akan memilih jalan yang lebih mulia dan menaklukkan takdirnya sendiri?
Bab 1 : Hari Yang Seharusnya Bahagia

Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Arga Wijaya berdiri di depan cermin kecil di kamar kontrakannya yang sempit, menyelesaikan ikatan dasi hitamnya dengan tangan agak gemetar. Jas sewaannya terasa kaku, tapi hari ini ia tidak peduli. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Nayla Pratiwi. Seorang wanita yang dicintainya selama tiga tahun terakhir.

"Semuanya akan berubah setelah ini," gumam Arga pada bayangannya sendiri. Ia tersenyum tipis, mengingat bagaimana Nayla dulu tertawa saat ia melamarnya di taman sederhana dekat kosannya. Meski keluarga besar Nayla selalu memandangnya sebelah mata, Arga yakin cinta mereka cukup kuat.

Arga berasal dari keluarga yang rumit. Ayah tirinya, Pak Hadi, seorang pengusaha kecil yang selalu membandingkannya dengan anak kandungnya sendiri. "Kamu ini sampah, Arga. Tidak ada darah biru, tidak ada otak bisnis. Untung Nayla masih mau sama kamu," kata Pak Hadi kemarin malam saat makan malam keluarga. Saudara-saudara tirinya hanya tertawa sinis.

Tapi Arga bertahan. Ia bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan distribusi barang, gajinya pas-pasan untuk menyewa kamar ini dan sesekali membelikan Nayla hadiah kecil. Malam-malam mereka sering menghabiskan waktu bersama, tubuh saling menempel di ranjang sempit.

Flashback malam sebelumnya...

Malam itu, Nayla datang ke kontrakannya setelah bertengkar dengan ibunya. "Mereka bilang aku bodoh memilih kamu," katanya sambil menangis. Arga memeluknya erat, mencium keningnya, lalu turun ke bibirnya dengan penuh hasrat.

Nayla membalas ciuman Arga dengan penuh kerinduan. Arga mengusap lembut punggung dan pinggangnya, menariknya semakin dekat ke dalam pelukan. Tatapan mereka bertemu sejenak sebelum Nayla berbisik dengan suara bergetar, "Arga... malam ini, jangan tinggalkan aku."

Dengan penuh kehati-hatian, Arga membaringkan Nayla di atas ranjang. Ia mengecup kening, pipi, lalu lehernya dengan penuh kasih sayang, membuat Nayla memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lembut itu. Jemari mereka saling bertaut erat, seolah tak ingin melepaskan satu sama lain. Keheningan kamar dipenuhi hanya oleh napas yang saling berkejaran dan detak jantung yang semakin cepat, sementara keduanya larut dalam pelukan yang hangat dan penuh cinta.

Arga tak mampu lagi menahan gejolak di dalam hatinya. Ia menarik Nayla semakin dekat ke dalam pelukannya. Tatapan mereka saling bertaut sebelum akhirnya jarak di antara keduanya benar-benar menghilang. Kehangatan dan kerinduan yang lama terpendam melebur dalam kebersamaan mereka.

Napas keduanya berpacu seiring waktu berlalu. Nayla memeluk Arga erat, jemarinya mencengkeram punggung pria itu saat gelombang perasaan memenuhi dirinya. Arga membalas dengan kecupan-kecupan lembut dan pelukan yang tak pernah terlepas, seolah ingin menghapus seluruh keraguan yang pernah ada.

Saat semuanya mencapai puncaknya, mereka hanya mampu saling mendekap dalam diam. Keringat membasahi kulit mereka, sementara detak jantung yang perlahan kembali tenang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kamar itu. Nayla menyandarkan kepala di dada Arga, lalu berbisik lirih, "Aku milikmu selamanya."

Kembali ke hari ini.

Arga tiba di gedung resepsi hotel bintang lima yang sebenarnya dipesan keluarga Nayla. Tamu sudah banyak. Tapi begitu ia melangkah masuk, suasana langsung berubah dingin. Ibu Nayla, Nyonya Pratiwi, memandangnya dengan jijik. "Kamu benar-benar datang juga?"

"Bu, ini hari pernikahan kami," jawab Arga tenang.

Tawa sinis terdengar dari saudara Nayla. Tak lama, Nayla muncul dengan gaun pengantin putih yang indah. Wajahnya pucat, tapi matanya penuh penyesalan yang dingin.

"Arga," katanya pelan di depan semua tamu. "Aku... aku tidak bisa melanjutkan ini."

Ruangan langsung hening.

"Apa maksudmu?" tanya Arga, suaranya mulai bergetar.

Nayla menghela napas. "Kamu lihat sendiri kan? Keluargaku tidak pernah setuju. Kamu tidak punya apa-apa, Arga. Tidak ada uang, tidak ada kedudukan. Aku malu setiap kali orang tanya tunanganku kerja apa. Kevin... dia bisa memberiku hidup yang layak. Maaf."

Kevin seorang pria kaya yang selama ini gencar mendekati Nayla berdiri di sampingnya dengan senyum menang. Tamu mulai berbisik. Beberapa tertawa terang-terangan. Pak Hadi, ayah tiri Arga yang hadir, langsung berdiri. "Sudah kubilang! Anak ini hanya beban. Sekarang malah dipermalukan di depan umum!"

Arga berdiri membeku. Buket bunga di tangannya jatuh ke lantai. Nayla melempar cincin pertunangan ke dadanya. "Ini bukan salahku. Kamu yang terlalu rendah untukku."

Penghinaan bertubi-tubi datang. Saudara tirinya merekam video dan tertawa. Ibu Nayla berteriak, "Usir dia dari sini! Jangan biarkan sampah seperti dia merusak acara!"

Arga diusir keluar hotel di bawah guyuran hujan. Jasnya basah kuyup, hatinya hancur berkeping-keping. Ia berjalan tanpa tujuan, ponselnya berdering sebuah panggilan dari kantor. "Arga, kamu dipecat efektif hari ini. Perusahaan tidak butuh karyawan yang bermasalah keluarga."

Malam harinya, Arga duduk di trotoar pinggir jalan, tubuhnya menggigil. Tempat tinggalnya sudah diusir oleh pemilik kos karena keluarga tirinya membayar untuk mengusirnya. Ia benar-benar tidak punya apa-apa sekarang.

Di tengah keputusasaan, ponselnya yang hampir mati bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal:

"Arga Wijaya, pewaris sah Keluarga Adinata. Ujian penghinaanmu telah selesai. Datanglah besok pukul 10 pagi ke alamat berikut. Takdirmu yang terlupakan menanti."

Arga menatap layar ponsel dengan mata kosong. Apakah ini lelucon? Atau... harapan terakhir?

Ia bangkit pelan, air hujan bercampur air mata yang akhirnya jatuh. "Besok," bisiknya. "Besok semuanya akan berubah."

Malam itu, untuk terakhir kalinya sebagai Arga yang lemah, ia menyewa kamar motel murah dengan sisa uangnya. Di sana, pikirannya melayang kembali ke Nayla. Tubuh hangat yang dulu sering ia peluk, desahan yang dulu ia banggakan. Tapi sekarang, semua itu hanya luka.

Arga berbaring di ranjang motel dengan mata terpejam. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Nayla dan kenangan yang tak mampu ia singkirkan. Kerinduan, amarah, dan penyesalan bercampur menjadi satu, menguras seluruh emosinya. Ketika akhirnya semuanya mereda, ia hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Malam itu terasa begitu sunyi, meninggalkan kehampaan yang tak mampu diisi oleh apa pun.

"Itu yang terakhir," katanya dingin. "Mulai besok, aku bukan lagi Arga yang kalian injak-injak."

Arga bangkit dari ranjang, membersihkan diri di kamar mandi motel yang kumuh. Air dingin mengguyur tubuhnya, tapi tidak mampu mendinginkan bara dendam yang mulai menyala di dada. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak, wajahnya pucat tapi matanya mulai tajam.

"Berapa banyak kali aku harus menahan hinaan ini?" gumamnya. Ingatan tentang Nayla yang dulu selalu bergelayut manja pada dirinya kini berubah menjadi bayangan pengkhianatan. Ia membayangkan Nayla sekarang mungkin sedang berada di pelukan Kevin. Pikiran itu membuat Arga mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih.

Ia kembali ke ranjang, tetapi bukan untuk tidur. Amarah dan gejolak di dalam dirinya membuat malam terasa semakin panjang. Ia memejamkan mata, namun bayangan Nayla terus hadir, seolah mengejek ketenangannya. Dalam benaknya, perempuan itu berdiri di hadapannya dengan wajah penuh penyesalan, memohon agar diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahannya. Bayangan itu justru semakin membakar emosinya.

Arga mengepalkan kedua tangannya erat. Di dalam pikirannya, ia membayangkan Nayla tak lagi membantah, melainkan menerima setiap kemarahannya dengan kepala tertunduk. Semua luka, penghianatan, dan rasa kecewa bercampur menjadi satu, mengubah kerinduan yang dulu begitu hangat menjadi obsesi yang sulit dijelaskan. Ia ingin melihat Nayla benar-benar menyadari apa yang telah diperbuatnya.

Setelah beberapa saat, Arga akhirnya mengembuskan napas panjang. Dadanya masih bergemuruh, tetapi pikirannya perlahan kembali tenang. Ia menyandarkan kepala ke bantal sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Kini ia sadar, semua itu bukan lagi sekadar luapan emosi sesaat. Kemarahan yang terus ia pendam telah berubah menjadi tekad yang tak mudah dipadamkan. Malam itu menjadi titik ketika ia memutuskan bahwa semuanya harus berakhir dengan caranya sendiri.

Ia mengambil ponsel, membaca ulang pesan misterius itu berkali-kali. Alamat yang tertera adalah sebuah vila mewah di pinggiran kota. "Siapa pun kamu," bisik Arga, "jika ini nyata, aku akan gunakan segalanya. Kekayaan, kekuasaan... dan dendam ini."

Malam semakin larut. Hujan di luar masih deras, tapi di dalam dada Arga, badai yang lebih besar baru saja dimulai. Besok pagi, ia akan melangkah sebagai pria baru. Pria yang tidak lagi bisa diinjak siapa pun. Termasuk Nayla dan seluruh keluarga yang pernah menghancurkannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca