Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Matahari Hitam

Pendekar Matahari Hitam

Rakanta | Bersambung
Jumlah kata
87.8K
Popular
100
Subscribe
53
Novel / Pendekar Matahari Hitam
Pendekar Matahari Hitam

Pendekar Matahari Hitam

Rakanta| Bersambung
Jumlah Kata
87.8K
Popular
100
Subscribe
53
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSilatPertualanganPendekar
Gempuran Kedatuan Saloka dari utara yang tak pernah berhenti membuat Mahesa merasa hidup dalam neraka. Setiap hari dipaksa menyaksikan kematian demi kematian yang begitu tragis hingga membuatnya memutuskan untuk berhenti menjadi prajurit dan kembali pulang ke kampung halaman. Namun, berharap mendapat damai, ia justru terlibat dalam hutang-piutang oleh lurah korup. Semua itu hanya awal mula, sebelum ia harus kembali terlibat dengan peperangan, pertumpahan darah, dan Matahari Hitam, kelompok pemberontak paling ditakuti.
Bab 1 : Pulang

Mahesa memandangi tangannya yang berlumuran darah, yang kini gemetar karena terlalu lelah mengayun pedang untuk menumpahkan darah manusia.

Perlahan, ia menyapu sekeliling. Kemarin padang rumput ini masih begitu indah diisi dengan lambaian rumput-rumput liar, hari ini keindahan itu sama sekali tak terlihat.

Tempat di mana para rumput melambai telah ditindih dengan tubuh-tubuh tanpa nyawa yang bersimbah darah. Orang-orang di atas sana selalu bilang soal “demi perdamaian”, tapi Mahesa sama sekali tak bisa lihat kata “damai” di sini.

Lalu ia menyentuh tangan yang mengenakan gelang perak itu, tangan yang dulu selalu menyentuh bahunya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Akan tetapi kini di antara mayat lain yang sulit dikenali, tangan itu memucat dan tergeletak bisu.

Mahesa tak tahu di mana tubuh dari tangan tersebut, dia hanya menemukan tangannya, tidak dengan anggota tubuh yang lain.

Memandangi tubuhnya yang berbalut pakaian perang, tampak gagah ketika berjalan di jalan-jalan besar ibu kota. Namun sekarang, mereka hanya seperti tumpukan serangga yang berceceran tak berarti.

Saat itu Mahesa berlutut di antara para saudara yang tak lagi punya nyawa, walau pimpinan dengan bangga mengatakan bahwa mereka akhirnya berhasil mengusir Kedatuan Saloka kembali ke utara, tapi tak ada yang bisa mengembalikan orang yang mati ke dunia ini.

“Aku akan keluar ... aku tak ingin tinggal lebih lama di neraka ini ....”

Hari itu keputusan Mahesa sudah bulat, ini adalah perang terakhirnya.

***

Dari sorot mata yang tajam, terlihat bahwa orang ini memiliki kemampuan. Kerutan di dahinya menandakan jika ia telah melihat sesuatu yang teramat pahit. Mudah diduga bahwa orang itu berhati keras dan pantang menyerah hanya dari tarikan dagu yang tegas.

Itulah Mahesa, seorang pria yang baru dua puluh lima tahun, tapi sudah kehilangan begitu banyak selama di medan tempur. Teman-teman yang hari ini baru dikenalnya mungkin besok sudah pergi ke surga. Para sahabat yang berjanji akan mati bersama mungkin lusa telah meninggalkannya.

Mengingat semua itu, Mahesa menarik napas dalam-dalam. Rambutnya yang sedikit panjang dikuncir dengan tali putih, begitu pula dengan jubahnya.

Terdapat sebatang pedang dengan ronce merah di pinggangnya, pedang itulah yang selalu menemani Mahesa selama di pertempuran melawan Kedatuan Saloka.

Sebelum memasuki Desa Waringin, desa tempat kelahirannya, lebih dulu Mahesa berhenti sejenak untuk merangkapkan dua tangan di depan dada. Mulutnya berbisik kepada langit. “Kumohon, beri keadilan dan kedamaian bagi mereka.”

Kemudian langkahnya membawa ia masuk ke Desa Waringin, desa kecil yang sudah lima tahun ia tinggalkan.

Rasa haru memenuhi rongga dada. Setiap tarikan napas terasa begitu segar karena tak ada lagi bau anyir darah atau logam dingin yang begitu menyengat. Tak ada lagi suara teriakan kesakitan, jerit ketakutan, dan seruan perang. Mahesa hanya mendengar suara tawa anak-anak dan mulut ibu-ibu muda yang sibuk bergosip.

“Seperti surga ...,” gumamnya.

Akan tetapi, langkahnya kembali terhenti ketika mendengar ucapan wanita muda di depan sebuah warung makan. Walau ucapan itu tak bisa dibilang cukup keras, tapi karena telinga Mahesa yang terlatih, ia mampu mendengarnya.

“Baru saja orang-orang Lurah Cokro pergi ke rumah Keluarga Nirbaya.”

“Aku juga lihat,” balas wanita lainnya. “Semoga saja Indriani baik-baik saja.”

“Kuharap lurah kikir itu masuk neraka!”

Kerut di kening Mahesa makin dalam, ada yang tidak beres, pikirnya.

Ia bergergas menuju bukit kecil yang berada di sebelah utara desa. Dari sini sudah nampak atap rumah besar di sana, itulah rumah peninggalan mendiang ayah dan ibunya, tempat dulu menghabiskan masa kecil.

Tiba di sana, Mahesa melihat seorang gadis cantik dikelilingi selusin pria berpakaian kasar dengan golok di pinggang. Mereka berseru-seru tidak sopan, mengatakan sesuatu yang sangat tak patut di dengar, dan juga soal hutang.

Melihat itu sekonyong-konyong kemarahan menggelegak dari dada sampai serasa mencekik lehernya.

“Bajingan, apa yang kalian lakukan pada adikku?!” bentak Mahesa dengan suaranya yang menggelegar.

Dada mereka semua bergetar mendengar suara ini dan selusin pria itu lekas balikkan badan.

Melihat pemuda dengan wajah yang tidak terlalu asing, salah satu dari mereka maju selangkah. “Bukankah kau Mahesa, orang yang pergi jadi prajurit itu?”

“Kau sendiri siapa? Tuan rumah baru di sini?!” balas Mahesa sinis.

“Ah, kukira sudah mati,” celetuk lelaki lain yang disambut gelak tawa oleh sebelas teman-temannya.

Ternyata walau dia cukup asing dengan wajah mereka, beberapa di antaranya mengenal Mahesa.

Mahesa menggertakkan gigi menahan murka. Ia belum tahu apa yang terjadi, tapi melihat wajah pucat adiknya, mudah disimpulkan pasti telah terjadi hal yang tidak baik.

Mahesa melangkah memasuki halaman besar itu dan memandang wajah mereka satu per satu. Dengan ucapan yang tanpa diperhalus, Mahesa kembali berkata, “kalian siapa dan ada urusan apa datang ke sini?”

Pria yang berdiri paling depan, yang berambut panjang, mengedikkan bahu. “Mungkin kau akan menyesal karena masih hidup jika kuberitahu?”

“Hah?”

“Adikmu punya hutang kepada majikan kami, Lurah Cokro,” balas pria berambut panjang. “Kami di sini hanya menagihnya.”

Mahesa melebarkan mata sesaat. Diliriknya sang adik yang saat itu sedang menunduk dalam-dalam.

Dulu sebelum kepergiannya menjadi prajurit, Mahesa sangat ingat tidak ada hutang sepeser pun kepada siapa pun. Walau hidup mereka tak bisa dibilang mewah, tapi tetap bisa makan kenyang setiap hari. Kenapa kini tiba-tiba ada hutang?

Tangan Mahesa terkepal. “Lalu apa maksudnya dengan ucapan-ucapan kotor yang kalian tujukan kepada adikku? Kalian hanya menagih hutang, kan?”

“Iya, tapi adikmu tak bisa bayar.” Lelaki itu menunjukkan sekantong kecil berisi emas. “Ini hanya cukup untuk membayar bunga, bukan hutangnya.”

“Jadi kami minta bayaran yang lain, apakah salah?” Balas temannya.

Tawa mereka kembali berkumandang, lebih keras daripada tadi.

Wajah Mahesa memerah, tubuhnya gemetar menahan penghinaan yang luar biasa itu. Perlahan urat-urat menonjol di dahi. “Bajingan busuk!”

Secepat kilat pedangnya tercabut dan terlontar keras menuju muka si pria berambut panjang. Beruntung Mahesa tidak terlalu terbawa nafsu sehingga walau sudah amat murka, ia tak mau membunuh orang sembarangan.

Pedang itu mengeluarkan suara mendesing dan menancap di dinding rumah dengan bilah basah cairan merah.

Tanpa dapat dilihat oleh mata siapa pun, pedang itu baru saja menggores pipi pria berambut panjang dengan cukup dalam hingga meneteskan darah.

Tawa mereka berhenti mendadak, selusin orang itu kini memandang Mahesa dengan tatapan berbeda.

“Kau baru pulang, tapi sudah bersikap arogan di sini.” Seorang pria botak menarik goloknya perlahan. “Sepertinya kau harus diberi pelajaran.”

Hal itu diikuti oleh teman-temannya yang dalam sekejap golok mereka sudah berada di tangan.

Pria berambut panjang tadi menyentuh pipinya yang berdarah, lantas menyeringai. “Kau ingin mati?!”

“Pertanyaan yang sama untukmu!”

“Habisi dia! Persetan dengan hutang, selama Indriani masih hidup, kita bisa mendapat bayaran yang lain!”

Sebelas orang itu bergerak dengan gesit mengurung Mahesa. Lalu dengan satu aba-aba, golok mereka bergerak menyerang mengarah titik-titik vital.

“Kakak, awas!” jerit Indriani dengan panik.

Namun, Mahesa adalah seorang pemuda yang hidup di medan perang. Di sana yang dihadapi bukan hanya selusin orang, tapi ratusan bahkan ribuan.

Sudah tak terhitung jumlahnya Mahesa hampir mati, serangan semacam ini tak pernah ia lihat dalam medan tempur. Baginya itu terlalu lemah dan berantakan.

Mahesa memundurkan sedikit tubuhnya, menghindari tebasan golok dari depan sementara kakinya menendang ke samping. Terdengar jerit kesakitan ketika kaki itu tepat mengenai lutut lawan di kiri.

Ia melanjutkan dengan gerakan memutar tubuh sambil menundukkan badan. Dua golok berdesing di atas kepala, lalu tangan Mahesa bergerak menarik kaki dua orang penebas golok itu. Terdengar seruan lagi saat mereka jatuh, dengan cepat Mahesa merebut golok keduanya.

Dengan dua golok tersebut, ia menangkis dan balas menyerang serangan-serangan mereka. Terdengar suara berdenting dan tampak bunga api berpijar beberapa kali sebelum kesebelas orang itu berhasil dirobohkan. Ada yang patah tulang atau luka ringan.

Mahesa tak mau asal membunuh karena maklum siapa orang di baliknya. Meskipun ia belum pernah mengenal apalagi bertemu siapa itu Lurah Cokro, tapi dari namanya jelas bahwa sosok itu adalah seorang lurah, seorang yang memiliki kedudukan.

Jika asal bunuh, bisa-bisa urusannya semakin runyam.

Pria berambut panjang tadi melongo, dirinya sudah siap maju mengeroyok dengan golok saat menyadari kesebelas temannya telah tumbang dan merintih kesakitan.

“Eh ... eh?”

Mahesa membuang dua golok tersebut. “Katakan pada majikanmu,” ucapnya penuh penekanan. “Aku sudah pulang, tagih hutang itu padaku dan jangan ganggu adikku. Jika kalian lakukan lagi, maka kalian mati!”

Mereka sadar Mahesa adalah seorang prajurit, pembunuhan pasti sudah jadi hal biasa. Seketika nyali para tukang pukul yang tadi sebesar kucing kini menyusut jadi sebesar tikus.

Si rambut panjang meneguk ludah dan demi menyembunyikan rasa malu, ia berjalan melewati Mahesa tanpa mengatakan apa-apa walau dengan badan sedikit gemetar.

“Bawa teman-temanmu atau akan kubantu menguburkannya!”

Pria itu berbalik lagi, berseru kasar pada mereka agar cepat bangun dan menolong yang tak bisa berjalan. Baru setelahnya selusin orang itu pergi dengan “damai”.

“Kakak!”

Indriani menghambur dalam pelukan Mahesa, tubuhnya bergetar menahan tangis.

Mahesa menghela napas lalu mengelus lembut kepala sang adik. “Mari masuk, aku ingin kau menceritakan semuanya.”

Kepala gadis itu mengangguk perlahan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca