
Rahasia Rahasia di Desa Tentrem
rejekingalir|Bersambung
- Jumlah kata
- 3.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 3.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Di desa ini masing masing orang punya rahasia tersembunyi. Ada yang lucu, meyedihkan dan mengagetkan. Pak Edi si penjual ongol ongol keliling setiap hari berjualan di desa dan semua orang selalu mencarinya untuk memecahkan masalah. Masalah baru dan puluhan tahun datang silih berganti. Pak Edi mendengarkan semua keluh kesah warga. Tetapi masih ada beberapa masalah yang belum terjawab sampai saat ini. Lalu apa saja masalah yang tersembunyi di sana??
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bebek Bu Menik Hilang
Pak Edi bersiap siap berjualan ongol ongol. Warna nya cantik cantik ada yang merah, hijau dan biru. Rasanya enak dan manis. "Bismillah" ucap Pak Edi. Laris manis tanjung kimpul. Dagangan laris duit ngumpul.
Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Pak Edi berhenti di pinggir jalan depan sungai yang tak jauh dari SD Kembang Teleng 5. Pas juga Pak Sono sedang lewat mengantarkan anaknya Weni ke sekolah.
"Aloooo Edi abangku. Yang rajin ya Jualannya. Hahahah..."
Iya No. Istrimu kemana nggak nganterin? Biasanya dia yang nganterin sekolah.
"Lagi datang bulan ngga bisa bangun perutnya sakit banget katanya"
Ketika sedang asyik mengobrol, tiba tiba bu Menik datang tergesah gesah sambil lari.
"Kenapa bu?" Tanya Pak Sono.
"Bebek saya hilang Pak". Sambil menangis si ibu bercerita.
"Memangnya hilang dari kapan bu?" Tanya Pak Edi
"Dari tadi jam 04.00 subuh. Mau saya beri makan baru buka kandang bebeknya ngga ada. Saya cari cari keliling tidak ketemu ketemu."
Barangkali di hilir sungai mungkin ibu.
Iya deh nanti saya cari lagi. Saya kelaparan Pak. Mau dong ongol ongol nya tiga yang hijau. Saya istirahat dulu deh. Capek banget nyari dari subuh.
Yaudah ibu saya lanjut jualan lagi ya. Masih banyak dagangan saya.
Pak Edi mendorong gerobaknya.
"Ongol-ongol murah enak.."
Iya Pak. Sahut si Ibu.
Setelah mengitari desa sebanyak tiga kali putaran. Waktu menunjukkan pukul 16.30 dan jualan Pak Edi sudah habis.
"Alhamdulillah dagangan ku sudah habis. Capek banget ya Allah. Tiduran dulu ah di pos sebentar. Badan remuk rasanya". Ujarnya.
Baru setengah jam tidur, Ibu Menik teriak teriak lagi sehingga membangunkan Pak Edi.
"Aduh itu suara apa sih? Lagi tidur sampe kaget. Kirian ada apa." Ujar nya.
"Pak, sampe sekarang bebek saya belum ketemu. Bagaimana ini? Mau saya jual buat acara kelulusan anak saya Anto" ujarnya.
Ayo deh bu saya bantu carikan. Kebetulan dagangan saya sudah habis. Ini saya punya peluit. Nanti kalau belum ketemu misal sudah satu jam saya tiup. Kalau ketemu saya tiup juga. Jadi biar ibu tahu saya dimana. Bagaimana?
Oke deh Pak.
Jadi ibu jalan ke arah hulu. Saya jalan ke arah sekitaran rumah pak Arjuno. Barang kali beliau lihat.
Tak terasa satu jam telah berlaku keduanya sudah mencari tetapi tidak ketemu. Karena kecapean akhirnya mereka pulang bersama karena jalannya satu arah.
Tiba tiba Pak Edi melihat ada bulu bebek yang rontok.
"Bu, coba kita ikuti sampai mana rontokan bulu ini."
"Iya Pak"
Setelah lima menit mengikuti bulu bebek yang hilang dan persis di depannya rumah Pak Warto.
Beberapa warga melihat ada ramai ramai di depan rumah lalu berbisik bisik.
Salah seorang dari mereka berkata: tuh jangan jangan Pak Warto deh yang ambil.
Warga yang lain bilang: setuju, benar.
Seorang ibu berkata: ngga nangka ternyata Pak Warto maling.
Warga yang lain menyerukan, coba di cek bu dan Pak. Benar atau tidak ada disitu.
Bu Menik dan Pak Edi mengetok pintu rumah Pak Warto dan memberi tahu bahwa bebek ibu Menik hilang, tetapi bulu nya berhenti di depan rumah Pak Warto.
Pak Warto berkata mana saya tahu ada bebek. Saya juga tidak mengerti kenapa bulu nya ada dekat rumah saya. Kalian jangan asal menuduh saya maling. Sumpah saya tidak mengambil itu bebek.
"Coba kita lihat bareng bareng yuk. Ini kira kira dimana ya bebeknya?" Ujar Pak Warto.
Mereka bertiga sudah mencari selamat lima menit. Sampai pak Edi berjongkok siapa tahu ada di kolong kursi atau meja. Lalu terdengar suara dari kamar anak Pak Warto si Eri.
"Ri, ri bangun" ujar Pak Warto.
Eri kemudian membuka pintu dan Pak Warto beserta yang lain tertawa. Karena di kasur anaknya ada bebek yang dicari.
"Kok bisa itu bebek ada dikasur kamu?"
"Aku juga ngga tahu Pak. Apa mungkin dia masuk lewat jendela" ujar sang anak.
"Alhamdulillah ketemu bebek saya. Nama bebek saya Cimimiw. Soalnya dia lucu. Terima kasih pak, bebek saya sudah ketemu. Besok pagi mau saya jual ke tukang bebek potong". Pak Warto menggelengkan kepala karena heran kok bebeknya bisa dirumahnya. Saya sampai dituduh mencuri karena bebek yang hilang. Warga yang berkerumunan kemudian berangsur angsur meninggalkan rumah Pak Warto.
Lalu bu Menik jalan pulang setelah seharian kecapean mencari bebek nya. Dia berjualan sembari tersenyum. Sampai dirumah suaminya pingsan karena mengetuk pintu tetapi tidak dibukakan.
Si ibu yang panik membuka pintu dan mengambil minyak kayu putih lalu meletakkan dekat hidung suaminya supaya terbangun.
Setelah terbangun, ibu menceritakan kalau dari pagi mencari Cimimiw baru saja ketemu dan merasa sangat lelah.
Suami istri tersebut lalu meletakkan bebek di kandang dan bersiap siap untuk tidur karena waktu menunjukkan sudah pukul 22.00 malam hari.
Sedangkan Pak Karso senang, karena beliau terbebas dari tuduhan bahwa dia yang mengambil bebek nya Ibu Menik karena masuk kerumah nya.
Sementara itu Pak Edi.
Setelah bebeknya ketemu, Pak Edi melewati balai desa. Lalu menemukan secarik kertas yang di tempel di papan bertuliskan: jangan mencari sumur tua di belakang desa!
Setelah membaca pengumuman itu Pak Edi bingung maksudnya apa. Dan siapa yang menulis dan menempelkan disitu? Pak Edi membaca lagi dengan seksama kertas yang di tempel. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ada omongan tentang sumur tua itu. Namun semakin ia mencoba berfikir, semakin ia sulit mengingat. Warga desa pun sepertinya sudah melupakan sumur itu.
Karena selama ini tidak ada yang pernah membahas tentang sumur tua di belakang desa dekat sawah yang membentang luas tetapi tidak terurus. Angin malam menembus sampai ke tulang. Kertas yang menempel tertiup angin. Pak Edi melihat kejauhan gelap dan hanya ada bayangan pohon pisang. Tidak Ada seorang pun disana.
Ia berkata dalam hati. Lalu siapa yang menempelkan kertas itu? Tetapi semakin berfikir, semakin ia malah tidak mendapat jawaban.
Kemudian ia mencabut kertas itu dan berfikir besok ia harus mencari tahu. Ia lalu berjalan melewati desa yang mulai sepi. Sesaat sedang berfikir, ia masih belum mengetahui bahwa ada rahasia besar di Desa Tentrem yang dulu pernah terjadi. Ia tidak tahu bahwa secarik kertas akan merubah hari hari nya. Dan mungkin juga merubah desa Tentrem selamanya. Dan dari kejauhan seseorang memperhatikan dengan senyum tipisnya. Lalu menghilang dalam gelapnya malam dan suara jangkrik yang keras. Malam itu desa terlihat tenang, tetapi ketenangan itu tidak akan berlangsung lama.
Daftar bab
3 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








