
- Jumlah kata
- 34.0K
- Popular
- 125
- Subscribe
- 19
Sinopsis
Dikhianati. Dibunuh. Dilahirkan kembali. Bram Wiratama, Raja Tabib dengan Urat Mati Bawaan, hampir saja mengubah takdirnya lewat Pil Penjernih Sumsum. Namun sahabat, keluarga, dan para alkemis serakah bersekutu merampas pil dan Api Nila miliknya—lalu membunuhnya. Seratus tahun kemudian, ia terbangun dalam tubuh seorang pemuda yang diremehkan. Musuh-musuhnya kini menjadi tokoh puncak Benua Timur. Sementara Bram? Ia hanya punya satu senjata: pengetahuan alkimia yang tak tertandingi. Dengan Api Nila di tangan dan dendam di dada, Bram melangkah ke panggung dunia. Ia akan meracik pil yang mengguncang langit, menyapu bersih semua pengkhianat, dan membuktikan bahwa Raja Tabib tidak pernah benar-benar mati.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 - Pengkhianatan
Api biru kehijauan melayang sejengkal di atas tanah, berdenyut tanpa henti. Nyalanya tampak tenang, tetapi hawanya begitu pekat sampai udara di sekitarnya bergetar samar. Siapa pun yang melihatnya akan tahu bahwa api itu bukan api sembarangan.
Di atasnya bertengger sebuah kuali obat seukuran setengah kepala manusia, permukaannya diselimuti kabut biru. Dari dalamnya terdengar suara-suara aneh, dan tutupnya berdentang seperti dihantam sesuatu yang hidup. Ramuan yang dimurnikan di dalam kuali itu jelas bukan pil biasa.
Seorang pria paruh baya berwajah pucat dan bermata merah menatap kuali itu tanpa berkedip. Bibirnya bergetar menahan gembira.
"Pil Penjernih Sumsum akhirnya selesai juga..."
Lembah itu terpencil dan dalam, tersembunyi di pegunungan tak berujung di perbatasan Kerajaan Arunika, Benua Timur. Ada banyak lembah serupa di sana, tetapi hanya satu yang namanya dikenal sampai ke ujung benua: Lembah Raja Tabib. Penghuninya adalah Bram Wiratama, Raja Tabib Tingkat Lima.
Siapa pun yang mendengar nama Bram pasti teringat pada kemampuan racik pilnya. Ia sanggup menciptakan pil tingkat lima ke bawah dengan mudah, sesuatu yang nyaris tak ada tandingannya di seluruh Benua Timur. Namun yang lebih sering dibicarakan orang adalah tubuhnya yang istimewa, yang dikenal sebagai Urat Mati Bawaan.
Di Benua Nawa, orang yang ingin menempuh jalan kultivasi membutuhkan dua syarat: urat yang mampu mengalirkan tenaga murni, dan raga yang kokoh. Bram lahir dengan urat yang layu, tidak bisa menampung tenaga langit dan bumi. Keluarganya menganggapnya sampah yang ditakdirkan tak akan pernah berkultivasi, lalu menghinanya tanpa henti.
Pada usia lima belas tahun, dengan dada penuh benci, ia kabur dari rumah. Bertahun-tahun ia mengembara menembus gunung dan sungai yang dihuni binatang iblis demi mencari tumbuhan ajaib untuk mengubah tubuhnya. Berkali-kali ia nyaris mati. Dari pengembaraan itu ia mengenal khasiat ribuan tanaman obat dan mengumpulkan banyak resep pil.
Keberuntungan terbesarnya datang di tempat paling berbahaya, saat ia menemukan salah satu api sejati langit dan bumi, Api Nila. Dengan tubuh lumpuh tanpa tenaga dalam setetes pun, ia berhasil menjinakkan secuil api itu setelah percobaan yang tak terhitung jumlahnya.
Puluhan tahun berlalu, dan dunia memanggilnya Raja Tabib. Sepanjang waktu itu ia terus menyempurnakan resepnya, hingga lahirlah Pil Penjernih Sumsum.
"Glug, glug..."
Suara di dalam kuali makin keras. Aroma obat yang pekat merembes keluar dari sela tutupnya dan memenuhi lembah.
"Selesai!" seru Bram, kedua tangannya terkepal. "Dengan pil ini, aku tak akan lagi terkurung oleh tubuh bawaanku. Aku bisa berkultivasi seperti orang lain, dan mungkin suatu hari melangkah ke Jalan Keabadian."
Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, tetapi tangannya masih gemetar saat terulur ke kuali. Pil yang bisa mengubah nasibnya ada tepat di depan mata. Pil yang ia impikan seumur hidup. Bagaimana mungkin ia tidak bergetar?
"Pil Penjernih Sumsum..."
Bram hendak mengangkat tutup kuali.
Wusss!
Udara di dekatnya terkoyak. Sebuah cahaya dingin melesat ke arah titik vitalnya, membawa niat membunuh yang pekat.
Jantung Bram serasa melompat ke tenggorokan. Namun tahun-tahun bertahan hidup di alam liar membuat tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia berguling ke samping sambil meraih kuali.
Tangannya menyentuh logam panas, tetapi kuali itu terlepas begitu saja dari genggamannya. Seseorang telah merebutnya.
Di tempat Bram berdiri tadi, sebilah pedang tipis menancap di tanah. Hanya gagangnya yang menyembul.
"Siapa!" bentak Bram sambil bangkit. "Siapa yang berani mencuri kualiku? Tunjukkan dirimu!"
Dadanya terbakar amarah. Hampir seumur hidup ia berjuang demi pil itu, dan sekarang pil itu direbut di depan matanya.
Lalu satu nama terlintas di kepalanya.
"Dirga! Kau, kan?"
Sebelum mulai meracik, Bram hanya mempercayakan penjagaan lembah ini kepada satu orang, sahabatnya, Dirga Kusuma, pendekar puncak Tingkat Pembuka Urat. Tak ada orang lain yang tahu tentang pil ini. Kalaupun ada yang berniat mencuri, mereka tak akan lolos dari Dirga. Jadi hanya ada satu kemungkinan.
"Benar. Ini aku."
Suara itu datang dari balik hutan lebat di depan. Seorang pria jangkung dan tampan melangkah keluar. Di belakangnya mengikuti tujuh atau delapan pria berjubah panjang, dan seorang wanita bergaun anggun.
Wajah Bram berubah. "Dirga, kau bersekutu dengan mereka?"
Semua orang di belakang Dirga adalah musuh Bram, termasuk dua alkemis yang sudah lama menjadi lawan bebuyutannya.
"Kenapa?" tanya Bram dengan suara bergetar.
Dirga menjawab datar, "Sederhana. Demi Pil Penjernih Sumsum."
Hati Bram seperti dihantam palu. Ternyata benar.
Amarah meledak di dadanya. Satu-satunya harapannya untuk berkultivasi ada di dalam kuali itu, dan orang-orang ini datang untuk merampasnya.
"Waktu kau dikejar musuh dan hampir mati, akulah yang menyelamatkanmu dengan pilku!" teriak Bram. "Aku merawat tubuhmu sampai pulih dalam tiga tahun. Kekuatanmu melonjak dari tingkat ketiga Pembuka Urat sampai tinggal selangkah lagi ke Samudra Inti. Beginikah caramu membalas budi?"
"Aku tidak menyangkalnya," jawab Dirga tanpa malu sedikit pun. "Tanpa pertolonganmu aku sudah lama mati, apalagi sempat membalas dendam. Kau memang penyelamat hidupku."
Ia melanjutkan dengan tenang, "Tapi pikirkan, Bram. Pil itu memang bisa memberimu bakat. Namun usiamu sudah separuh baya. Setinggi apa kau bisa melangkah? Paling jauh kau hanya mencapai puncak Pembuka Urat. Samudra Inti tak akan pernah tersentuh olehmu. Untuk apa membuang pil sehebat itu?"
Bram menatapnya dengan rahang mengeras.
"Bagiku pil ini jaminan untuk menembus Samudra Inti," kata Dirga terus terang. "Begitu aku di sana, jalan menuju keabadian terbuka. Kalau aku diterima di perguruan langit, bayangkan setinggi apa aku nanti."
"Rencana yang cerdik," desis Bram. Matanya menyapu orang-orang di belakang Dirga. "Pil itu untukmu, aku masih bisa menerimanya. Kau punya bakat, dan memberikannya padamu tidak sia-sia. Tapi mereka? Untuk apa kau bawa para alkemis ini? Resepku?"
Bram mengenali mereka semua. Mereka alkemis ternama dari berbagai wilayah. Dulu, ketika namanya mulai naik, ia beberapa kali berduel racik pil dengan mereka dan selalu menang tipis. Ia juga pernah berebut bahan langka dengan mereka, jadi mereka bukan orang asing.
Plok, plok, plok.
Salah satu dari mereka bertepuk tangan pelan sambil tersenyum puas. "Memang pantas disebut Raja Tabib. Cerdas sekali. Ya, benar. Toh sebentar lagi kau mati, apa gunanya resep itu bagimu? Serahkan saja. Anggap itu amal."
Seorang lelaki tua melangkah maju dengan dagu terangkat. "Orang tua ini tertarik pada Api Nila milikmu."
"Begitu mereka menguasai resep dan apimu, kemampuan racik mereka tak akan kalah darimu," sambung Dirga tanpa menyembunyikan apa pun. "Mereka akan menyediakan pil yang kuperlukan nanti. Kau memang tiada tanding di Wilayah Timur, tapi kau tidak punya tenaga inti untuk memurnikan pil tingkat tinggi. Mereka punya."
"Sungguh rencana yang matang," geram Bram. Wajahnya makin gelap.
Pandangannya berhenti pada satu-satunya wanita di antara mereka. Matanya mendingin.
"Putri Kirana. Waktu itu Anda memohon agar aku menyembuhkan ayah Anda, dan Anda berjanji Kerajaan Arunika tidak akan pernah mengusikku lagi. Apa yang membawa Anda kemari hari ini?"
Putri Kirana membuka bibir merahnya dengan sikap anggun. "Raja Tabib telah menyembuhkan penyakit ayahku yang dikira tak tertolong dan memperpanjang usianya. Aku berterima kasih."
Lalu nada suaranya berubah, dan kalimat berikutnya membuat Bram merinding.
"Karena rasa terima kasih itulah Anda bisa memurnikan pil dengan tenang di lembah ini selama bertahun-tahun. Akulah yang menghalau semua orang yang mengincar Anda. Karena itu pula kita bisa berdiri di sini hari ini."
Bram tertawa terbahak-bahak, tawa orang yang terlalu marah untuk menangis. "Bagus! Luar biasa! Jadi aku bisa tenang selama ini berkat kebaikan Putri Kirana dan keluarga kerajaan. Hahaha!"
"Bram!" Seorang pria paruh baya menyela. "Sebagai anggota keluarga Wiratama, kau wajib berbakti pada keluarga. Demi nama leluhur kita, serahkan resepnya. Aku akan memohon pada mereka semua agar membiarkanmu hidup."
Tatapan Bram langsung menusuk. "Hendra. Kakak tiriku yang baik. Dulu kau menghinaku di setiap kesempatan, dan sekarang kau datang untuk merampas resepku. Aku harus berterima kasih karena kau begitu menghargaiku."
Hendra Wiratama juga seorang peracik pil. Kini ia berdiri di pihak yang ingin menghabisi adiknya sendiri.
"Kau meninggalkan rumah tanpa izin, itu pelanggaran berat," kata Hendra dengan wajah gelap. "Keluarga mengutusku untuk menangkapmu. Kalau kau tahu diri, serahkan resepnya. Jangan salahkan aku kalau aku tak berbelas kasih."
"Semua orang tahu apa yang kau inginkan," sahut Bram dingin. "Tak perlu repot membuat alasan."
"Cukup omong kosongnya!" bentak seorang alkemis. "Serahkan resep dan beri tahu di mana kau menyembunyikan Api Nila. Kalau tidak, kau akan tahu rasanya dibakar hidup-hidup!"
"Kau pikir kau pantas?"
Rambut hitam Bram berkibar. Suaranya rendah dan tajam. "Hidupku penuh kesulitan, tapi aku tak pernah menunduk pada siapa pun. Kau pikir kau berhak mengancamku?"
Matanya menyapu Dirga, Hendra, Putri Kirana, dan para alkemis ternama itu satu per satu. Setiap jalan keluar sudah tertutup. Namun justru di saat itulah sorot matanya berubah mantap.
"Aku sudah melewati begitu banyak penderitaan untuk sampai ke titik ini," kata Bram lantang. "Tak akan kubiarkan kalian menginjak-injak aku. Kalau kalian menginginkan pil itu, langkahi dulu mayatku!"
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








