
Alat Urut Warisan Mbah Buyut
Mas Timboel|Bersambung
- Jumlah kata
- 77.5K
- Popular
- 3.2K
- Subscribe
- 371
- Jumlah kata
- 77.5K
- Popular
- 3.2K
- Subscribe
- 371
Sinopsis
"Bang, pijetannya enak. Bisa pijet yang lain juga?" Rama Mulyorejo merasa hidupnya kacau balau setelah kemalangan yang menimpa. Dari tuduhan penipuan sampai ia harus bayar ganti rugi atas uang yang bahkan tidak pernah ia nikmati. Hingga saat ia benar-benar putus asa, ia justru menemukan warisan Mbah Buyut yang berhasil merubah nyaris seluruh jalan hidupnya
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Bukan Aku Pelakunya
Plak!
Tumpukan dokumen dengan berbagai laporan itu dijatuhkan dengan sangat kasar di depan mata Rama.
Direktur hari itu memarahinya dengan begitu kasar karena kasus yang sedang terjadi, dan semua adalah salah Rama menurut semua bukti yang ada.
Rama memungut semua lembaran itu dengan tubuh yang sangat tegang. Nyaris tidak ada celah untuk membela diri karena semua yang ada di depan mata begitu sempurna.
“Pak. Saya bersumpah, ini semua bukan saya yang membuatnya.” Rama tertunduk lesu dan tengah membela diri sendiri dengan sisa harga diri yang ia punya.
“Terus, siapa? Kamu mau bilang ini salah siapa kalau bukan salahmu!” sergah pria bertubuh tambun dengan setelan jas lengkapnya itu.
“Sumpah, Pak. Saya tidak tahu dengan semuanya. Proposal ini bukan saya yang buat, Pak. Tapi—”
“Ini buktinya! Ini tanda tangan kamu, dan ini bukti kalau kamu sudah ketemuan sama penjual kayu ilegal itu!” Sekali lagi Rama disergah olehnya dengan suara keras dan nada yang begitu kasar.
“Kamu saya pecat secara tidak hormat! Kamu juga harus membayar ganti rugi yang sudah kamu berikan pada Perusahaan.”
“Pak, beri saya kesempatan untuk urus semua ini.” Rama memohon dengan wajah yang sudah begitu lesu dan memelas dengan berbagai cara.
“Urus apa? Kamu tahu mereka produsen ilegal dan kamu ACC begitu saja. Kamu mau ditangkap Polisi juga karena kecatut masalah ini? Mikir, Rama!” Pria itu menunjuk kening Rama dengan begitu kasarnya.
“Kamu itu pinter, tapi keblinger. Saya akui kamu pekerja keras, tapi kamu itu—Aaah!” Sampai bingung sang bos, harus mencecar Rama dengan kata kata apa lagi kali ini.
“Sekali lagi! Kamu saya pecat, dengan tidak hormat, tanpa pesangon dan yang lain! Kamu juga harus ganti kerugian itu. Saya tidak mau tahu! Kamu jual apa kek, terserah.”
Rama hanya bisa diam dengan kepala tertunduk saat itu.
Rama tahu siapa yang melakukan itu semua, dan ia tahu apa motifnya. Ia memang bodoh karena terlalu percaya dengan orang lain hingga mereka justru memanfaatkan kebaikannya itu.
Awalnya semua karena proyek untuk membangun sebuah perumahan, hingga mereka butuh banyak kayu berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah dengan jumlah seribu lebih itu.
Mereka mengadakan tender, dan Rama sebagai manager proyek di Perusahaan yang bertanggung jawab atas semuanya.
Sialnya, ia ditipu rekan kerjanya sendiri. Produsen kayu yang katanya resmi itu rupanya ilegal, dan mereka tertangkap ilegal loging dalam jumlah besar.
Hal itu sontak membuat perusahaan yang menaunginya ikut terseret secara hukum dan membayar denda yang cukup besar untuk menutupi semuanya. Lebih parah lagi, mereka harus membuang Rama karena menjadi penyebab atas semuanya.
Rama keluar dari ruangan bosnya itu dengan langkah yang gontai, ia masuk ke dalam ruangannya sendiri yang selama ini ia banggakan sebagai hasil kerja keras.
“Bang Rama,” panggil seorang gadis yang selama ini cukup dekat dengannya, dan baru satu tahun bekerja di sana.
“Anin?” tatap Rama.
“Bang, Anin ikut perihatin atas apa yang terjadi. Maaf, Anin tidak bisa belain atau—”
“Udahlah, ngga perlu fikirin itu. Ini memang salahku sendiri karena terlalu percaya dengan teman.” Rama mulai membereskan semua barang miliknya yang ada di ruangan itu dan memasukannya ke dalam kardus.
Ruangan yang besar dan sangat nyaman itu sudah ia tempati tiga tahun ini, setelah berjuang tujuh tahun lebih di perusahaan besar itu.
Ibarat pepatah, nila setitik merusak susu sebelanga. Tapi sakitnya tidak kira kira.
Semua orang yang ada di kantor saat itu menatapnya dengan sinis dan pasti sedang membicarakannya. Padahal, Rama yang selama ini memperjuangkan mereka.
“Bang Amar hari ini tidak masuk,” ucap Anin.
“Kenapa kamu bahas dia? Aku sudah ngga mau dengar namanya.”
“Tapi Anin tahu, kalau dia itu yang—”
“Sudah, Anin. Kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah ini dan kamu lebih baik pura pura tidak tahu, daripada kamu juga ikut terseret nanti.”
Rama mendekat pada gadis cantik bermata sipit itu, dan ia raih wajahnya dengan tatapan penuh peringatan. “Mereka bisa hancurkan siapapun yang ikut campur dalam masalah ini.”
Semuanya, sekarang terasa begitu berbahaya dan mengancam. Apalagi yang berurusan dengan masalah Rama. “Anin dengarkan Abang, ya? Pokoknya, Anin diam saja dan tak perlu ikut campur masalah ini. Tutup mata, dan tutup telinga.”
Gadis itu mau tak mau mengangguk mendengar perintah Rama, karena ia tahu bahwa semua adalah untuk kebaikannya.
“Rama!” Datang seorang pria dengan beberapa berkas yang ia bawa.
Pria itu bernama Dika, dan ia memasang wajah tak enak padanya. Ia juga tahu masalah ini bukan salah Rama, tapi ia memilih diam tak berani melakukan apapun untuk membelanya.
“Dika, ada apa?” tanya Rama dengan wajah lelahnya.
“Aku bawa ini, beberapa daftar tuntutan yang harus segera kamu selesaikan. Maaf, aku harus-“
“Ya, aku paham. Aku tahu jika kamu dalam posisi yang cukup sulit sekarang. Kamu tidak boleh tersandung dalam masalah ini juga.” Rama berusaha tegar dan mengusap bahu sahabatnya itu.
Berkas yang dibawa Dika, Rama raih dan Rama buka lalu ia baca dengan seksama. Rama memejamkan mata, mau tak mau ikhlas menerima apa yang terjadi padanya.
Semua total kerugian perusahaan yang diakibatkan oleh kesalahan itu cukup besar, dan semua harus ditutup segera sebelum pihak perusahaan dipanggil tim pengadilan.
“Empat ratus lima puluh juta?” Rama menarik napas dengan wajah yang langsung pias.
“Abang,” panggil Anin lagi dengan wajah cemas dan langsung memberinya air minum untuk ternggorokan Rama yang pasti kering kerontang.
Tubuh Rama lemas dan seperti kehilangan tenaga untuk saat ini. Bahkan, rasanya darah disekujur tubuh seolah berhenti mengalir dan jantungnya bergerak dengan begitu lemah.
“Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku harus kuat.” Rama terus berusaha menguatkan dirinya sendiri.
“Perusahaan minta secepatnya, Ram. Aku-“
“Dik, ini kunci mobilku dan kamu bisa ambil surat surat lainnya di rumah. Tabunganku… nanti aku transfer sendiri ke Rekening perusahaan untuk menggenapi semuanya. Bahkan pesangon aku sudah ngga dapat,” ucap Rama.
“Aku tahu, Ram. Aku minta maaf, karena aku benar benar ngga bisa bantu kamu dalam hal apapun.” Dika meneteskan airmata.
“Kamu sudah bantu aku sebisanya, aku berterimakasih. Kalian harus kerja sebaik mungkin setelah ini, tanpa aku.”
Rama menarik napas panjang dan segera bangkit dari tempat duduknya itu. Ia bawa kardus berisi semua barang untuk keluar dari sana secepatnya. Semakin ia tahan, semakin sakit.
“Pak Rama!” Salah satu karyawan di bawah kepemimpinannya itu memanggil.
Tapi tak hanya dia, melainkan beberapa orang yang juga mendekat untuk memberi hormat terakhir sebelum Rama pergi. Mereka hanya beberapa diantara yang lain, yang masih sedikit peduli.
Kartu nama dan semua yang melekat di tubuhnya, segera ia lepaskan dan ia berikan pada mereka untuk kembali ke perusahaan itu.
“Saya pamit. Selamat tinggal,” ucap Rama dengan suara yang serak dan berat.
Kini, pria berkemeja rapi itu benar benar keluar dari gedung perusahaan besar yang selama ini menaunginya.
Ia meninggalkan mobil yang terjejer rapi di parkiran dan pergi jalan kaki dengan langkah yang sebenarnya sangat rapuh, seperti ingin jatuh.
Tapi saat di pertengahan jalan Hp Rama bergetar. Ia tatap nomor yang memanggil saat itu, amarahnya langsung terpancing sampai rahangnya mengerutuk dan urat tergambar dengan jelas di leher.
“Masih berani, kamu menghubungiku?” cengkramnya pada Hp yang masih tersisa.
Daftar bab
73 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








