
- Jumlah kata
- 64.7K
- Popular
- 524
- Subscribe
- 120
Sinopsis
Bagas hidup dengan sesuatu yang tak seharusnya ada dalam dirinya—sebuah makhluk astral bernama Birendra. Sosok itu bukan sekadar bayangan. Birendra adalah prajurit kejam dengan aura yang begitu kuat, hingga merasuk ke dalam diri Bagas, menjadikannya berbeda… bahkan menakutkan. Dengan kekuatan itu, Bagas mampu membasmi makhluk tak kasat mata yang berkeliaran di dunia. Namun, harga yang harus dibayar tidak kecil. Aura gelap dalam dirinya membuat manusia menjauh karena ketakutan. Bahkan makhluk astral pun memilih menghindar. Bagas terbiasa sendirian. Hingga suatu hari, seorang wanita bernama Sekar datang. Berbeda dari yang lain, Sekar tidak takut. Ia mendekat, seolah tidak melihat kegelapan yang selama ini menjauhkan semua orang dari Bagas. Sejak itu, dunia Bagas perlahan berubah. Namun, semakin dekat dengan Sekar, semakin tipis batas yang menahan Birendra di dalam dirinya.
Ulasan
39 ulasan
dailyza
5/8/26 06:24
bagus bangett sumpah, si mc dijaga sama jiwa lain, yang bertetangan sama hati nuraninya, keren siii idenya, semangat terus thor untuk mrnciptakan dar der dor berikutnya
Tiramissyou
3/8/26 20:34
wahh konflik batinnya nyata banget... tulisannya mengalir dan sangat mudah di cerna. ringan dan tidak membosankan. semangat terus author.
Bab 1 Birendra
"Stop...!!!"
"BAGAS, STOP!!"
Bagas langsung tersadar begitu tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Sekar.
Dia menunduk. Tangannya sudah berlumuran darah. Di beberapa meter di depannya, Arjuna tergeletak tak bergerak di lantai lapangan basket yang luas itu, garis-garis putihnya samar tertutup jejak sepatu.
Tangannya mulai gemetar. Ingatan kecil itu muncul di benaknya.
Sejenak, muncul bayangan ayahnya dengan posisi yang sama seperti Arjuna, tapi sudah tidak bernyawa.
Sekar di belakangnya hanya bisa menangis. Menyaksikan kejadian ini.
Napas Bagas makin tidak teratur. Dadanya sesak.Tangannya semakin gemetar hebat. Dalam dirinya, dia sadar ini pasti ulah Birendra lagi.
Tiba-tiba suara Birendra bergema pelan di dekatnya.
"Ahh... kenapa dihentikan?"
Nada suaranya sedikit kesal.
"Padahal sebentar lagi dia sudah tidak bernyawa."
Suaranya kini lebih dingin dan kejam.
Dan hanya Bagas yang bisa mendengar suara Birendra. Karena Birendra adalah jiwa lain yang ada dalam dirinya.
"Semenjak kau mengenal Sekar, kau jadi mudah emosi. Menarik... aku jadi menyukainya."
"DIAM!!" teriak Bagas penuh emosi. Tangannya menutupi kedua telinganya berharap suara itu cepat hilang.
Sekar sedikit terkejut oleh teriakan Bagas. Tangisnya semakin kencang di belakangnya, bukan karena takut oleh Bagas, tapi karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
Bagas langsung tersadar.
"Maaf, Sekar. Aku nggak ngomong sama kamu."
Tangannya masih gemetar. Murid-murid lain mulai berdatangan ke lapangan basket di belakang sekolah. Mereka berkerumunan ingin mengetahui apa yang terjadi. Disana para murid melihat Arjuna yang sudah babak belur dan tidak bergerak. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Gila... Bagas yang lakuin itu?"
"Masih hidup apa nggak Arjuna?"
"Bagas emang nyeremin banget."
"Aura pembunuhnya kuat banget."
"Tapi... cuma Sekar yang mau deket sama dia."
Sekar langsung menarik Bagas keluar lapangan. Mereka menuju ke kamar mandi. Sekar menunggu Bagas di luar.
Di dalam kamar mandi Bagas mencuci tangannya yang penuh darah, lalu mencuci mukanya yang terciprat darah. Membersihkan semua kekacauan yang bukan ia buat. Dia tidak ingat apa yang terjadi. Tapi satu hal yang pasti dia kehilangan kendali akan dirinya.
Dia termenung sesaat, mencerna apa yang terjadi. Memejamkan matanya.
Menarik napas pelan tapi berat.
Lalu perlahan membuka matanya, melihat dirinya di cermin.
Perlahan udara di sekitar mulai dingin. Pantulan di cermin itu berubah—lebih mencekam, dan sorotan matanya lebih tajam. Dia tersenyum sinis ke arah Bagas. Dan di detik itu bisikan-bisikan kecil seperti kaset rusak mulai terdengar di telinganya.
Bagas sudah tahu itu Birendra di depannya, sosok astral yang ada dalam dirinya.
"Berhenti ganggu kehidupan aku," kata Bagas putus asa.
"Cih... jika aku tidak ada, kau sudah dikubur di tanah." Birendra memainkan jari-jarinya santai.
"Tidak ada rasa terima kasih sedikit pun."
"Aku lebih baik mati daripada hidup seperti ini."
Dia menghentakkan tangannya ke depan cermin, seolah ingin menghajar Birendra yang di sana.
"Aahh... kau pikir aku ingin hidup di dalam dirimu? Aku hanya muncul saat kau kehilangan kendali."
Birendra mendekatkan wajahnya. Mata tajamnya menatap dalam.
"Bagas... kau seharusnya memikirkan ibumu. Dia sudah melakukan segalanya untukmu. Apakah kau setega itu?"
Dia tertawa pelan, meledek. Bagas langsung terdiam. Rahangnya mulai mengeras. Birendra makin menekan.
"Dan... aku harus berterima kasih pada Sekar. Karena dia, aku bisa kembali mencium bau darah."
Birendra memejamkan matanya, menghirup aroma darah di tangannya dengan penuh kenikmatan. Lalu menatap Bagas lagi.
"Sudah lama aku tidak merasakan hidup seperti ini. Biasanya kau terlalu tenang, tapi..."
"...semenjak ada Sekar, kau mulai goyah."
Dia memiringkan kepala, seolah berpikir.
"Mungkin... aku harus mengganggunya juga?"
Bagas langsung marah. Tangannya mengepal kuat sampai kuku-kuku jarinya memutih, lalu menghantam cermin.
“Jangan ganggu dia!!”
"Ooh... Kau segitunya ya sama dia. Apa karena dia satu-satunya orang yang tidak takut denganmu?" Birendra memiringkan kepalanya. Tebakan itu tepat sasaran tapi buat Bagas dia tidak ingin ada korban lainnya.
"Sekar, tidak ada hubungannya dengan kita. Jadi jangan ganggu dia!!" Bagas mempertegas ucapannya sorot matanya kini lebih tajam.
Birendra tersenyum tipis, lalu mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah, lalu perlahan mundur dan menghilang. Kini pantulan dicermin kembali menjadi dirinya.
Ibu Bagas, Indarnie, datang. Ia mengenakan kebaya Jawa yang tidak terlalu mewah, tetapi tetap elegan. Rambut hitamnya disanggul rapi, memberi kesan anggun sekaligus berwibawa.
Sekilas, ia terlihat seperti ibu pada umumnya—lembut dan tenang. Namun, ada sesuatu yang dingin dalam tatapannya. Sesuatu yang sulit dijelaskan.
Indarnie berjalan menghampiri kepala sekolah dengan langkah pasti. Dagunya di dengakkan. Memberi kesan arogan tapi juga anggun.
Ambulans datang, membawa Arjuna yang tak berdaya ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, Indarnie menyelesaikan masalah Bagas dengan cepat dan tanpa banyak bicara. Uang berpindah tangan, keputusan diambil, dan semuanya beres—seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada emosi.
Hanya ketenangan... yang terasa aneh.
Setelah urusannya selesai, Indarnie langsung membawa Bagas pulang.
Saat di mobil, Bagas menoleh ke arah ibunya. Indarnie yang sedang duduk tenang, fokus pada tablet di tangannya, tanpa satu pun pertanyaan tentang apa yang terjadi.
Seolah... ia sudah tahu segalanya.
Akhirnya, Bagas memberanikan diri membuka mulut.
"Bu... tolong lepaskan Birendra dari diri aku."
Ibunya menghela napas. Melirik Bagas sebentar, dengan tatapannya yang dingin dia berkata,
"Kita bicarakan ini di rumah."
Bagas tidak meneruskan ucapannya. Ia hanya menurut, seperti biasa. Seperti seharusnya. Ia terdiam selama perjalanan, menyenderkan kepalanya ke jendela mobil, lalu memasang headset di telinganya. Mencoba menenangkan diri dengan musik.
Namun, kejadian barusan tidak pernah terasa biasa baginya.
Entah sudah berapa banyak orang yang ia lukai. Berapa banyak darah yang melumuri tangannya. Ia tidak pernah benar-benar mengingat semuanya. Yang ia ingat hanya satu—seseorang yang tidak pernah bergerak saat ia tersadar... dan bau amis darah yang mengganggu indra penciumannya.
Ia tahu, membicarakan Birendra dengan ibunya tidak akan pernah berjalan baik.
Tapi entah kenapa... ia tetap berharap.
Berharap suatu hari ibunya berubah pikiran.
Berharap semua ini bisa berhenti.
Berharap hidupnya bisa normal.
Mobil berhenti.
Menandakan mereka sudah sampai di rumah.
Ibunya turun terlebih dulu. Bagas menyusul di belakangnya. Saat masuk ke dalam rumah, Bagas langsung melempar tasnya ke kursi ruang tamu.
"Bu..."
Ibunya menoleh, masih dengan tatapan dingin yang sama.
"Apa lagi, Bagas? Kamu sudah tahu jawabannya."
"Sampai kapan aku harus hidup kayak gini?"
Nada suaranya mulai naik. Matanya mulai basah.
"Aku udah nggak sanggup lagi, Bu... aku capek..."
"Bagas."
Tegas. Tapi tetap tidak meninggikan suara.
"Kamu satu-satunya yang Ibu punya."
"Kalau Birendra tidak ada di dalam dirimu, kamu tidak akan bisa hidup."
"Aku lebih baik nggak hidup, Bu..."
"Daripada harus hidup kayak monster begini—"
Plak.
Tamparan itu keras.
Napas Bagas terengah. Ia memejamkan mata, rahangnya mengeras, berusaha menahan dirinya agar tidak kehilangan kendali.
Indarnie tersadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia langsung mendekat, mengusap pipi Bagas yang memerah—seolah meminta maaf, seolah menyesal.
"Bagas... Ibu sudah melakukan apa saja untuk kamu, Nak. Jangan bicara seperti itu."
"Ibu akan bereskan semuanya."
"Ibu rela melakukan apa saja... asalkan kamu hidup, Nak."
Indarnie memeluk Bagas, menangis pelan di bahunya.
Namun Bagas hanya diam.
Tidak bergerak.
Tidak membalas.
Tatapannya kosong.
Kali ini... ia kalah lagi.
Kalah oleh ibunya.
Kalah oleh rasa sayang kepada ibunya.
Oleh rasa yang tidak pernah bisa ia lawan.
Dan di dalam dirinya—
sesuatu tersenyum.
Bisikan itu muncul lagi.
"Kau tidak akan pernah bisa melepaskanku, Bagas."
Daftar bab
59 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








