
Topeng Pemikat Pembawa Keberuntungan
Pena jingga|Bersambung
- Jumlah kata
- 67.4K
- Popular
- 5.2K
- Subscribe
- 557
- Jumlah kata
- 67.4K
- Popular
- 5.2K
- Subscribe
- 557
Sinopsis
Reza tak menyangka jika hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat setelah menemukan sebuah topeng kuno yang misterius. Jika dulu di abaikan karena hanya kuli serabutan dan oemuing rongsok, kini Reza di kejar banyak perempuan, termasuk istrinya yang menyesal karena telah meremehkannya. Namun di balik keberuntungan topeng yang di gunakan nya, ternayata topeng tersebut memiliki misteri yang luar biasa.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1Penemuan Topeng Misterius
Arman menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut. Lampu depan motornya yang agak redup menerangi wajah Reza yang cemong oleh bekas kotoran material bangunan.
"Za! Kamu yakin gak pulang bareng aku?" tanya Arman, suaranya setengah berteriak mengalahkan suara knalpot. Jemarinya sudah bersiap memutar gas, menanti jawaban di atas jok motor bebek kesayangannya yang tampak tak kalah lelahnya.
Reza menyapu keringat di dahi dengan punggung tangannya yang kasar, lalu tersenyum tipis. "Gak, Man. Aku kan mau cari tambahan dulu. Siapa tau aja beruntung dapat harta karun!"
Arman menggeleng-gelengkan kepala. Ia paham betul tabiat sahabatnya yang tidak pernah bisa diam jika menyangkut urusan mencari makan. "Ya udah, aku duluan ya, Za!"
"Ya, Man! Hati-hati di jalan!" balas Reza sambil melambaikan tangan.
Motor Arman pun melaju, meninggalkan Reza sendirian di tepi jalan proyek yang mulai sepi. Reza membetulkan letak karung goni kosong di pundaknya, lalu mulai melangkah. Perjalanan pulang menuju rumah mertuanya memang lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi Reza sudah terbiasa. Kaki-kakinya yang beralaskan sandal jepit tipis menapak makin jauh, membelah kegelapan malam yang kian pekat.
Langkahnya mendadak terhenti ketika ia melintasi tepi area pemakaman umum yang sunyi. Di bawah Pohon kamboja tua menaungi area itu, Reza melihat tumpukan botol botol bekas yang biasa di buang oleh para peziarah yang membawa air doa untk di tabur ke kuburan.
Jemarinya yang terlatih mulai mengorek-ngorek tumpukan botol plastik dan dus bekas. Namun, di antara himpunan limbah plastik yang kusam dan kotor, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.
"Eh, ini apaan?" gumam Reza seraya menggeser beberapa botol mineral kosong.
Sebuah kotak kayu lusuh namun berukiran sangat unik tergeletak di sana. Kotak itu ukurannya tidak terlalu besar, tetapi memiliki tekstur kayu hitam yang terasa amat dingin saat disentuh. Walau berselimut debu tebal, ukiran garis-garis rumit di permukaannya memancarkan kesan antik yang misterius.
"Apaan ya? Bikin penasaran aja!"
Dengan hati-hati, Reza membersihkan debu yang menempel pada engsel engsel kotak tersebut dan meniupnya dengan cukup kencang agar debunya mengapung. Pelan-pelan, jemarinya memutar kait kecil yang berdebu dan membuka penutupnya. Begitu kotak terbuka, alis Reza langsung mengernyit erat.
"Topeng? Aneh banget bentukannya..." gumam Reza pelan.
Ia mengangkat benda di dalam kotak tersebut. Sebuah topeng kayu dengan ukiran garis-garis aneh yang tidak menyerupai wajah manusia pada umumnya. Ukirannya meliuk-liuk bagai sulur tanaman bermata tajam, dengan perpaduan warna hitam dan merah tua yang tampak samar di kegelapan malam. Reza membolak-balikan topeng itu di bawah pendar redup sinar bulan. Rasanya agak berat, dan ada getaran halus yang aneh saat telapak tangannya menyentuh bagian dalam topeng tersebut.
"Dahlah, aku bawa pulang aja. Siapa tau bisa laku mahal kalau dijual ke Koh Ahong," pikirnya pragmatis. Koh Ahong adalah kolektor barang antik sekaligus pemilik barang bekas di pasar kota yang sering membeli barang-barang aneh temuan Reza.
Tanpa berpikir panjang lagi, Reza memasukkan peti berisi topeng misterius itu ke dalam karung goninya, menyatukannya dengan kardus bekas dan botol plastik yang telah ia kumpulkan. Karung itu ia panggul kembali di bahunya.
Beberapa puluh menit kemudian, Reza tiba di sebuah rumah kecil dan sederhana. Rumah itu milik ibu mertuanya, tempat tinggal yang kini ia tempati bersama Maya, istrinya. Suasana di sekitar rumah sudah sepi. Reza melangkah ke halaman belakang yang remang-remang, menaruh karung rongsokannya di sudut dekat cucian.
Ia memegang dadanya yang terasa agak sesak karena lelah, lalu berjalan ke pintu depan. Jemarinya sudah terangkat, hendak mengetuk pintu kayu yang mengelupas catnya itu. Namun, niatnya terhenti seketika.
Dari dalam rumah, terdengar suara nyaring yang sangat familier. Suara istrinya, Maya, yang sedang melakukan siaran langsung atau live di media sosial.
"Ayo guys, jangan lupa tap-tap layarnya ya! Yang belum follow, bisa langsung follow dulu. Produk skincare ini benar-benar bagus banget buat bikin kulit kalian makin glowing seperti aku!"
Reza menghela nafas panjang. Keinginan untuk mengetuk pintu secara normal pun ia urung. Ia membuka pintu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara engsel yang berderit, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Lampu ruang tamu terang benderang. Di depan sebuah tripod berlampu lingkar (ring light), Maya duduk dengan riasan tebal dan pakaian modis. Wajahnya terlihat sangat cantik dan putih berkilau di layar ponselnya.
"May, Abang pulang... Boleh minta air gak? Haus nih!" ucap Reza dengan suara serak, berharap istrinya sudi berpaling sebentar.
Maya mendelik tajam. Tanpa membuang waktu, jemarinya yang bermanufaktur kutilang dengan cat kuku merah segera menekan tombol pause pada ponselnya. Wajahnya yang tadinya penuh senyum manis di depan kamera mendadak berubah keruh dan penuh kekesalan.
"Apaan sih, Bang! Gak liat apa aku lagi live?! Ambil sendiri sih airnya, kan gampang! Ganggu aja!" ujar Maya dengan nada tinggi dan nyolot.
Reza mengelus dadanya yang terasa makin nyeri. Ia menatap wajah istrinya yang penuh amarah itu tanpa berniat memperpanjang perdebatan. "Ya udah... udah, Abang ambil sendiri."
Dengan langkah gontai, Reza melangkah menuju dapur yang sempit. Ia mengambil segelas air dingin dari dispenser sederhana dan menenggaknya sampai habis tanpa sisa. Tegukan itu sedikit membasahi tenggorokannya yang kering, namun rasa gerah di tubuhnya tak kunjung sirna.
"Panas banget..." gumamnya seraya mengusap leher.
Reza membalikkan badan dan memandang ke arah meja makan. Kosong. Hanya ada penutup makanan dari plastik yang terbuka, memperlihatkan piring kosong yang hanya tersisa sedikit bekas minyak. "Huh! Gak ada lauk di sini..." bisiknya dengan nada kecewa yang mendalam. Sejak pagi memeras keringat di lokasi proyek, perutnya belum terisi makanan layak.
Ia pun kembali berjalan ke ruang tamu. Reza berdiri sejengkal dari posisi Maya yang sudah kembali aktif berceloteh manis di depan ponselnya. Di mata Reza, Maya memang sangat cantik. Apalagi belakangan ini, sejak siaran langsungnya di media sosial semakin ramai penonton dan ia sering mendapatkan tawaran endorse dari berbagai produk makeup, penampilan Maya semakin glowing dan bergaya bagai artis kota. Namun, makin cantik paras istrinya, makin jauh terasa jarak di antara mereka.
Reza menunggu hingga Maya jeda sejenak saat membaca komentar.
"May, udah malam loh. Tidur yuk... Abang rasanya pengen dipijitin sama kamu, Dek. Udah lama loh kamu gak pijitin Abang. Pegel-pegel nih badan Abang!" Reza mencoba membujuk dengan nada selembut mungkin, berharap ada sedikit empati yang tersisa di hati istrinya.
Maya kembali mematikan kameranya dengan gerakan kasar. Matanya melotot lebar ke arah Reza, napasnya naik turun menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Abang bisa gak sih gak gangguin live-nya aku?! Aku ini lagi nyari uang loh, Bang! Lagian manja banget sih! Aku aja yang dari pagi cari uang buat nambahin biaya sehari-hari gak manja kayak kamu!" seru Maya dengan kalimat menohok yang memekakkan telinga.
Reza meringis, perasaannya seperti dihantam batu besar. "Dek, kok gitu sih..."
"Abang tuh yang aneh! Penghasilan dikit aja banyak mau!" tembak Maya tanpa belas kasihan.
Dada Reza bergemuruh. Rasa sabar yang selama ini ia bina perlahan terkikis oleh rasa hina yang dilontarkan sang istri. Suaranya memelan, namun sarat akan ketegasan yang tertahan.
"Dek! Kamu berubah, Dek. Sejak kamu sering live, sikap kamu ke Abang berubah! Mulai besok, Abang minta kamu batasin live kamu, Dek!"
Maya terkekeh sinis, tatapannya penuh penghinaan. "Apa? Batasin live aku?! Apa Abang waras?! Selama ini hasil dari live aku ini yang bantu banyak perekonomian di rumah ini! Kalau cuma ngandelin hasil kerja kamu itu, mana bisa kita makan enak?! Mana bisa aku shopping, ke salon?! Enak aja main batasin kerja aku! Jadi jutawan dulu baru boleh ngatur!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Maya bak belati yang menusuk tepat di ulu hati Reza. Penghasilannya sebagai buruh bangunan dan pengumpul rongsokan memang tak seberapa, tetapi ia selalu menyerahkan seluruh rupiah yang dihasilkannya untuk rumah tangga ini. Namun malam ini, di mata Maya, harga dirinya sebagai seorang suami telah runtuh tak berbekas.
Reza tak lagi bersuara. Tenggorokannya terasa tersumbat gumpalan kekecewaan yang sangat berat. Ia membalikkan badan, membelakangi istrinya yang kembali menyalakan kamera ponsel dengan senyum palsu yang mengembang dalam sekejap.
Reza melangkah keluar melalui pintu belakang. Ia berjalan menuju halaman belakang yang sepi dan remang-remang, area yang ditanami beberapa pohon singkong rindang. Di sanalah ia biasanya menghabiskan waktu malam untuk memilah-milah barang rongsokan hasil temuan hariannya agar pikirannya agak tenang.
Ia berjongkok di tanah yang dingin. Jemarinya yang gemetar mulai meraih karung goni yang tadi ia letakkan. Di dalam kegelapan malam yang kian pekat, ditemani suara jangkrik yang bersahut-sahutan di antara dedaunan singkong, rasa lelah luar biasa melingkupi seluruh tubuh dan jiwanya. Ia merindukan kedamaian, merindukan belas kasih, dan merindukan sentuhan lembut yang mau mengerti rasa sakit di badannya.
Di tengah keheningan dan bayang-bayang kegelapan halaman belakang itu, sebuah suara lembut dan tenang tiba-tiba berbisik dari arah belakang tubuhnya:
"Za... kamu lelah ya, mau dipijitin?"
Daftar bab
56 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








