Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM KEKAYAAN TAK TERBATAS SULTAN BOJONG

SISTEM KEKAYAAN TAK TERBATAS SULTAN BOJONG

Zai Ya | Bersambung
Jumlah kata
32.9K
Popular
249
Subscribe
66
Novel / SISTEM KEKAYAAN TAK TERBATAS SULTAN BOJONG
SISTEM KEKAYAAN TAK TERBATAS SULTAN BOJONG

SISTEM KEKAYAAN TAK TERBATAS SULTAN BOJONG

Zai Ya| Bersambung
Jumlah Kata
32.9K
Popular
249
Subscribe
66
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSistemZero to HeroMengubah Nasib
Diputuskan karena miskin, Jaka justru terpilih oleh sistem misterius yang mengubah setiap kebaikan menjadi uang, kekuatan, dan kemampuan luar biasa. Dari pecundang jalanan menjadi miliarder, ia siap membalas semua penghinaan dan meruntuhkan dinasti konglomerat yang menghalangi jalannya.
Bab 1. Dikhianati Cinta, Diberkati Sistem

"Kita sampai di sini aja, Jak. Kamu nggak bisa ngebahagiain saya." Siti memalingkan wajah, menghindari tatapan Jaka yang memohon.

Jaka maju selangkah, mencoba meraih jemari Siti yang terasa dingin. “Sebelum berangkat ke kota, kita kan sudah janji, apa pun yang terjadi kita nggak akan pisah.”

“Saya datang ke kota buat mengubah nasib, Jak. Bukan buat hidup susah.”

"Tapi saya cinta banget sama kamu, Ti. Saya tahu kamu juga masih cinta sama saya 'kan?”

"Cinta itu nggak bisa bikin kenyang, Jak. Apalagi kalau cuma modal motor bebek karatan yang suaranya mirip mesin parut kelapa!"

Suara melengking Siti membelah derasnya hujan di depan teras minimarket. Kalimat itu menghantam dada Jaka lebih keras daripada deru guntur yang bersahutan di langit ibu kota. Di samping Siti, berdiri seorang pemuda klimis dengan kemeja flanel mahal bernama Riko. Di belakang mereka, terparkir sebuah mobil putih yang tampak mengilap.

"Tapi, Ti, saya lagi usahain modal buat nikahan kita. Saya narik ojek dari pagi sampai—"

"Halah, ojek!" Riko menyela sambil tertawa meremehkan, tangannya sengaja merangkul pinggang Siti. "Jak, hari gini kalau mau gaya jangan pakai motor butut. Itu mah cocoknya masuk museum, bukan buat bonceng cewek cantik kayak Siti. Lihat nih!" Riko memencet remot mobilnya. Bip-bip! Lampu mobil itu berkedip. "Ini namanya kemajuan. Siti butuh AC, bukan angin gelebud bercampur asap knalpot."

Siti membuang muka, tak berani menatap mata Jaka yang memerah. "Maafin saya, Jak. Saya capek hidup susah. Ayahnya Riko punya banyak toko sembako di kota ini, masa depan saya jelas. Tolong, jangan cari saya lagi. Kita putus."

Tanpa menunggu jawaban, Siti masuk ke dalam mobil putih Riko diikuti kekasih barunya itu. Riko sempat melirik Jaka dari balik kaca film yang gelap, memberikan jempol terbalik lalu memacu mobilnya, mencipratkan genangan air kotor tepat ke arah wajah Jaka.

Jaka berdiri mematung. Air hujan bercampur lumpur mengalir di pipinya, menyatu dengan air mata yang tak sanggup ia tahan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak sampai ke dasar bumi. Dengan tangan gemetar, ia menuntun motor tuanya yang mogok, berjalan tertatih menuju bawah jembatan layang terdekat.

Di bawah jembatan layang yang remang, Jaka terduduk lesu. Bau pesing dan asap knalpot menjadi saksi bisu hancurnya hati Jaka. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan dompet lusuh yang isinya hanya tersisa satu lembar sepuluh ribuan dan satu lembar lima ribuan.

"Lima belas ribu..." bisik Jaka perih. "Buat makan besok aja nggak cukup, apalagi buat mahar."

Jaka menatap langit-langit jembatan yang betonnya mulai retak. Dunianya terasa runtuh. Di usia dua puluh lima tahun, ia hanyalah seorang pemuda miskin yang menyambung hidup sebagai kurir paket dan tukang ojek serabutan. Tak ada koneksi, tak ada warisan, hanya ada kerja keras yang sering kali dikhianati oleh realita.

"Kenapa dunia nggak adil?" teriak Jaka frustrasi, suaranya tenggelam oleh suara guntur. "Apa orang miskin kayak saya nggak berhak bahagia?!"

Tepat saat itu, sebuah kilatan petir raksasa menyambar tiang listrik di dekat jembatan.

CIIAARRRR! 

Ledakan cahaya putih menyilaukan mata Jaka. Ia terjatuh ke belakang, jantungnya berdegup kencang seolah mau copot.

Namun, saat Jaka membuka mata, hujan yang masih mengguyur deras seolah melambat di pandangannya. Di udara kosong tepat di depan hidung Jaka, muncul sebuah cahaya yang perlahan memadat membentuk sebuah panel transparan berwarna biru.

[Ding! Penyatuan Jiwa Berhasil!]

[Memindai Inang...] 

[Nama: Jaka | Status: Sangat Miskin | Tingkat Kharisma: -5 (Menyedihkan)]

[Kriteria Terpenuhi: Hati yang Terluka Namun Tetap Tulus.]

"Saya mati? Saya kena setrum terus halusinasi?" Jaka mencubit tangannya sendiri dengan keras. “Aww! Ternyata saya masih hidup.”

[Sistem Dermawan Sejati Diaktifkan!]

[Deskripsi: Kekayaan bukan untuk ditimbun, melainkan untuk dialirkan. Semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda menerima. Dunia ini keras bagi mereka yang lemah, tapi tunduk bagi mereka yang dermawan.]

[Misi Pertama (Wajib): Tolonglah orang yang sedang dalam kesulitan dalam waktu 30 menit!]

[Hadiah: Saldo Rekening Rp10.000.000.000,00 & Peningkatan Kharisma +10.]

[Hukuman Jika Gagal: Sistem akan meledakkan jantung Inang secara instan.]

Mata Jaka melotot melihat angka nol yang berjajar di panel tersebut. Sepuluh miliar? Tapi, bagian ‘meledakkan jantung’ membuatnya langsung melompat berdiri.

"Ini gila... tapi kalau ini nyata, saya nggak punya pilihan!"

Jaka mengedarkan pandangan di bawah jembatan yang sepi. Siapa yang harus ditolong di tengah hujan kayak gini? Tiba-tiba, pendengarannya yang entah mengapa jadi lebih tajam, menangkap suara decit ban mobil yang mengerem mendadak.

Jaka berlari kencang tanpa memedulikan tubuhnya yang kedinginan. 

Sesampainya di tepi jalan, Jaka melihat seorang kakek tua tersungkur di aspal, sementara sebuah mobil SUV yang menabraknya justru tancap gas melarikan diri. Tabrak lari!

"Kek! Kakek nggak apa-apa?" Jaka menghambur ke arah kakek tersebut.

Darah merembes dari betisnya. "Sakit... tolong..." rintih kakek itu dengan suara parau.

Jaka melihat ke sekeliling. Jalanan sepi. Jika ia menunggu ambulans, bisa-bisa kakek ini kehabisan darah. Jaka segera merobek bagian bawah bajunya sendiri untuk membebat luka di kaki kakek tersebut.

"Tahan ya, Kek. Saya bawa Kakek ke klinik dekat sini."

Tanpa pikir panjang, Jaka menggendong kakek itu di punggungnya. Anehnya, beban sang kakek terasa ringan seperti kapas. Ia berlari sejauh satu kilometer menuju klinik 24 jam dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa.

Sesampainya di klinik dan memastikan sang kakek ditangani dokter, Jaka duduk bersandar di tembok koridor, napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba, ponsel tua di saku celana pemuda itu bergetar.

Bukan notifikasi WhatsApp, melainkan sebuah SMS dari bank yang seharusnya sudah tidak aktif karena saldonya nol.

[Bank Central: Masuk Rp10.000.000.000,00 dari sumber_sistem. Saldo Anda saat ini: Rp10.000.000.000,00.]

Jaka hampir menjatuhkan ponselnya. Di saat yang sama, panel transparan itu muncul kembali dengan kembang api digital yang meriah.

[Misi Selesai! Hadiah Telah Dikirimkan!]

[Memulai Peningkatan Tubuh: Kharisma +10 sedang diterapkan...]

Seketika, Jaka merasakan sensasi hangat merambat ke seluruh pori-pori kulitnya. Pegal-pegal di tubuhnya hilang. Wajahnya yang kusam mendadak menjadi lebih bersih, garis rahangnya menjadi tegas, dan sorot matanya kini memancarkan wibawa, membuat perawat yang lewat tanpa sadar mencuri pandang ke arahnya.

"Mas, Kakek tadi sudah sadar. Beliau ingin bertemu Mas," ucap seorang perawat dengan nada bicara yang jauh lebih sopan, bahkan pipinya sedikit merona.

Jaka masuk ke ruang perawatan. Kakek tadi sudah duduk di atas ranjang. Tatapan matanya kini berbeda—tajam, dalam, dan penuh selidik.

"Siapa namamu, Anak Muda?" tanya kakek itu.

"Jaka, Kek. Saya tukang ojek online."

Kakek itu merogoh sesuatu dari sakunya—sebuah kartu nama dengan pinggiran emas dan grafir timbul yang sangat elegan.

Jaka menerima kartu nama itu, membacanya perlahan. “Broto Atmojo. Ini nama Kakek?”

"Iya. Itu nama saya. Besok pagi datanglah ke alamat itu," ucap Broto dengan nada yang tak terbantahkan. "Sekarang pulanglah. Terima kasih atas bantuanmu, Nak."

"Nanti Kakek pulangnya gimana? Baju Kakek juga masih basah." Jaka merapikan ujung selimut Broto, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk.

Broto menepuk punggung tangan Jaka pelan, kerutan di wajahnya membentuk lengkungan tenang. "Tenang saja, sebentar lagi keluarga saya datang menjemput."

Jaka mengangguk pelan. "Kalau gitu, saya pamit dulu ya, Kek."

Jaka keluar dari klinik masih dengan kebingungan. Ia berjalan kaki menuju kolong jembatan layang untuk mengambil motornya. Ia melewati minimarket tempat Riko dan Siti menghilang tadi.

"Siti, Riko... kalian benar. Cinta memang nggak bisa bikin kenyang," gumam Jaka dengan senyum dingin yang belum pernah ia miliki sebelumnya. "Tapi uang saya sekarang bisa membeli seluruh toko sembako milikmu beserta isinya."

Lanjut membaca
Lanjut membaca