
Catatan Akhir Para Hantu
krniyahk|Bersambung
- Jumlah kata
- 28.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
- Jumlah kata
- 28.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 12
Sinopsis
Tiga tahun lalu, Rayen, mahasiswa tingkat akhir Kriminologi, ditemukan tewas di sebuah gedung tua kampus. Kasusnya dinyatakan sebagai kecelakaan, tetapi Liam Pradana tidak pernah mempercayai kesimpulan itu. Saat menyusun skripsi, Liam kembali meneliti gedung tersebut dan menemukan sebuah buku catatan hitam yang memberinya kemampuan melihat arwah. Kemampuan itu mempertemukannya dengan Adelia, mahasiswi yang sejak kecil dapat melihat makhluk tak kasat mata, serta Lingga, hantu usil yang menyimpan petunjuk penting tentang masa lalu kampus. Penyelidikan mereka mengungkap fakta mengerikan, setiap tahun ada mahasiswa tingkat akhir yang menghilang atau meninggal secara misterius, dan semuanya terkait dengan gedung tua itu. Semakin dekat pada kebenaran, semakin banyak arwah yang bermunculan meminta keadilan. Ketika rahasia besar yang selama ini disembunyikan mulai terungkap, Liam menyadari bahwa dirinya telah menjadi target berikutnya. Karena tidak semua hantu ingin menakut-nakuti manusia. Sebagian hanya ingin kisah terakhir mereka didengar.
Ulasan
2 ulasan
azalea
7/10/26 03:45
cocok ini untuk mahasiswa akhir yang banyak hilang hilang karena tugas akhir. seru ceritanya. ada Liam ini tokoh yang selalu berusaha mempertahankan logika akan tetapi semua tentang logika seketika berubah, ia seperti berada di alam lain karena catatan buku yang hilang, buku itu didalamnya ada catatan para mahasiswa yang hilang dan akan menjadi korban berikutnya.
FASWA
3/7/26 07:43
Liam pucat pasi, dia takut tapi pura-pura gak takut. haha ... kisah Menarik bagus dibaca jam 2 malem biar makin dapat horornya.
Bayang-Bayang Jurusan Kriminologi
"Buku ini tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan sisa napas yang diputus paksa. Jika kau bisa membaca tulisan di dalamnya, itu artinya mereka tahu kau sedang sendirian."
______
Gedung Lama Kampus Nusantara tidak pernah benar-benar mati; bangunan itu hanya menunggu mangsa yang tepat untuk kembali bernyawa. Di bawah guyuran hujan badai yang menghantam atap seng berkarat, Liam Pradana melangkah membelah kegelapan koridor lantai tiga yang pengap.
Sorot lampu senter di tangan kanannya gemetar, menyapu dinding-dinding dengan cat mengelupas yang tampak seperti kulit ari manusia yang membusuk. Di sinilah, tepat empat tahun lalu, Rayen ditemukan tewas dengan mata mendelik tanpa sebab medis yang masuk akal. Sebagai mahasiswa Kriminologi, Liam menolak percaya pada takhayul, namun malam ini, keheningan di tempat ini terasa mengekik lehernya sendiri.
"Logika selalu punya jawaban, Liam. Jangan biarkan tempat ini mempermainkan isi kepalamu," bisik Liam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar di balik jaket kampus yang basah.
Langkah sepatunya yang berdecit di atas lantai semen lembap tiba-tiba terhenti saat sorot senternya menangkap siluet sebuah pintu kayu yang sedikit renggang. Plang di atasnya bergoyang pelan tertiup angin kencang dari jendela yang pecah, menyisakan tulisan samar, 'Gudang Arsip.' Entah mengapa, bau anyir darah yang bercampur dengan aroma buku tua mendadak menyeruak, menusuk hidung Liam hingga ia terbatuk kecil.
Rasa ingin tahunya yang keras kepala mengalahkan akal sehat yang terus berteriak agar ia segera berbalik arah dan pulang. Dengan tangan gemetar, Liam mendorong pintu tersebut hingga menimbulkan derit panjang yang memekakkan telinga di kesunyian malam.
Di tengah ruangan yang dipenuhi rak-rak roboh dan berkas-berkas yang membusuk, sebuah pemandangan ganjil memaksa langkah Liam terpaku di tempat. Di atas sebuah meja kayu yang separuhnya telah hancur dimakan rayap, tergeletak sebuah buku catatan bersampul kulit hitam pekat. Buku itu sama sekali tidak tertutup debu, seolah-olah baru saja diletakkan oleh seseorang beberapa detik sebelum Liam masuk. Saat sorot cahaya senter mengenai sampulnya, Liam bersumpah ia melihat permukaan kulit hitam tersebut berdenyut pelan, layaknya jantung makhluk hidup yang terperangkap.
"Apa-apaan ini?" gumam Liam dengan dahi berkerut, perlahan melangkah mendekati meja tersebut seakan terhipnotis.
Tepat saat ujung jemari Liam menyentuh permukaan dingin sampul buku hitam itu, seluruh kaca jendela di Gudang Arsip bergetar hebat sebelum akhirnya pecah berkeping-keping. Udara di dalam ruangan mendadak turun drastis hingga embusan napas Liam berubah menjadi kabut putih yang tebal. Senter di tangannya berkedip-kedip tidak stabil, meredupkan cahaya hingga menyisakan kegelapan yang nyaris absolut di antara rintik hujan yang masuk melalui jendela.
Di dalam keheningan yang mencekam itu, Liam mendengar suara ketukan yang berasal dari dalam lemari besi terkunci di sudut ruangan.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa di sana?" seru Liam dengan suara baritonnya yang kini bergetar menahan ketakutan yang menjalar ke sekujur tubuh.
Tidak ada jawaban verbal, melainkan suara gesekan kuku-kuku tajam yang mencakar bagian dalam pintu besi tersebut dengan ritme yang semakin cepat dan bising. Bersamaan dengan itu, buku hitam yang berada di bawah telapak tangan Liam terbuka dengan sendirinya, lembar demi lembar berbalik cepat seperti ditiup angin badai. Liam mencoba menarik tangannya kembali, namun telapak tangan seolah melekat erat pada sampul kulit tersebut oleh kekuatan tak kasat mata yang sangat kuat.
Dari halaman-halaman buku yang terbuka, sekelompok cairan hitam kental mirip darah busuk mulai merembes keluar dan membanjiri permukaan meja.
“Tolong... dingin...” Bisikan lirih yang parau dan sarat akan penderitaan menggema tepat di belakang tengkuk Liam, membuat bulu kuduknya berdiri sempurna.
Liam mematung, tubuhnya mendadak kaku dan menolak untuk digerakkan, sementara hawa es yang pekat mulai merayap naik dari kakinya. Melalui pantulan samar dari sisa cahaya senter yang sekarat di atas lantai, Liam melihat sebuah bayangan hitam legam bertubuh tinggi besar perlahan bangkit dari sudut ruangan. Wajah sosok itu hancur separuh dengan mata yang menyala merah darah, menatap lurus ke arah Liam dengan rahang yang bergetar hebat. Dari sela-sela bibir sosok mengerikan itu, keluar puluhan ulat dan belatung yang jatuh berkejaran ke lantai semen.
"Jangan mendekat!" teriak Liam berang, mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri, namun tubuhnya tetap terkunci rapat.
Sosok bermata merah itu melangkah maju, memisahkan diri dari kegelapan, dan setiap kali kakinya memijak lantai, jejak kaki berlumpur darah tertinggal di sana. Suasana religius yang selama ini ia abaikan mendadak terlintas di kepalanya, memaksanya merapalkan doa-doa perlindungan dengan lidah yang mendadak kelu dan kaku. Namun, makhluk itu justru menyeringai lebar hingga merobek sudut mulutnya sendiri, memamerkan deretan gigi hitam yang runcing dan berbau busuk menusuk hidung. Tangan makhluk yang dipenuhi borok bernanah itu perlahan terangkat, bergerak lurus menuju ke arah leher Liam yang kini berkeringat dingin.
“Kau... yang... berikutnya...”desis makhluk itu dengan suara yang terdengar seperti perpaduan dari jeritan banyak orang yang sekarat bersamaan.
Pada detik yang luar biasa kritis itu, buku hitam di bawah tangan Liam berhenti berbalik dan menetap pada sebuah halaman yang menampilkan tulisan tangan berwarna merah pekat. Bersamaan dengan terhentinya halaman tersebut, cekikan tak kasat mata yang mengikat tubuh Liam terlepas, membuatnya jatuh berlutut ke lantai sambil terengah-engah mencari oksigen. Ketika ia mendongak dengan napas memburu, sosok mengerikan bermata merah itu telah lenyap dari pandangan, menyisakan keheningan malam dan suara rintik hujan. Liam segera menyambar senter dan buku hitam itu dengan kasar, lalu berlari sekencang mungkin keluar dari Gedung Lama tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun.
Liam terus berlari menembus hujan lebat yang mengguyur pelataran kampus, mengabaikan rasa perih di kakinya demi menjauh dari bangunan terkutuk itu. Ia baru berani memperlambat langkahnya ketika mencapai lobi Gedung Fakultas yang diterangi oleh lampu neon putih yang berkedip monoton. Dengan tubuh basah kuyup dan napas yang masih tersengal-engal, Liam melangkah masuk ke dalam lift fakultas yang terbuka, berharap bisa segera sampai ke lantai dasar untuk pulang. Pintu lift perlahan tertutup rapat, memisahkan Liam dari kegelapan badai di luar sana, memberikan sedikit rasa aman yang semu.
Di dalam lift yang bergerak turun, Liam menyandarkan punggungnya ke dinding besi yang dingin, menatap buku catatan hitam di pelukannya dengan perasaan campur aduk. Detak jantungnya berangsur normal, namun rasa dingin yang aneh masih bersarang di dalam dadanya, seolah ada sesuatu yang tertinggal di dalam dirinya. Liam menurunkan pandangannya ke bawah, dan saat itulah ia menyadari bahwa pantulan dirinya di dinding lift yang mengilat tampak sedikit berbeda.
Seketika itu juga, bulu kuduk Liam kembali berdiri dengan sensasi yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Di dalam pantulan cermin lift yang bersih, Liam tidak sendirian; ada sesosok arwah pemuda berwajah pucat dengan pakaian mahasiswa yang koyak sedang berdiri tepat di sampingnya, menatapnya dengan senyuman ganjil. Namun, ketika Liam menolehkan kepalanya secara langsung ke arah samping, ruang sempit di dalam lift itu benar-benar kosong melompong tanpa ada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Daftar bab
27 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








