

Di bawah terik matahari siang, Damar mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sedang.
"Huh... panas banget hari ini, mana baru dapet dua penumpang," gerutu Damar sambil mengusap peluh di dahinya.
Jalanan desa siang itu memang cukup sepi, hanya ada suara deru mesin motor yang bersahutan dengan angin sawah. Pemuda berusia dua puluh lima tahun ini memiliki wajah yang sangat tampan dengan rahang tegas. Tubuhnya kekar dan berotot, hasil kerja kerasnya memikul beban berat dan membantu warga desa sejak kecil.
Meski hanya lulusan SD dan berstatus yatim piatu, pembawaan Damar sangat santai. Dia selalu memancarkan pesona alami yang bikin banyak wanita di kampung sering curi-curi pandang.
Sebulan lalu, kakek yang membesarkannya telah berpulang ke Rahmatullah. Kakeknya meninggalkan motor tua ini sebagai modal utamanya mencari nafkah sehari-hari. Selain motor, dia juga mewariskan buku panduan beladiri tangan kosong, buku teknik pijat tradisional urat syaraf, serta satu kotak kecil misterius.
"Sial... kotak peninggalan Kakek itu benar-benar bikin penasaran," gumamnya di dalam hati.
Katanya, isi kotak misterius itu berhubungan erat dengan orang-orang besar di ibu kota. Namun, Damar belum punya waktu luang untuk memecahkan rahasia itu sekarang. Tujuan utamanya saat ini hanyalah mencari uang sebanyak-banyaknya untuk sekadar bertahan hidup dan menabung.
"Daripada pusing mikirin penumpang, mending aku ngopi dulu di warung Mbak Nita deh," ucap Damar dengan nada riang.
Sambil menyunggingkan senyum nakal, dia membelokkan stang motornya menuju warung kopi favoritnya. Sesaat kemudian, Damar tiba di depan sebuah warung kopi sederhana yang berdinding anyaman bambu tapi selalu tampak bersih.
Begitu dia mematikan mesin dan turun dari motor, seorang wanita dewasa berdaster ketat langsung menyambutnya.
"Eh, Mas Damar... tumben siang-siang gini udah mampir, dapet banyak penumpang nih?" sapa wanita itu dengan senyum manis yang memikat.
Wanita itu adalah Mbak Nita, janda montok berusia dua puluh delapan tahun pemilik warung tersebut. Suaminya sudah lama kabur entah kemana karena terlilit utang judi yang lumayan besar. Kini, Mbak Nita harus berjuang sendirian menjaga warung, menjadikannya sosok janda kesepian yang haus akan belaian pria.
"Lagi sepi nih, Mbak... makanya aku mampir ke sini buat nyari yang seger-seger biar mata melek," balas Damar dengan nada santai.
"Mau pesen kopi atau es teh, nih?" tanya Mbak Nita sambil mengelap meja kayunya perlahan.
"Kopi hitam aja, Mbak... tapi nggak usah pakai gula, soalnya ngeliat Mbak Nita aja udah manis banget," goda Damar dengan percaya diri.
"Hehe... kamu tuh, yah! Bisa aja godain janda," balas Mbak Nita tersipu malu.
Pipi wanita itu sedikit merona. Matanya jelas memancarkan gairah terpendam yang sulit disembunyikan saat menatap lekuk tubuh kekar Damar. Mbak Nita lalu berbalik dan mulai meracik kopi pesanan Damar di meja dapur.
Saat wanita itu menunduk untuk mengambil gelas di rak bawah, kerah dasternya yang agak longgar sedikit terbuka ke bawah. Damar sontak meneguk ludah dengan kasar.
"Owh, sial... gunung Mbak Nita gede banget, kelihatan padat pula," gumamnya di dalam hati.
Ukuran payudara janda itu benar-benar luar biasa menggoda. Ditambah pinggulnya yang montok, membuat pesonanya begitu mematikan di mata laki-laki manapun. Tak lama kemudian, Mbak Nita berjalan menghampiri Damar sambil membawa segelas kopi panas.
Aroma kopi yang harum berpadu pas dengan wangi parfum semerbak yang biasa dipakai Mbak Nita.
"Kopinya, Mas Damar... mau kopinya aja apa sama yang bikin? Mumpung lagi kosong nih," goda Mbak Nita sambil sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan meja.
"Kalau yang bikinnya ngasih gratis sih, aku jelas nggak bakalan nolak dong," balas Damar dengan nada nakal.
Mbak Nita terkikik pelan mendengar jawaban itu. Dia lalu duduk bersila di kursi kayu tepat di seberang Damar. Damar meraih gelas itu dan menyesap kopi hitamnya secara perlahan.
"Ahh... kopi buatan Mbak Nita emang paling juara di kampung ini," puji Damar dengan tulus.
"Mas Damar... daripada kamu keliling nggak jelas, mending kamu mangkal di sini aja," saran Mbak Nita tiba-tiba.
"Di sini strategis lho, banyak ibu-ibu yang mau ke pasar atau anak SMA yang pulang sekolah pasti lewat jalan ini."
Damar terdiam sejenak, memikirkan tawaran menarik dari janda montok itu.
"Tapi kan udah ada pangkalan ojek di pertigaan sana, Mbak. Nanti mereka pada iri lagi ngeliat aku di sini," ucap Damar santai.
"Biarin aja sih! Kamu kan ganteng, bodi kamu juga kekar begini. Pasti banyak cewek yang lebih milih naik ojek kamu daripada ojek bapak-bapak di sana," bujuk Mbak Nita tak mau kalah.
Jari lentik wanita itu dengan berani menyentuh otot lengan Damar yang menonjol dari balik kaos oblongnya.
"Apalagi penumpang perempuan, pasti pada berebut minta dibonceng sama kamu, loh," tambah Mbak Nita dengan suara pelan dan sedikit mendesah.
Mendengar bujukan itu, otak oportunis Damar langsung bekerja dengan cepat.
"Ide yang bagus juga... selain dapet duit borongan, siapa tahu aku bisa dapet keuntungan lain dari penumpang-penumpang cantik itu," gumamnya di dalam hati.
"Boleh deh, Mbak... mulai besok aku mangkal di sini aja," putus Damar dengan penuh semangat.
"Nah, gitu dong! Kan aku jadi ada temen ngobrol terus tiap hari di warung," ucap Mbak Nita kegirangan.
Dari kejauhan, seorang pria berjaket lusuh tampak menatap tajam ke arah warung Mbak Nita. Dia adalah Maman, tukang ojek saingan yang biasa mangkal di pertigaan desa dengan motor kreditannya.
"Sialan... anak baru sok ganteng, beraninya dia caper sama janda montok inceranku," umpat Maman dengan wajah memerah menahan rasa iri.
Maman selalu gagal merayu Mbak Nita selama ini. Kini, melihat Damar bisa tertawa lepas dengan janda incarannya itu membuatnya sangat panas hati. Tepat pada saat itu, Mak Ijah berjalan melintasi warung Mbak Nita sambil menenteng keranjang sayur.
Wanita paruh baya yang dikenal sebagai biang gosip desa itu langsung memajukan bibir tipisnya. Mak Ijah memang ibarat radio berjalan di kampung ini, apa saja yang dia lihat pasti menyebar ke seluruh penjuru desa.
"Eh, Nita! Warungmu rame terus kalau ada si Damar, pakai penglaris susuk pemikat apa gimana nih kalian?" sindir Mak Ijah dengan nada nyinyir tingkat tinggi.
Mbak Nita seketika cemberut mendengar tuduhan tak berdasar dari emak-emak itu.
"Sembarangan kalau ngomong, Mak Ijah! Ini mah murni rezeki dari Tuhan," balas Mbak Nita dengan nada ketus.
Damar sama sekali tidak terpancing emosi menghadapi sindiran tajam tersebut. Dia sudah terlalu paham cara menghadapi intrik receh ibu-ibu pedesaan. Damar malah menyunggingkan senyum ramah andalannya ke arah Mak Ijah.
"Mak Ijah mau dianterin pulang nggak? Gratis deh khusus buat Mak Ijah yang paling cantik hari ini," tawar Damar dengan mulut manisnya.
Mak Ijah seketika salah tingkah mendengar pujian dadakan dari pemuda setampan Damar.
"Halah, dasar tukang kibul kamu, Damar!" ketus Mak Ijah sambil memalingkan wajahnya yang menua.
Namun, langkah kaki wanita tua itu terlihat lebih ringan. Pipinya sedikit merona malu saat dia bergegas berlalu pergi menjauh dari area warung.
"Huh... Mak Ijah tuh emang mulutnya pedes banget, nggak usah didengerin deh," keluh Mbak Nita sambil mengusap-usap dada besarnya untuk meredakan emosi.
"Biarin aja, Mbak. Namanya juga orang tua, kurang hiburan kali di rumah makanya suka cari gara-gara," balas Damar santai.
"Makasih loh, Mas Damar udah mau mangkal di sini nemenin aku," ucap Mbak Nita kembali mendekatkan posisinya ke arah Damar.
"Sama-sama, Mbak. Tapi ada syaratnya lho, kalau aku mangkal di sini," goda Damar dengan tatapan usil.