
PESONA ADI, SI DUKUN TAMPAN
erabaru010927|Tamat
- Jumlah kata
- 101.0K
- Popular
- 883
- Subscribe
- 152
- Jumlah kata
- 101.0K
- Popular
- 883
- Subscribe
- 152
Sinopsis
Wiguna Aditama yang biasa dipanggil Adi, 23 tahun, lari dari kota kecil tempat kelahirannya, karena diburu sekelompok orang yang membunuh semua anggota keluarganya, tanpa dia tahu apa penyebabnya. Saat dia lari, dia jatuh ke jurang dan menemukan kotak kayu misterius. Sejak saat itulah Kehidupan Adi berubah 180° kini dia telah menjadi seorang yang memiliki kekuatan supernatural dan digandrungi banyak wanita. Ternyata ada sebuah rahasia besar yang akhirnya Adi tahu, setelah dia berada di ambang kematian. Bahkan dia tidak menyangka bila dia harus menemukan tujuh pusaka leluhurnya untuk bisa menyelamatkan wanita yang dia cintai dan demi membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya. Membuat semua musuh-musuh besar leluhur dan keluarganya harus bersiap mengalami perubahan yang mengguncang kenyaman dan keselamatan mereka. Adi yang kini adalah Adi yang akan membawa panji kematian untuk mereka.
Ulasan
3 ulasan
erabaru010927
21/7/26 15:41
@kak Devi, Terima kasih kakak sudah mampir dan subscribe juga. Tetap baca sampai tamat ya kak. Dengan semua kejutan yang ada di dalam kisah ini. Thx all para readers setia juga. baca sampai tamat ya kak. 😘🥰🥳🪄🙏🔥🔥
erabaru010927
15/7/26 10:41
Terima kasih yang sudah subscribe karya author. Mulai besok author akan update lebih rutin lagi oke. Thx all. Jangan lupa dukung terus karya author. Muah muah....
Pembantaian Massal
"Adi, Adi, cepat lari, Nak!" teriak panik ayah dan ibunya yang berusaha berjuang menyelamatkan Adi yang baru saja pulang dari kuliahnya saat itu.
"Mereka disana! Bunuh mereka! Bunuh mereka jangan sampai ada yang tersisa!" teriak ketua sekelompok orang yang tidak dikenal oleh Adi.
Adi yang terkejut, seketika panik saat melihat Ayah dan Ibunya dibunuh secara brutal. Tusukan yang berulang kali di bagian viral tubuh kedua orang tuanya serta tindakan pelecehan yang kasar dan mematikan yang di alami adik perempuannya, yang telah terkapar menjadi mayat tanpa busana dengan luka tusukan yang tak terhitung jumlahnya.
Seorang tetangganya yang baik hati langsung menarik tubuh Adi yang kaku seperti bongkahan batu karang tegak dengan netra yang menatap orang biadab membantai anggota keluarganya.
Tetangga itu menarik Adi untuk lari meninggalkan rumahnya yang kini bersimbah darah segar dari tubuh orang-orang yang dia cintai.
"Nak, kamu jangan pulang ke rumahmu lagi ya? Kamu pergi ke alamat ini saja, ini masih kerabat Bapak di kota, kamu harus lanjutkan hidupmu di sana. Ingat jangan ada keraguan dalam hidupmu saat kau di luar sana. Kami akan mengurus jenazah orang tua dan adikmu. Kamu jangan kembali kesini sebelum kamu tahu siapa mereka. Hati-hati ya, Nak!" jelas tetangga Adi yang baik hati itu.
"Ini, ada uang untuk membeli kebutuhan kamu sementara di sana. Maafkan Bapak tak bisa beri kamu banyak." Tetangga Adi itu langsung memasukkan beberapa lembar uang merah muda ke saku Adi dan menarik Adi masuk ke sebuah mobil yang mengangkut sayuran ke kota besar, milik tetangga Adi tersebut.
Sopir mobil angkutan sayur itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun naas belum jauh laju mereka, mobil mereka sudah di hadang oleh sekelompok orang yang tadi membantai keluarga Adi. Sopir itu mendorong Adi keluar untuk bersembunyi di sebuah hutan yang membatasi kota kecil mereka dengan kota besar yang mereka akan tuju bersama.
"Lari, Adi! Lari, jangan sampai tertangkap!" perintah sopir tadi mendorong Adi masuk dalam hutan lebat.
Adi yang masih syok dan tertekan hanya bisa mengikuti perintah sopir tadi. Dari kejauhan Adi bisa melihat sopir itu akhirnya juga meregang nyawanya di jalanan sepi perbatasan kota kecil mereka ke kota besar yang akan mereka tuju.
Adi lari tanpa arah tujuan yang jelas sampai dia tiba di pinggir jurang. Karena lelah dan pusing, kaki Adi tergelincir membuat dia jatuh ke dalam jurang itu. Di belakangnya kelompok orang yang memburunya menyaksikan dengan jelas tubuh Adi jatuh ke dalam jurang yang gelap dan dalam itu.
"Aaaggghhhh!!!" teriak Adi yang sudah tak tertolong lagi.
Kelompok orang-orang yang membunuh keluarga Adi itu berdiri di tepi jurang menyaksikan tubuh Adi yang melayang cepat ke dasar jurang.
"Dia pasti mati, Ketua! Ayo kita kembali!" ucap salah satu anggota kelompok biadab itu.
"Baiklah ayo kita kembali. Biarkan dia mati dan membusuk di bawah sana. Tugas kita selesai tuntas. Kita akan segera laporkan pada Boss besar. Kalian harus ikuti semua yang akan aku katakan padanya nanti. Kalian paham?" tanya ketua kelompok itu. "Paham, ketua!" "Paham, Bang!"
Malam menutupi jurang itu membuat jurang itu semakin gelap. Tubuh pingsan Adi tergeletak di sana. Penuh luka goresan diri duri semak belukar yang menggores kulit Adi saat dia berlari tadi di dalam hutan.
Tiba-tiba, seberkas cahaya terang putih kebiruan membungkus seluruh tubuh Adi yang pingsan. Perlahan cahaya terang itu masuk da menghilang ke dalam tubuh Adi seakan terserap ke dalamnya.
Uhuk! Uhuk! Aaghhh!
"Aku dimana? Agh, sakit semua tubuhku! Aduh, mau patah rasanya pinggang dan punggungku, aduh," keluh Adi yang tersadar dari pingsannya.
"Dimanakah ini, lembab, dingin, kasar. Hah! Aku tidur di tanah becek?" gumam Adi merasakan tangannya meraba sekitar tubuhnya terbaring.
Tangannya memegangi kepalanya yang berdenyut kuat. Kemudian dia kembali ke ingatan di pikirannya bagaimana dia melihat keluarganya di bunuh, dia lari dan di tangkap kemudian lari dan dia jatuh ke jurang. Perlahan Adi bangkit dan duduk di tanah basah itu.
"Aku di dasar jurang? Apakah aku sudah mati? Atau sudah ada di neraka ini ya?" monolog Adi lirih.
Kini netranya yang hitam kelam, tampak satu dan sendu diikat sedih dan perih yang menyayat hatinya. Tak terasa dua butiran bening menetes ke pipi dan tangannya. Bayangan kematian mereka masih bermain di pelupuk matanya.
"Siapa orang-orang jahat dan biadab itu? Aku harus mencari tahu dan membalaskan dendam orang tua dan adikku! Bahkan mereka juga membunuh sopir tak bersalah itu! Aku pasti akan menemukan mereka dan aku akan membalaskan sakit ini beribu kali lipat!" janji Adi dengan suara baritonnya yang tegas bergema di sekitarnya.
Saat Adi duduk di bawah pohon rindang yang tak jauh dari dia pingsan tadi, dia merenung dan memejamkan matanya. Dia lagi berpikir apa yang akan dia lakukan berikutnya. Tangannya gemetar merogoh saku celananya, uang itu masih utuh tak tersentuh. Adi mengeluarkan uang itu dan menghitung ada lima belas lembar.
"Satu juta lima ratus ribu, ini lumayan cukup bagiku membeli kebutuhan sehari-hari aku sementara ini. Tapi... Bagaimana caranya aku keluar dari sini. Kayaknya ini aku ada di dasar jurang."
Tangannya yang menopang tubuhnya tiba-tiba meraba ada benda asing di sebelah tubuhnya. "Apa ini?" tanya Adi. Karena malam itu sangat gelap jadi wajar saja Adi tidak tahu dan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dia pegang dan apa yang ada di dekat tubuhnya.
Perlahan, dia menarik benda asing tersebut. "Oh, sebuah kotak jati kuno?" gumam Adi setelah dia menyalakan korek yang dia bawa setiap hari untuk menyulut nikotinnya.
Adi meraba ukiran unik di kotak tersebut dan mencoba membuka tutup kotak kuno tersebut. Klik! Tanda kunci terbuka. Adi dengan bantuan cahaya api di koreknya, dia bisa melihat di dalam kotak itu ada koin emas kuno dengan gambar yang sudah tidak jelas dan tulisan yang tidak jelas juga karena sudah terlalu tua. Kemudian ada gulungan daun lontar mirip seperti perkamen kuno yang diyakini dengan tali kuno yang kasar dari serabut akar pohon yang dijalin rapi.
"Apa ini ya?" tanya Adi. Tangan Adi membuka tali itu dan sretttt! Gulungan itu terbuka. Saat gulungan itu terbuka, tulisan di gulungan itu bersinar dan masuk ke mata Adi, sangat menyilaukan, Adi segera memejamkan matanya. Namun tiba-tiba di dalam dirinya dia merasakan gelombang energi yang sangat panas masuk menembus dirinya begitu saja.
"Agggh! Panas! Sakit! Aagghhh! Kepalaku sakit juga. Tubuhku seperti dirobek-robek. Aghh!" teriakan Adi membuat burung-burung dan hewan malam di sekitarnya langsung pergi dan berisik suaranya seakan mereka panik dengan apa yang dirasakan oleh Adi. "Apa... yang terjadi padaku...."
Daftar bab
92 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








