Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM KAYA DARI LAUTAN

SISTEM KAYA DARI LAUTAN

Syahdan | Bersambung
Jumlah kata
31.6K
Popular
472
Subscribe
47
Novel / SISTEM KAYA DARI LAUTAN
SISTEM KAYA DARI LAUTAN

SISTEM KAYA DARI LAUTAN

Syahdan| Bersambung
Jumlah Kata
31.6K
Popular
472
Subscribe
47
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPria MiskinAnak Yatim PiatuSistem
Jaka adalah anak yatim piatu yang hidup sebatang kara di gubuk reyot pinggir pantai desa nelayan. Sejak kecil ia bergantung pada lautan, bekerja sebagai awak kapal di bawah perintah Pak Haris—orang terkaya di desa yang terkenal pelit, sombong, dan suka menghina orang miskin. Ketika gajinya tertunda dua bulan dan ia sudah tak punya sepeser pun untuk makan, Jaka memberanikan diri meminta haknya. Namun bukannya dibayar, ia justru dihina sebagai "sampah yatim tak berguna" dan diancam tak dibayar sama sekali jika tak mau berlayar minggu depan. Hati yang remuk redam membuat Jaka berhenti bekerja seketika, lalu duduk merenung penuh keputusasaan di dermaga. Di saat itulah layar cahaya biru misterius muncul: Sistem Penjelajahan Lautan. Sistem ini memberinya kemampuan luar biasa—mendeteksi lokasi biota laut langka bernilai tinggi, memetakan kapal tenggelam berisi harta karun, hingga mengetahui bahaya laut yang tak terlihat mata manusia. Dengan tangan kosong dan hanya berbekal perahu kayu tua, Jaka memulai perjalanan baru. Awalnya ia ditertawakan warga desa dan Pak Haris, namun perlahan ia menemukan teripang emas mutiara, lobster langka, hingga kapal dagang zaman kolonial yang tenggelam berisi emas batangan dan barang antik. Ia tak hanya mengumpulkan harta, tapi juga membuktikan bahwa lautan tak pernah memihak pada kekuasaan atau kesombongan, melainkan pada keberanian, ketulusan, dan kerja keras. Sepanjang perjalanannya, Jaka menghadapi banyak rintangan: kecemburuan Pak Haris yang berusaha merusak usahanya, penjarahan perompak laut, bahaya alam yang tak terduga, hingga rahasia masa lalu orang tuanya yang ternyata berkaitan dengan harta karun legendaris di wilayah itu. Ia tak hanya menjadi orang kaya, tapi juga memajukan desa nelayan, melindungi kelestarian laut, dan menemukan arti sebenarnya dari kekayaan yang tak bisa diukur dengan uang. Kisah ini bercerita tentang perubahan nasib yang tak terduga, perjuangan melawan penindasan, serta hubungan erat antara manusia dan lautan yang menyimpan rahasia tak terbatas.
Bab 1 Dua Bulan Tanpa Sepersepun

Angin laut sore itu berhembus kencang, membawa bau garam yang tajam bercampur aroma solar menyengat dari lambung kapal terbesar milik Pak Haris, kapal bernama Sinar Bahari. Jaka berdiri tegak di depan pintu ruang kapten yang terbuat dari kayu jati tebal, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih, kakinya terasa berat seolah tertanam di dermaga kayu yang sudah lapuk dimakan usia dan air asin. Pria berusia dua puluh tahun itu mengenakan kaos oblong yang warnanya sudah pudar tak beraturan, celana jeans yang kainnya menipis di bagian lutut, dan sepasang sandal jepit yang talinya pernah disambung dengan tali rafia dua kali.

Jaka adalah yatim piatu sejati. Sejak usia sepuluh tahun, ia tinggal sendirian di gubuk reyot di pinggir pantai desa nelayan. Ibunya meninggal dunia saat melahirkannya, tak sempat melihat wajah anaknya tumbuh besar. Sedangkan ayahnya—seorang nelayan tangguh yang dikenal sangat jujur dan mencintai laut—hilang tanpa jejak ditelan badai laut besar lima tahun silam saat hendak pulang membawa hasil tangkapan. Tidak ada kerabat yang mau merawatnya, tidak ada harta berharga yang ditinggalkan orang tuanya selain kenangan tentang kebaikan mereka dan sebuah perahu kayu kecil yang sering bocor. Satu-satunya cara ia bertahan hidup selama ini adalah bekerja sebagai awak kapal di bawah naungan Pak Haris, orang terkaya sekaligus paling sombong, kikir, dan pelit di desa itu.

Pak Haris memiliki tiga kapal nelayan terbesar di desa, menguasai hampir seluruh dermaga, dan juga menjadi pengepul tunggal hasil laut di sana. Namun perlakuan terhadap pekerjanya sangat kejam dan tidak manusiawi. Gaji sering terlambat berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, makanan di kapal seadanya kadang sudah basi, istirahat sangat sedikit, dan setiap kesalahan kecil pasti dibalas dengan makian kasar atau pemotongan upah secara sepihak tanpa alasan jelas.

Sudah tepat dua bulan gaji Jaka tidak dibayarkan. Beras di rumah tinggal segenggam terakhir yang ia simpan dengan hati-hati, minyak tanah untuk penerangan sudah habis tiga hari lalu, ia bahkan sudah berhutang di warung Bu Minah hingga tidak berani lewat di depan warung itu lagi karena malu. Perutnya sudah berhari-hari terasa perih dan sakit, hanya diisi ubi rebus sisa hasil pungut di kebun warga yang sudah tua dan sedikit air garam. Tubuhnya terasa lemas, tenaganya berkurang drastis setiap hari. Hari ini ia tidak bisa menunda lagi, kalau tidak dibayar sekarang, besok ia mungkin tidak punya tenaga lagi untuk berjalan, apalagi bekerja.

Dengan napas panjang yang bergetar, Jaka mengetuk pintu kayu itu pelan namun tegas.

"Masuk!" suara berat, kasar, dan tidak sabar terdengar dari dalam ruangan.

Jaka menarik napas dalam sekali lagi, lalu melangkah masuk. Ruangan itu terasa dingin meski tanpa pendingin udara, berbau cerutu mahal dan kopi yang baru saja diseduh. Di balik meja kerja yang besar dan penuh berkas-berkas tertutup kaca, duduk Pak Haris mengenakan kemeja bermotif garis yang disetrika sangat licin, jam tangan emas berkilau melingkar di pergelangan tangannya yang gemuk. Ia menatap berkas di tangannya, seolah kehadiran Jaka di ruangan ini sama sekali tidak penting dan mengganggu waktunya yang berharga.

"Ada apa kamu ke sini? Bukannya seluruh kru harus bersiap memuat bekal air bersih dan makanan untuk pelayaran besok pagi? Kenapa kamu diam saja di sini?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jaka.

"Mohon maaf mengganggu waktu Bapak," suara Jaka bergetar namun ia berusaha menegakkan punggungnya sekuat tenaga. "Saya datang untuk meminta gaji saya. Sudah dua bulan belum dibayarkan, Pak. Saya benar-benar tidak punya uang lagi untuk makan, membeli kebutuhan dasar, dan melunasi hutang di warung. Tolonglah, Pak, berikan hak saya yang sudah saya perjuangkan dengan keringat dan tenaga."

Pak Haris akhirnya menoleh perlahan, menatap Jaka dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan yang tajam dan menyakitkan. "Gaji? Kamu pikir uang itu tumbuh di pohon kelapa di pinggir pantaimu? Uang itu butuh usaha, butuh tangkapan ikan yang laku mahal di pasar. Nanti saja kita bayar setelah kapal pulang dari melaut minggu depan. Sekarang pergi, kerjakan tugasmu seperti yang lain!"

"Minggu depan?" mata Jaka terbelalak kaget, hatinya berdenyut sakit. "Pak, pelayaran ke lokasi penangkapan ikan itu butuh waktu tujuh hari penuh, bahkan bisa lebih kalau cuaca buruk. Saya tidak sanggup menunggu selama itu! Tolonglah, bayarkan sebagian saja—saya hanya butuh cukup untuk makan dan membeli beras agar punya tenaga bekerja. Saya sudah bekerja sekuat tenaga dua bulan ini, tidak pernah absen, selalu bekerja lembur tanpa diminta, dan tidak pernah mencuri barang Bapak sedikit pun."

"Berisik sekali kamu!" Pak Haris menekan meja dengan keras hingga gelas air di atasnya bergetar hebat. "Sudah kubilang nanti setelah pulang! Kamu mau melawan perintahku, hah? Ingat posisi kamu! Kamu ini cuma anak yatim piatu yang tidak berguna, tidak punya rumah layak, tidak punya sanak saudara yang mau menolongmu. Kalau tidak bekerja di sini, mau makan apa? Makan batu? Makan sampah di pinggir pantai?"

Kata-kata itu seperti paku tajam yang dihantamkan berkali-kali tepat ke dada Jaka. Ia menahan air mata agar tidak jatuh, menggertakkan gigi menahan rasa sakit hati yang luar biasa. Ia tahu dirinya miskin, ia tahu dirinya tidak punya apa-apa, tapi ia tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun, tidak pernah mencuri, dan selalu bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh.

"Saya tidak minta belas kasihan, Pak," jawab Jaka pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke mata Pak Haris. "Saya hanya minta hak saya yang sudah saya perjuangkan dengan keringat dan tenaga saya sendiri."

"Hak? Di desa ini, di dermaga ini, di kapal-kapal ini, aku yang punya hak untuk menentukan segalanya!" Pak Haris tertawa sinis keras. "Kamu ini cuma sampah desa yang beruntung aku beri kesempatan bekerja. Jangan banyak menuntut! Kalau tidak suka, silakan angkat kaki sekarang juga! Banyak orang lain yang lebih pintar, lebih kuat, dan lebih berguna yang rela menempati posisi kamu dengan gaji berapa pun."

Rasa marah, sedih, dan keputusasaan akhirnya meledak di dada Jaka. Ia sadar berdebat dengan orang yang hatinya tertutup keserakahan dan kesombongan setebal batu karang adalah hal yang sia-sia dan hanya akan menyakiti dirinya sendiri lebih dalam.

"Baiklah, Pak," ucap Jaka perlahan, suaranya tenang namun penuh keputusan yang tak bisa diubah lagi. "Kalau begitu, saya berhenti bekerja mulai saat ini."

Tanpa menoleh lagi, tanpa menunggu jawaban atau makian tambahan Pak Haris, Jaka berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan itu. Di belakangnya, terdengar tawa sinis Pak Haris yang mengiringi langkahnya: "Pergilah, anak yatim bodoh! Lihat saja nanti kamu bisa makan apa saat perutmu keroncongan kelaparan!"

Pintu ditutup perlahan dari luar. Udara luar terasa lebih sejuk dan menyegarkan, namun hatinya terasa sangat berat dan sesak. Langit mulai berubah warna menjadi jingga gelap, matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala laut yang luas dan gelap. Di hadapannya kini terbentang masa depan yang tak tahu arah, tanpa pekerjaan, tanpa uang sepeser pun, dan hanya berbekal keberanian yang perlahan mulai menipis.

Lanjut membaca
Lanjut membaca