Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
berdansa dengan monster

berdansa dengan monster

kopi stubruck | Bersambung
Jumlah kata
66.4K
Popular
100
Subscribe
16
Novel / berdansa dengan monster
berdansa dengan monster

berdansa dengan monster

kopi stubruck| Bersambung
Jumlah Kata
66.4K
Popular
100
Subscribe
16
Sinopsis
PerkotaanAksiGangsterMafiaPertualangan
meninggalkan masa lalunya dan memulai hidup dari nol sebagai buruh gudang di sebuah toko grosir. Hari-harinya dipenuhi kerja keras, peluh, dan rutinitas sederhana. Bersama rekan-rekan kerja yang tulus, ia mulai menemukan sesuatu yang selama ini hilang: rasa memiliki dan harapan untuk menjalani hidup yang normal. Namun, malam-malam yang sunyi menghadirkan mimpi-mimpi buruk yang tak pernah benar-benar pergi. Suara tembakan, jeritan, dan bayangan masa lalu terus menghantuinya, seolah mengingatkan bahwa ada kehidupan lama yang belum selesai. Ketika kepercayaan mulai diberikan dan kehidupan baru terasa semakin nyata, masa lalu yang selama ini ia kubur perlahan bangkit dan mengancam menghancurkan semuanya. Kini ia harus memilih: terus bersembunyi di balik kehidupan yang damai, atau menghadapi monster yang selama ini ia coba tinggalkan. Sebab, ada masa lalu yang bisa dilupakan, dan ada masa lalu yang akan terus mengejar, sejauh apa pun seseorang melarikan diri.
1.Hari-hari yang tak lagi sama

Tinggal tiga boks lagi.

Aku mengulang kalimat itu di kepala sambil memanggul kardus terakhir. Peluh menetes dari ujung hidung, membasahi kaos kusam yang warnanya sudah tak jelas—abu-abu atau biru, entahlah. Punggungku pegal, jari-jari gemetar, tapi langkahku tetap bergerak.

Seorang pria bertubuh gempal berdiri di sana, mengenakan polo merah dan celana kain pendek. Wajahnya ramah, tapi matanya mencatat.

“Cepat sedikit, To. Tiga boks lagi.”

Aku mengangguk dan kembali membungkuk.

Mengangkut kardus minyak kelapa kemasan dari truk ke gudang.

Di sini, badan bicara lebih banyak daripada mulut. Terlalu banyak mengeluh hanya akan bikin orang lain malas memandangmu.

“Tinggal ini, To?”

Alif menyapaku dari belakang. Suaranya parau.

“Iya. Deni tadi sudah angkut yang terakhir ke toko.”

Kami bekerja tanpa banyak bicara, Sardi membenahi rak minyak goreng yang nyaris tumbang,dengan forklift. Deni duduk di atas tumpukan kardus bekas, mengipas wajahnya dengan kardus bekas.

Aku duduk di atas tumpukan kardus kosong.

Alif datang dan menyodorkan sebotol minuman dingin.

Aku meraih dan meneguknya. Dingin itu turun pelan di tenggorokan.

Alif menyikut lenganku. “Masih kuat?.”

Aku tersenyum kecil.

Sore mulai turun ketika truk terakhir keluar dari halaman gudang. Suara mesinnya perlahan menghilang di ujung jalan, menyisakan keheningan yang berbeda dari biasanya. Beberapa karyawan sudah bersiap pulang. Ada yang mencuci tangan, ada yang masih merapikan tumpukan kardus.

Aku sedang mengikat kardus-kardus bekas ketika terdengar langkah menaiki lantai gudang.

"Anto... Alif."

Kami menoleh bersamaan.

Bos berdiri di depan pintu gudang.

"Ayo ikut saya sebentar."

Aku dan Alif saling pandang, lalu mengikutinya menaiki tangga menuju kantor kecil di lantai dua.

Ruangan itu tak lebih dari tiga kali empat meter. Pendingin ruangan berdengung pelan, kontras dengan hawa panas gudang yang baru saja kami tinggalkan.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

"Gudang ini..." katanya akhirnya sambil menyandarkan tubuh ke kursi. "Belakangan mulai sering membuat saya waswas."

Aku dan Alif mendengarkan.

"Minggu lalu ada orang yang coba masuk malam-malam."

Aku mengernyit.

"Beruntung hansip sempat lihat. Begitu diteriaki, mereka langsung kabur."

Ruangan kembali hening.

"Jujur, saya sudah kepikiran nambah orang buat jaga malam."

Ia menggeleng pelan.

"Tapi saya lebih butuh orang yang mengerti tempat ini."

Tatapannya berpindah dari Alif kepadaku.

"Kalian."

Aku dan Alif saling berpandangan.

"Saya bukan minta kalian jadi satpam," lanjutnya sambil tersenyum kecil. "Cuma... kalau kalian lagi di sini, saya minta lebih peka. Tolong perhatikan keadaan gudang sama toko. Kalau ada sesuatu yang nggak beres, segera kabari saya."

Alif mengangguk lebih dulu.

"Siap, Bos."

Aku ikut mengangguk.

"Kami usahakan"

Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan dua anak kunci yang diikat dengan gantungan besi kecil.

Bos tidak langsung memberikannya.

Ia memandang kedua kunci itu beberapa saat sebelum meletakkannya di atas meja.

"Mulai hari ini... Kunci gudang sama toko saya titip ke kalian."

Aku menatap dua anak kunci itu.

Entah kenapa, benda kecil itu terasa jauh lebih berat daripada besinya sendiri.

Kopi panas mengepul di gelas tansparan, menemaniku berjaga di toko dan gudang malam ini. Sesekali, mataku menatap keluar melalui jendela di lantai dua gudang, memandangi pintu gerbang yang sudah tertutup. Penerangan di luar sangat minim, membuat bayangan dan bentuk sulit dikenali. Dalam kesunyian seperti ini, setiap suara sekecil apa pun terdengar mencurigakan.

Tiba-tiba, BRUK!

Suara keras memecah keheningan. Seperti ada benda jatuh—berat dan mendadak. Aku refleks berdiri dan berlari menuju sumber suara. Tapi sebelum sempat membuka pintu menuju gudang, Alif muncul dengan napas tersengal, berlari masuk ke toko.

“Ada apa?!” seruku panik.

“Tadi... aku lihat tikus. Di tumpukan kaleng bekas margarin... aku lemparl tongkat bambu ke arah tikus itu.”

Aku menahan napas sejenak, lalu menghela panjang.

"Bikin kaget saja. Sekarang kamu tunggu di depan. Biar aku yang cek ke belakang.”

Alif mengangguk sambil duduk di bangku dekat meja kasir.

Lampu neon yang hanya satu-satunya sumber cahaya di tengah ruangan memancarkan cahaya temaram. Rak-rak besi menjulang di sepanjang dinding, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak setiap kali aku bergerak. Ada sesuatu dari keheningan ini yang terasa tidak biasa.

Langkahku melambat. Di sudut gudang, kaleng-kaleng bekas margarin berserakan, sebagian penyok, sebagian tampak dijilati bersih. Mungkin ini yang tadi dimaksud Alif. Bau tengik margarin yang tersisa masih tercium samar, cukup untuk mengundang tikus-tikus masuk.

Alif sedang duduk di balik meja kasir saat aku masuk ke toko. Ia tampak bosan, memainkan senter kecil yang ia putar-putar di atas meja.

“Tidur, Lif?” seruku pelan.

“Tidur di mana?” jawabnya sambil meringis geli.

Aku tersenyum kecut.

“Lif, kamu udah kerja di sini berapa lama?” tanyaku pelan, mencoba berbasa-basi di tengah sunyi malam.

“Kalau nggak salah, udah setahun setengah lah,” jawabnya sambil duduk selonjoran.

“Si Bos, kalian panggilnya 'Bos' aja ke dia?”

“Pak Fredy?” Alif menoleh, menatapku.

“Iya, dia. Siapa sebenarnya dia?”

“Bos kita lah,” jawabnya polos.

Alif membetulkan posisi duduknya, punggungnya bersandar ke etalase, seperti bersiap untuk bercerita panjang.

“Kita menyebutnya Pak Fredy, itu permintaan dia langsung. Kalau soal leluhurnya dari mana, aku nggak tahu pasti. Tapi semua anak-anak cewek manggil dia juga Pak Fredy, katanya sih permintaan Bu Lily.”

“Bu Lily?”

“Iya, itu istrinya pak Fredy, istri keduanya. Istri pertama Pak Fredy udah meninggal, katanya sih sakit. Aku juga denger-denger saja.”

“Kamu tahu semua ini dari mana?” tanyaku, makin penasaran.

“Ya dari juragan-juragan cewek lah,” Alif terkekeh kecil. Ia lalu membaringkan kepalanya sambil menatap langit-langit toko yang diterangi lampu neon redup. “Sebelum nikah sama Pak Fredy, Bu Lily udah punya anak perempuan. Sekarang kuliah di Jogja.”

Aku menyandarkan tubuhku di kursi kasir yang empuk, memanjangkan kakiku ke bangku plastik di depan meja. Toko ini memang tak nyaman, tapi malam ini—ada cerita yang membuatnya sedikit lebih hangat.

Tanpa banyak bicara, Alif membaringkan badannya di kursi besi panjang tempat pelanggan biasanya menunggu. Ia menarik jaket sebagai selimut dan menutup kepalanya dengan lengannya, tak lama kemudian nafasnya mulai terdengar teratur.

Aku duduk di gudang, di tempat yang remang dan lembab, bersandar pada boks sambil menatap langit-langit. Di situ, dalam diam, aku mulai bertanya pada diri sendiri—bagaimana bisa aku sampai di sini? Terdampar di kota asing, di gudang yang gelap dan sunyi, menjaga barang-barang yang bukan milikku, dalam hidup yang seperti tak pernah benar-benar mulai.

Semua menjauh.

Semua terasa senyap.

Aku tidak mendengar apapun lagi…

derit pintu kontainar, berderak keras

Aku mengokang pistol.

Tiba-tiba terdengar jeritan—Arkhaa, Mikoo

Lalu, suara tembakan bersahutan.

“Anto! To!”

Suara itu seperti menarikku paksa dari mimpi gelap yang baru saja meledak di kepalaku. Nafasku memburu. Tubuhku masih setengah tenggelam dalam kebingungan antara tidur dan sadar.

“Sudah pagi?” tanyaku parau, sambil mengusap wajah.

“Cepat bangun, udah jam setengah tujuh!” seru Alif dari arah pintu.

Aku tersentak. Setengah tujuh? Panik langsung menyergap. Kami harus buka toko jam tujuh.

Aku melompat dari kardus yang menjadi alas, hampir tersandung sandal. Bergegas lari ke kamar. Mandi dan ganti baju tak butuh waktu lama—air dingin seolah menyadarkan tubuhku sepenuhnya.

Jam tujuh tepat, aku membuka pintu gudang. Pintu besi yang dibuka secara di lipat, engsel nya berdecit pelan, seperti enggan diajak bekerja pagi-pagi. Setelah memastikan semuanya aman, aku menuju ke depan—ke toko, mengecek apakah si bos sudah datang lebih awal.

Alif sudah lebih dulu membukakan rolling door pintu depan. Cahaya pagi menerobos masuk, membanjiri ruangan yang semalam terasa seperti liang sunyi. Di luar, tiga sosok sudah berdiri menunggu: Lani, Mira, dan Fany

“Eeeh! Juragan-juragan sudah datang rupanya!” seru Alif dengan nada menggoda, sambil menarik rolling door setengah.

“Berisik!” hardik Mira sambil mengernyit, membuat Alif tertawa puas dengan reaksinya.

“Mas Anto mana?” tanya Lani, celingukan ke dalam toko.

Lani yang tak menyadari aku sedang ada di sana, sontak kaget—wajahnya tersipu, buru-buru menunduk dan mengatur nafas seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Beberapa menit setelah toko dibuka, sebuah mobil SUV berwarna putih berhenti tepat di depan. Pak Fredy dan Bu Lily turun dari dalamnya, pakaian mereka rapi seperti biasa—Pak Fredy dengan kemeja lengan pendek dan celana bahan, Bu Lily dengan blouse putih dan tas selempang kecil di tangan kiri. Diikuti sebuah motor masuk, Deni dan Sardi datang berboncengan.

Mereka masuk ke toko, menyapa beberapa karyawan yang sedang bersiap bekerja.

Setelah memastikan keadaan aman dan berjalan lancar, pak Fredy mengajak Bu Lily naik ke lantai dua, menuju kantor yang berada tepat di atas gudang.

Sementara itu, aku, Sardi, Alif, dan Deni sedang sibuk membereskan tumpukan kaleng bekas kemasan margarin. Kaleng-kaleng itu berserakan di sudut gudang, sebagian penyok dan mulai mengeluarkan bau tengik yang mengganggu.

"Kalian lagi apa?" tanyanya.

Aku bangkit berdiri. "Re-charge Bos” seruku sambil tersenyum, ”Bos, kalau bisa kaleng-kaleng bekas margarin ini jangan ditumpuk di sini. Baunya bisa mengundang tikus. Takutnya nanti tikus-tikus malah merusak barang lain," kataku sambil menunjuk ke arah tumpukan kaleng yang mulai berkarat.

Kemudian ia menoleh padaku. "Anto!."

Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Saat hendak naik ke kantor lantai dua, ia sempat menoleh ke arah kumpulan wanita di toko yang sedang menimbang margarin.

"Kalau sudah beres nimbang, kaleng bekasnya jangan taruh di dalam, ya. Simpan di luar. Di gudang sudah mulai banyak tikus," kata Pak Fredy.

"Siap, Bos" jawab mereka hampir serempak.

Sebelum naik pak Fredy terdiam.

“Anto, saya ingin tanya, kamu bisa bawa mobil kan?”

“Bisa, Bos, kenapa?”

“Buat backup aja, kalau Sardi Atau Deni ga masuk, kamu bisa gantiin bawa mobil buat belanja”

“Siap bos”

Pak Fredy menepuk pundakku, lalu beranjak naik menuju kantornya setengah berlari.

Lanjut membaca
Lanjut membaca