
Kuli Bangunan Menantu Presiden
Syam Miho|Bersambung
- Jumlah kata
- 144.3K
- Popular
- 2.3K
- Subscribe
- 186
- Jumlah kata
- 144.3K
- Popular
- 2.3K
- Subscribe
- 186
Sinopsis
Rangga hanyalah kuli bangunan yang bekerja siang dan malam demi menikahi Citra, wanita yang dicintainya selama bertahun-tahun. Namun, seluruh pengorbanannya dibalas penghinaan. Cincinnya dibuang, harga dirinya diinjak, dan Citra memilih pewaris kaya yang dianggap mampu memberinya masa depan. Saat semua orang menertawakannya, sebuah konvoi mobil mewah datang menjemput Rangga dari tengah proyek berlumpur. Identitas yang selama ini tersembunyi akhirnya terbuka. Rangga bukan kuli biasa. Dia adalah satu-satunya pewaris kerajaan bisnis Satriatama Group yang telah lama menghilang. Kini, orang-orang yang pernah menghinanya mulai ketakutan. Para pengkhianat berusaha merebut kekuasaannya, konglomerat menyerang dari balik layar, dan seorang putri presiden perlahan memasuki hidupnya. Rangga pernah membangun gedung dengan kedua tangannya. Sekarang, dia akan membangun kembali hidupnya sekaligus meruntuhkan kesombongan siapa pun yang menghalangi jalannya. Seberapa tinggi seorang kuli bisa berdiri ketika seluruh negeri akhirnya mengetahui siapa dirinya? Baca kisahnya sekarang dan saksikan kebangkitan Sang Pewaris!
Ulasan
1 ulasan
Queen Tuth
2/8/26 05:42
Ngebayangin dia lagi kuli bangunan, ngaduk semen, tiba -tiba ada orang dari istana yang datang menemuinya dan memberitahukan kalo dia akan jadi mantu presiden Widih, penasaran Presiden negara mana ini yang jadi setting, apa Republik Konoha?
Cincin yang Dibuang
“Kamu pikir bisa menikahi anak saya hanya dengan membawa buku tabungan seperti itu?”
Suara Hendra Adipramana rendah, tetapi cukup tajam untuk membungkam seluruh ruang tamu.
Buku tabungan bersampul biru terbuka di atas meja kaca. Saldo tiga puluh juta rupiah tercetak pada baris terakhir.
Bagi keluarga Adipramana, jumlah itu tidak berarti. Bagi Rangga Satriatama, uang tersebut adalah hasil lima tahun mengangkat besi, mengaduk semen, dan mengambil lembur sampai tengah malam.
Rangga duduk tegak di seberang Hendra. Dia mengenakan kemeja batik terbaiknya. Kerahnya mulai berserabut, sedangkan warna kain di bagian siku sudah memudar.
“Saya tahu jumlahnya belum besar, Pak,” ucap Rangga. “Tapi itu cukup untuk biaya pernikahan sederhana dan sewa kontrakan beberapa bulan. Setelah menikah, saya akan bekerja lebih keras lagi.”
Hendra mengangkat buku tabungan itu dengan dua jari.
“Bekerja sebagai apa?”
“Kuli bangunan.”
Beberapa kerabat yang duduk di sofa saling pandang. Seorang sepupu Citra di dekat jendela tertawa kecil.
Miranda Adipramana menatap Rangga dari kepala sampai kaki.
“Uang segitu bahkan tidak cukup untuk membeli satu tas yang biasa saya pakai ke arisan,” ucap Miranda. “Kamu mau menghidupi Citra dengan apa nanti? Pasir dan semen?”
Tawa kecil pecah dari beberapa sudut.
“Saya tidak menjanjikan hidup mewah, Bu,” ucap Rangga. “Tapi saya bisa memastikan Citra tidak makan dari uang yang bukan hak saya.”
Senyum Miranda langsung hilang.
“Kamu menyindir keluarga kami?”
“Saya hanya menjawab pertanyaan Ibu.”
Hendra menjatuhkan buku tabungan ke meja.
“Jaga cara bicaramu.”
“Saya tidak bermaksud kurang ajar, Pak.”
“Orang seperti kamu selalu berlindung di balik kata jujur dan pekerja keras,” ucap Hendra. “Seolah dua hal itu cukup untuk membangun keluarga.”
Rangga tidak menjawab. Pandangannya beralih kepada Citra Adipramana yang duduk di sisi Miranda.
Citra mengenakan gaun pastel sederhana. Rambut sebahunya tergerai rapi. Lima tahun lalu, saat mereka masih kuliah, Rangga memasangkan cincin tipis di jarinya dan berjanji akan datang meminta restu setelah memiliki tabungan.
Citra menerimanya.
Malam ini seharusnya menjadi peresmian pertunangan mereka di hadapan keluarga.
Namun, sejak Rangga tiba, Citra belum mengucapkan satu kata pun. Dia hanya menunduk sambil meremas ujung gaunnya. Ponsel di samping pahanya beberapa kali bergetar. Nama Bram sempat muncul di layar sebelum Citra buru-buru membalik ponsel tersebut.
Rangga pernah mendengar nama itu dua bulan terakhir. Citra menyebut Bram sebagai rekan bisnis keluarga yang sering membantu urusan perusahaan.
Setiap kali Rangga bertanya kenapa pria itu menelepon sampai malam, Citra selalu menjawab bahwa hubungan mereka hanya urusan pekerjaan. Malam ini, tatapan singkat antara Miranda dan layar ponsel Citra membuat alasan itu terdengar semakin rapuh.
“Citra,” panggil Rangga.
Citra tidak mengangkat wajah.
“Kamu bilang keluargamu bersedia membicarakan pernikahan kita. Kita sudah bersama selama lima tahun.”
Hendra menyandarkan punggung ke sofa.
“Tidak perlu membawa janji masa kuliah ke rumah ini.”
“Saya sedang bicara dengan Citra, Pak.”
Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa kerabat menatap Rangga tidak percaya. Rahang Hendra menegang.
“Hubungan kalian hanya keputusan anak muda yang belum tahu kenyataan,” ucap Hendra. “Sekarang Citra sudah memahami kehidupan seperti apa yang dia inginkan.”
Rangga tetap melihat Citra.
“Aku mau dengar keputusanmu sendiri.”
Citra akhirnya mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
“Aku cuma ingin hidup tenang, Rangga.”
“Aku juga.”
“Tapi hidup sama kamu enggak terasa pasti.”
Kalimat itu membuat dada Rangga terasa kosong.
Citra menutup matanya sesaat.
“Aku sudah mencoba percaya kalau kita bisa mulai dari nol,” lanjut Citra. “Aku mencoba meyakinkan diri kalau kontrakan kecil dan penghasilan harian akan cukup. Tapi aku enggak sanggup.”
“Lima tahun ini kamu cuma berpura-pura?”
“Aku sayang sama kamu.”
“Bukan itu yang aku tanya.”
Citra menunduk lagi. Ponselnya kembali bergetar.
Miranda melirik layar tersebut, lalu memandang Citra seolah memberi peringatan agar percakapan segera diselesaikan.
“Aku enggak mau setiap bulan takut uang sewa belum dibayar,” ucap Citra. “Aku juga enggak mau menunggu kamu pulang sambil khawatir kamu jatuh dari gedung atau tertimpa besi. Aku ingin kehidupan yang lebih aman.”
“Kamu seharusnya bilang dari awal.”
“Aku takut.”
“Takut kehilangan aku?”
Citra tidak menjawab. Rangga tersenyum tipis tanpa kehangatan.
“Bukan. Kamu takut terlihat jahat.”
Wajah Citra memucat.
“Cukup,” potong Miranda. “Jangan menyudutkan Citra hanya karena dia memilih masa depan yang lebih baik.”
Rangga tidak memandang Miranda. Ingatannya kembali pada setiap janji Citra bahwa rumah sempit tidak akan menjadi masalah selama mereka bersama.
Ternyata Rangga berjuang sendirian.
Dia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan kotak beludru merah. Semua percakapan berhenti.
Rangga meletakkan kotak itu di samping buku tabungan. Sebuah cincin emas sederhana terbaring di dalamnya. Cincin tersebut menggantikan cincin tipis yang dulu dipakai Citra saat mereka bertunangan diam-diam.
“Saya datang membawa ini untuk meresmikan pertunangan kami,” ucap Rangga. “Cincin ini memang tidak mahal, tapi saya membelinya tanpa berutang kepada siapa pun.”
Citra menutup mulutnya.
Hendra bangkit dan meraih kotak tersebut sebelum Citra sempat bergerak.
“Benda seperti ini tidak pantas masuk ke keluarga kami.”
Tangannya menyapu kotak itu dari meja. Kotak beludru terlempar. Cincin di dalamnya memantul di lantai marmer, lalu menggelinding hingga berhenti dekat kaki Rangga.
Suara logam kecil itu terdengar jelas di tengah keheningan.
“Ambil kembali barang murahmu,” perintah Hendra. “Mulai malam ini, pertunangan kalian dibatalkan.”
Rangga tidak bergerak.
Hendra menunjuk pintu.
“Keluar dari sini.”
Semua orang menunggu Rangga kehilangan kendali. Mereka menunggu dia memohon, menangis, atau melontarkan makian.
Rangga hanya menunduk.
Dia mengambil cincin yang tergeletak di lantai, mengusap permukaannya dengan ibu jari, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak.
Tangannya tidak gemetar.
Rangga berdiri dan mengambil buku tabungan dari atas meja.
“Terima kasih atas jawabannya.”
Hendra menatapnya tajam.
“Saya datang dengan baik untuk meminta restu,” lanjut Rangga. “Kalau jawabannya tidak, saya tidak akan memaksa.”
Dia menatap Hendra dan Miranda bergantian.
“Tapi jangan pernah menghina uang yang saya dapatkan dari bekerja. Nilainya mungkin kecil bagi kalian, tetapi tidak ada satu rupiah pun yang saya curi.”
Hendra membuka mulut, tetapi Rangga sudah mengalihkan perhatian kepada Citra.
Perempuan itu menangis dalam diam.
“Citra.”
Citra menatapnya.
“Terima kasih untuk lima tahun yang pernah kita jalani.”
“Rangga, aku enggak bermaksud menyakiti kamu.”
“Kamu sudah memilih.”
Rangga memasukkan kotak cincin ke saku.
“Jalani pilihanmu.”
Dia berbalik sebelum Citra sempat menjawab.
Rangga melewati para kerabat yang tadi menertawakannya. Tidak seorang pun menghalangi. Bahkan sepupu Citra memilih menunduk saat Rangga melintas.
Dia mendorong pintu utama rumah Adipramana. Udara malam menyambut wajahnya.
Rangga menuruni tangga teras dengan langkah mantap. Tabungannya masih berada di sakunya. Cincinnya juga tetap menjadi miliknya.
Hanya lima tahun hidupnya yang tidak mungkin kembali.
Ketika melewati gerbang besi, sorot lampu kendaraan menyilaukan matanya.
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan Rangga.
Kaca pengemudi turun.
Seorang pria berambut undercut menatap Rangga dari balik kemudi, lalu tersenyum menghina.
“Jadi lu Rangga?”
Daftar bab
133 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
133 bab








