
Mencuri Hati Sang Culer
nrhslynda|Bersambung
- Jumlah kata
- 846
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 846
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Bagi seorang Jude Bellingham, bintang muda Real Madrid, hidupnya di Spanyol selalu dipenuhi sorak-sorai riuh Santiago Bernabéu dan kejaran kamera media. Namun, suatu sore di sudut jalan Malasaña, langkah kakinya membawa Jude masuk ke sebuah toko kriya kecil bernama El Rincón de Artesanía. Di sana, Jude bertemu dengan gadis pemilik toko yang memberinya tatapan paling dingin yang pernah ia terima seumur hidup. Bukan karena Jude bersikap tak sopan, melainkan karena satu rahasia kecil di balik meja kasir toko itu: sang pemilik toko, Sofia Isabel, adalah seorang Culer sejati—fans berat Barcelona, rival abadi klubnya. Bagi Sofia, Jude Bellingham adalah pemain baju putih yang harus ia hindari demi gengsi. Namun bagi Jude, sikap galak dan ketidakpedulian Sofia justru terasa sangat menyegarkan di tengah dunianya yang bising. Berawal dari gantungan kunci angka 5 dan godaan-godaan kecil soal pertandingan El Clásico, Jude bertekad menaklukkan sang "musuh". Akankah Jude Bellingham berhasil memenangkan pertandingan tersulit dalam hidupnya: meluluhkan hati seorang gadis yang membenci klub tempat ia bermain?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: Rahasia di Balik Laci Kasir
Sore di distrik Malasaña, Madrid, selalu punya suasana yang menenangkan. Cahaya matahari musim gugur yang hangat menyelinap di antara celah bangunan tua, menimpa lorong-lorong berbatu yang dipenuhi kafe dan toko seni independen. Hari ini adalah hari libur latihanku di Real Madrid, dan aku memutuskan untuk menemani adikku, Jobe, yang sedang berkunjung dari Inggris.
Tentu saja, jalan-jalan santai ini tidak pernah benar-benar tenang kalau Eduardo Camavinga, Aurélien Tchouaméni, dan Vini Jr. ikut bergabung.
"Jude, lihat toko itu! Kayaknya seru!" seru Cama tiba-tiba sambil menunjuk sebuah toko kriya kecil di sudut jalan yang agak sepi. Plang kayunya bertuliskan El Rincón de Artesanía.
Belum sempat aku menjawab, Cama dan Vini sudah lebih dulu mendorong pintu kaca toko tersebut, membuat lonceng kuningan di atas pintu berdenting halus. Aku dan Jobe hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala lalu mengekor masuk.
Begitu melangkah ke dalam, aroma lembut lavender dan kayu cendana langsung menyapa. Suasana tokonya sangat tenang, dipenuhi barang-barang kerajinan tangan buatan lokal—mulai dari gantungan kunci, tas kain, hingga gelang-gelang estetik.
"Selamat sore, selamat datang di El Rincón..."
Sebuah suara lembut terdengar dari balik meja kasir kayu. Sapaan itu datang dari seorang gadis yang sedang fokus merangkai tali dan manik-manik. Ia mengenakan apron kain cokelat. Saat ia mengangkat wajahnya untuk menyambut kami, langkahku mendadak terhenti sejenak.
Gadis itu punya mata yang teduh dan paras yang sangat manis. Namun, yang membuatku heran adalah reaksinya. Biasanya, kalau orang-orang mengenali wajahku, Cama, atau Vini, mereka akan langsung berteriak histeris atau meminta foto bersama. Tapi gadis ini? Matanya membelalak kaget selama dua detik, lalu ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat datar—seolah-olah yang baru saja masuk ke tokonya bukanlah sekumpulan pemain sepak bola terkenal, melainkan sekawanan pengganggu.
"Halo! Maaf, apakah toko ini buka?" tanyaku ramah dalam bahasa Inggris sambil melemparkan senyum terbaikku.
"A-ah, iya. Buka. Silakan melihat-lihat," jawabnya singkat. Suaranya berusaha dibuat sedatar mungkin, meski aku bisa menangkap sedikit nada gugup di sana.
Cama yang tidak peka langsung heboh memilah-milah barang. Sementara itu, Jobe berjalan ke rak sudut dan mengambil sebuah gantungan kunci macrame berbentuk bola dengan angka 5 berwarna emas.
Jobe menyeringai nakal ke arahku. "Jude, lihat ini. Imut banget. Cocok dipasang di tas latihanmu supaya kamu ingat kalau kamu nomor 5 di Madrid."
Vini langsung tertawa bahak-bahak. "Haha! Beli itu, Jude!"
Aku menepuk jidatku sendiri, merasa sedikit malu. "Jobe, hentikan. Jangan bikin malu di toko orang," gumamku pelan. Aku sempat melirik ke arah gadis di balik kasir, berharap mendapat dukungan, tapi ia hanya menaikkan satu alisnya sambil menatapku dingin.
Galak juga, batinku heran sekaligus penasaran.
Untuk menyelamatkan diri dari godaan adikku, aku melangkah mendekati meja kasir. Namun, saat berdiri tepat di depannya, pandanganku tidak sengaja jatuh ke celah laci kasirnya yang sedikit terbuka. Di sana, terselip sebuah stiker dan gantungan kunci berlogo warna biru-merah yang sangat kukenal: FC Barcelona.
Aku tersentak pelan. Binar jenaka langsung muncul di kepalaku. Ah... jadi ini alasannya dia bersikap begitu dingin dari tadi.
"Tunggu dulu..." aku menunjuk pelan ke arah lacinya sambil menopang dagu di atas meja kasir, melempar senyum miring. "Kamu seorang... Culer?"
Wajah gadis itu seketika merona merah karena tertangkap basah. Dengan gerakan cepat, ia mendorong laci kasirnya hingga tertutup rapat.
"Bukan urusanmu," jawabnya spontan dengan nada defensif. Ia lalu terbatuk pelan, menyilangkan tangan di dada dan menatapku lurus. "Maksud saya... ya, saya mendukung Barcelona. Ada masalah dengan itu, Mr. Bellingham?"
Gerrr! Tawa pecah seketika di dalam toko kecil itu. Cama bertepuk tangan heboh, Vini tertawa sampai memegang perutnya, dan Jobe tertawa lepas di belakangku.
"Pantas saja dari tadi mukanya datar banget sama kita!" seru Cama kegirangan. "Musim rival, Jude! Kamu tidak punya wibawa di sini!"
Aku malah terkekeh renyah. Sikap gengsi dan galak dari gadis ini justru terasa sangat menyegarkan dan menggemaskan bagiku.
"Pantas saja kamu melihatku seperti melihat musuh," godaku. "Berapa harga barang-barang ini?"
"Harganya jadi dua kali lipat khusus untuk pemain Real Madrid," cetusnya bercanda, berusaha mempertahankan wajah galaknya.
"Deal. Aku bayar," balasku cepat sambil tertawa tulus. Aku mengambil gantungan kunci angka 5 buatan tangannya. "Tolong bungkus yang rapi, ya... buatan tangan seorang Culer pasti punya nilai seni yang tinggi."
Saat ia sibuk membungkus barang-barang belanjaan kami dengan sangat rapi dan cekatan, aku memperhatikannya diam-diam. Jemarinya sangat terampil.
Aku mengeluarkan kartuku untuk membayar. Sebelum menempelkan kartu ke mesin EDC, aku menatap matanya lekat-lekat.
"Dari tadi kamu terus memanggilku Mr. Bellingham, tapi aku bahkan belum tahu siapa nama pemilik toko kriya yang galak ini," ujarku jahil.
Gadis itu terdiam sejenak. Ada jeda dua detik sebelum akhirnya ia menghela napas pasrah, menahan senyum yang hampir lolos dari bibirnya.
"Sofia. Sofia Isabel," jawabnya pelan.
Aku mengangguk-angguk pelan, menyimpan nama itu di dalam ingatanku. "Sofia Isabel... nama yang indah."
Setelah transaksi selesai dan rombongan kami berjalan keluar toko, aku sempat berhenti di ambang pintu dan menoleh ke belakang. Aku melemparkan senyum tipisku padanya.
"Sampai jumpa lagi, Sofia Isabel. Jangan lupa tonton pertandingan El Clásico minggu depan, ya," bisikku jahil sebelum mendorong pintu kaca.
Di luar toko, Cama dan Jobe langsung merangkul bahuku sambil menggoda habis-habisan. Tapi pikiranku masih tertinggal di dalam toko kriya itu. Seorang gadis Culer bernama Sofia Isabel baru saja berhasil menyita perhatian seorang Jude Bellingham.
(Bersambung ke Bab 2)
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








